Chapter 191
"Keburukan wataknya yang menyebabkan dia diterkam maut!"
"Bagus, sekarang kita mulai menuju pokok sasarannya dengan tepat. Tapi hati-hati, pembicaraan ini harus dilakukan perlahan-lahan agar dapat kau mengerti dengan baik. Sekarang telah kau ketahui bahwa yang lalu lalang itu adalah pengalaman. Itu yang kumaksud. Tapi apa yang kau tangkap dari setiap pengalaman itu sendiri? Apa yang berhasil memasuki dirimu?"
Kim Mou-eng bingung. "Tak ada apa-apa, Suhu. Teecu merasa kosong dan tak mengerti akan apa yang Teecu lihat."
"Itulah ketololanmu." Bu Beng Sian-su tertawa. "Setiap orang bisa membayarnya mahal, muridku. Dan contoh untuk itu adalah perbuatan Suheng-mu yang berkali-kali hampir mencelakaimu, bahkan nyaris membunuhmu. Tapi karena kau tak mengerti tentang ini, maka ketololanmu itu pun berjalan seperti biasa dan membuat kau semakin tolol!"
Wajah Kim Mou-eng memerah.
"Sekarang kuulang pertanyaanku. Apa yang kau tangkap dari setiap kejadian itu? Apa yang kau dapat dari semuanya ini?"
Kim Mou-eng tak menjawab, ia tampak gugup dan bingung. Ketika ia tidak memberikan suara dan gurunya tertawa, tiba-tiba kakek dewa itu memandang Salima. "Kau, bagaimana, Salima? Dapatkah kau memberi jawaban? Apa yang seharusnya terjadi bila seseorang atau kau sendiri bertemu sebuah pengalaman?"
Salima pun bingung, "Maaf, Teecu belum dapat menangkapnya, Suhu. Teecu belum mengerti benar apa yang sesungguhnya Suhu inginkan."
"Hm, kau bagaimana, Kauwsu? Apakah kau pun tak dapat menjawabnya?"
Hok-kauwsu terkejut. Dia menggeleng dan seakan disentak oleh kakek dewa itu; dia belum mengerti benar dan karena itu cepat-cepat menyatakan maafnya. Ketika kakek dewa itu menghela napas menyesali orang-orang ini, akhirnya ia memandang Kim Mou-eng.
"Baiklah, kutuntun kalian, anak-anak. Sekarang dengarkan baik-baik apa yang hendak aku katakan ini." Kakek itu menunjuk Kim Mou-eng. "Berapa kali Suheng-mu hendak mencelakaimu? Berapa kali dia nyaris membunuhmu?"
Kim Mou-eng mengingat-ingat. "Lebih dari sekali, Suhu. Mungkin empat atau lima kali."
"Bagus, dan bagaimana tanggapanmu tentang Suheng-mu itu? Apa reaksimu melihat rencana jahat Suheng-mu?"
"Teecu marah, Suhu. Tapi Teecu tak mau membalas perbuatannya dengan sikap yang sama!"
"Benar, tapi ketololanmu ini hampir mencelakaimu lagi. Empat-lima kali pengalaman membentur dirimu, tapi tetap saja kau tumpul! Heh, perhatikan ini, Kim Mou-eng. Kalau Suheng-mu itu kuibaratkan api dan api itu menyengatmu berkali-kali, masihkah kau mau dibakar sampai kau mati? Masihkah sekali-dua sengatan tak cukup bagimu untuk bersikap pintar? Kau lihat ini, Kim Mou-eng. Bagaimana rasanya dan katakan apa reaksimu... blub!"
Bu Beng Sian-su tiba-tiba menyalakan api dan mendekatkannya ke lengan muridnya. Kim Mou-eng berteriak kesakitan. Wajahnya pucat dan merah berganti-ganti, ia terkejut lalu melompat mundur. Dia tak menyangka dan tak sempat melindungi diri. Gurunya telah melukainya dengan api!
Ketika Kim Mou-eng tertegun dan Salima serta Hok-kauwsu terperanjat, tiba-tiba Kim Mou-eng yang tadinya terbelalak mendadak menjatuhkan diri berlutut dengan wajah berseri-seri. Ia tampak girang luar biasa!
"Suhu, Teecu mengerti! Kini Teecu mengerti!"
Hok-kauwsu dan Salima melongo. Mereka tak mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan Kim Mou-eng. Masing-masing bersikap ganjil; sepintas seperti orang gila. Guru menyelomot murid, sementara murid berteriak-teriak seperti anak kecil mendapatkan mainan.
Tapi ketika Kim Mou-eng tertawa bergelak dan bersujud mencium kaki gurunya, tiba-tiba Salima dan Hok-kauwsu dibuat semakin bingung.
"Suhu, terima kasih. Sekarang Teecu mengerti."
Salima membuka mata lebar-lebar. Gurunya tertawa lembut dan bergetar penuh kegembiraan. Ketika ia menyuruh muridnya bangun, kakek itu bertanya, "Baiklah, apa yang kau mengerti, muridku? Pengetahuan apa yang kau dapati?"
Sebelum Kim Mou-eng menjawab, Salima melompat maju. "Nanti dulu, bolehkah Teecu bertanya, Suhu? Benarkah Suheng sudah mengerti?"
"Ha-ha, kau tanya Suheng-mu, Salima. Uji benarkah dia sudah mengerti atau belum!"
Salima menghadapi suhengnya. "Suheng, benarkah kau sudah mengerti akan pertanyaan Suhu? Dapatkah kau membuktikannya kepadaku?"
"Tentu," jawab suhengnya berseri-seri. "Aku akan membuktikannya kepadamu kalau kau tidak percaya, Sumoi. Dan untuk itu, biarlah aku mencontoh Suhu!"
Kim Mou-eng mengambil api yang dipakai suhunya, mendekati sumoinya, dan memperlihatkan api itu. Salima tentu saja tertegun dan mengerutkan kening. Ketika Salima masih bingung oleh gerak-geriknya, Kim Mou-eng bertanya, "Apa ini?"
"Api."
"Bagaimana rasanya?"
"Tentu saja panas."
"Dari mana kau tahu?"
"Eh..." Salima membelalakkan mata. "Semua orang tahu bahwa api itu panas, Suheng. Kenapa kau tanyakan ini?"
"Tidak, aku tahu bahwa api itu panas, Sumoi. Tapi jangan potong pertanyaanku dengan pertanyaan pula!" Kim Mou-eng menukas. "Kau jawab saja dari mana kau tahu bahwa api ini panas!"
Salima tertegun. "Aku tahu karena aku..."
"Ya..."
"Sadar bahwa api itu panas!"
"Ha-ha, itulah, Sumoi. Itu yang dimaksud Suhu dengan semua pertanyaan ini: sadar! Itulah yang diinginkan Suhu, bahwa kita harus sadar bahwa api adalah panas, bahwa kejahatan adalah buruk, dan bahwa perbuatan tak baik selamanya lebih merugikan daripada menguntungkan kita! Suhu hendak menerangkan bahwa kita harus memiliki kesadaran akan setiap pengalaman yang kita jumpai. Bahwa kesadaran itu demikian penting karena kesadaran itulah yang akan menyelamatkan kita. Bahwa tanpa kesadaran, setiap pengalaman menjadi tidak berarti seperti nasi yang mubazir di atas meja! Ha-ha, kau mengerti, Sumoi? Kau dapat menangkap apa yang dimaksudkan Suhu?"
Salima bengong. Tiba-tiba ia membuka mata lebar-lebar mendengar kata-kata suhengnya. Hok-kauwsu juga tertegun dan mengangguk-angguk. Tanpa sadar mereka berdua telah digiring pada kenyataan hidup yang penting: bahwa pengalaman diibaratkan api oleh Bu Beng Sian-su. Pengalaman adalah objek di luar, sementara yang lebih penting adalah kesadaran itu sendiri di dalam diri.
Ibarat nasi di depan mulut, kalau rahang tak dapat digerakkan, bukankah nasi atau pengalaman itu sendiri menjadi sia-sia? Salima serta Hok-kauwsu yang bengong oleh wejangan ini tiba-tiba meremas jari, mengangguk-angguk, dan mendecak kagum bukan main.
"Luar biasa, sekarang aku mengerti!" seru Salima.
"Ya, aku juga mengerti, Taihiap," Hok-kauwsu ikut berseru. "Apa yang dimaksud suhumu memang benar!"
Kim Mou-eng merasa gembira dapat menerangkan hal itu pada sumoinya dan Hok-kauwsu. Tapi ketika sumoinya bertanya apakah kesadaran itu sendiri sudah cukup, pendekar ini mengerutkan kening.
"Apa maksudmu, Sumoi?"
"Aku maksudkan apakah hanya dengan kesadaran itu seseorang sudah bisa menjadi baik, Suheng? Apakah tidak ada hal-hal lain yang barangkali bisa dikatakan di sini?"
Kim Mou-eng bingung. "Aku kira begitu, Sumoi. Kesadaran itu sendiri sudah merupakan penangkal paling ampuh untuk merobah kejahatan seseorang."
"Kau dapat memberinya contoh?"
"Wah, kenapa mendesak? Sebaiknya tanya saja pada Suhu!" Kim Mou-eng yang nyengir tak berani menjawab, tiba-tiba kembali pada suhunya. "Suhu, bagaimana ini? Apakah kesadaran itu masih perlu ditunjang faktor-faktor lain?"
"Bagaimana menurut dirimu sendiri?"
"Teecu tak berani menjawabnya, Suhu. Tapi kelihatannya kesadaran itu sendiri sudah cukup!"
"Ha-ha, bagaimana menurut pendapatmu, Salima?"
"Teecu... hmm, Teecu rasa ada yang kurang, Suhu, tapi apa itu Teecu tak dapat memberitahunya. Sepertinya ini masih kurang klop!"
"Bagus, kau cerdik!" Bu Beng Sian-su tertawa. "Kim Mou-eng, apa yang dikata sumoimu memang benar. Ada sesuatu yang harus ditambahkan sebagai pendukung. Kau tahu apa sebenarnya itu?"
"Mana Teecu tahu, Suhu? Teecu kira kesadaran itu sendiri sudah cukup!"
"Tidak, masih ada yang kurang. Dan untuk itu, marilah kita kembali ke persoalan pokok!" Bu Beng Sian-su yang berseri-seri memandang muridnya, lalu melanjutkan, "Sekarang kita tahu inti jawaban dari syair itu, anak-anak. Bahwa yang dimaksud adalah kesadaran akan pengalaman. Baris pertama yang kumaksud itu adalah pengalaman sendiri yang lalu lalang di depan mata, dan karena kita tahu pengalaman dibagi dua kelompok besar, kita berpijak di antara satu dari mereka dulu. Kalian tahu apa dua kelompok besar pengalaman itu?"
Kim Mou-eng dan temannya ragu-ragu.
"Mereka adalah pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Ini yang kumaksud. Pengalaman terbagi dua kelompok besar, yaitu yang dialami diri sendiri dan yang dialami orang lain. Dan karena kita akan membahas ini, biarlah kuambil contoh sebuah gambaran yang nyata; lihat selir Kaisar itu. Eh, kalian sudah mengetahui riwayatnya, bukan?"
Bu Beng Sian-su tiba-tiba berhenti dan bertanya. Kim Mou-eng serta Salima mengangguk. Mereka telah mendengar itu dari Hok-kauwsu, meskipun sebenarnya sedikit banyak juga telah mendengar tentang selir itu dari orang lain, seperti Kim Taijin. Bu Beng Sian-su tersenyum memandang muridnya, "Nah, aku telah mengetahui tentang selir ini sejak masa mudanya. Dia patut dikasihani."