Chapter 186
"Awas lain kali!" Kakek itu terbang memutar tubuh, lalu tiba-tiba berkelebat meninggalkan hutan.
Sepuluh peti harta tak diingatnya lagi karena sudah dibawa lari Sien Nio, bersembunyi bersama putranya. Kim Mou Eng tegak memandang sumoinya yang baru menyelesaikan pertempuran, menarik napas dalam. Namun, ketika sumoinya bertanya ke mana Twa Suheng mereka, Kim Mou Eng mendadak tertegun. Gurba lenyap secara diam-diam. Kim Mou Eng yang tercekat, mengenal kekerasan suhengnya, tiba-tiba mengajak sumoinya mencari.
"Tentu mencari Wan Cu. Ayo kita cari!"
Kim Mou Eng memang benar. Raksasa ini memang mengejar Wan Cu dan Pangeran Muda, terseok-seok mendekap dada mencari dua orang yang dibencinya itu. Mereka tadi menghilang di sebelah kanan ketika sumoinya menghajar Bu Ham dan sutenya terbelalak membelakangi dirinya. Gurba beringsut menjauhi Kim Mou Eng. Di luar hutan terdengar derap ramai dari ratusan kuda dan teriakan di sana-sini memenuhi hutan karena rombongan Bu Ciangkun dan lainnya telah datang. Di pihak lain, Sien Nio gelisah melarikan diri.
"Cepat, cepat Pangeran, musuh rupanya telah sampai mengepung kita!" Sien Nio kebingungan.
Mereka bertiga menerobos ke sana kemari. Arah tidak dapat ditentukan lagi karena mereka sudah berada di tengah hutan. Diam-diam marah dan gemas atas gangguan Tok Gan Sin Ni dan kawan-kawannya, Sien Nio menerabas apa saja demi mencari jalan keluar. Namun, ketika mereka tersesat dan sebuah jurang menghadang, mendadak Sien Nio berhenti dan berdiri menggigil.
"Keparat, kita tidak dapat melampaui jurang ini. Satu-satunya jalan hanya menuruni tebingnya dan merayap di seberang sana." Pangeran Muda pucat.
Mereka tidak memiliki pilihan lain. Pangeran Muda diam-diam menyesal karena tidak melatih *ginkang* atau ilmu meringankan tubuh. Jika dia memiliki *ginkang*, tentu mudah baginya melompati jurang itu yang ditaksir lebarnya tak kurang dari sepuluh meter. Dalamnya tidak diketahui karena mereka tidak dapat mengira-ngira. Ketika ibunya bingung dan Pangeran Muda pucat, Wan Cu sudah menyingsingkan lengan bajunya, mendukung pendapat Sien Nio.
"Benar, satu-satunya jalan hanya merayap turun. Kecuali kalau kita mempunyai tambang sebagai jembatan darurat." Wan Cu sudah bersiap-siap untuk menuruni tebing, tapi tiba-tiba terpekik.
Beberapa ular hijau menempel di dinding jurang. Mereka mendesis memandang tiga orang itu. Rupanya kebisingan di atas membangunkan ular-ular tersebut. Ketika Wan Cu tertegun dan sang selir juga terkejut, geraman di belakang membuat mereka semakin pucat.
"Paduka Selir, kalian tidak dapat lari!" Gurba muncul dengan muka beringas. Raksasa ini datang dengan kaki terhuyung, tubuh setengah membungkuk karena Gurba selalu mendekap dadanya. Rambutnya awut-awutan, jelaga, dan tanah kotor membuat mukanya lebih menakutkan lagi.
Wan Cu dan Pangeran Muda tersentak. Ketika Gurba tiba di tempat itu dan tertawa aneh, pandangannya tertuju pada Pangeran Muda dan Wan Cu. "Wan Cu, kau harus mati. Begitu pula penipu ini."
"Tidak, jangan...!" Sien Nio tiba-tiba menjerit. "Kau boleh bunuh Wan Cu, Gurba. Tapi jangan anakku!"
Gurba mengibas. Dia membuat Sien Nio terpelanting dan roboh mengaduh. Wan Cu terbelalak dan benci memandang ibu kekasihnya itu. Dalam keadaan seperti itu pun, ibu kekasihnya demikian keji, benar-benar tidak menghargai jiwanya dan berharap dia dibunuh.
Namun, Pangeran Muda yang rupanya benar-benar mencintai Wan Cu dan marah kepada Gurba, tiba-tiba membentak sambil melompat maju. "Tidak, siapa pun tidak boleh membunuh Wan Cu, Ibu. Dia kekasihku dan aku mencintainya. Gurba inilah yang tidak tahu malu, mengejar-ngejar wanita yang menjadi milik orang lain. Keparat!"
Pangeran itu menerjang, memungut sebatang kayu, lalu menghantamkannya kepada Gurba sambil menyerang membabi buta, mengayun kaki, dan memukul. Gurba mengelak, tapi beberapa pukulan mendarat di tubuhnya. Raksasa ini menggeram. Dia memang lemah, tetapi tidak perlu khawatir menghadapi pukulan-pukulan lawan. Hanya kekuatan luar yang membuat pakaiannya robek-robek, namun tidak bakal mematikan karena Pangeran Muda tidak memiliki ilmu silat yang baik.
Ketika pukulan dan tendangan menghujani berulang-ulang dan Gurba menangkis senjata di tangan lawan, tiba-tiba kayu yang dipegang Pangeran Muda patah. "Krakk!"
Gurba membuat lawannya terkejut. Raksasa itu terhuyung melangkah maju, dua lengannya tahu-tahu menangkap pinggang sang pangeran. Begitu cepat dan luar biasa, maklum, Gurba tidak kehilangan ilmu silatnya, hanya kehilangan tenaganya saja. Ketika dia mengangkat dan membanting tubuh lawan, pangeran itu mengaduh dan roboh terkapar di tanah yang keras. "Bluk!"
Pangeran itu seakan dibanting belalai seekor gajah. Kekuatan Gurba masih terlalu kuat baginya. Pangeran ini mengeluh dan tidak dapat bangun berdiri. Gurba tahu-tahu menginjak punggungnya dan menarik tangan kirinya, menekuk dan menyentaknya ke belakang. Terdengar suara "krek" yang mendirikan bulu roma, sang pangeran menjerit, dan lengan kirinya patah menjadi dua.
"Aduh...!" Sien Nio dan Wan Cu terpekik.
Tiba-tiba dua orang wanita ini menyerang Gurba. Sien Nio mencabut badiknya sementara Wan Cu menggunakan tangan dan kakinya. Keduanya ingin menyelamatkan Pangeran Muda. Tapi Gurba yang menangkis dan mementalkan mereka tertawa mengejek, membuat sang selir roboh dan Wan Cu pun terguling-guling.
"Paduka Selir, anakmu harus kubunuh!"
"Jangan...!" Sien Nio melompat maju, menyerang lagi tapi kembali terpental. Gurba tidak mempan menerima pisaunya.
Ketika Wan Cu terbelalak dan Sien Nio pucat, mendadak tanpa disangka-sangka, selir ini menikam dada Wan Cu sebagai penukar jiwa putranya. "Gurba, lihat apa yang kulakukan. Wanita yang kau benci ini kubunuh... cepp!"
Pisau yang menancap di dada Wan Cu hampir amblas ke gagangnya, membuat Wan Cu mengeluh dan roboh terguling. Darah muncrat mengejutkan Gurba dan Pangeran Muda sendiri. Sien Nio menganggap persoalan bisa dibereskan kalau Wan Cu dibunuh; putranya tentu juga kehilangan kekasih dan dua pemuda itu tidak akan berebutan lagi. Gurba melepas putranya, itulah yang diharapkannya.
Ketika pisau masih bergetar dan Gurba benar-benar melepaskan Pangeran Muda karena kaget melihat perbuatan selir ini, Pangeran Muda berteriak tertahan. "Wan Cu...!"
Wan Cu terbelalak. Wanita cantik ini hampir tidak dapat bersuara, kekagetannya tidak kalah dibanding semua orang, bahkan ditambah rasa sakit yang membuat dia mengerang. Kekasihnya bangun berdiri dengan kaki terhuyung-huyung, sebelah lengan terkulai. Wajah pangeran ini tidak kalah pucat dibanding Wan Cu, langsung menubruk dan menangis mendekap kekasihnya itu dengan sebelah tangan. Pangeran ini sebenarnya kesakitan, tapi lupa sejenak pada sakitnya karena melihat kekasihnya ditikam.
Ketika keduanya sama-sama menangis namun Wan Cu menggeliat dalam sekarat, tiba-tiba wanita ini mengembuskan napasnya sambil menuding-nuding Sien Nio. "Pangeran, ibumu keji...!"
Pangeran Muda meraung. Wan Cu telah terguling di dalam pelukannya, tewas. Kesedihan besar membuat pangeran ini menjerit memanggil-manggil nama Wan Cu, terisak. Ibunya tiba-tiba menghampiri dan menyentuh pundaknya, menyuruh putranya diam dan melepaskan Wan Cu. Kematian wanita itu sudah sepantasnya demi keselamatan mereka, bahkan Sien Nio mengerutkan alis tidak senang melihat tingkah laku putranya.
Namun, Pangeran Muda yang membalik dan marah pada ibunya, tiba-tiba mencabut pisau di dada Wan Cu dan menghunjamkannya ke dada ibunya sendiri. "Ibu, kau wanita iblis!"
Pisau yang menyambar begitu cepat dalam jarak yang dekat mengejutkan Sien Nio yang tidak dapat mengelak maupun menangkis. "Cepp!" Pisau itu pun menancap di dada selir ini. Sien Nio terpekik dan roboh. Putranya mengerang dan mencabut pisau itu, bukan untuk dilempar melainkan untuk ditikamkan lagi ke tubuh ibunya, bertubi-tubi hingga Sien Nio menjerit dan mengaduh. Semprotan darah pertama agaknya membuat pangeran ini semakin buas; pisau di tangan terus bergerak membuat lubang-lubang baru yang mengerikan.
Sien Nio merintih dan berkelojotan di atas tanah. Tubuhnya terkoyak-koyak oleh pisau pembunuh itu. Ketika Pangeran Muda terus menikami ibunya dan Sien Nio akhirnya tidak sadarkan diri, sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat menyerang pangeran ini.
"Keji...!" Bayangan itu membentak, menampar sekaligus menendang Pangeran Muda, merenggut pisau, dan membuat Pangeran Muda terguling-guling.
Pangeran itu mengeluh dan bangun terduduk. Seorang laki-laki tua telah berdiri di situ, umurnya sekitar tujuh puluhan tahun, menggigil dan terbelalak menyaksikan kejadian mengerikan itu. Tubuh yang berlumuran darah dan pisau yang sudah licin dipegang. Seorang kakek yang buntung sebelah lengannya, rambut dan jenggot sudah putih semua seperti perak. Kakek yang kurus tapi gagah!
Ketika Pangeran Muda tertegun dan kakek itu gemetar memegang pisau yang berlepotan darah, tiba-tiba kakek ini menangis dan menubruk ibunya. "Nio-nio!"
Pangeran Muda semakin melongo. Dia tidak mengenal siapa kakek ini, kenapa memanggil Nio-nio pada ibunya, sebutan yang hanya dilakukan orang-orang tertentu saja. Orang yang pernah akrab kepada ibunya, entah siapa. Ketika dia tertegun dan ngeri sendiri melihat hasil perbuatannya, tiba-tiba Gurba yang sejak tadi menonton dan tidak bergerak dari tempatnya, sekonyong-konyong tertawa bergelak menghampirinya dengan langkah menggetarkan.
"Pangeran, sekarang kau mati!"
Pangeran Muda terkejut. Kakek yang menangis memeluk ibunya itu tidak menghiraukan sekeliling lagi.