Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 182

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 182

Memang dia harus mencegah orang-orangnya berbuat onar. Coa-ong dan teman-temannya tak boleh membuat marah pangeran mahkota yang sudah memberi kebebasan. Namun, melihat Wan Cu ada di situ bersama putranya, tiba-tiba Sien Nio merasa tidak puas, bingung, tetapi harus cepat mengambil keputusan.

Karena urusan Wan Cu sekarang termasuk urusan intern dan dia harus menepati janji, maka wanita ini menyerahkan kaisar dan menyuruh orang-orangnya mundur. Sekarang segala kebobrokannya terbuka. Gurba terang-terangan tidak mau membantu lagi dan keadaan bisa berbahaya kalau dia tidak cepat-cepat pergi. Maka, begitu mengangguk dan tak ada urusan lagi di situ, tiba-tiba Sien Nio meloncat ke dalam kereta memanggil putranya.

"Pangeran, masuk. Kita pergi!" Pangeran Muda tak banyak cakap. Dia sudah menarik Wan Cu menyusul ibunya, sementara Coa-ong dan yang lain berjaga di belakang. Kusir kereta dihardik. Begitu Sien Nio membentak membawa orang-orangnya, rombongan ini berderap meninggalkan pintu gerbang.

"Hyah... berr...!" Derap kuda mencongklang cepat. Sien Nio dan rombongannya bergerak ke timur, tak ada orang yang mengejar. Ketika Kim Mou-eng dan yang lain memandang kepergian rombongan ini dengan bermacam perasaan, tak lama kemudian rombongan panjang itu hilang di balik tikungan. Banyak orang menghela napas, Bu Ciangkun dan teman-temannya menggeram sambil mengepalkan tinju. Sungguh mereka tidak puas. Tapi karena kaisar telah kembali dan perjanjian harus dipegang, maka pangeran mahkota dan rombongannya akhirnya memasuki pintu gerbang, siap kembali ke istana dan menyadarkan kaisar.

Namun, ketika kaisar sadar dan batuk muntah darah, tiba-tiba semua orang terkejut. "Mana dia? Mana si pengkhianat itu?" pangeran mahkota terbelalak.

"Ibunda selir telah pergi, Ayahanda. Kami membebaskannya demi keselamatan Paduka!"

"Ah, tolol! Aku diracun. Tangkap dan bawa kemari wanita iblis itu! Dia... dia..." Kaisar yang terguling muntah-muntah tiba-tiba mengerang dan tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. Kaisar mengaduh dan merintih tak keruan, perutnya melilit-lilit, dan sebentar kemudian bergulingan bagai kerbau disembelih. Mukanya pucat kehijauan.

Pangeran mahkota dan Kim-taijin kaget. Sri Baginda marah-marah dan menyuruh semua orang mengejar Sien Nio. Muntahnya kini bercampur batuk yang amat hebat. Ketika semua orang bingung dan marah, serta kaisar roboh pingsan, tiba-tiba Bu Ciangkun mengeprak seekor kuda mengejar rombongan itu.

"Cu-ciangkun, kejar si laknat jahanam itu! Biar tabib istana menolong keselamatan Sri Baginda sementara!" Orang-orang ribut. Ini memang kemungkinan yang harus mereka lakukan. Serentak Cu Ciangkun mengejar dan menyambar dua ekor kuda pula. Para pengawal dibentak untuk segera bergerak. Semua orang tiba-tiba meluruk keluar kota raja.

Kaisar telah mendapat pertolongan seorang tabib dan dibawa ke istana. Ketika Kim Mou-eng dan sumoinya tertegun melihat semuanya ini, tiba-tiba Kim-taijin telah menghampiri mereka. "Taihiap, musuh rupanya benar-benar tidak tahu malu. Tolong kau tangkap mereka dan bantu kami!"

"Baik, aku akan membekuk selir jahat itu, Taijin. Tapi, eh... mana Suhengku?" Ternyata Gurba menghilang. Kim Mou-eng dan Salima tak tahu kapan suhengnya itu pergi. Siga yang muncul dengan dada terangkat tiba-tiba berseru, "Kim Taihiap, kau kejar mereka duluan. Aku akan menyusul bersama anak buahku!" Bora yang juga datang menyiapkan pasukan tiba-tiba melompat di atas kudanya. "Benar, aku juga masih berurusan dengan para pemberontak itu, Taihiap. Kami akan membalas tipuannya dan mengejar mereka. Ayo!" Bora yang mencongklang bersama anak buahnya tiba-tiba bergerak mengejar Sien Nio.

Kim Mou-eng mengertakkan gigi. "Kau ikut, Sumoi?"

"Tentu saja. Kau belum sembuh, Suheng, mana bisa aku membiarkanmu sendirian?" Salima khawatir, cemas memandang suhengnya.

"Tidak, kita boleh bersama, Sumoi. Terkutuk benar selir itu. Mari kita berangkat!" Kim Mou-eng yang menyuruh Kim-taijin kembali menjaga kaisar dan menyambar sumoinya tiba-tiba berkelebat. Mereka tidak menunggu waktu lagi, segera menyusul dan mendahului belasan ekor kuda yang ada di depan. Para pengawal dan pasukan Tartar terbelalak. Tapi begitu melihat itulah Kim Mou-eng dan sumoinya, tiba-tiba mereka menggebrak dan berteriak penuh semangat untuk memacu kuda lebih cepat. Mereka berusaha menyusul tapi tetap saja tidak dapat. Orang-orang kagum. Ketika bayangan suheng dan sumoi itu lenyap di tikungan depan, Kim-taijin bergegas kembali ke istana sambil menyuruh orang melaporkan sepak terjang pendekar itu.

Apa yang terjadi? Benarkah Sien Nio mencelakai kaisar? Hal ini memang benar. Sien Nio memang jahat, dia telah mencampuri racun dalam minuman yang disuguhkan kepada kaisar saat mereka berada di ruang bawah tanah. Tadinya ia bermaksud menghabisi kaisar kalau pihaknya tak dapat meloloskan diri. Dia ingin mati bersama jika pangeran mahkota bersikap keras. Biarlah jiwa kaisar ditukar dengan jiwa mereka kalau dia tak dapat melarikan diri. Namun, ketika pihak lawan bersikap lunak karena pangeran mahkota mencintai ayahandanya, Sien Nio mendapat kebebasan dan lolos dari lubang jarum.

Sebenarnya, kalau lawan telah memberi ampun, sudah semestinya Sien Nio menyembuhkan kaisar. Tapi selir ini lupa. Ketegangan dan kegembiraan yang mereka alami membuat selir itu tidak ingat perbuatannya. Apalagi kedatangan Wan Cu merusak suasana pihaknya. Kegegeran di tempat itu bersama Gurba membuat wanita ini ingin cepat-cepat melarikan diri. Raksasa itu telah mengancam putranya. Maka begitu melihat si raksasa terbanting oleh pukulan Sin-ni dan pangeran mahkota menyuruhnya pergi cepat-cepat, selir ini memasuki keretanya.

Rombongannya mengikuti di belakang. Sien Nio cemberut dan tergesa-gesa. Jelas ketidaksenangan besar mengganggunya di sepanjang jalan, apalagi di dalam kereta dia harus duduk berhadapan dengan kekasih anaknya itu. Pangeran Muda memeluk Wan Cu, sementara Wan Cu masih terisak-isak. Ketika pandangan serta sorot matanya yang berapi-api memandang Wan Cu, tiba-tiba Sin-ni muncul di jendela keretanya.

"Paduka Selir, apakah kita terus melanjutkan perjalanan?" Sien Nio terkejut.

"Kenapa tanya? Bukankah kau tahu bahwa kita tak boleh berhenti?"

"Baiklah. Kota raja telah cukup jauh, Paduka Selir. Tapi kalau Paduka menghendaki terus, biarlah perjalanan dilanjutkan," Tok-gan Sin-ni tersenyum, menutup tirai jendela, dan lenyap lagi di luar.

Sien Nio tak merasa apa-apa karena seluruh pikirannya sedang tertuju pada Wan Cu. Dia sedang mencari akal bagaimana putranya dapat berpisah dengan kekasihnya itu. Sungguh geram dia. Ketika perjalanan dilanjutkan dan kereta terus berderak-derak, tiba-tiba Coa-ong muncul di tirai jendela satunya.

"Paduka Selir, kita hampir memasuki hutan. Apakah perjalanan diteruskan juga?"

"Tentu," Sien Nio marah. "Kenapa tanya lagi, Coa-ong? Bukankah kita belum tiba di tempat tujuan?"

"Tapi rombongan di belakang lelah, Paduka Selir. Barangkali Paduka..."

"Tidak, tak perlu barangkali lagi. Perjalanan diteruskan dan kau berjaga di belakang!" Sien Nio membentak. Kali ini dia merasa jengkel dan Coa-ong lenyap di luar. Terdengar kekehnya yang aneh dan rombongan tiba di mulut hutan. Kereta terus bergerak, tapi tiba-tiba terdengar suara mengaduh di depan. Kusir kereta terlempar dan Coa-ong sudah menduduki bekas tempat duduk kusir itu.

Sien Nio terkejut dan melongok ke luar. Ketika dia heran dan mau menegur, mendadak kereta berhenti dan Coa-ong tertawa padanya. "Paduka Selir, kuda ini letih. Lihat, dia roboh!" Coa-ong tiba-tiba menghantam kepala kuda, kuda itu meringkik dan tersungkur roboh. Tentu saja roboh karena kepalanya pecah ditampar Coa-ong!

Ketika Sien Nio terperangah dan rombongan di belakang ikut berhenti, maka Tok-gan Sin-ni dan murid-muridnya muncul mengelilingi kereta sambil tertawa-tawa.

"Apa ini? Kenapa Coa-ong membunuh kuda?" Sien Nio terkesiap, tiba-tiba sadar bahwa sesuatu yang tidak beres terjadi. Pangeran Muda dan Wan Cu juga terkejut karena sikap pembantu-pembantu mereka itu ganjil sekali. Ada sikap mengancam pada gerak-gerik dan pandang mata mereka. Ketika Sin-ni tertawa dan merenggut tirai kereta, tiba-tiba wanita iblis itu menendang hancur roda kereta hingga kereta terguling roboh!

"Aih...!" Sien Nio dan semua yang ada di dalam terpekik. Mereka terpelanting. Wan Cu dan Pangeran Muda berteriak; sepuluh peti harta yang ada di dalam berloncatan keluar, tumpah-tindih dan jatuh di atas tanah. Sien Nio yang menggigil berseru gusar, "Sin-ni, apa maumu ini? Kenapa kalian kurang ajar?"

"Hi-hik!" Sin-ni terkekeh. "Mauku sama dengan maunya Coa-ong, Paduka Selir. Bahwa perjalanan memang harus dihentikan dan kita berpisah!"

"Apa? Kalian...?" Rambut Tok-gan Sin-ni menjulur. Sien Nio telah dililit dan diangkat tubuhnya. Wanita ini menjerit dan berteriak tertahan. Ketika Sin-ni terkekeh-kekeh tak mau melepaskannya, iblis wanita ini menggerakkan salah satu kakinya mengangkat naik sebuah peti harta.

"Paduka Selir, kau tentunya tak akan pelit memberikan sepuluh peti ini kepada kami. Bagaimana kalau kami memintanya baik-baik?"

"Ah, kalian mau merampok?"

"Aduh, jangan terlampau tajam, Selir yang mulia. Kami tak merampok, melainkan memintanya baik-baik kepadamu. Tentunya kau tak menolak, bukan?" Sien Nio sadar. Sekarang dia tahu bahwa orang-orangnya ini membelot. Tok-gan Sin-ni dan murid-muridnya itu telah mengincar harta dan hendak merampas miliknya itu sebagai penukar nyawa. Sien Nio yang terbelalak sambil merintih tiba-tiba ditubruk putranya yang marah kepada iblis wanita itu.

"Tok-gan Sin-ni, lepaskan ibuku...!" Namun Tok-gan Sin-ni yang berkelit dan mundur selangkah tiba-tiba memutar kakinya, menendang pangeran itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment