Chapter 21
Sin-piauw Ang-lojin yang rupanya sudah maklum akan watak sutenya ini tersenyum lebar, bertanya tanpa mengerti, "Apa yang kamu maksudkan, sute?" Hong Jin, sang kakek bermuka kuning, menegakkan kepala.
"Hal itu adalah sikapmu yang kurang baik terhadap pemerintah, suheng. Bahwa selama ini perkumpulan kita ada kesan memusuhi pemerintah!" "Hmm, itu agak berlebihan, sute. Aku tak memusuhi pemerintah, tapi terus terang memang kurang suka padanya. Kaisar memilih menteri-menteri yang tidak simpatik terhadap rakyat!" "Tapi kita perlu berhubungan dengan mereka, suheng. Seng-piauw-pang tak mungkin mengucilkan diri seperti ini. Kita perlu dengan mereka-mereka itu!" "Tidak, aku tak suka itu, sute. Aku telah menetapkan bahwa Seng-piauw-pang tak perlu menjalin hubungan dengan menteri-menteri jahat itu. Tanpa mereka, kita juga dapat hidup!" "Tapi aku tak setuju sikapmu ini, suheng. Dan kami bertiga telah bersepakat untuk meminta dengan hormat kamu merobah kebijaksanaanmu itu atau... kamu turun saja dari kursi ketua!" Sin-piauw Ang-lojin terbelalak. Dia melihat sutenya ini mulai menuju pada inti persoalan pertemuan itu. Secara halus atau kasar meminta dia meletakan jabatan.
Dan karena selama ini memang ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang hubungan Seng-piauw-pang dengan orang-orangnya kaisar, akhirnya kakek tinggi besar ini tertawa bergelak, menepuk tangannya. "Sute! Karena pertemuan ini memang pertemuan untuk memilih ketua baru, bila kalian tak puas dengan kepemimpinanku selama ini, biarlah terus terang saja kamu nyatakan alasanmu itu sebagai pendorong majunya dirimu. Aku tak membantah bahwa sebenarnya Seng-piauw-pang memang perlu berhubungan dengan pemerintah. Tapi selama menteri-menteri yang mengelilingi kaisar dan banyak menteri korup di sana, biarlah Seng-piauw-pang tetap dalam keadaan seperti ini. Kalau kamu ingin merobahnya dan mengharap menjadi ketua, lebih baik kamu penuhi dulu syarat pendukung dari para anggota seperti yang tercantum dalam peraturan pang kita!" "Baik," Hong Jin, sang kakek bermuka kuning, mengangguk, langsung memutar tubuhnya menghadapi anggota Seng-piauw-pang, termasuk dua sutenya yang lain, Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin, berjumlah tidak kurang dari tiga ratus orang.
Dan ketika kakek ini mengangkat tangannya dan berseru nyaring, maka terdengarlah pertanyaannya yang lantang berpengaruh, "Saudara-saudara sekalian, siapakah di antara kalian yang memberi dukungan padaku untuk menduduki kursi ketua? Acungkan jari kalian, biar Ang-lo-suheng mengetahui jumlahnya!" Mengejutkan sekali, dari jumlah tiga ratus orang itu, ternyata yang mengacungkan jarinya ada dua ratus lima puluh lebih. Jadi lebih dari tiga perempat bagian. Hal yang tidak disangka sang-ketua Sin-piauw Ang-lojin, karena dulu lima tahun yang lalu sutenya hanya mendapat dua puluh lima persen suara. Maklum, para anggota memang terpecah menjadi empat kelompok, yang lebih besar tentu saja kelompok kakek gagah bermuka merah ini.
Maka melihat jumlah pendukung sutenya nomor dua itu lebih dari dua ratus lima puluh orang, dan itu tentu hasil gabungan dari sutenya nomor tiga dan empat, Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin, mendadak ketua Seng-piauw-pang ini terhenyak. Apalagi melihat dua sutenya terakhir itu juga mengacungkan jari untuk Hong Jin, jadi mereka tak maju untuk mencalonkan diri sebagai ketua baru. Menyerahkan sepenuhnya jabatan ketua itu pada sutenya nomor dua itu, jadi dia satu lawan tiga! Dan Sin-piauw Ang-lojin yang tentu saja kaget oleh kejadian luar biasa ini mendadak melongo, tapi marah ketika sadar.
"Ji-te, kamu curang. Kamu mencari gabungan dari Wan Tiong-sute dan Ki Siong-sute!" "Hmm," Hong Jin sang sute masih tenang saja. "Dalam peraturan pang kita, tak ada larangan untuk mencari gabungan dengan siapapun, suheng. Kenapa kamu mengatakan aku curang? Aku mendapat dukungan secara wajar. Memang sudah saatnya kamu meletakkan jabatan berdasarkan hasil suara ini saja." Sin-piauw Ang-lojin tertegun. Dia tertampar, terpuisul oleh kata-kata sutenya nomor dua itu. Tapi teringat Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin yang rupanya tak mencalonkan diri, mendadak kakek itu bertanya, "Sam-sute, su-sute, kalian tak mengajukan diri seperti biasanya? Kalian menyerahkan semuanya itu pada Hong Jin-sute?" "Maaf," Wan Tiong Lojin, kakek yang agak kurus, menjura tawar. "Aku sependapat dengan Hong Jin-suheng, twa-heng. Karena kamu tetap keras pada pendirianmu untuk tak mau berhubungan dengan pemerintah, maka aku mendukung Hong Jin-suheng untuk membenahi perkumpulan kita." "Hm, dan kamu?" Sin-piauw Ang-lojin memandang sutenya terakhir, Ki Siong Cinjin.
Dan ketika Ki Siong Cinjin mengangguk dan maju ke depan, terdengarlah pula alasan kakek yang hidungnya bertahi lalat ini, "Maaf, aku sependapat dengan Wan Tiong-suheng, twa-heng. Bahwa sikapmu yang tidak bersahabat dengan pemerintah memang seharusnya dirobah!" Lengkaplah kini. Sin-piauw Ang-lojin tampak terkejut, mukanya yang merah semakin merah. Tapi ketika dia teringat bahwa dukungan itu masih belum sempurna jika belum diselesaikan lewat pibu, maka menggeramlah kakek tinggi besar yang gagah ini. "Baik, Hong Jin-sute rupanya telah mempengaruhi kalian, sam-te. Aku akan meluluskan permintaan kalian jika syarat terakhir dipenuhi pula. Kalian telah memenangkan dukungan, tapi belum memenangkan pertandingan pibu!" Hong Jin tertawa mengejek. "Kali ini ada perobahan, suheng. Karena kami bertiga telah bersatu pikiran untuk menghadapimu, maka terpaksa pula kami bertiga akan maju berbareng dalam pibu!" "Apa?" Sin-piauw Ang-lojin kaget. "Kalian mau mengeroyokku? Kalian mau berbuat curang?" "TIDAK," Hong Jin sang sute masih tenang saja. "Kami tidak mengeroyok, suheng. Tapi peraturan dalam pibu itu memaksa kami untuk menghadapimu secara berbareng. Bukankah disebut siapa yang ingin menggantikan ketua lama boleh saja menghadapimu tanpa batas? Peraturan itu tak menyebut pertempuran seorang lawan seorang, suheng. Ingat selama ini kamilah yang bodoh tak menghayati arti peraturan itu." "Gila!" Sin-piauw Ang-lojin membentak. "Itu alasan kalian yang dicari-cari, sute. Itu bukan kegagahan yang seharusnya ditunjukkan anggota Seng-piauw-pang!" "Kalau begitu, kamu mundur saja secara baik-baik, suheng. Kami semua ternyata sepakat untuk merubah kebijaksanaan yang selama ini dijalankan. Kamu mengucilkan kami semua anggota. Kami tak setuju caramu memimpin." Sin-piauw Ang-lojin mendelik. Dia tak menyangka sutenya nomor dua itu akan mengajukan diri dengan cara demikian curang. Terang-terangan mengeroyok secara bertiga. Tak tahu malu. Rupanya sudah sedemikian gelap pikirannya untuk merebut kedudukan Seng-piauw-pangcu. Menghasut pula sebagian besar anggota hingga mereka memberi dukungan suara. Mungkin dengan cara tak wajar juga.
Dan Sin-piauw Ang-lojin yang mendadak marah besar tiba-tiba membanting kakinya di lantai panggung. "Hong Jin-sute, rupanya kamu mau memberontak. Sungguh tak kunyana bahwa untuk memperebutkan kedudukan ketua, kamu jadi manusia demikian licik! Begitukah dulu mendiang suhu mengajari kita? Begitukah seharusnya watak orang-orang Seng-piauw-pang yang selama ini selalu kudengung-dengungkan sebagai perkumpulan orang gagah? Tidak, aku siap menghadapi pibu dengan siapapun, sute. Tapi kegagahan dalam adu kepandaian ini harus tetap dijaga. Pibu adalah seorang lawan seorang. Tak ada pibu yang dilakukan dengan cara keroyokan. Itu bukan pibu!" "Hm, kamu takut, suheng? Kalau begitu, serahkan saja baik-baik kedudukan ketua itu. Atau Seng-piauw-pang boleh kita pecah menjadi dua. Kamu dengan lima puluhan anggotamu, sedang aku dengan sisanya, dua ratus lima puluh lebih!" "Keparat!" kakek tinggi besar ini semakin murka. "Aku tak takut menghadapi kalian, sute. Tapi cara yang kalian peroleh di tempat ini bukan cara yang baik. Kalian pengecut dan licik sekali!" "Kalau begitu, kamu mundurlah, suheng. Atau Seng-piauw-pang boleh kita pecah menjadi dua." "Tidak!" Sin-piauw Ang-lojin membentak. "Perkumpulan kita harus tetap utuh, sute. Kamu tak dapat memecahnya seenak udelmu sendiri. Kamu justeru harus dihukum, niat dan kata-katamu ini mengandung unsur jahat!" "Hm," Hong Jin sang kakek bermuka kuning tertawa mengejek. "Kamu tak perlu marah-marah kepadaku, suheng. Kalau kamu ingin kita bertanding satu lawan satu, boleh juga. Aku tak takut. Aku telah memiliki sesuatu untuk menghadapimu!" Dan, sementara suhengnya mendelik dan marah-marah di atas panggung, tiba-tiba Hong Jin, wakil ketua Seng-piauw-pang ini, menjejakkan kakinya, melayang naik ke panggung luitai, dan langsung menghadapi semua orang di bawah. Dan ketika suhengnya melotot dan dua orang sutenya memberi isyarat di bawah panggung, kakek ini sudah bertanya, mengangkat lengannya. "Saudara-saudara, siapa yang kali ini kalian pilih? Aku ataukah Ang-lo-suheng?" Wan Tiong Lojin langsung berseru, memberi ledakan pertama, "Kau, Hong Jin-suheng. Ang-lo-suheng sebaiknya mengundurkan diri!" "Benar," Ki Siong Cinjin menyulut ledakan kedua. "Kau yang kami pilih, Hong Jin-suheng. Ang-lo-suheng sudah cukup memimpin dan sebaiknya menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya kepada yang lebih muda!" Dan ketika dua orang ini memberi aba-aba dan memandang penuh ancaman, semua anggota Seng-piauw-pang yang duduk berlutut tiba-tiba semua yang dipandang menyerukan pendapatnya dengan suara nyaring, tapi dibuat-buat. Dan Sin-piauw Ang-lojin yang tentu saja dapat merasakan ketidakberesan itu, tiba-tiba menggebrak, menepuk kedua tangannya. "Kerbau-kerbau bodoh, kalian sudah tidak menghargai aku lagi secara demikian terang-terangan? Kalian berani menghina ketua kalian dengan cara begini?" Tapi Hong Jin sang kakek bermuka kuning buru-buru berseru, "Tak perlu main gertak. Hari ini kedudukan ketua sedang kosong, suheng.