Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 190

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 190

Ketika Kim-mou-eng dan sumoinya menyebut "Suhu" pada suara di balik halimun ini, mendadak Hok-kauwsu tersentak karena dia sadar bahwa dia telah berhadapan dengan Bu-beng Sian-su, si manusia dewa.

"Sian-su!" kakek ini pun menjatuhkan diri berlutut, kaget dan girang, tapi juga gentar melihat suara tanpa rupa.

Ada suara tanpa wujud. Si manusia dewa datang!

Ketika Bu-beng Sian-su tersenyum dan mengangguk kepadanya, maka kauwsu ini merasakan kejatuhan bintang, sementara Kim-mou-eng dan sumoinya sudah berlutut berdampingan menghadapi guru mereka. Bu-beng Sian-su bertanya apa maksud dua orang muda itu, kenapa mereka memanggil dirinya lewat getaran tenaga gaib.

Kim-mou-eng memohon maaf dan kelihatan gentar menghadapi gurunya. Ketika manusia dewa itu bertanya kepada mereka berdua yang datang di tempat itu, maka Kim-mou-eng segera memberi tahu kematian Gurba.

"Suheng tewas, Suhu. Mohon ampun bahwa makamnya ada di bawah kaki kita."

"Hm!" Manusia dewa itu tak menunjukkan perubahan apa-apa. "Bagaimana itu terjadi? Kenapa begitu?"

Kim-mou-eng lalu menceritakan segala peristiwa. Dengan urut dan hati-hati, dia menerangkan sebab-musababnya, sumoinya ikut menimpali percakapan ini. Hok-kauwsu berdebar dan turut mengangguk-angguk, melihat bahwa manusia dewa itu tetap tenang dan sama sekali tidak marah atau gembira. Jalan cerita itu diikutinya dengan sesekali menghela napas panjang. Kauwsu ini tak tahu apa arti helaan napas itu. Wajah yang agung itu masih kelihatan saleh, sabar, dan amat bijak.

Sekarang Hok-kauwsu dapat melihat wajah itu secara samar-samar. Takjub dan kagum, wajah manusia dewa itu tak dapat digambarkan dengan jelas. Dikatakan kakek tapi kelihatannya begitu muda, dikatakan muda tapi umurnya sudah ratusan tahun. Sukar digambarkan!

Ketika cerita itu selesai dan Kim-mou-eng menuturkan kisahnya dengan air mata menitik, pendekar ini menyentuhkan dahinya di atas permukaan mega yang lembut, begitu menurut pandangan Hok-kauwsu.

"Teecu merasa ikut bersalah, Suhu. Kalau kematian Suheng memang gara-gara teecu, maka teecu siap menerima hukuman."

"Hm, hanya itu saja?"

"Ya."

"Kalau begitu kau tak perlu menyesal. Hukum sebab dan akibat telah berjalan di sini. Suhengmu menerima kematian dengan wajar. Segala buah dari perbuatannya sendiri telah diterima. Semoga Tuhan Yang Maha Agung mengampuni dosa dan semua kekeliruannya."

"Suhu tak marah?"

Kakek dewa itu tersenyum lebar. "Kim-mou-eng, untuk apa memarahi dirimu? Nasib dan tingkah laku suhengmu telah kuketahui. Apa yang terjadi di sini telah kuketahui pula sebelumnya. Untuk apa harus marah kepadamu? Tidak, kau memang tak bersalah, muridku. Aku tahu apa yang terjadi dan tahu pula apa yang harus terjadi. Urusanmu dengan suhengmu telah selesai, tapi urusanmu dengan hal-hal lain masih jauh dari selesai. Karena itu, waspadalah! Kalian hanya ingin melaporkan ini saja?"

Kim-mou-eng berdetak. Ucapan gurunya yang mengandung kalimat-kalimat khusus itu mendadak membuatnya tertegun, tersentak, dan sekonyong-konyong sadar akan hal-hal lain itu. Urusannya dengan sang sumoi, urusannya dengan Wan Hoa dan Cao Cun, dan tentu juga dengan "ekor" dari semua perbuatan awal. Kim-mou-eng tiba-tiba sadar dan terkejut bahwa gurunya ini memang bukan orang sembarangan. Manusia dewa yang sakti dan waskita. Agaknya ia mengetahui pula sepak terjangnya secara diam-diam, dari jauh tapi selalu tepat karena gurunya ini memang manusia dewa!

Ketika Kim-mou-eng tertegun dan pandangan matanya bergerak penuh tanya, tiba-tiba suhunya tersenyum mengebutkan lengan. "Muridku, tak ada lagi yang hendak kau bicarakan?"

Kim-mou-eng kelu. Dia menggeleng tanpa sadar. Hok-kauwsu terkejut dan merasa kecewa. Kakek ini merasa perjumpaannya dengan si manusia dewa akan berakhir. Bu-beng Sian-su memandang Salima dan ganti bertanya kepada murid perempuannya itu. Salima juga menggeleng karena persoalan dianggapnya tak ada lagi. Suhengnya yang memimpin mereka bicara.

Ketika kakek itu tertawa dan mengangguk-angguk, mendadak dia menghadapi Hok-kauwsu. "Siapa dia ini?"

Hok-kauwsu seperti disengat kalajengking. Entah kenapa ditanya manusia dewa itu, kakek ini tiba-tiba gemetar. Sekejap mukanya pias dan seolah kering darah di seluruh tubuhnya. Tapi ketika Kim-mou-eng memberi tahu dan sadar akan hadirnya orang ketiga, maka kauwsu ini melipat punggung berseru menggigil.

"Aku orang she Hok, Sian-su. Tiga puluh tahun yang lalu kau menolongku dari cengkeraman Srigala Hitam!"

"Hm..." manusia dewa ini pun tak menunjukkan perubahan apa-apa. "Kau bangunlah, Hok-kauwsu. Kau guru silat yang keracunan senjata Srigala Hitam itu?"

"Benar," Hok-kauwsu takjub, kagum akan daya ingat manusia dewa ini. "Itulah aku, Sian-su. Aku yang bodoh dan sial itu. Aku telah mengubah cara hidupku setelah kau menolongku dulu!"

"Sudahlah, semuanya sudah lewat, Kauwsu. Sekarang tak ada apa-apa lagi di antara kita. Selamat tinggal..."

Bu-beng Sian-su bergerak lenyap, tak tahu ke mana perginya. Tiba-tiba kakek ini terpekik dan berteriak kecewa. Ingin bicara tapi tak tahu harus bicara apa. Pekiknya ini tiba-tiba mengguncang Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas tiba-tiba teringat akan sesuatu, empat baris kalimat yang pernah diberikan gurunya itu, syair yang ada hubungan dengan semua kejadian ini.

Ketika Kim-mou-eng sadar dan pekik temannya belum hilang, tiba-tiba pendekar ini berkelebat memanggil gurunya. "Suhu, tunggu...!"

Luar biasa sekali. Bu-beng Sian-su tiba-tiba muncul, datang dan sudah berada di situ lagi seperti siluman. Hok-kauwsu terhenyak saking kaget dan takjubnya. Kakek dewa ini tidak kelihatan menggerakkan kaki atau tubuhnya.

Ketika kakek dewa itu bertanya apa yang ingin dikatakan muridnya, Kim-mou-eng sudah gemetar menjatuhkan diri berlutut. "Maaf, teecu teringat sesuatu yang kelupaan, Suhu. Tentang syair yang pernah Suhu berikan itu. Mohon Suhu memberi petunjuk dan membuka pikiran teecu!"

"Ah, syair yang pernah kuberikan dulu? Kau sudah tahu jawabannya?"

"Tidak, teecu tak dapat menduganya, Suhu. Teecu bodoh dan rupanya terlalu bebal untuk mengupas sebait syair ini!"

Bu-beng Sian-su tertawa. Kakek dewa itu tiba-tiba berseri. Salima tertegun dan Hok-kauwsu pun tertegun. Dua orang ini bengong, mereka tak mengerti apa yang dimaksud temannya. Tapi ketika Kim-mou-eng menuntut jawaban dan kakek dewa ini tersenyum lebar, tiba-tiba kakek itu bertanya dengan suara gembira, "Baiklah, sekarang kau tulis lagi syair yang kau maksud, muridku. Biar sumoimu tahu dan Hok-kauwsu ini pun mendengar. Marilah, kau hafal di luar kepala, bukan?"

Kim-mou-eng mengangguk. Dia cepat berdiri menuliskan empat baris kalimat itu. Sumoinya terbelalak dan Hok-kauwsu pun melebarkan mata. Kim-mou-eng bergerak cepat mengguratkan jari-jarinya. Ketika sebait syair muncul di depan mata dan Salima terheran-heran, gadis ini bersama Hok-kauwsu membaca empat baris kalimat yang membuat kening berkerut:

*Lalu lalang di depan mata*

*Sering berubah berganti rupa*

*Siapa dapat "menangkap" harganya*

*Dialah manusia berguna ganda*

Salima tak mengerti. "Apa ini, Suhu?"

"Diam," suhunya tertawa, "biar suhengmu yang bercakap-cakap denganku, Salima. Kalian dengarkan saja dan mari ikuti tanya jawab ini." Ia memandang Kim-mou-eng dengan wajah berseri, kakek itu mulai, "Nah, apa yang kamu lihat dari syair ini, Kim-mou-eng?"

"Tak ada apa-apa. Teecu tak melihatnya sebagai sesuatu yang istimewa."

"Bagus, sekarang mari kita mundur ke beberapa waktu yang lalu. Kau ingat ada hubungan apa empat baris kalimat ini kutulis?"

"Hubungannya dengan Suheng, Suhu. Ketika Suheng ketahuan memfitnah teecu dan pergi dengan marah-marah."

"Hm, ada benarnya, muridku. Tapi kurang luas. Kalimat ini kutulis karena ada hubungannya dengan kehidupan. Artinya, bukan melulu suhengmu saja, tapi semua orang yang terlibat. Bisa dirimu dan bisa juga yang lain. Sekarang lihat, apa bunyi kalimat pertama di atas?"

"Lalu lalang di depan mata."

"Benar. Apa yang lalu lalang? Apa yang kau lihat dalam kehidupanmu?"

Kim-mou-eng bingung. "Ayo, kau katakan saja apa yang kau tangkap, muridku. Jangan bingung dan katakan saja apa yang telah kau lihat dalam hidupmu sehari-hari."

Kim-mou-eng menahan napas. "Teecu tak mengerti, Suhu. Tapi mungkin yang Suhu maksudkan adalah kejadian demi kejadian yang teecu alami, peristiwa demi peristiwa."

"Bagus, dengan lain kata apa?"

Kim-mou-eng terdiam, takut salah bicara.

"Ayo, teruskan, muridku. Jawabanmu sudah mulai menginjak kebenaran dengan apa yang kumaksud. Teruskan saja."

"Hm!" Kim-mou-eng jadi berdebar tegang. "Teecu rasa kejadian demi kejadian itu adalah cerita teecu, Suhu, nasib teecu, atau apa yang belum teecu ketahui."

"Sial, kau menyeleweng!" Bu-beng Sian-su menepuk dahinya. "Bukan itu yang kumaksud, muridku. Tetapi yang lebih hakiki lagi dari apa artinya kejadian-kejadian itu. Apa artinya peristiwa-peristiwa itu? Siapa dapat mengartikan pertanyaan ini dengan tepat?"

Bu-beng Sian-su tiba-tiba menoleh pada yang lain. Hok-kauwsu terkejut dan Salima pun tertegun. Tapi Salima yang berotak cerdas dan dapat menangkap tutur kata gurunya tiba-tiba berseru, "Pengalaman! Barangkali itu yang kau maksud, Suhu. Pengalaman!"

"Bagus! Cocok sekali, tepat!" Bu-beng Sian-su tertawa memuji muridnya, lalu kembali pada Kim-mou-eng. "Nah, itu yang kumaksud, muridku. Bahwa kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dialami siapapun namanya pengalaman. Itulah yang kuartikan. Sekarang kau mengerti apa yang lalu lalang dalam hidup setiap orang?"

Kim-mou-eng mendelong. "Pengalaman, Suhu... pengalaman..." suaranya lirih menurun.

"Dan sekarang apa yang kau lihat tentang pengalaman itu sendiri? Dalam hal ini, apa yang kau lihat dalam sepak terjang mendiang suhengmu?"

Kim-mou-eng menggigil. "Kejahatannya, Suhu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment