Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 20

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 20

"Sepak terjangmu pun telah kudengar. Sungguh mengagumkan dan gagah perkasa dirimu."

Salima acuh saja, mengangguk dingin. "Aku tak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa, Pangcu. Simpan saja pujianmu itu. Maaf, aku terpaksa merobohkan beberapa anak buahmu sebagai pembelaan diri."

"Tak apa," Sin Piauw Ang Lojin tertawa sabar. "Tak apa, Lihiap. Kau tak perlu minta maaf karena anak buahku yang memang bersalah. Sudahlah!" Ia kemudian menghadap laki-laki pertama yang memberi aba-aba menyerang Salima.

Tiba-tiba ketua Seng-piauw-pang itu membentak, "Jit Kong, kenapa kau tak melaporkan kedatangan dua orang ini kepadaku? Kenapa kau tak menyambutnya baik-baik?"

Jit Kong, laki-laki itu, menjatuhkan diri berlutut. "Ampun, Teecu telah melaporkannya pada Ji Susiok, Suhu. Tapi Ji Susiok menyuruh Teecu mengusir atau menangkap dua orang tamu ini."

"Hmm..." Sin Piauw Ang Lojin tampak terkejut, memandang teman di sebelah kirinya yang bermuka kuning. "Benarkah, Ji-te? Kau menyuruh Jit Kong menyerang Kim-mou-eng dan sumoinya itu?"

Laki-laki bermuka kuning itu tertawa hambar. "Maaf, aku tak tahu kalau Kim-mou-eng yang datang, Suheng. Tapi karena kedatangan mereka tepat pada saat kita mengadakan pertemuan penting, maka kusuruh Jit Kong seperti yang dikatakannya tadi. Kukira pengacau."

"Hm," Sin Piauw Ang Lojin menegur sutenya. "Seharusnya kau menyampaikannya dulu padaku, Sute. Tindakanmu ini bisa membahayakan orang lain kalau yang datang bukanlah musuh."

"Tapi aku melihatmu sibuk, Suheng. Kita semua sedang repot dan tak mau diganggu!"

Sin Piauw Ang Lojin mengerutkan alis. Namun sebelum dua orang itu saling tegur dan marah satu sama lain, tiba-tiba Kim-mou-eng melangkah maju menyatakan ketidakenakannya.

"Pangcu, maafkan kami berdua. Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami datang bukan untuk mengacau. Dan karena kebetulan kalian sibuk dalam pertemuan penting, biarlah kami pergi agar tidak merepotkan kalian. Maaf!"

Kim-mou-eng sudah bersiap-siap menggandeng sumoinya, menjura pada ketua Seng-piauw-pang itu untuk berangkat pergi. Namun Sin Piauw Ang Lojin yang tampak terkejut oleh kata-kata ini mendadak menggoyang lengan dan tertawa kaget.

"Eh, jangan buru-buru! Kami justru merasa kebetulan kau berada di sini, Kim-mou-eng. Kami justru akan mengundang kalian untuk menjadi tamu agung! Kalian jangan pergi, pemilihan ketua akan segera kami lakukan dalam pertandingan pibu. Ayo lihat!"

Ketua Seng-piauw-pang itu menarik lengan Kim-mou-eng sambil tertawa, lalu tiba-tiba berbisik lirih, "Kau dapat menjadi wasit, Kim-mou-eng. Kedatanganmu justru merupakan bintang penengah yang baik."

Kim-mou-eng tertegun. Sebenarnya dia memasuki perkampungan itu bukan untuk merepotkan orang lain. Tujuannya adalah mencari Dusun Yu Chung karena itulah kampung halaman ibunya dulu. Namun mendengar di situ akan diadakan pibu dan melihat sesuatu yang aneh dalam pandangan mata tiga kakek lain yang berdiri di sebelah Sin Piauw Ang Lojin ini, mendadak Kim-mou-eng tertarik dan mengangguk. Apalagi Salima juga berseru gembira.

"Ah, di sini akan terjadi pertandingan pibu, Pangcu? Memilih yang terkuat untuk menjadi ketua?"

"Ya," kakek itu tertawa lebar, kagum bahwa Salima dapat menebak dengan tepat. "Kami empat bersaudara akan menjalankan peraturan perkumpulan kami, Lihiap. Bahwa lima tahun sekali diadakan pemilihan ketua dengan jalan pibu. Mencari siapa yang terkuat karena sebuah perkumpulan harus dipimpin oleh seorang yang kuat dan pandai."

Salima mengangguk-angguk. Kim-mou-eng juga berseri; mereka adalah orang-orang persilatan yang gemar menonton pibu, melihat adu kepandaian yang tentu saja mengasyikkan bila dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi seperti ketua Seng-piauw-pang ini. Meskipun mereka belum melihat sendiri seberapa hebat kepandaian ketua Seng-piauw-pang itu, namun jika seseorang sudah dapat menjadi ketua sebuah perkumpulan, tentu kakek bermuka merah ini hebat. Apalagi kilatan matanya menunjukkan tenaga sinkang yang cukup menggetarkan, mampu memengaruhi orang yang tidak begitu tinggi kepandaiannya.

Maka begitu Sin Piauw Ang Lojin mengundang mereka untuk menyaksikan adu kepandaian sebagai tradisi memilih ketua baru, akhirnya Kim-mou-eng dan sumoinya menerima. Di situ mereka diperkenalkan pula pada tiga kakek lain yang berdiri di sebelah Sin Piauw Ang Lojin. Kakek bermuka kuning itu bernama Hong Jin, sementara dua yang lain merupakan sute nomor tiga dan empat, yaitu Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin, dua orang kakek penganut agama To yang tentu juga memiliki kepandaian tinggi.

Begitu Sin Piauw Ang Lojin mengajak mereka ke dalam perkampungan itu, segera saja Kim-mou-eng dan Salima mengikuti. Ternyata di tengah kampung berdiri sebuah rumah besar dengan halaman yang luas. Itulah rumah sang ketua perkumpulan. Sin Piauw Ang Lojin langsung mempersilakan dua tamunya duduk di kursi paling depan menghadap sebuah luitai yang sudah dipersiapkan cukup tinggi, tak kurang dari sekepala orang tingginya, atau hampir dua meter. Tak ada tangganya, jadi orang harus melompat bila ingin berada di atas panggung luitai itu; tentu saja harus memiliki ginkang yang baik.

Ketika para anggota Seng-piauw-pang duduk berlutut di sekitar panggung dan Sin Piauw Ang Lojin meloncat ke atas panggung yang sudah dipersiapkan itu, bicaralah kakek bermuka merah yang gagah ini.

"Saudara-saudara sekalian," Sin Piauw Ang Lojin bicara dengan suaranya yang lantang dan nyaring. "Karena kebetulan dua pendekar yang gagah perkasa telah datang ke tempat kita, biarlah tradisi pemilihan ketua ini dimeriahkan oleh kehadiran mereka. Kim-mou-eng dan Tiat-ciang Sian-li telah berkenan memenuhi undangan kita. Biarlah pertama-tama kuucapkan selamat atas kedatangan mereka. Semoga Kim-mou-eng dan sumoinya tak keberatan untuk menjadi wasit-wasit kehormatan!"

Salima dan suhengnya saling pandang. Mereka sebenarnya agak kikuk, maklum mereka baru saja merobohkan orang-orang Seng-piauw-pang sebelum ketua ini datang dengan sikap yang begitu bersahabat. Agaknya sang ketua tidak senang dengan orang-orang istana dan girang bahwa mereka telah mengobrak-abrik tempat kaisar itu.

Ketika Sin Piauw Ang Lojin kembali mengeluarkan kata-kata sambutan dengan cara sederhana dan menyambung kembali pertemuan yang terhenti gara-gara keributan di luar tadi, akhirnya ketua ini menuju pada pokok pembicaraan pemilihan ketua. Sudah merupakan tradisi Seng-piauw-pang untuk mengadakan pemilihan ketua baru setiap lima tahun sekali, dengan berpibu bila ada anggota Seng-piauw-pang yang ingin mengganti kedudukan ketua lama. Karena hanya orang-orang yang duduk di tingkat atas saja yang dapat berpibu melawan ketua lama untuk merebut kedudukan baru, maka tentu saja para anggota Seng-piauw-pang tingkat rendah tak ada yang berani mengajukan diri.

Biasanya memang tiga orang sute dari sang ketua itulah yang memimpikan diri untuk menjadi pemimpin. Seng-piauw-pang dulunya dipimpin oleh guru dari empat orang bersaudara itu. Namun karena guru mereka telah meninggal dunia dan empat orang itu tidak mendapat kata sepakat untuk memilih siapa yang menjadi ketua karena masing-masing ingin merasakan kedudukan itu, maka diambillah keputusan bahwa siapa yang terkuat, dialahl yang menjadi pengganti guru mereka.

Kebetulan dua kali berturut-turut, atau sudah sepuluh tahun lamanya, Sin Piauw Ang Lojin tak terkalahkan oleh tiga orang sutenya. Tentu saja Hong Jin dan dua adiknya mendongkol. Mereka memang harus mengakui bahwa suheng mereka itu amat lihai, setingkat masih di atas Hong Jin sang adik nomor dua. Namun karena setiap lima tahun mereka selalu menambah kepandaian dan diam-diam timbul perang dingin di antara kakak beradik seperguruan itu, maka semua anggota tahu bahwa tiga orang sute sang ketua tak begitu suka pada suhengnya.

Namun itu adalah urusan pribadi. Hong Jin dan dua adiknya yang lain menjabat sebagai wakil dan bendahara. Masing-masing harus puas dengan kedudukannya karena itu adalah posisi yang cukup tinggi. Tapi karena setinggi-tingginya kedudukan itu mereka masih berada di bawah sang ketua, diam-diam timbul rencana busuk dari ketiga kakek ini yang tentu saja tidak diketahui oleh Sin Piauw Ang Lojin.

Saat itu Sin Piauw Ang Lojin telah selesai bicara tentang segala peraturan perkumpulan mereka. Bahwa setiap anggota pada dasarnya boleh saja mengajukan diri sebagai calon ketua asalkan mereka memiliki kepandaian di atas ketua lama. Maklum, Seng-piauw-pang adalah sebuah perkumpulan orang-orang persilatan; tidak mungkin diketuai oleh orang yang tidak becus bersilat. Karena perkumpulan itu juga cukup demokratis dan mementingkan kepentingan anggota daripada kepentingan pribadi, maka setiap orang boleh mengajukan usul atas perubahan-perubahan yang dinilai dapat meningkatkan pamor Seng-piauw-pang. Tentu saja mereka akhirnya harus berhadapan dengan orang yang terkuat setelah pemilihan ketua selesai.

Ketika acara pokok mulai dibicarakan dan Sin Piauw Ang Lojin bertanya apakah ada anggota yang tidak puas dengan kepemimpinannya selama ini dan ingin menggantikannya, maka muncullah sutenya yang nomor dua, Hong Jin.

"Suheng, masalah puas atau tidak puas itu adalah masalah yang sangat relatif, masalah pribadi. Aku melihat kepemimpinanmu selama ini cukup baik. Tapi satu yang kusayangkan, kau tak dapat melihat keadaan di luar perkumpulan kita!" Kakek bermuka kuning ini memberi hormat, langsung berseru lantang dan berdiri menghadapi panggung luitai, membuat suasana menjadi tegang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment