Chapter 19
Dan Kim Mou-eng yang tentu saja tak dapat keluar dari kepungan yang ketat ini sudah disambut tawa ejekan sumoinya, "Suheng, apalagi yang hendak kau katakan sekarang?
Masihkah kita tak harus ribut-ribut dengan orang-orang ini?
Bukan kita yang mencari ribut, Suheng! Melainkan mereka itu yang rupanya memang harus kita hajar!" Kim Mou-eng tertegun.
Dia melihat sumoinya sudah memutar tubuh, memandang dingin para pengepung yang berdiri seperti patung itu.
Juga dingin dan tampak bengis.
Dan ketika seorang di antaranya yang berdiri paling ujung maju dan memandang mereka dengan mata berkilat, segera terdengar bunyi pertanyaan yang kasar menyakitkan telinga, "Kecoak-kecoak kecil, kalian siapa dan kenapa berbuat kurang ajar di tempat ini?
Tidak tahukah kalian bahwa Seng Piauw-pang (Perkumpulan Pisau Bintang) sedang mengadakan rapat ketua?" Salima mendengus, tidak peduli isyarat suhengnya.
"Aku tak peduli kalian rapat atau tidak.
Yang jelas aku ingin mencari laki-laki busuk yang tadi ada di sini." "Kau siapa?" "Aku ratu kalian, Salima!" "Hm, gadis Tar-tar?" "Betul, kalian tidak lekas berlutut?" Orang itu tertawa mengejek.
Dia mundur selangkah, kagum juga memandang Salima yang berdiri gagah dengan kepala tegak, angkuh tapi cantik menggairahkan dengan dadanya yang membusung itu.
Seolah benar-benar sikap seorang ratu!
Tapi karena Salima tidak dikenal dan Kim Mou-eng juga tidak memperkenalkan dirinya, maka orang itu memandang rendah.
"Bocah perempuan, kau tak perlu bermulut besar di tempat ini.
Kalian telah mengganggu ketenangan, sebaiknya kalian ikut kami menghadap ketua!" "Hm, siapa mau kalian tangkap?
Aku tak mau diperintah orang, kalau ketua kalian ingin menemui aku, sebaiknya suruh saja dia keluar!" Laki-laki itu marah.
Para pengepung yang lain juga mengeluarkan suara mengumpat, rupanya kata-kata Salima telah membuat mereka tersinggung.
Tapi ketika Salima tertawa mengejek dan maju memutar lengannya dan tak takut menghadapi sekian banyak orang, tiba-tiba laki-laki yang ada di depan itu membentak, "Nona, sebaiknya kau tak perlu membuat onar di tempat ini.
Kalian memasuki daerah kami tanpa izin, kalian kami tangkap!" "Hei, begitu mudah?" "Maksudmu?" "Kami bukan cacing-cacing tak berdaya, orang-orang Seng Piauw-pang.
Kalau kalian ingin menangkap kami, coba saja kalau kalian bisa.
Tapi awas, kami juga dapat membalas perbuatan kalian dengan sikap yang sama!" "Keparat!" Laki-laki itu marah, mencabut pisau bintangnya dan tiba-tiba menyambar dengan tiga pisau sekaligus, semuanya menuju ke bagian depan tubuh Salima, mencicit dan mendengung, lebih kuat dibanding laki-laki pertama yang tadi melempar granat.
Tapi Salima segera menampar perlahan, tiba-tiba menangkis dan langsung mementalkan tiga pisau bintang itu.
"Plak! Plak!" Laki-laki itu terkejut.
Dia melihat pisaunya mencelat ke kiri-kanan, langsung menyambar tiga anak buahnya yang tadi di dekat mereka.
Dan sebelum mereka itu tahu apa yang terjadi, mendadak tiga buah pisau itu telah mengenai tubuh mereka, menancap di lengan dan kaki.
"Crep-crep!..." Tiga laki-laki itu menjerit.
Mereka kontan terpelanting roboh, mengaduh dan berteriak kesakitan karena pisau bintang yang ditampar itu menyambar mereka, cepat sekali, lebih cepat dari sambitan yang ditujukan ke arah Salima.
Dan karena mereka tak menduga dan gerakan Salima memang luar biasa sekali, maka kontan tiga orang laki-laki ini terjengkang dan tak dapat bangun karena pisau menancap ke tubuh mereka sampai tinggal gagangnya saja.
"Ah..." semua orang terkejut. Mereka serentak melompat mundur, sang pemimpin bahkan terbelalak dan hampir tak percaya pada apa yang dilakukan Salima. Tapi begitu sadar dan marah melihat anak buahnya tak dapat bangun berdiri karena merintih-rintih memandangi pisau yang menembus demikian dalam di tubuh mereka, tiba-tiba laki-laki ini membentak memberi aba-aba. "Ngo-heng-piauw (Pisau Lima Segi), maju dan tangkap gadis siluman itu...!" Lima orang bergerak dari belakang.
Mereka adalah orang-orang yang mengenakan tutup kepala merah, terkejut dan marah melihat Salima merobohkan tiga orang teman mereka.
Tapi begitu mengangguk mendapat aba-aba, sekonyong-konyong mereka berlima menyerang Salima dengan lima pisau pinjang yang berbentuk bintang, yakni pisau yang aneh karena dari kelima sudut bintang hanyalah satu yang bermata panjang, yakni mata pisau itu karena yang empat merupakan gagangnya, berada di belakang.
Dan begitu lima orang ini bergerak menyerang di lima sudut, tiba-tiba Salima mendapat tusukan bertubi-tubi di kiri-kanan dan muka-belakang, silang-menyilang membentuk lima sinar putih yang berkerlap-kerlip menyilaukan mata, masing-masing bergerak cepat karena mereka ingin merobohkan gadis itu.
Tapi ketika Salima tertawa mengejek dan berkelebat mengerahkan ginkangnya, tiba-tiba gadis itu lenyap dari tengah-tengah kepungan, mengejutkan lima orang lawannya yang tentu saja tertegun di tempat.
Tak tahu ke mana gadis itu pergi.
Tapi ketika bayangan Salima muncul kembali dan berturut-turut menyambar mereka berlima dari kiri ke kanan, tiba-tiba lima orang itu menjerit kaget ketika Salima menampar mereka hingga roboh terpelanting.
Sedetik saja!
"Hei... plak! Plak! Plak!" Semuanya berlangsung cepat.
Kejadian itu mungkin sekejap saja, tak ada sekejap mata.
Dan ketika Salima berdiri kembali dan tegap di samping suhengnya, maka tampaklah lima orang Ngo-heng-piauw itu bergelimpangan pingsan dengan pisau terlepas entah ke mana.
"Ah!" Untuk kedua kalinya orang dibuat kaget. Laki-laki yang berdiri di depan tampak tertegun, bengong dengan muka terkesima.
Tapi begitu sadar dan maklum bahwa gadis Tar-tar ini memang hebat dan luar biasa sekali, mendadak dia berteriak menyuruh semua orang maju. Dia sendiri sudah mencabut sepasang pisau bintangnya, menyerang marah karena dalam waktu singkat saja Salima telah melumpuhkan delapan orang temannya.
Dan begitu semua orang mencabut senjata dan mengikuti jejak laki-laki di depan ini yang menyerang marah, tiba-tiba empat puluh dua orang itu telah meluruk ke depan menerjang Salima.
Tapi karena Kim Mou-eng ada di dekat sumoinya dan senjata-senjata itu berhamburan ke arah mereka, maka otomatis dua orang ini mendapat hujan serangan tak pilih-pilih lagi. "Crit-plak-bret!" Salima sudah menangkis sambil tertawa-tawa.
Dia enak saja menerima hujan senjata itu, sama sekali tak gentar, mengerahkan sinkang dan membuat lawan terkejut karena dengan jari-jari terbuka dan tangan telanjang dia berani menghadapi pisau-pisau lawan yang tajam berkilat itu, mementalkan dan bahkan ada yang patah.
Begitu saja seolah tangan gadis itu adalah Pedang Pusaka yang menghadapi pisau-pisau yang terbuat dari agar-agar.
Mudah dan gampang.
Dan ketika Salima membentak dan mengayun tubuh mengerahkan ginkangnya, tiba-tiba gadis ini telah berkelebat membagi-bagi pukulan dan tamparan ke arah lawan-lawannya yang berani mendekati.
Dan begitu Salima menangkis dan balas menyerang, tiba-tiba saja belasan orang kembali roboh terjungkal.
Lima di antaranya patah tulang karena Salima mulai bertangan besi.
Dan ketika Salima melengking dan siap melancarkan serangan ganas karena nafsu membunuh mulai membakar gadis itu, tiba-tiba Kim Mou-eng yang berlompatan mengelak dan tak seganas sumoinya berseru, "Sumoi, jangan melakukan pembunuhan.
Aku tak suka ada darah tumpah di sini...!" Salima teringat.
Dia sebenarnya marah dan siap membasmi orang-orang ini, marah karena mereka bersikap kasar. Tak dapat diajak bicara baik-baik. Tapi karena suhengnya orang yang lembut hati dan dia sudah berjanji untuk menurut semua kata-kata suhengnya, maka Salima tertawa mengejek mengurangi tenaganya. Dia menurunkan tamparan atau pukulan ke bagian pundak atau punggung, tak jadi ke kepala.
Tapi karena tamparannya mengandung sinkang yang cukup menghancurkan seekor banteng, maka sekejap kemudian sepuluh orang kembali roboh oleh sepak terjang gadis ini.
Maklum, Pendekar Rambut Emas itu memang bisanya mementalkan pisau-pisau lawannya tanpa membuat cedera.
Dan ketika Kim Mou-eng mulai mengerutkan kening karena lawan rupanya tak tahu diri, mendadak empat bayangan berkelebat membentak orang-orang Seng Piauw-pang itu.
"Berhenti...!" Semua orang tiba-tiba mundur.
Empat laki-laki tua muncul di situ, angker dan garang sikap mereka.
Dan begitu empat orang ini muncul, mendadak semua anggota Seng Piauw-pang menjatuhkan diri berlutut menghadapi laki-laki di tengah yang bermuka merah.
"Pangcu (sang ketua)!" Kim Mou-eng dan Salima tertegun.
Mereka melihat laki-laki tua ini gagah sekali, tubuhnya tegap dengan sepasang lengan yang kokoh.
Tampak berwibawa didampingi tiga temannya yang lain.
Dan ketika mereka terbelalak memandang ke depan, maka muncullah dua ratus laki-laki tinggi besar anggota Seng Piauw-pang lainnya, langsung berlutut di belakang empat laki-laki tua itu.
Dan begitu semua orang diam mengikuti gerakan empat laki-laki itu, maka bertemulah pandang mata Kim Mou-eng dengan sang ketua Seng Piauw-pang itu, yang agaknya sudah mengenal dan langsung menjura kepadanya.
"Pendekar Rambut Emas, kenapa tak langsung masuk ke dalam saja? Aku Sin Piauw Ang Lo Cin (Kakek Merah Pisau Sakti) telah mendengar kedatanganmu yang mengejutkan ini, harap maafkan sambutan anak buahku yang tidak mengenal dirimu." Kim Mou-eng tersentak, "Ah, aku yang mohon maaf padamu, Pangcu, kami telah membuat keributan tanpa sengaja. Tapi bagaimana kau bisa mengenal aku? Bukankah baru kali ini kita berjumpa muka?" "Ha, ha, ha... sepak terjangmu di kota raja sudah kudengar, Kim Mou-eng, dan aku kagum dan gembira sekali bahwa kau telah menghajar orang-orang istana yang sombong itu."
Kim Mou-eng semakin tersentak.
Tapi belum menjawab, tiba-tiba ketua Seng Piauw-pang ini telah menjura di depan sumoinya, "Li Hiap (Pendekar Wanita), kau Tiat Ciang Sian Li bukan?"