Chapter 188
"Anak kandungku satu-satunya pun membunuh aku!"
"Sudahlah, ini suratan takdir, Nio-nio. Lupakah kau pada kutukan mendiang ibu angkatmu dulu? Kau pun dulu menyakitinya, dan kini semuanya terjadi serta hidup sebagai sebuah kenyataan. Aku menyesal menyeretmu dalam nasib yang demikian buruk!"
Hok-kauwsu mencium wanita itu penuh penyesalan. Tiba-tiba Sien Nio batuk dan tersedak-sedak.
"Kauwsu, kau memang aneh. Dahulu kau demikian jahat, sekarang demikian baik. Apa yang menyebabkanmu begini?"
"Panjang ceritanya, Nio-nio. Tapi seseorang telah menyelamatkanku lahir dan batin. Dialah yang mengubah jalan hidupku sampai kini."
"Siapa?"
"Bu-beng Sian-su!"
"Ooh...." Sien Nio terbelalak. "Bu-beng Sian-su!"
"Ya, Bu-beng Sian-su, Nio-nio. Dialah yang mengubah keburukan-keburukanku, meskipun untuk itu aku harus kehilangan sebuah lengan!"
"Apa yang terjadi? Mana manusia dewa itu?"
"Yang terjadi panjang sekali, Nio-nio. Dan di mana manusia dewa itu, aku sendiri pun tak tahu. Aku...." Hok-kauwsu menghentikan kata-katanya saat melihat Sien Nio muntah darah. Matanya mendelik dan tubuh wanita ini berkelojotan. Rupanya banyak bicara tadi membuat luka-luka Sien Nio semakin parah. Tangan wanita ini menggapai-gapai sementara mulutnya mengerang tak keruan.
Hok-kauwsu menggigil dan cepat menekan tengkuk bekas kekasihnya itu. Sien Nio berbisik-bisik. Ketika Hok-kauwsu mendekatkan telinganya dengan wajah pucat, Sien Nio berkata, "Kauwsu, kau beruntung benar bertemu manusia dewa itu. Aku akan mati... bakarlah mayatku agar api memusnahkan semua dosa-dosaku. Kau mau, Kauwsu...?"
Hok-kauwsu menangis. "Kau tak usah bicara tentang kematian, Nio-nio. Aku akan menyelamatkanmu dan menolongmu dari luka-lukamu ini..."
"Tidak, aku tak tahan, Kauwsu.... Aku telah melihat putraku di depan sana. Dia mengejekku, keparat... aku akan menghajar anak itu dan... dan...!"
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi, Nio-nio. Hapuskan dendammu itu dan jangan bermusuhan dengan darah dagingmu sendiri!"
"Tidak, dia bersama Wan Cu, Kauwsu. Aku benci mereka berdua! Aku... ooh, aku tak kuat... aku... aku...." Sien Nio merintih, berkelojotan, dan tiba-tiba mengerang. Tangannya menuding-nuding ke atas. Hok-kauwsu mengguguk. Wanita ini hampir kehilangan kesadarannya. Setelah mengucapkan selamat tinggal, selir ini pun roboh di pangkuan Hok-kauwsu.
"Nio-nio...!"
Namun, Sien Nio telah tewas. Wanita ini meninggal dalam keadaan yang mengerikan, tubuhnya dirajam sembilan bekas luka yang menganga. Hok-kauwsu mengeluh memanggil-manggil nama bekas kekasihnya itu. Namun, ketika mata itu tak bercahaya lagi dan sukma wanita ini melayang ke alam lain, Hok-kauwsu roboh terguling dan pingsan di samping mayatnya.
Persis saat itu, Bu-ciangkun dan teman-temannya tiba. Mereka melihat Kim-mou-eng menolong suheng-nya sementara dua tubuh bergelimpangan mandi darah. Wan Cu dan Sien Nio telah menemui ajal. Bu-ciangkun melompat menghampiri, diikuti yang lainnya. Mereka melihat keadaan Gurba yang mengerikan, tubuhnya kebiruan dan bengkak-bengkak. Semua orang tertegun. Dalam keheningan yang beku, Kim-mou-eng melepaskan suheng-nya dan tersendu, "Dia telah tiada...."
Bu-ciangkun merangkapkan tangan. Raksasa tinggi besar itu telah tewas oleh luka-luka yang terlalu parah. Semua orang membungkuk memberi hormat pada arwah raksasa ini. Betapapun, dia adalah suheng Kim-mou-eng. Memandang wajah pendekar itulah mereka memberi hormat.
Kim-mou-eng gemetar dan lengannya dipegang oleh Salima. Gadis ini tak seberapa terpukul oleh kematian kakak tertuanya itu karena rasa tidak suka telah mengganggunya sejak Gurba memfitnah Kim-mou-eng. Ketika Bu-ciangkun bertanya apa yang harus dilakukan, Kim-mou-eng menyuruh mereka kembali.
"Aku hendak membawa mayat suheng-ku ke luar Tembok Besar, Ciangkun. Kami hendak menguburkannya di sana, di kampung halamannya."
"Tapi Pangeran tentu kecewa. Sebaiknya Taihiap ikut kami dulu ke istana."
Kim-mou-eng mengerutkan kening. Urusan sudah bisa dibilang selesai, tetapi mengingat Kaisar terminum racun dan Pangeran Mahkota serta Kim-taijin menunggu kabar, pendekar ini merasa tak enak dan mengangguk. Ia memanggil Siga dan Bora serta pasukan Tartar lainnya untuk membawa mayat suheng-nya ke luar Tembok Besar.
Saat semuanya hendak berangkat, Bu-ciangkun teringat Pangeran Muda dan bertanya di mana pangeran yang jahat itu berada. Tidak ada yang bisa menjawab karena Kim-mou-eng pun tidak tahu. Kebetulan Hok-kauwsu tiba-tiba sadar. Bu-ciangkun mengenal kakek ini dan segera bertanya apa yang terjadi. Kakek itu bercerita sambil menahan air mata. Semua orang mengerti dan menghela napas panjang.
Mayat Wan Cu dikuburkan. Sien Nio tidak dimakamkan karena ia meminta untuk dibakar; kakek inilah yang membakarnya dan menunggu sampai jenazah itu menjadi abu. Salima dan Kim-mou-eng diam-diam tertarik dan heran melihat kakek ini. Sekarang mereka tahu bahwa kakek ini adalah pelayan Kim-taijin yang jarang memperlihatkan diri.
Saat hendak meninggalkan tempat itu, kakek tersebut menghampiri mereka. "Kim Taihiap, boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa?"
"Aku ingin ikut kalian keluar Tembok Besar, Taihiap. Aku ingin menjumpai guru kalian, si manusia dewa, Bu-beng Sian-su!"
"Ah, kau mengenalnya?"
"Dua puluh tahun yang lalu aku ditolongnya, Taihiap. Kini aku ingin menghadapnya dan mendengar petuah-petuahnya yang manjur."
"Hm!" Kim-mou-eng tertegun. "Suhu kami itu jarang menemui kami, Kauwsu. Dia datang dan pergi sesuka hatinya. Kalau memang ada jodoh, baru kita bisa menemuinya."
"Aku tahu, Taihiap. Dan aku bersabar untuk menunggu saat bersejarah itu. Aku ingin mendengar wejangannya sebelum ajalku tiba."
"Baiklah, nanti kita berjumpa lagi, Kauwsu. Selamat tinggal!"
Kim-mou-eng turun mengikuti rombongan Bu-ciangkun, lalu berkelebat mendahului rombongan tersebut. Sumoinya menyusul dan menggandeng lengannya, lalu menghilang di balik pohon-pohon besar. Pendekar Rambut Emas dan sumoinya itu memang orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi.
Ketika mereka tiba di istana dan disambut oleh Kim-taijin, Pangeran Mahkota muncul dengan wajah berseri-seri. "Taihiap, Ayahanda Kaisar selamat. Kini beliau menunggu kalian di ruang dalam!"
Kim-mou-eng tertegun. "Siapa yang menyelamatkannya?"
"Yu-twako, Taihiap. Saudara Yu Bing. Dia memiliki Pek-bouw-cu (Mustika Harimau Putih) yang kebetulan dibawa!"
Kim-mou-eng terkesima. Ia ingat bahwa Yu Bing memang memiliki mustika anti-racun itu. Rasa khawatir dan marah tadi agaknya membuat semua orang lalai.
"Bagaimana dia bisa menolong Sri Baginda, Pangeran? Bukankah dia sendiri terluka?"
"Ini jasa Hek-eng Taihiap, Kim-mou-eng," Kim-taijin tiba-tiba berseru gembira. "Pendekar Garuda Hitam itulah yang teringat mustika sahabatnya ini!"
Kim-taijin menceritakan bagaimana Hek-eng Taihiap menolong temannya, dan ganti Yu Bing menolong Kaisar. Kim-mou-eng mengangguk-angguk mengerti.
"Sekarang Ayahanda mengundang dirimu. Kalian ditunggu di ruang dalam."
"Untuk apa?"
"Ayah ingin mengucapkan terima kasih, Taihiap."
"Ah, kalian terlalu membesar-besarkan, ini memang sudah tugas kewajiban kami."
Kim-mou-eng tiba-tiba berhenti. Seorang laki-laki berpakaian emas dengan dada bersulam naga muncul, tertawa, dan menuruni anak tangga. Kim-mou-eng terkejut karena itulah Kaisar. Semua orang cepat memberi hormat, dan Kaisar langsung merangkul pendekar itu.
"Kim-mou-eng, tak ada kata penolakan di istana ini. Mari, penuhi permintaan kami dan masuklah ke dalam!"
Kim-mou-eng tak dapat menolak. Inilah satu kehormatan besar yang tak boleh ditampik. Karena Kaisar menyatakan kesungguhannya dan melihat Sri Baginda sudah benar-benar sehat kembali, pendekar ini tak dapat menghindar. Kaisar menjamu mereka dengan makanan dan minuman yang lezat, serta arak Hang-cou yang dikeluarkan.