Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 184

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 184

Yu-busu tertawa sembari memperkeras cengkeramannya. Ketika Wan Cu mengeluh dan lemas di bawah jari-jari lelaki ini, Yu-busu segera memutar tubuhnya, menyambar sepuluh peti harta yang ada di situ, lalu melompat pergi.

"Pangeran, kau pun mengalahlah sekali ini kepadaku. Aku ingin bersenang-senang dengan kekasihmu juga."

"Tidak, jangan!" Pangeran tentu saja marah; ia bangun, melompat, dan berteriak-teriak mengejar lawannya.

Wan Cu diseret dan Yu-busu tampak gembira. Pangeran Muda mengejar di belakang sambil memaki-maki bekas pengawalnya itu. Karena Wan Cu terus meronta hingga merepotkan Yu-busu dan membuatnya tidak dapat lari cepat, tiba-tiba Bu-kongcu muncul dan membentak laki-laki itu, "Yu-busu, lepaskan wanita itu!"

Yu-busu terkejut. Murid Coa-ong itu menyerangnya. Beberapa bayangan tiba-tiba muncul, dan Leng Hwat serta adik-adiknya membantu Bu-kongcu. Ia diserang oleh tujuh lawan sekaligus. Tentu saja Yu-busu kelabakan. Ketika ia melepas Wan Cu dan mereka menghadapi anak-anak muda ini, segera Yu-busu mengeluarkan suling dan tongkatnya.

"Bu-kongcu, kita kawan, bukan lawan!"

"Tapi kau melarikan peti-peti harta itu, Yu-busu. Kau jelas lawan, bukannya kawan!"

"Tapi kita, ah...!" Yu-busu menghentikan seruannya, lalu membentak dan menangkis hujan senjata yang dilancarkan Bu Ham dan kawan-kawannya. Enam batang pedang berkelebatan di sekeliling Yu-busu, ditambah kipas dan pukulan tangan kiri Bu Ham yang membuat Yu-busu melengking. Laki-laki ini terdorong, beberapa serangan pedang menggores kulitnya.

Ketika Bu Ham membentak dan menyuruh teman-temannya memperhebat serangan hingga Yu-busu terdesak, ketukan kipas mengenai pundak laki-laki itu, sementara pedang di tangan Leng Hwat juga melukai pangkal lengannya.

"Crat! Dess!" Yu-busu melempar tubuh, bergulingan. Laki-laki ini berteriak membebaskan totokan, marah bukan main. Melihat bayangan Leng Hwat dan adik-adiknya mengejar, Bu-kongcu pun melesat dengan pukulan tangan kirinya. Bacokan dan tikaman kembali memburunya tanpa ampun. Karena marah dikeroyok sekian banyak dan keadaannya amat berbahaya, tiba-tiba Yu-busu melepas jarum-jarum beracunnya dan melempar sebuah granat tangan.

"Awas!" Bu Ham berteriak, terkejut dan memperingatkan teman-temannya agar menjauh. Ledakan granat itu bisa membahayakan mereka di samping hamburan jarum-jarum beracun. Bu Ham sendiri sudah berjungkir balik menangkis serangan jarum dengan pelor-pelor rahasianya, terpaksa membatalkan pukulan dan menarik serangannya.

Namun, Leng Hwat dan adik-adiknya yang lambat mengelak dan terlanjur membacok serta menikam, tiba-tiba berteriak ngeri dan roboh terpelanting ketika pecahan granat dan beberapa jarum mengenai mereka.

"Aduh!" Leng Hwat terbanting bergulingan. Murid terlihai Tok-gan Sin-ni ini menjerit karena pecahan granat merobek pahanya; lima adiknya yang lain terjungkang dan putus sebagian badannya. Dua di antaranya tewas. Bu Ham terbelalak.

Ketika Yu-busu di sana mengeluh dan tampaknya juga terluka oleh serangan pedang Leng Hwat dan adik-adiknya tadi, mendadak Tok-gan Sin-ni muncul berkelebat pesat.

"Orang she Yu, kau berani membunuh murid-muridku?"

Yu-busu terkejut. Lawan sudah menyerangnya dan menjeletarkan rambut. Tok-gan Sin-ni mengerahkan Sin-mauw-kang miliknya; rambutnya melecut dan menyambut laki-laki ini. Ratusan rambut kaku meledak bagai kawat-kawat baja, tentu saja membuat laki-laki ini terkesiap dan menggulingkan tubuhnya. Yu-busu mengelak, tapi rambut itu masih mengejar. Karena Tok-gan Sin-ni terarah dan Yu-busu tak sempat melompat bangun, maka ia mengerahkan tongkatnya untuk menangkis sambil bergulingan.

"Kraak!" Yu-busu kembali mengeluh. Tongkatnya hancur menangkis rambut lawan yang kaku, yang telah diisi getaran sinkang oleh Tok-gan Sin-ni yang marah. Wanita ini kembali menyerang dan Yu-busu kembali menangkis, kali ini menggerakkan sulingnya. Namun, ketika sulingnya juga hancur dan Yu-busu berteriak gentar, bertubi-tubi Tok-gan Sin-ni melepas pukulannya yang membuat laki-laki itu bergulingan ke sana kemari.

Yu-busu pucat dan berkaok-kaok; lawan memang amat lihai sementara ia sudah terluka. Ketika rambut lawan mulai menghajarnya berkali-kali dan tubuh laki-laki ini mengeluarkan darah, mendadak Coa-ong muncul berteriak marah.

"Sin-ni, jangan kau kurang ajar!" Si Raja Ular itu menubruk, tentu saja tak membiarkan lawan menghajar sute-nya. Kini, Tok-gan Sin-ni mendapat serangan kakek ini. Coa-ong mengeluarkan tongkat dan sulingnya, memainkan Sin-coa-kun sementara tubuhnya meliuk-liuk bagai ular menari. Lawan terkejut dan memaki-maki kakek ini.

Ketika dua orang itu bertempur dan rambut serta tongkat maupun suling saling sambar, Yu-busu yang terhuyung berdiri tiba-tiba menyambar sepuluh peti harta yang tergeletak di tanah.

"Suheng, bunuh wanita itu. Nanti kita bagi hasil!" Yu-busu memutar tubuh. Ia melarikan diri terpincang-pincang. Coa-ong tertawa dan menghadang larinya lawan, sementara Tok-gan Sin-ni hendak mengejar dan menyerang sute-nya itu. Namun, Bu-kongcu dan Leng Hwat yang masih dapat berdiri dan tidak membiarkan lawan membawa harta yang luar biasa banyak itu, tiba-tiba melompat dan menyerang Yu-busu.

"Yu-busu, kau tinggalkan peti-peti harta itu!" Bu-kongcu sudah menggerakkan kipas, berkelebat, dan menotok tengkuk lawan dengan kecepatan kilat. Yu-busu membalik dan menangkis serangan itu, tapi karena ia terluka dan tenaganya lemah, tiba-tiba ia terpental dan terhuyung ke belakang. Saat itu Leng Hwat pun menyambar; pedang di tangannya bergerak gemetar membabat leher lawannya. Yu-busu merendahkan kepala menghindar. Tanpa tongkat dan suling, ia kesulitan. Ketika lawan kembali menyerang, ia melempar granat keduanya, memaksa lawan mundur, lalu ia melarikan diri.

"Kejar!" Bu Ham terkejut berseru pada Leng Hwat, tak mau melepas lawan karena Yu-busu membawa harta. Asap tebal membuat pemuda ini memaki dan harus berputar. Yu-busu senang karena merasa terlindung. Namun, ketika laki-laki itu tersaruk melarikan diri dan lupa sudah pada Wan Cu yang tadi diajaknya, tiba-tiba suara kekeh di depan membuat laki-laki ini mencelos karena Sai-mo-ong muncul.

"Heh-heh, serahkan padaku, Yu-busu. Kau robohlah dan mundur!" Sebuah kipas tiba-tiba mengebut; Mo-ong menampar dan menghadang laki-laki ini. Yu-busu berteriak dan menangkis. Namun, karena kedudukan sudah tak menguntungkan dan Mo-ong jauh lebih lihai dibanding muridnya, Yu-busu terbanting dan peti-peti itu pun jatuh berceceran.

"Hai!" Yu-busu marah, mencabut granat ketiganya dan melemparkannya kepada Mo-ong. Granat itu bakal membunuh lawan; itulah satu-satunya senjata yang dimiliki Yu-busu sekarang. Namun, Mo-ong yang bergerak sebat menangkap granat dan balik menimpukkannya kepada lawan. Tiba-tiba Yu-busu memekik ngeri hingga menggema di seluruh hutan.

"Darr!"

Orang melihat serpihan tubuh terlempar di udara. Darah muncrat berhamburan, tubuh Yu-busu terpotong-potong dan tentu saja tewas seketika. Mo-ong terkekeh, dan saat itu muridnya serta Leng Hwat tiba. Sepuluh peti sudah berada di tangan kakek iblis ini. Bu-kongcu diajak lari. Namun, ketika si iblis memutar tubuh dan siap membawa sepuluh peti harta, sekonyong-konyong Sin-ni dan Co-ong muncul, mendengar jerit mengerikan Yu-busu tadi.

"Mo-ong, kau jahanam keparat!" Coa-ong sudah menerjang, menyerang temannya sendiri. Tok-gan Sin-ni juga mengelebatkan rambutnya, menotok dan melecut si kakek iblis yang membunuh Yu-busu. Mo-ong tentu saja menangkis, sementara Tok-gan Sin-ni memaki-maki dirinya. Raja Singa ini sibuk dan memaki-maki lawannya pula. Namun, karena ia harus menghadapi dua lawan sekaligus sementara peti-peti harta itu juga merepotkannya karena satu lengan harus menangkis, Mo-ong tiba-tiba melemparkannya pada muridnya.

"Bu Ham, terima ini. Lari!"

Bu-kongcu tersentak. Gurunya sudah mengikat sepuluh peti harta itu menjadi satu, gampang dibawa, tapi Tok-gan Sin-ni tiba-tiba mengejarnya. Coa-ong masih menyerang lawan karena tewasnya Yu-busu menimbulkan dendam. Tentu saja Bu Ham terkejut karena rambut Tok-gan Sin-ni pun menyambar dirinya, ia harus minggir.

Ketika Bu Ham mengelak dan gerakannya kalah cepat, tahu-tahu peti harta itu telah direnggut Tok-gan Sin-ni yang terkekeh-kekeh menyambar muridnya.

"Leng Hwat, ayo pergi!" Leng Hwat disendal gurunya. Tok-gan Sin-ni telah melarikan diri membawa sepuluh peti harta itu. Mo-ong berkaok-kaok dan memaki muridnya habis-habisan. Coa-ong juga terkejut melihat kejadian itu; rupanya harta kaisar ini sempat memecah konsentrasinya untuk menunda serangannya terhadap Mo-ong. Tok-gan Sin-ni menganggap si Raja Ular itu akan memberesi dulu urusannya bersama Mo-ong, tak tahu bahwa Raja Ular ini pun akan mencegahnya bila ia membawa harta pusaka itu.

Maka, begitu Mo-ong berteriak-teriak dan membujuk lawannya agar mengejar dulu si wanita iblis, tiba-tiba Coa-ong membalik dan meluncur menghentikan Tok-gan Sin-ni. Ternyata harta lebih berharga daripada dendam!

"Sin-ni, jangan kau bawa lari harta itu!" Coa-ong mengejar, tongkat ditimpukkan dan serangan ini mendahului bayangan si Raja Ular. Mo-ong juga merebut dan berkelebat ke depan, membentak agar lawan berhenti. Karena serangan tongkat terlalu berbahaya dan Sin-ni berkelit, tiba-tiba tanpa sengaja Leng Hwat yang digandeng lengannya ganti menduduki posisi wanita iblis ini, tertarik, dan menerima serangan tongkat.

"Cep! Ughh..." Leng Hwat langsung terjungkal. Murid wanita ini tewas, Coa-ong terbelalak tapi terkekeh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment