Chapter 194
Dalam banyak hal, kehidupan juga harus ditunjang oleh faktor kebiasaan; yang buruk harus dibuang dan diganti dengan yang baik. Hal ini telah disaksikan oleh Kim-mou-eng pada Sien Nio dan suhengnya. Lihatlah selir itu, bukankah dia tidak memiliki kesadaran akan enak dan tidak enak? Dia selalu mengejar yang enak dan menghindari yang tidak enak, padahal hidup tidak mungkin berjalan seperti itu. Pengalaman yang lalu lalang telah memperlihatkan hal tersebut, namun Sien Nio tidak memiliki kesadaran akan ini. Sedang suhengnya, bukankah dia adalah korban kebiasaan? Dulu suhengnya adalah orang baik-baik, tetapi begitu mulai menipu dan memfitnah, suhengnya berubah dan terus berubah.
Ini karena kebiasaan. Sesuatu yang kecil lama-kelamaan menjadi besar; sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Suhengnya tidak dapat melepaskan diri dari kebiasaan berdusta. Suhunya benar, pengalaman dan kebiasaan sama pentingnya. Ketika Kim-mou-eng kembali mengangguk dan menghela napas, dia teringat empat baris kalimat dari gurunya. Suhunya tidak menjelaskan semuanya, namun dia mengerti. Kalimat pertama yang dimaksud adalah pengalaman, si "benda". Kalimat kedua tentu tentang beragamnya pengalaman; bisa bermacam-macam dan berubah-ubah, namun esensinya tetaplah pengalaman itu sendiri.
Sedang yang ketiga dan keempat, bukankah gampang? Yang dimaksud "menangkap" adalah kesadaran akan adanya pengalaman itu, sedangkan yang terakhir adalah kegunaan bagi diri sendiri dan orang lain. Sederhana, memang begitu. Orang yang memiliki kesadaran akan suatu pengalaman penting seyogianya membagikan pengetahuan itu kepada orang lain. Hidup bukan untuk diri sendiri karena manusia adalah makhluk sosial. Jadi, kalau disebut berguna ganda, itu tentang pembagian hasil pengalaman tersebut. Cocok! Kim-mou-eng berseri-seri. Dia begitu bahagia akan wejangan gurunya yang luar biasa ini, kembali tenggelam dalam renungan tentang kebiasaan dan pengalaman.
Namun, ketika seseorang datang mengganggu dan sebuah guncangan membuyarkan renungannya, Kim-mou-eng tersentak. Siga dan Bora datang melapor mengenai hinaan kaisar tentang Bi Nio yang telah "diisi" sebelum dimiliki Gurba. Bangsa Tartar merasa terhina dan tersinggung karena perbuatan kaisar dianggap merendahkan pemimpin dan bangsa mereka. Pada mulanya, mereka memang tidak setuju jika Gurba menikah dengan wanita dari bangsa lain, sehingga perbuatan kaisar dianggap menghina. Mereka merasa sudah diberi barang bekas, ditambah lagi dengan "isi" di tubuh Bi Nio. Mereka tidak tahu bahwa laporan Gurba adalah fitnah. Satu bukti lagi bahwa kebiasaan buruk, dalam hal ini fitnah, memang amat keji dan tidak dapat ditoleransi. Kim-mou-eng sendiri tidak tahu bahwa itu adalah fitnah, sebuah akal-akalan suhengnya agar Gurba menggerakkan bangsa Tartar untuk menuruti kemauan Wan Cu.
Ketika Siga dan Bora menyatakan bahwa bangsa mereka menuntut kaisar untuk meminta maaf, Kim-mou-eng terbelalak. Bangsa Tartar menghendaki kaisar mengakui kekeliruannya; jika tidak, mereka akan menyerbu. Ini masalah kehormatan, itulah sebabnya dulu mereka menyerang istana. Baru sekarang Kim-mou-eng tahu dan tertegun. Ketika bangsa Tartar menghendaki dia mengambil keputusan dan bersiap untuk perang, Kim-mou-eng terhenyak karena dialah yang kini dianggap sebagai pemimpin. Berat! Pendekar Rambut Emas ini termangu. Masalah kehormatan memang mahal harganya, apalagi kehormatan bangsa. Perbuatan kaisar memang dirasa keterlaluan. Kim-mou-eng merah mukanya dan mulai tersinggung. Bagaimanapun, dia masih muda dan darahnya mudah mendidih.
Urusan perempuan tiba-tiba mengingatkannya pada Cao Cun, Wan Hoa, serta sumoinya. Pendekar ini menahan napas karena urusan itu mengingatkan dirinya sendiri akan persoalan pribadi. Sumoinya masih menanti, sementara di pihak lain Cao Cun juga menunggu janjinya. Jantung Kim-mou-eng berdetak kencang dan mukanya menjadi muram. Sungguh tidak enak persoalan ini, tidak enak! Namun, ketika teringat akan wejangan gurunya tentang hidup, pendekar ini mendesis sambil mengepal tinju. Persoalan baru telah datang dan dia tidak boleh menghindar karena persoalan itu harus dihadapi. Ketika bangsa Tartar memberinya waktu satu minggu, pendekar ini tercenung. Apa yang akan dia lakukan? Keputusan apa yang dia ambil?
Syair Bu-beng Sian-su telah dibuka tentang pengalaman dan kesadaran akan pengalaman. Materi pokok tentang hal ini sudah selesai. Persoalan Kim-mou-eng tentang bangsanya akan diceritakan dalam kisah selanjutnya: PEDANG TIGA DIMENSI. Pengalaman itu penting, tetapi kesadaran akan pengalaman itu sesungguhnya jauh lebih penting. Begitu juga tentang kebiasaan buruk yang meracuni manusia. Semoga dari dua hal ini, manusia dapat terbebas dan mencapai kebahagiaan. Hidup memang sukar, tantangan selalu ada di depan mata, tapi seperti kata Bu-beng Sian-su, itulah hidup. Yang enak dan tidak enak harus dirasakan, jangan menghindar. Yang diperlukan adalah melihat kebenaran alam, bukan kebenaran pribadi. Mudah-mudahan buku ini berguna bagi Anda.