Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 183

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 183

"Siauw ong-ya, jangan kurang ajar kepadaku. Sebaiknya kau berdiri tenang di sana..."

*Dess!* Pangeran Muda terjungkal dan berteriak kesakitan saat tiba-tiba diancam todongan pedang yang dilolos Leng Hwat. "Pangeran, jangan kurang ajar kepada suboku. Kalian semua bisa kami bunuh!"

Pangeran Muda gemetar. Sekarang dia pucat pasi, sadar bahwa orang-orang sesat ini mengincar hartanya. Mereka memang bisa membunuhnya, dan ibunya menangis. Sien Nio tak berdaya. Ketika Sin-ni terkekeh dan Leng Hwat siap menusuk pangeran itu, Coa-ong mengganti tawa dan melangkah maju.

"Sin-ni, tusuk saja tenggorokan lawanmu itu. Paduka selir tidak butuh hidup asal putranya selamat!"

"Tidak, jangan...!" Sien Nio menggigil. "Aku butuh hidup, Coa-ong. Jangan bunuh aku maupun putraku. Aku... oh!"

Sin-ni tiba-tiba menggerakkan dua jarinya. Sien Nio berteriak karena mengira matanya akan dicoblos. Tentu saja dia terkesiap. Namun, saat Sin-ni terkekeh dan menyambar kalung di lehernya, wanita ini membanting sang selir hingga mengaduh di atas tanah.

"Tak jelek, bagus!" Tok-gan Sin-ni tertawa memperhatikan kalung bermata intan itu, matanya bersinar-sinar. "Tapi yang lain harus kau serahkan padaku juga, Selir. Berikan cincin dan seluruh perhiasan yang masih melekat di tubuhmu!"

Sien Nio pucat pasi. Dia tak berani membantah, tetapi ketika matanya beradu dengan mata seorang perwira bawahannya, selir ini tiba-tiba mengedip memberi tanda, menyuruh perwira itu menyerang. Perbuatan Sin-ni dan Coa-ong ini mengejutkan semua orang. Namun, saat selir ini mengedip dan sang perwira mengangguk, tiba-tiba perwira itu membentak menyuruh pasukan pengawal menerjang, "Serbu!"

Tok-gan Sin-ni tiba-tiba diserang. Pasukan pengawal yang berjumlah seratus orang menghambur ke depan; sang perwira sendiri sudah menubruk dan membacokkan goloknya. Anak buahnya yang lain menerjang Coa-ong, Leng Hwat, serta Bu-kongcu dan adik-adik Leng Hwat yang mengelilingi kereta. Dua datuk sesat ini terkejut, namun mereka terkekeh. Saat golok dan pedang menghujani mereka dan Tok-gan Sin-ni menjulurkan rambut, sekonyong-konyong si perwira berteriak ngeri karena goloknya patah sementara rambut wanita itu menusuk dahinya hingga tembus.

"Crat! Augh!" Si perwira terjungkal, roboh, dan tewas seketika; memang bukan tandingan Sin-ni. Saat Sin-ni melayang-layang dan terkekeh-kekeh melayani yang lain, tubuh-tubuh mulai berselimpangan dan banjir darah membasahi bumi. Tok-gan Sin-ni dan Coa-ong seolah berlomba membantai musuh; dua datuk sesat ini tampak gembira sekali membabat lawan. Leng Hwat dan Bu-kongcu juga sama, masing-masing menghadapi lawan hingga para pengawal bergelimpangan.

Dalam semenit saja, puluhan orang roboh binasa. Pengawal yang lain gentar dan melarikan diri, masing-masing berteriak sembari melempar senjata. Ketika pertempuran berhenti dan Coa-ong maupun Sin-ni membersihkan baju mereka yang penuh darah, tiba-tiba Sien Nio dan dua temannya lenyap, termasuk sepuluh peti harta itu.

"Eh, ke mana mereka?"

"Ha ha, ke mana lagi kalau tidak melarikan diri, Sin-ni? Ayo kejar dan cari mereka di mana mereka mengumpat!" Coa-ong sudah bergerak, tertawa dan tampak gembira menghadapi buruan baru yang amat menarik ini.

Sin-ni serta yang lain segera mengejar dan memasuki hutan karena di sanalah tentunya selir dan dua temannya bersembunyi. Dan memang benar, Sien Nio dan anaknya melarikan diri sembari membawa peti-peti harta di saat ramainya pertempuran. Tentu saja mereka marah tapi gentar menghadapi Tok-gan Sin-ni, lalu masuk ke dalam hutan dan bersembunyi. Karena khawatir jejak mereka tertangkap dan Sien Nio gugup, wanita ini mengajak mereka berpencar.

"Pangeran, kau bersembunyi di sana. Aku di sini!"

"Ah, Ibu mau berpisah?"

"Tak ada waktu, Pangeran. Tak perlu tanya dan terus bersembunyi. Ayo, cepatlah. Kita lari, nanti bertemu di seberang dan kau bawa enam peti ini!" Sien Nio melemparkan enam peti harta ke arah putranya, sementara dirinya sendiri membawa empat dan terseok-seok memasuki semak belukar.

Anaknya tertegun tapi tidak membantah lagi. Pangeran Muda membagi petinya bersama Wan Cu; masing-masing membawa tiga. Ketika mereka bersembunyi dan menyelinap di antara tanaman lebat, akhirnya ibu dan anak itu berpencar menuju ke seberang hutan tempat mereka berjanji bertemu.

Namun, Sien Nio dan Pangeran Muda tak dapat bergerak cepat. Semak dan duri sering mengganggu selir ini; berkali-kali Sien Nio jatuh bangun dan pakaiannya robek-robek. Tak terasa kulit pun tergurat dan beberapa duri bahkan menancap di tubuhnya. Selir ini menggigit bibir. Namun, karena ingin selamat, dia terus maju dengan keringat membasahi muka, hingga sekonyong-konyong seekor ular mengejutkannya di depan.

"Aih..." Sien Nio terguling, ular menyambar dan tubuhnya dililit. Peti harta jatuh dan selir ini pun pucat. Ular sudah memagut pundaknya dan selir ini mengeluh. Tapi ketika ia mencabut badik dan ingat senjatanya, ia menikam berulang-ulang ke tubuh ular itu. Akhirnya, ia pun lolos dan jatuh terduduk dengan napas tersengal-sengal.

"Ular keparat! Ular jahanam...!" Sien Nio marah melihat pundaknya terluka meski untungnya ular itu tidak berbisa, kini menggeletak mati di sampingnya. Kalau tidak dalam keadaan darurat mungkin dia teringat pengawal. Kini semua harus diatasi sendiri dan Sien Nio berlari lagi dengan terseok-seok. Dia harus cepat-cepat keluar hutan di ujung sana.

Saat wanita ini jatuh bangun dan peti harta sudah diikat di belakang punggungnya, mendadak kesiuran angin terasa di sebelah kuduknya. Sien Nio tahu-tahu keserimpet dan roboh terguling, hampir menjerit tapi bangun lagi. Menoleh, namun tak melihat apa-apa; tengkuknya meremang. Ketika dia berlari lagi dan angin dingin itu menyambar tubuhnya meski bayangannya tak terlihat, tiba-tiba wanita ini jatuh terduduk mendesis ketakutan.

"Setan..." Sien Nio terbelalak. Dia tak melihat apa-apa di sekelilingnya, lalu bangkit berdiri dan menggigil memandang kiri kanan. Entah kenapa punggungnya terasa enteng. Sien Nio terkesiap dan meraba ke belakang. Saat ia melihat punggungnya kosong dan empat peti harta itu lenyap, tiba-tiba wanita ini menjerit mendekap mulut sendiri.

"Siluman...!" Sien Nio hampir pingsan. Kekagetannya sungguh besar melihat empat peti hartanya hilang. Wanita ini roboh kembali, namun saat ia mengeluh dan gagap tak dapat bicara, tiba-tiba Pangeran Muda dan Wan Cu muncul.

"Ibu, peti hartaku hilang. Yang dibawa Wan Cu juga lenyap!"

Sien Nio terbelalak. Saat itu ia hampir tak dapat berkata-kata karena tenggorokannya seolah tercekik benda padat. Wan Cu dan putranya menarik tangannya agar dia bangun berdiri. Sien Nio gemetar, keringatnya menetes-netes di seluruh tubuh. Anaknya terkejut melihat ibunya luka-luka, pundak berdarah digigit ular tadi, dan pakaiannya robek-robek tak keruan.

Sien Nio yang melotot mendengar ini tiba-tiba berteriak, "Tidak, kau bohong, Pangeran! Kau dusta...!" Sien Nio menerkam anaknya dan mencakar sana-sini, mengamuk membabi-buta. Tentu saja anaknya terkejut, Pangeran Muda menangkap lengan ibunya, membentak, dan terpaksa menampar ibunya. Saat ibunya terguling, roboh, dan menangis, Sien Nio mengguguk memaki-maki putranya itu.

"Pangeran, kau tolol! Kau bodoh. Kau pasti menipu ibumu dan bersekongkol dengan wanita iblis ini!" Sien Nio menuding-nuding Wan Cu, seketika membuat Wan Cu melotot dan marah pada ibu kekasihnya itu. Selir sial ini selalu mengkambinghitamkan dirinya. Tapi Pangeran Muda yang menggeleng dan mengerutkan alis justru menegur ibunya.

"Kau keterlaluan, Ibu. Masa dalam keadaan begini aku mau menipumu? Enam peti yang kubawa memang hilang, kami merasa dipermainkan siluman dan kini tak tahu harus berbuat apa!"

"Siluman...?" Sien Nio tiba-tiba terbayang, matanya meliar ke kiri kanan. "Kau bilang siluman, Pangeran? Kalau begitu kita sama?"

"Sama apanya?"

"Peti yang kubawa juga lenyap, Pangeran. Aku juga merasa dipermainkan siluman dan terduduk di sini...!"

Pangeran Muda terkesiap. Sekarang dia melihat ibunya memang tak bersama empat peti harta itu. Habislah mereka, harta benda tak punya lagi. Namun, saat ragu memandang ke sana kemari, mendadak tawa yang aneh terdengar di sebelah kiri. Cepat mereka menengok, melihat siapa yang muncul dan masing-masing sama-sama tertegun. Begitu menghambur maju, tiba-tiba ibu dan anak itu berteriak girang, "Yu-busu...!"

Orang yang tertawa itu terbahak geli. Dia memang Yu-busu, laki-laki tegap, gagah, namun berwatak kejam. Sien Nio dan Pangeran Muda merasa mendapat bintang penolong dengan kehadiran laki-laki ini. Yu-busu bisa dimintai tolong. Namun, ketika laki-laki itu mengelak dan Sien Nio serta putranya terbelalak melihat sepuluh peti harta ada di belakang laki-laki ini, mendadak Yu-busu berseru pada mereka, "Pangeran, di sini tak ada siluman. Yang mengambil peti-peti itu adalah aku. Barang-barang berharga itu perlu diselamatkan agar tidak diserobot Tok-gan Sin-ni!"

"Ah...!" sang selir dan anaknya terkejut, tentu saja tak percaya. "Kau tak bohong, Yu-busu?"

"Apa! Kau bilang aku bohong, Pangeran, keparat!" Seketika sebuah tendangan mendarat di tubuh Pangeran Muda. Sang Pangeran memang bukan lawannya, kaki itu mendarat tepat hingga Pangeran ini terbanting roboh dan berteriak kesakitan. Pemuda itu terguling-guling. Wan Cu menjerit menubruk tubuh kekasihnya, tapi bayangan Yu-busu yang menyambar mendahului, tahu-tahu telah mencengkeram pundak Wan Cu, menahan wanita cantik ini.

"Wan Cu, kau ikut aku!" Wan Cu terkejut, tentu saja meronta dan membentak bekas pengawal itu, menendang dan menampar, tapi sia-sia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment