Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 185

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 185

Tongkatnya menancap di belakang punggung tembus sampai ke depan: Tok-gan Sin-ni marah dan melepaskan muridnya itu. Ketika bayangan Mo-ong menyusul dan menyambar dengan kipasnya, tiba-tiba wanita ini kalap membentak lawannya.

"Coa-ong, kau jahanam keparat!" Tok-gan Sin-ni menangkis serangan Mo-ong. Rambutnya menjalar menuju alis mata si Raja Ular itu.

Coa-ong mengelak dan Sin-ni sudah menyerangnya bertubi-tubi. Kini keadaan berbalik dengan Sin-ni bagaikan pihak yang dikeroyok. Mo-ong tertawa gembira melihat kemarahan rekannya itu atas kematian Leng Hwat.

Ketika Coa-ong membalas dan Mo-ong juga menggerakkan kipas serta memainkan Hek-sai-mo-hoat-nya mencecar lawan, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni terdesak karena terlalu berat menghadapi dua lawan sekaligus yang kedudukannya berimbang.

"Jahanam, kalian manusia-manusia tengik!" Tok-gan Sin-ni marah-marah. Ia menangkis dan mulai mengelak karena dipaksa bertahan, kini menggerakkan rambutnya yang nyaring meledak-ledak. Keadaannya berbahaya dan Mo-ong gembira bukan main.

Sepuluh peti di tangan wanita itu masih belum dilepaskan karena Sin-ni rupanya nekat; hal ini sebenarnya menghalangi gerakan wanita itu untuk menghadapi lawan. Ketika Sin-ni keteter sementara Mo-ong dan Coa-ong terus mendesak tak kenal ampun, tiba-tiba kipas memberebet mengenai bahu lawan.

"Plak!" Tok-gan Sin-ni terhuyung.

Mo-ong mengejar dan Coa-ong menggerakkan sulingnya, menotok leher lawan dan membuat Tok-gan Sin-ni gugup. Karena saat itu kedudukannya demikian buruk dan Tok-gan Sin-ni tak dapat mengelak kecuali menangkis, tiba-tiba wanita ini menggerakkan rambutnya dan melepas jarum-jarum rahasianya.

"Awas....!" Mo-ong dan Coa-ong merendahkan kepala. Jarum-jarum itu dipukul runtuh oleh suling atau kipas mereka. Tok-gan Sin-ni melengking dan kembali menghamburkan jarum-jarumnya. Kali ini belasan jarum meluncur menyambar lawan. Namun, ketika Mo-ong dan Coa-ong kembali memukul runtuh dan Tok-gan Sin-ni kehabisan jarum, tiba-tiba suling menyelinap menghajar pangkal lengannya.

"Dess!" Tok-gan Sin-ni terpelanting. Kemarahan wanita ini tak terlukiskan lagi; kematian Leng Hwat membuatnya mendelik pada Mo-ong. Maka, ketika Coa-ong memburu dan Raja Ular itu terkekeh menyusuli serangannya, tiba-tiba wanita ini memekik dan menggerakkan rambutnya. Suling yang menyambar disambut ratusan kawat baja—rambut Tok-gan Sin-ni yang sudah berubah kaku penuh tenaga sinkang.

Ketika Coa-ong terkejut dan berteriak kaget, tahu-tahu lengan Tok-gan Sin-ni menghantam dadanya dengan pukulan penuh.

"Des-plak!" Coa-ong terkejut setengah mati. Ia terpaksa menangkis dan menggerakkan lengannya pula, dua tangan saling melekat dorong-mendorong. Masing-masing mengerahkan tenaga untuk merobohkan yang lain. Tapi Mo-ong yang sudah berkelebat di belakang Sin-ni dan girang melihat adu sinkang itu, tiba-tiba membokong dan menghantam wanita ini dari belakang.

"Sin-ni, mampuslah kalian berdua.....!" Tok-gan Sin-ni terbelalak. Saat itu mereka tak bergeming, suling dililit rambut sementara kedua lengan mereka dorong-mendorong. Maka begitu Mo-ong menghantam dirinya dan pukulan mendarat dahsyat, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni mengeluh dan Coa-ong mencelat terlempar, muntah darah, dan seketika melotot pada si Raja Singa itu. Pukulan Mo-ong di belakang Sin-ni memberikan tambahan tenaga dahsyat bagi wanita iblis itu; Coa-ong dihantam dua tenaga sekaligus. Ia tidak kuat, terjengkang, menuding-nuding, tapi akhirnya roboh terkapar. Darah keluar dari semua lubang tubuhnya, tewas.

Ketika Sin-ni terhuyung didorong dari belakang, tiba-tiba kipas di tangan Mo-ong mengebut dan menotok ubun-ubun wanita ini.

"Tak!" Tok-gan Sin-ni pun roboh. Wanita ini terguling dengan otak hancur di dalam; tak ada darah keluar, tapi nyawa pun melayang seperti Coa-ong. Mo-ong membunuh mereka berdua dengan keji.

Ketika Mo-ong menyambar harta yang jatuh di tanah dengan tawa bergelak dan Bu Ham terbelalak melihat semuanya itu, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat menggeram di belakang pemuda ini.

"Mo-ong, letakkan kembali peti-peti harta itu!" Gurba muncul, menotok sekaligus melumpuhkan Bu Ham yang terkejut bukan main, bengong memandang gurunya yang baru membunuh dua lawan. Ia tak dapat bergerak dan tiba-tiba roboh di bawah ancaman Gurba.

Ketika Mo-ong terkesiap dan melepas peti-peti harta itu dengan mata melotot, Sien Nio muncul berseru girang. "Bagus, bunuh mereka, Gurba. Biarkan milikku itu kembali padaku!" Gurba mendengus. Sien Nio menghampirinya dengan berlari-lari kecil. Gurba menendang dan Sien Nio tiba-tiba mencelat, mengaduh. Saat itu Pangeran Muda dan Wan Cu muncul, terkesiap dan hendak mundur, tapi Gurba telah melihat mereka. Raksasa itu menggeram, Wan Cu tertegun dan Gurba memandangnya dengan amat marah. Pandangan raksasa itu seakan membakar wanita ini.

Tapi Mo-ong yang melihat Gurba mengalihkan perhatian, tiba-tiba melompat dan menyerang raksasa itu dengan totokan kipasnya.

"Plak!" Gurba menangkis, mendengar kesiur angin dan membentak memaki Mo-ong. Sang iblis tertawa dan secepat kilat menyusuli serangannya dengan putaran kaki. Gurba terhuyung dan terpaksa berkelit, kalah kuat dan terpental. Bu Ham terlepas dan otomatis Mo-ong telah membebaskan pemuda itu dari totokan Gurba.

Ketika Gurba mendelik dan marah-marah memaki, Mo-ong berseru pada muridnya, "Sekarang pergilah bawa harta itu, Bu Ham! Biarkan aku menghadapi raksasa yang ompong ini!" Mo-ong terbahak, girang dan berkelebat menyerang karena dilihatnya Gurba amat lemah. Tangkisan raksasa tadi menunjukkan sinkang-nya merosot jauh, tanda luka parah itu belum sembuh. Gurba memang masih tergetar oleh bekas pukulan Kim-mou-eng.

Ketika Mo-ong menyerang bertubi-tubi dengan kipasnya, tiba-tiba Gurba terdesak dan jatuh bangun. Raksasa ini belum sembuh dari pertempurannya dengan Kim-mou-eng, ditambah hajaran Tok-gan Sin-ni yang membuatnya semakin lemah. Hanya kekerasan hati dan kekuatan tubuhnya sajalah yang membuat raksasa ini dapat melakukan pengejaran; sebenarnya ia mengincar Wan Cu, tapi mendapatkan Mo-ong.

Karena Mo-ong juga berkali-kali membuatnya sakit hati, Gurba membentak dan menangkap murid kakek iblis itu. Namun, kehadiran Wan Cu dan Pangeran Muda memecah perhatiannya, Mo-ong mempergunakan kesempatan itu hingga kini Bu Ham lepas. Gurba marah sekali. Tapi karena dia lemah dan serangan Mo-ong demikian gencar mendesaknya tanpa ampun, satu-dua pukulan mulai diterima raksasa ini hingga ia mengeluh.

Dia mundur, mundur, dan selalu terpental setiap kali menangkis; dada semakin nyeri dan napas kian sesak. Gurba sadar tak mungkin dia menang. Ketika pukulan demi pukulan menghujani dirinya dan Gurba jatuh bangun, akhirnya satu kebutan kipas membuat dia roboh terbanting terguling-guling.

"Bress!" Gurba melontarkan darah. Dia bangkit lagi, menerima pukulan lagi, terjungkal dan kian lemah menghadapi lawannya. Bu Ham sudah melarikan sepuluh peti harta atas suruhan gurunya. Gurba mendelik dan saat itu Sien Nio berteriak-teriak mengejar, disusul Pangeran Muda dan Wan Cu. Raksasa ini melotot tapi tak dapat berbuat apa-apa.

Ketika Gurba tak dapat bangun lagi dan Mo-ong tertawa bergelak hendak menurunkan satu pukulan maut, tiba-tiba Kim-mou-eng muncul membentak dan menangkis pukulan kakek ini.

"Mo-ong, jangan bersikap keji!" Kim-mou-eng menyambut menyelamatkan suheng-nya dengan pukulan Tiat-lui-kang, tiba-tiba membuat Mo-ong terpental, tapi Kim-mou-eng sendiri juga terhuyung. Nyata pendekar ini belum begitu kuat karena dia belum sembuh benar; memang keadaannya lebih baik dibanding Gurba karena Salima telah menyalurkan sinkang-nya pada suheng-nya ini. Tidak seperti Gurba yang menderita menahan sakit tanpa bantuan siapapun.

Mo-ong terbelalak, tapi dapat melihat kelemahan Kim-mou-eng pula, ia terbahak dan tidak takut karena kekuatan lawan tidak seperti dulu. Dia tidak gentar. Namun, ketika dia hendak menerjang dan membunuh Kim-mou-eng, mendadak di tempat lain terdengar jeritan muridnya. Bu Ham terjengkang setelah sesosok bayangan melengking tinggi menamparnya hingga muridnya terguling-guling.

Sepuluh peti harta terlepas berhamburan dipungut Sien Nio dan dua temannya bagai anjing kelaparan menemukan tulang-tulang berserakan; ibu dan anak berebut sambil bersorak. Salima muncul. Ketika gadis itu berkelebat dan Bu Ham jatuh bangun dihajar, akhirnya Bu Ham berteriak-teriak pada gurunya.

"Suhu, tolong...." Mo-ong pucat. Tiba-tiba dia melihat keadaan tidak menguntungkan. Kehadiran Salima membuat dia geram. Kim-mou-eng tegak melindungi suheng-nya, sementara Bu Ham terus kepontal-pontal menghadapi pukulan Salima. Tamparan dan tendangan gadis itu membuat pemuda ini babak belur, Bu Ham memanggil-manggil gurunya.

Ketika satu pukulan telak mengenai tengkuk Bu Ham dan muridnya itu roboh, tiba-tiba Mo-ong membentak dan meloncat tinggi, meninggalkan Kim-mou-eng dan menyerang Salima. Kipas dan tangan kiri bergerak menyambar gadis Tartar ini. Tapi Salima yang membalik dan menangkis serangan tangan itu tiba-tiba menggerakkan kedua lengan mengerahkan Tiat-lui-kang.

"Krak, dess!" Kipas di tangan si kakek hancur. Mo-ong mengeluh terlempar setombak, Salima juga terhuyung beberapa tindak. Tapi ketika Mo-ong bangun berdiri dan memaki gadis itu, mendadak tubuhnya melesat menyambar sang murid yang pingsan di atas tanah.

"Tiat-ciang Sian-li, kau berhutang satu kipas kepadaku!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment