Chapter 189
Mereka bercakap-cakap dan menceritakan semua kejadian yang telah berlangsung. Kim Mou-eng menjawab pertanyaan-pertanyaan kaisar tentang Sien Nio dan para pembantunya.
Ketika kaisar mengerutkan alis dan berkali-kali menahan marah atas rencana pemberontakan selirnya, ia bangkit berdiri lalu membungkuk saat mendengar kematian Gurba. "Thian Yang Maha Agung, semoga arwah suhengmu diterima di sisi Tuhan!" Kim Mou-eng merasa kerepotan. Kaisar ternyata tidak membenci suhengnya itu, bahkan dapat mengerti kejahatan yang dilakukan. Sungguh hal ini di luar dugaan. Kim Mou-eng melihat betapa kaisar ini adalah seorang pemimpin yang bijak.
Malam itu, mereka kembali meneruskan percakapan. Rombongan Bu Ciangkun melengkapi berita, dan akhirnya sepuluh peti harta karun yang berhasil diambil kembali diserahkan oleh kaisar kepada Kim Mou-eng. "Aku tak ingin benda ini di sini lagi, Kim Mou-eng. Terimalah dan bawalah ini sebagai tanda penghargaan kami kepada kalian berdua!"
"Ah, untuk apa? Kami tidak terbiasa membawa-bawa harta sri baginda. Sebaiknya hamba kembalikan pada paduka karena kami berdua tidak mengharap balas jasa," jawab Kim Mou-eng terkejut.
"Tidak, aku tidak suka kau menolaknya, Kim Mou-eng. Terimalah dan bawalah ini sebagai rasa terima kasih kami. Kalau tidak, kami akan menganggapmu tidak mau menghargai perasaan orang lain dan mengecilkan rasa terima kasih kami."
Kim Mou-eng merasa repot. Ia tidak menduga harta sebesar itu bakal dihadiahkan kepadanya—harta yang cukup untuk hidup mewah sampai tujuh turunan, bahkan cukup untuk membangun sebuah kerajaan kecil. Namun, setelah berpandangan dengan sumoinya dan mendapat isyarat yang dimengerti, ia tersenyum kepada kaisar.
"Sri baginda, baiklah hamba terima pemberian ini. Kami berdua mengucapkan banyak terima kasih. Tapi karena kami repot membawanya dan masih memiliki urusan lain, biarlah hamba titipkan dulu sepuluh peti harta itu di sini. Kelak jika hamba kemari, tentu hamba akan mengambil hadiah ini. Harap paduka mengabulkan permintaan ini!"
Kaisar terbelalak. Ia bingung oleh kata-kata itu, tidak tahu apakah Kim Mou-eng menghindarinya secara halus. Melihat bahwa Pendekar Rambut Emas bukanlah orang yang rakus, kaisar semakin kagum. Mengingat telah terjadi banjir darah gara-gara harta karun ini, seperti tewasnya Coa-ong dan Tok-gan Sin-ni, sikap Kim Mou-eng memang luar biasa. Kaisar akhirnya tertawa tergelak memuji sang pendekar yang memiliki watak dan kepandaian yang mengagumkan.
Malam itu, kaisar menjamu mereka. Menjelang pagi, Kim Mou-eng dan sumoinya dipersilakan beristirahat di kamar yang disediakan. Mereka hanya memulihkan tenaga selama dua jam, lalu ketika hari mulai terang, mereka segera berkelebat meninggalkan istana setelah berpamitan. Begitulah sifat kebanyakan orang dunia persilatan yang tidak suka terikat tata cara.
Persis saat keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Hok Kauwsu muncul menghadang mereka. "Taihiap, aku ikut!"
Kim Mou-eng terkejut. Ia teringat janjinya pada kakek itu. Karena senang kakek itu bersungguh-sungguh menepati janji, Hok Kauwsu akhirnya dibawa serta. Dalam perjalanan itulah Kim Mou-eng mendengar cerita tentang Sien Nio dari Hok Kauwsu.
Sien Nio dulunya adalah gadis papa, anak angkat seorang petani miskin di Dusun Pin-loya. Karena tergiur harta, Sien Nio rela menukar kehormatannya demi sebuah gelang, menjadi kekasih Hok Kauwsu, dan melayani para centeng di rumah Pin-loya. Hok Kauwsu tampak menyesal menceritakan bagian ini. Ketika mendengar kabar bahwa para centeng mati terbunuh dan Sien Nio kabur, ia menduga itu adalah perbuatan Sien Nio. Hok Kauwsu sendiri akhirnya melarikan diri membawa harta curian dan berhasil lolos.
"Sien Nio tak hanya tamak akan harta, Taihiap, tapi juga mulai berambisi akan kedudukan dan kekuasaan. Dia memang hebat, berhasil, tapi akhirnya hancur oleh sepak terjangnya yang berlebih-lebihan. Aku berdosa kepadanya sejak awal mula kejadian itu!"
Kim Mou-eng mengerutkan kening mendengar pengakuan itu. Tiga hari kemudian, mereka tiba di luar Tembok Besar. Siga dan orang-orang Tartar menyambut mereka. Kim Mou-eng segera menanyakan makam suhengnya. Setelah ditunjukkan, ia menyuruh orang-orang pergi kecuali sumoinya dan Hok Kauwsu.
"Aku akan tinggal di sini tiga hari, Kauwsu. Betahkah kau duduk bersamadhi bersama kami?"
"Tentu aku sanggup, Taihiap. Aku ingin bertemu gurumu!"
Kim Mou-eng mengajak sumoinya menyatukan pikiran dan menarik getaran-getaran tertentu agar guru mereka datang. Salima bersila, dan tak lama kemudian, mereka bertiga menjadi patung manusia yang tidak bergerak. Hok Kauwsu yang awalnya termangu karena kematian Sien Nio masih mengguncang perasaannya, akhirnya berhasil memusatkan batin dan ikut bersamadhi.
Hari pertama berlalu dengan hening. Pada hari kedua, uap putih muncul dari tubuh Kim Mou-eng dan Salima, membungkus mereka dalam cahaya kesucian. Hok Kauwsu merasa seolah ditarik tenaga gaib dan melayang-layang di alam penuh kebahagiaan. Di sana, mereka bertiga melihat segumpal halimun aneh muncul di tengah-tengah mereka.
"Kim Mou-eng, ada apa kalian memanggil-manggil aku?"
Kim Mou-eng dan sumoinya segera berlutut. Hok Kauwsu terbelalak mendengar suara tanpa rupa dari dalam halimun itu.