Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 187

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 187

Gurba menghampirinya dengan sorot yang begitu bengis. Tak ada ampun di mata raksasa tinggi besar itu. Ketika pemuda itu kebingungan dan Gurba memandangnya bagaikan harimau kelaparan, sang pangeran tiba-tiba mundur sambil menggoyang-goyangkan lengan.

"Tidak... jangan, Gurba. Aku masih ingin hidup dan biar sepuluh peti harta itu kau ambil!"

Gurba tertawa menyeringai. Raksasa ini tak menjawab, terhuyung-huyung maju dengan sebelah lengan mendekap dadanya sendiri. Langkahnya bagaikan beruang yang terbungkuk-bungkuk mengincar korban. Pangeran Muda ketakutan. Dia tak membawa senjata, lengannya pun yang sebelah patah. Kini terasa ngilu dan pangeran ini terbelalak. Wajahnya sudah pucat pasi tanpa sisa darah.

Gurba kian dekat. Ketika raksasa itu menggeram dan pangeran mundur tanpa sadar, kakinya menginjak tempat kosong. Itulah jurang yang menganga di belakangnya. Siauw Ongya lupa. Begitu dirinya mundur dan Gurba siap menerkam, kaki pangeran itu terjeblos dan pekik mengerikan pun terdengar.

"Aaaaa...!" Suara itu terdengar menyayat. Gurba tertegun melihat lawannya melayang-layang ke dasar jurang, sekejap kemudian lenyap membawa gemanya yang membuat bulu kuduk berdiri. Nyaring dan pilu bagaikan suara iblis, atau mungkin pekikan setan di dasar neraka.

Gurba menghentikan langkah. Saat suara itu lenyap dan Gurba termangu memandangi dasar jurang, tiba-tiba sebuah tangan kuat mencengkeram pundaknya.

"Kenapa kau biarkan begitu?"

Gurba terkejut. Cengkeraman yang marah ini diiringi pula suara yang menggigil. Dia membalik dan melihat kakek berlengan buntung itu berdiri di depannya dengan mata berapi-api dan gigi gemeretuk. Untuk kedua kalinya, Gurba tertegun. Kakek ini memiliki keberanian besar dan sama sekali tidak takut kepadanya.

Gurba mengerutkan kening, tidak senang. Namun, sebelum dia menjawab atau melepaskan diri, Gurba tiba-tiba limbung dan terbatuk dua kali, memuntahkan darah hingga si buntung melepaskan cengkeramannya. Raksasa ini terhuyung dan jatuh terduduk. Si kakek terkejut. Ketika Gurba mengeluh dan berkerut menahan sakit, sekonyong-konyong wajahnya berubah hitam gelap kebiru-biruan.

"Ugh!" Gurba kembali terbatuk, kali ini darah bercampur liur yang kehitaman. Gurba bersila, sementara kakek buntung terbelalak melihat raksasa itu berganti-ganti warna merah dan pucat.

Gurba sadar akan lukanya yang berat. Luka yang tak terawat dan dibiarkannya saja karena seluruh perhatiannya tadi tertuju pada Wan Cu dan Pangeran Muda. Kini, setelah dua orang yang dibencinya itu tewas, pikiran jernihnya timbul kembali. Api dendam dan nafsu membunuh lenyap, tergantikan rasa sakit yang seolah-olah terlupakan.

Saat Gurba mengerahkan *sinkang* untuk mencoba menyembuhkan diri dengan duduk bersila, raksasa ini terkejut karena tenaga *sinkang*-nya tidak dapat dikerahkan lagi akibat kondisi tubuhnya yang demikian lemah. Tenaga sakti di tubuhnya tak dapat ditarik. Gurba menggigil dan kembali terbatuk-batuk. Ada suara gemuruh di perutnya, buku-buku tulang tiba-tiba berkeretak, dan Gurba menyeringai. Kakek di depannya tak dilihat lagi. Sebuah tangan mendadak menempel di punggungnya, mencoba membantu tetapi gagal. Gurba merasa tenggorokan panas dan tubuhnya seolah terbakar.

Ketika raksasa itu kaget dan mengeluh dengan muka pucat, hawa yang ditarik tiba-tiba tersedot namun tak terkendali, menerjang semua aliran darah di seluruh tubuhnya.

"Aduh...!" Gurba terlalu memaksa diri. Dia telah mati-matian menarik hawa saktinya tadi, namun kini hawa itu bergerak tak terkendali karena sudah melebihi titik batasnya. Tenaga aslinya terlalu lemah untuk menghadapi arus hawa yang terlalu hebat. Karena Gurba mengalami luka berulang-ulang yang tidak segera disembuhkan dan pikirannya terlalu ditujukan pada dendam, maka sekarang hawa yang menerjang itu tak dapat dilawan dan membalik menyerang diri sendiri. Semakin parah.

Gurba menggigil dan giginya gemeretuk, tulang-tulangnya semakin berkeretak, dan si buntung terbelalak. Ketika hawa dingin berbalik menggantikan hawa panas, tiba-tiba Gurba mengeluh dan terguling pingsan. Muka dan tubuhnya bengkak, urat-urat kebiruan menonjol keluar. Darah mengalir dari semua lubang di tubuh raksasa ini, membeku dan tiba-tiba dingin seperti es.

Si buntung semakin terkejut. Namun, ketika dia membungkuk hendak menolong, Kim Mou-eng dan sumoinya muncul.

"Suheng...!" Kim Mou-eng terperanjat. Dia melihat dua tubuh tergeletak bersimbah darah, Wan Cu dan Sien Nio. Suheng-nya tergeletak ditolong kakek tak dikenal, hidung, telinga, dan mulutnya mengeluarkan darah yang segera membeku seperti es.

"Jalan darahnya pecah. Suheng terancam maut!" Kim Mou-eng menggigil. Dia cepat menolong tapi tak berhasil. Urat-urat darah suheng-nya satu demi satu putus, pecah di dalam akibat terjangan hawa sakti yang membalik.

Saat Kim Mou-eng gemetaran melihat keadaan suheng-nya, erangan di sebelah kiri menarik perhatian mereka. Kakek buntung itu tiba-tiba menghampiri Sien Nio.

"Nio-nio, kau siuman?"

Sien Nio mengeluh. Wanita ini memang sadar dan merintih, sempat melupakan kakek itu karena Gurba membunuh Pangeran Muda. Sien Nio membuka mata dan berkata-kata tak jelas. Suara orang di sana-sini mulai terdengar, itulah rombongan Bu Ciangkun dan lain-lain. Sien Nio yang mengeluh memandang kakek buntung itu tiba-tiba menggigil.

"Kau siapa?"

Kakek itu menangis. "Aku orang pertama yang menyebabkanmu begini, Nio-nio. Aku menyesal dan berdosa padamu."

"Kau siapa?"

"Lihatlah baik-baik, amati wajahku. Tidakkah kau kenal?" Kakek itu tiba-tiba memeluk selir ini, air matanya bercucuran. Sien Nio terbelalak. Dia memperhatikan tapi tetap tak mengenali, kakek ini asing baginya, tapi suaranya tiba-tiba menyengat ingatan Sien Nio. Kian lama kian mendekat tapi menjauh lagi. Sungguh Sien Nio bingung.

Saat rasa sakit menghentak wanita ini dalam kepedihan, Sien Nio mengerang dan berjengit-jengit.

"Aduh, aku... aku tak mengenalmu. Tapi suaramu serasa kuingat...!"

"Sudahlah, aku Hok-kauwsu, Nio-nio. Aku orang yang pertama kali menggaulimu dulu!"

Kakek yang memeluk Sien Nio sambil terisak itu membuat Sien Nio tersentak menahan sakit.

"Apa? Kau...? Ah!"

Sien Nio yang tiba-tiba teringat suara ini bagaikan tersambar petir di siang bolong, mendadak terkekeh dan mengerang hampir bersamaan. Kini dia mengenal bahwa kakek itu memang Hok-kauwsu, centeng Pin Loya. Laki-laki yang memberinya dua ratus tail perak, tetapi dia harus menyerahkan kehormatannya. Mata laki-laki itu kini dikenalnya. Benar, memang Hok-kauwsu; meskipun telah menjadi kakek, suara dan mata laki-laki ini masih seperti dulu. Bahkan sekarang mata itu bersorot lembut dan penuh kebijaksanaan, hanya lengannya yang buntung.

Ketika Sien Nio terkekeh geli namun sekejap kemudian merintih, selir ini berkata dengan terengah-engah.

"Benar, kau laki-laki itu, Hok-kauwsu... kau tukang pukul Pin Loya! Tapi kenapa lenganmu hilang sebelah? Bagaimana tiba-tiba kau ada di sini? Dan aduh... kau sekarang sudah tua tetapi gagah... hihihi, aku teringat ketika kau mempermainkan aku di gubuk... dan... dan..."

Sien Nio berkelojotan, menghentikan kata-katanya, dan mengeluh dengan muka pucat. Dia tak akan tertolong karena luka-lukanya terlalu parah. Hok-kauwsu menangis memeluk selir ini, berbisik-bisik dan menyatakan maaf bahwa perbuatannya dulu membuat Sien Nio rusak. Sien Nio tersenyum dan kembali menyeringai, pandang matanya meredup.

Saat selir itu megap-megap dan napas tampak sukar mengisi paru-parunya, wanita ini bertanya, "Hok-kauwsu, bagaimana kau bisa ada di sini? Bagaimana kau datang...?"

"Aku telah lama ikut Kim-taijin, Nio-nio, menjadi pelayannya. Selama itu pula aku ingin menemuimu. Tak berhasil dan selalu gagal karena kau telah menjadi wanita yang berkedudukan. Kekuasaanmu menghalangi keinginanku dan baru sekarang dapat jumpa."

"Dan bagaimana kau bisa tiba di sini?"

"Aku mengikuti perjalananmu, Nio-nio. Susah payah dan lagi-lagi nyaris gagal."

"Hihihi, kau lucu. Mau apa menemuiku? Perawanku telah kau peroleh, mau apalagi?"

"Ah...!" Hok-kauwsu mendekap kepala wanita ini, tertusuk pedih. "Jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Nio-nio. Aku ingin menemuimu karena ingin menyadarkanmu. Aku menyesal dan ingin mengajakmu hidup baik-baik!"

"Tetapi gagal dan kini kau kecewa?"

"Begitulah..."

Ketika Sien Nio tertawa dan menangis di antara napasnya yang terengah, tiba-tiba wanita ini menggeliat.

"Hok-kauwsu, mana anakku yang keparat itu?"

"Dia..."

"Dia mampus?"

"Ah, kau menerima karma yang tidak baik, Nio-nio. Sungguh penyesalanku semakin bertambah-tambah saja. Ini barangkali gara-gara aku!"

"Tidak!" Sien Nio tiba-tiba melotot. "Aku bertanya kau menjawab, Kauwsu. Mana puteraku itu? Kenapa dia tidak menggorokku sekalian?"

Kauwsu ini sedih. Dia terpaksa memberitahukan bahwa Pangeran Muda memang telah tewas, bahwa Sien Nio tak akan dapat melihat puteranya itu karena terjatuh ke jurang. Kakek ini menyatakan penyesalannya yang tiada habis. Saat Sien Nio tertegun dan terbelalak memandang kakek ini, Hok-kauwsu mendekap kepalanya dengan air mata bercucuran.

"Benar, puteramu tewas di jurang sana, Nio-nio. Aku tak dapat menyelamatkannya ketika diancam raksasa Tartar itu."

"Gurba?"

"Ya..."

"Ah..."

Sien Nio yang mengutuk mengepal tinjunya, lalu tiba-tiba menangis. "Kauwsu, nasibku memang sial."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment