Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 192

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 192

Dia adalah korban ketidaksadaran akan pengalaman.

"Kalian mengerti apa yang kumaksud?"

"Tidak."

"Kalau begitu, dengar. Selir ini, sebagaimana kalian tahu, begitu tergila-gila akan harta benda duniawi. Masa remajanya sangat menyedihkan; rakus akan uang dan tamak akan kesenangan-kesenangan lain. Dia terseret oleh hawa nafsunya sendiri hingga terjerumus dalam dosa. Kian lama kian bertumpuk hingga dia pun ambisius akan kekuasaan, jenjang hidupnya meningkat cukup pesat. Dari bekas perawan dusun, tiba-tiba menjadi selir kaisar dalam waktu beberapa tahun saja, di saat umurnya sekitar dua puluh dua tahun. Dan karena ia mengejar-ngejar hidup enak dan tidak peduli akan apa yang baik atau apa yang buruk, maka selir ini menghalalkan segala cara untuk mencapai maksud tujuannya. Menina-bobokan pembesar-pembesar dan menipu mereka demi uang dan harta. Kalian tahu itu. Hok Kauwsu mungkin lebih tahu lagi."

"Dan karena kita lihat tindak-tanduk selir ini yang kian hari kian menggila, maka pengetahuan apa yang dapat kalian simpulkan dari kejadian ini, Kim-mou-eng?"

"Teecu melihatnya sebagai wanita yang tamak, Suhu. Gila uang dan gila kedudukan!"

"Benar, dengan kata lain apa?"

"Perempuan jahat!"

"Ah, bukan itu yang kumaksud. Jahat atau tidaknya seseorang dimulai dari sini, dari pengalaman itu. Dari menghindarinya seseorang akan sebuah kenyataan. Selir itu menghindari kenyataan ini, fakta hidup yang tak dapat dielakkan. Dan karena dia menghindari kenyataan itu, pengalaman itu, didukung oleh ketidaksadarannya akan pengalaman itu, maka dia terjerumus semakin dalam dan tersesat!"

"Hm..." Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu tidak mengerti."

"Tentu, aku akan membuat kalian mengerti, muridku. Sabar, sekarang kulanjutkan. Tadi telah kukatakan bahwa selir ini menghindari sebuah kenyataan hidup, sadar atau tidak sadar. Dan karena dia menghindari kenyataan itu dan terbawa oleh nafsunya sendiri, lalu dia terjebak dan terperangkap di situ. Apa kenyataan hidup yang kumaksudkan di situ?"

Kim-mou-eng menggeleng. "Bukan lain fakta Yin dan Yang, enak dan tidak enak, dan apa saja yang berlawanan sifatnya di muka bumi ini."

"Hm, Yin dan Yang? Enak dan tidak enak?"

"Ya, kau lihat, muridku. Adakah di dunia ini kehidupan yang terus-menerus enak? Adakah peristiwa di dunia ini yang terus-menerus menyenangkan? Adakah salah satu sisi saja dari kenyataan ini yang hidup abadi? Tidak, hidup sudah berpasangan seperti itu, muridku. Ada enak dan tidak enak, ada senang dan tidak senang. Ada susah dan bahagia. Dan karena selir itu mencoba mencari dan mendapatkan yang satu saja dan menghindari yang lain, maka dia terperangkap dan akhirnya berakhir dengan cara yang begitu menyedihkan!"

Kim-mou-eng terkejut, mulai menangkap inti sarinya. "Jadi Suhu hendak maksudkan bahwa selir ini pemburu kesenangan, pengelak ketidaksenangan?"

"Ya, bukankah begitu kita lihat? Selir ini memburu kesenangan, mengejar-ngejar harta dan kedudukan. Dan karena dia tidak memiliki kesadaran akan pengalaman itu, akan enak dan tidak enak, maka dia terperosok dan terbanting hancur di saat ajal menjelang tiba. Padahal pengalaman, kenyataan hidup itu, telah memberi tahu manusia bahwa tak mungkin manusia mendapatkan satu sisinya saja sementara sisi yang lain ditinggalkan! Kau mengerti?"

Kim-mou-eng terbelalak, mengangguk-angguk, ingin mengerti lebih lanjut. "Jadi Suhu hendak menyatakan bahwa ketidakenakan harus dirasakan manusia juga? Manusia harus mencari ketidakenakan ini?"

"Ah, aku tidak berkata 'mencari', muridku. Keenakan atau ketidakenakan akan datang secara otomatis kepada manusia, melalui hukum sebab dan akibat. Kita tak perlu mencari, ini harus kau mengerti. Dan karena enak dan tidak enak itu selalu berganti menghampiri manusia dan hal ini tak dapat dihindari, maka tak seharusnya manusia menghindar kalau kebetulan yang tidak enak itu datang."

"Maksud Suhu?"

"Kita tak perlu lari kalau ketidakenakan ini datang, muridku. Melainkan mengatasi bagaimana ketidakenakan itu bisa berubah. Ini yang kumaksud, ini yang harus dikerjakan manusia. Jadi, bukan dengan menghindar dan mencari yang enak-enak saja seperti yang telah dilakukan selir itu!"

"Ah...!" Kim-mou-eng terkejut. "Tapi sudah menjadi watak manusia untuk mencari yang enak-enak, Suhu. Sudah menjadi kodrat manusia agaknya bahwa ketidakenakan dibenci orang sedunia!"

"Betul, namun kenyataan hidup ini, enak dan tidak enak ini, sudah merupakan 'benda' yang ada di permukaan bumi, muridku. Tak mungkin orang dapat menolaknya agar melulu yang enak-enak saja yang datang. Seperti halnya malam dan siang, gelap dan terang, dapatkah manusia menerima yang satu dan menghindari yang lain? Mungkinkah bumi harus terang sepanjang masa dan dewa gelap dibuang? Mungkinkah itu?"

Ketika muridnya tertegun dan Hok Kauwsu serta Salima mengangguk-angguk, kakek ini melanjutkan lagi, "Karena itu manusia harus menghadapi ketidakenakan ini, muridku. Dia harus mengatasi ketidakenakan itu kala kebetulan yang datang adalah ketidakenakan, bukan menghindar dan lari seperti yang dilakukan selir itu. Jadi, kita harus menerima kedua-duanya dan bersikap adil terhadap diri sendiri!"

"Adil terhadap diri sendiri?"

"Ya, bukankah ini satu permulaan yang baik? Untuk mencapai hidup yang bahagia diperlukan satu keseimbangan. Manusia harus menerima ketidakenakan pula kalau dia mau menerima apa yang dinamakan enak. Dan kalau dia tidak mau menerima apa yang dirasa tidak enak, maka dia harus adil pula untuk menolak yang enak!"

"Hah...!"

"Ya, bukankah begitu? Kalau manusia menolak yang tidak enak, dia juga harus menolak yang enak, muridku. Baru kalau begini tercipta keadilan di dalam diri manusia sendiri. Tapi kenyataannya lain. Manusia tidak sportif, manusia tidak gentlemen. Manusia hanya mau yang enak-enak saja sementara yang tidak enak disingkiri atau dicampakkan!"

Kim-mou-eng ternganga. Sekarang dia takjub memandang gurunya. Ini bukan main. Gurunya telah menyinggung-nyinggung tentang keadilan pula. Menelanjangi ketidakadilan manusia terhadap pemberian Tuhan. Enak dan tidak enak sudah turun dari 'atas'. Tapi yang mau diterima manusia hanya yang enak-enak saja. Yang tidak enak, yang menyebalkan itu dijauhi dan dihindari seperti orang menghindari penyakit kusta! Padahal, kalau manusia mau bersikap adil, bukankah yang tidak enak itu juga harus diterima? Atau, kalau yang tidak enak itu tidak diterima maka yang enak juga harus ditolak. Tapi fakta mengatakan lain. Manusia tidak begitu. Manusia mau menangnya sendiri. Manusia bersikap tidak adil atas pemberian Tuhan dan manusia terjerumus dalam keserakahannya yang cenderung mau enaknya sendiri. Sungguh sifat begini tidak menunjukkan kedewasaannya. Persis kanak-kanak saja, yang merengek dan mungkin mencak-mencak kalau tidak diberi kembang gula, tapi kalau sudah diberi, belum tentu berterima kasih.

Kim-mou-eng bengong tak dapat berkata-kata, tiba-tiba menggigil meremang seluruh tubuhnya. "Suhu, kau benar. Manusia persis seperti itu...." Kim-mou-eng tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, pucat. Jangan-jangan dia pun begitu, sadar atau tidak sadar.

Tapi suhunya tertawa, menarik bangun muridnya, dan tiba-tiba berkata, "Pembicaraan belum selesai, bangunlah!"

Kim-mou-eng berdiri terhuyung. Entah kenapa dia merasa badannya ringan, kaki bergoyang, dan mata pun terbelalak berkejap-kejap. Tapi ketika suhunya menepuk pundaknya dengan tenaga yang lembut membangkitkan semangatnya, tiba-tiba Kim-mou-eng bersinar-sinar memandang gurunya.

"Suhu, teecu sekarang mengerti. Tapi teecu penasaran!"

"Tentang apa?"

"Tentang kata-katamu tadi, Suhu. Tentang mengatasi ketidakenakan!"

"Ya, bagaimana?"

"Kau tadi mengatakan bahwa manusia tak usah menghindari ketidakenakan bila yang tidak enak itu datang. Bahwa manusia harus mengatasi ketidakenakan itu agar berubah. Tapi bukankah selir itu juga telah mengatasi ketidakenakannya dengan caranya sendiri?"

"Maksudmu?"

"Mendiang selir itu terlihat melakukan seperti apa yang kau katakan, Suhu. Dia pun mengatasi kesulitannya agar ketidakenakan itu berubah!"

Bu-beng Sian-su mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Bagaimana ini?"

"Begini, Suhu. Sebagaimana kita lihat bahwa Sien Nio tergila-gila akan harta. Bahwa dia demikian rakus dan lahap akan kesenangan-kesenangan duniawi. Tentunya kita harus mengetahui apa yang menjadi sebab-musababnya hingga dia begitu. Dan kita mendapatkan jawabannya, bukan lain akan ketakutannya menghadapi kesengsaraan hidup. Mendiang selir itu merasakan betapa tidak enaknya menjadi orang miskin, betapa sengsaranya hidup tanpa kecukupan materi yang membuat dia haus. Dan itu mendorongnya untuk mengubah nasib. Dia mulai bergerak, menjual dirinya dan menipu orang-orang lain. Bukankah ini juga salah satu kenyataan bahwa selir itu telah berusaha mengatasi ketidakenakannya, bukan menghindar?"

Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa bergelak. "Kim-mou-eng, kau membunuh dirimu sendiri dengan pertanyaan itu. Kau mempersulit keadaan!"

"Mempersulit bagaimana, Suhu? Bukankah ini juga kenyataan yang dilakukan selir itu?"

"Oh, jadi itu kau anggap mengatasi, muridku? Kau anggap apa yang dilakukan selir itu sudah sesuai? Ha-ha, itu bukan mengatasi, muridku. Melainkan meracuni dan mempersulit diri sendiri."

Kim-mou-eng terkejut. "Suhu dapat memberi penjelasan?"

"Tentu, dengarlah. Orang yang mengatasi kesulitannya adalah orang yang berjuang. Orang yang mau bekerja keras. Dia tak segan-segan membanting tulang memeras keringat untuk mengatasi kesulitannya itu. Ini arti mengatasi yang benar. Sedang selir itu, kerja keras macam apa yang dia tunjukkan? Banting tulang yang mana yang dia perlihatkan? Tidak, selir ini bukan kerja keras, muridku, melainkan potong kompas!"

"Potong kompas?"

"Ya, bukankah dia tak mau berpayah-payah? Untuk cari uang dia melacur. Untuk mendapatkan kesenangan tak segan-segan dia menjual kehormatannya. Padahal, siapa di dunia ini yang tidak membentur kesulitan?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment