Chapter 193
Siapa yang belum pernah merasa ketidakenakan? Selir ini bukan mengatasi kesulitannya, muridku, melainkan memperbesar dan menambah kesulitannya. Dia meracuni diri sendiri dan karena itu terjerat kesulitannya sendiri yang akan bertambah!
Kim-mou-eng tertegun. "Dengar," gurunya meneruskan, "Jangan halalkan segala cara untuk mengatasi kesulitan, muridku. Pengalaman telah menunjukkan bahwa menanam buah yang jelek akan menghasilkan bibit yang jelek pula. Kita tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Kesalahan itu seperti kubangan lumpur; semakin dalam kita terperosok, maka semakin susah pula kita mencabut kaki kita. Itu kau mengerti."
"Dan sekarang, kalau kita tahu cara yang jelek akan menghasilkan sesuatu yang jelek pula, kenapa diteruskan? Bukankah ini tanda mau cari gampangnya saja? Orang seperti ini pada hakikatnya menghindari ketidakenakan; dia tak berani menghadapi ketidakenakan itu dan akhirnya potong kompas mencari jalan pintas. Tapi ini tak membawa kebahagiaan, ketidakenakan baru akan muncul lagi dan kita harus kucing-kucingan menghindarinya. Padahal, seperti kukatakan tadi, seharusnya manusia menghadapi ketidakenakan itu jika ia muncul. Namun, karena manusia memang cenderung mencari yang enak-enak saja dan menjauhi yang tidak enak, maka ia mau enaknya sendiri dan hancur saat menerima kenyataan!"
Kim-mou-eng mengangguk-angguk. "Jadi, mengatasi kesulitan itu sendiri harus dilakukan dengan cara yang baik, Suhu?"
"Tentu, bukankah yang baik akan menghasilkan yang baik pula? Pengalaman menunjukkan itu, tapi manusia rupanya tidak mempunyai kesadaran akan pengalaman tersebut!" Ketika muridnya terpesona, kakek dewa ini bicara lagi, "Kau lihat, tak ada ketidakenakan yang tidak berakhir, muridku, seperti juga keenakan yang tak mungkin abadi. Baik keenakan maupun ketidakenakan seperti samudra. Sebesar-besarnya ketidakenakan atau keenakan itu, samudra tersebut pasti bertemu pantainya juga. Jadi, kalau ketidakenakan itu kita anggap samudra, maka samudra ini akan berakhir juga karena seluas-luasnya samudra tetap saja dia berpantai; berakhir!"
Kim-mou-eng takjub. Sekarang dia mengerti lebih baik lagi bahwa apa yang dilakukan selir itu memang pada hakikatnya bukan mengatasi, melainkan hanya taktik menghindar. Tak ada kerja keras, tak ada perjuangan sejati. Padahal, yang namanya mengatasi tentunya mengandung maksud tindak-tanduk yang positif, bukan menghalalkan segala cara.
Ketika Kim-mou-eng mengangguk-angguk dengan muka kagum, gurunya menyambar lagi, "Sekarang apa yang kau lihat dari sepak terjang selir ini? Dapatkah dia sembuh kalau suatu saat dia sadar?"
"Sadar?" Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu kira begitu, Suhu. Orang yang sadar akan sesuatu tentunya dapat sembuh kalau kesadaran membuka hatinya!"
"Ha-ha, belum tentu, muridku. Banyak contoh di dunia ini yang tidak seperti katamu. Orang memiliki kesadaran akan sesuatu, tapi keburukannya terus berlanjut. Lihat selir itu, lihat suhengmu. Kalau toh mereka sadar, dapatkah selir ini hidup miskin seperti dulu? Dapatkah mereka berubah dan memperbaiki diri? Tidak. Ada satu faktor penunjang di sini, muridku, dan faktor inilah yang sering mengganjal kebahagiaan seseorang untuk menerima perbaikan!"
"Apa itu?"
"Jangan terburu bertanya. Seorang pemabuk bisa saja suatu saat sadar bahwa bermabuk pun tidak baik, tapi dia juga terus melanjutkan perbuatannya. Begitu juga penipu, pendusta, maupun orang-orang yang sering ke rumah bunga. Apa artinya ini? Kenapa bisa begitu?"
Kim-mou-eng berpikir keras. "Mungkin karena kebiasaan, Suhu. Barangkali itu yang hendak kau maksud."
"Ha-ha, benar, muridku. Memang benar, itulah yang kumaksud: KEBIASAAN. Orang tak dapat melepaskan diri kalau kebiasaan itu belum hilang. Orang tak dapat terlepas dari cengkeramannya kalau kebiasaan ini sudah mendarah daging. Lihat orang lain yang terjerumus dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji. Bukankah mereka tenggelam dan semakin terseret oleh kebiasaan buruk itu? Bukankah mereka meneruskan perbuatannya meskipun suatu saat sadar? Inilah faktor yang mengganjal tadi, muridku. Bahwa kesadaran masih harus diikuti oleh kebiasaan. Bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk harus diubah jika manusia ingin menjadi baik!"
Bu-beng Sian-su terbahak, membuat Kim-mou-eng dan teman-temannya tertegun, kagum, dan semakin takjub. Ketika mereka mengangguk-angguk dan Hok-kauwsu pucat-merah berganti-ganti karena teringat perbuatannya yang lalu, kakek dewa ini mengebutkan lengannya.
"Nah, sekarang pembicaraan telah selesai. Kalian mengerti apa yang kumaksud. Semuanya tinggal kalian, mau baik atau buruk terserah kalian. Aku telah menjelaskan inti syair itu, pertama tentang kesadaran dan kedua tentang kebiasaan. Pengalaman hidup akan membawa kalian lagi pada hal-hal yang baru. Ada pertanyaan?"
Kim-mou-eng dan teman-temannya menggeleng. Mereka masih terpesona oleh uraian panjang lebar tentang pengalaman dan kesadaran, serta hubungannya dengan kebiasaan. Begitu menakjubkan, padahal demikian sederhana. Ketika mereka masih melongo karena kagum, mendadak guru mereka lenyap diiringi tawa lembut.
"Suhu...!" "Sian-su...!" Kim-mou-eng dan Hok-kauwsu berseru kaget. Mereka hanya melihat segumpal asap berkelebat, cepat sekali. Ketika Salima juga berteriak terkejut karena sang manusia dewa telah lenyap, mereka hanya mendengar suara tawa di kejauhan, "Anak-anak, ada perjumpaan harus ada perpisahan. Lain kali kita bertemu lagi!"
Hok-kauwsu, setelah ditarik dari awang-awang yang tinggi, merasa kembali berpijak di bumi. Dia sadar lagi, berkejap-kejap seakan baru terbangun dari mimpi. Namun, begitu dia membuang napas dengan wajah bahagia, lelaki ini mencium tempat di mana Bu-beng Sian-su tadi berdiri. "Sian-su, puji syukur kepada Thian Yang Maha Agung. Terima kasih atas segala wejanganmu." Hok-kauwsu mengusap air matanya, keharuan besar melanda kakek ini.
Ketika Salima juga sadar dan terguncang, akhirnya Kim-mou-eng mengajak temannya pergi. "Salima, Suhu tak ada lagi. Niat kita berhasil, mari kembali." Kim-mou-eng menggandeng sumoinya dengan mata berkaca-kaca, lalu membawa teman-temannya kembali ke tengah suku bangsa Tartar, disambut dan dihujani pertanyaan dari Siga dan Bora.
Kim-mou-eng tak banyak bicara dan hanya tersenyum. Mereka beristirahat sementara pikiran masih melayang-layang pada wejangan guru mereka. Seminggu kemudian, Hok-kauwsu mohon diri. Kim-mou-eng melihat kebahagiaan besar di wajah kakek buntung itu; matanya bersinar terang. Pendekar ini mengantar sampai di perbatasan.
Sekembalinya di kamar, Kim-mou-eng termenung. Wejangan gurunya masih terngiang-ngiang. Betapa hebatnya gurunya itu, mengupas dan menelanjangi kehidupan manusia yang tidak adil dalam menerima hidup; mau yang enak, tapi menolak yang tidak enak. Padahal, jika manusia jujur dan sportif, enak dan tidak enak harus dirasakan bersama. Jika yang tidak enak ditolak, maka yang enak pun seharusnya disingkirkan. Begitu baru adil.
Namun, siapa yang menolak kehidupan enak? Barangkali hanya orang tidak waras. Yang normal adalah menerima yang enak dan menolak yang tidak enak. Tapi, ternyata ini pun keliru. Kehidupan memiliki dua sisi: enak dan tidak enak. Jadi, gurunya benar bahwa manusia tak dapat menghindar dari dua keadaan ini. Jangan menghindar, hadapilah dan atasilah.
Saat pikirannya melayang pula pada kebiasaan manusia mengenai buruk dan baik, Pendekar Rambut Emas ini menarik napas panjang. Kebiasaan buruk memang susah dibuang. Ini terlihat dalam pengalaman hidup diri sendiri dan orang lain. Penipu, pendusta, pemboros, dan sebagainya berderet menjadi anak tangga yang tak habis dihitung. Luar biasa, manusia merupakan makhluk paling pandai membuat kesalahan. Padahal kesalahan, seperti kata gurunya, seperti kubangan lumpur yang menjerat manusia sendiri; semakin banyak kesalahan yang dibuat, semakin repot pula membebaskan diri. Itu fakta.
Lalu, apa artinya? Ini artinya pengalaman sehari-hari. Tapi kenapa manusia masih banyak yang melakukan kesalahan? Kenapa meneruskan kesalahan? Tidak lain karena kebiasaan. Sebab, pengalaman adalah sebuah objek, dan yang lebih penting adalah menyadari pengalaman itu sendiri. Kim-mou-eng mengangguk-angguk dan merasa sependapat. Memang benar, orang menjadi pandai bukan karena pengalaman, melainkan karena sadar akan pengalamannya itu. Namun, sadar akan pengalaman sendiri pun masih tak cukup.