Chapter 22
"Kau hanya menjadi pemimpin sementara sebelum ketua baru diresmikan!" Sin-piauw Ang-lojin melotot. Dia hampir tak kuat lagi menahan diri. Tapi begitu bentrok dengan pandangan Kim-mou-eng secara tak sengaja, tiba-tiba kakek ini teringat dan memandang tamunya itu, menggeram sambil mengepal tinju. "Kim-mou-eng, bagaimana pendapatmu tentang omongan suteku ini?" Kim-mou-eng ragu. "Tak perlu ragu. Kau telah kuminta menjadi wasit kehormatan, Kim-mou-eng. Katakan terus terang saja bagaimana pendapatmu tentang urusan ini!" Kim-mou-eng bangkit berdiri. "Sutemu licik, pangcu. Terus terang aku tak suka pada sikap dan perkataannya. Dia rupanya sengaja mengadakan teror untuk memecah belah Seng-piauw-pang yang kau pimpin!" "Nah, dengar?" Sin-piauw Ang-lojin menegur sutenya, memandang marah, "Kim-mou-eng telah menilai sikap dan kata-katamu, sute. Kalau bukan orang sendiri, tentu sudah kubunuh kau!" "Hm!" Hong Jin, sang kakek bermuka kuning, menjengek. "Kim-mou-eng boleh bicara apa saja tentang diriku, suheng. Tapi dia adalah orang luar yang tidak berhak mencampuri urusan kita. Ini adalah urusan rumah tangga Seng-piauw-pang. Kalau dia mau usil, lebih baik cari saja tempat lain!" Kim-mou-eng memerah mukanya. Dan Salima yang marah melihat suhengnya disinggung, tiba-tiba membentak, "Hong Jin tua bangka, kami ke sini adalah atas undangan kalian. Kalau kalian tidak suka, kami juga tidak akan datang kemari!" Dan, sementara orang terkejut oleh kata-kata nyaring yang mengejutkan ini, mendadak Salima menyambar suhengnya, diajak keluar. Tapi Sin-piauw Ang-lojin yang berseru keras mencegah mereka, "Nona, jangan pergi. Justeru aku mengundang kalian karena aku melihat gejala-gejala tak baik dalam tubuh perkumpulanku. Maafkan suteku yang kurang ajar!" Salima melotot. Maunya dia pergi saja, tapi sang suheng yang dapat melihat ketidakberesan di tempat itu berkata padanya, "Sumoi, rupanya Ang-lojin adalah orang gagah sejati. Aku memang melihat yang tidak baik di sini. Sebaiknya tunggu, kita bantu kakek itu kalau tiga orang sutenya memberontak!" Salima duduk kembali. Kim-mou-eng telah menyabarkannya dengan cengkeraman lembut, menekan pundaknya agar tenang di tempat. Tapi Hong Jin, si kakek bermuka kuning, yang rupanya tak senang melihat dua orang muda ini datang ke tempat itu, tiba-tiba menjengek, "Kenapa tak pergi saja, Kim-mou-eng? Apakah kalian kehabisan bekal hingga perlu uluran tangan kami? Kalau begitu Ki Siong Cinjin dapat membantumu, minta saja sedekah padanya!" Dia bertepuk tangan memberi isyarat pada sutenya nomor empat agar membawa sekantung uang. Tiba-tiba kakek bermuka kuning itu tertawa mengejek, sengaja memanaskan Salima agar terbakar dan pergi dari tempat itu. Tapi Sin-piauw Ang-lojin yang menggeram membentak pada sutenya, tiba-tiba menyambar kantung uang itu, dilempar ke atas. "Sute, jangan menghina tamu Seng-piauw-pang!" Hong Jin, sang sute, terkejut. Dia melihat suhengnya telah berdiri dengan muka berapi-api, marah sekali padanya. Tapi Salima yang keburu melayang ke panggung luitai karena marah oleh ejekan kakek bermuka kuning ini, tiba-tiba telah berkelebat menampar kakek itu. "Hong Jin tua bangka, aku tak butuh uang sedekahmu...!" Kakek itu terkejut. Dia melihat bayangan Salima terbang seperti burung, menampar bagai kelepak sayap rajawali dengan pukulan panas. Tapi karena dia tak tahu sampai di mana kepandaian gadis ini, dan Salima memang baru saja "mengorbit" di daratan Tionggoan, maka dengan berani dia menangkis tamparan itu, mengibaskan ujung lengan bajunya. "Plak!" Dan kakek bermuka kuning ini berseru kaget. Dia terpental dan nyaris terjengkang ke pinggir luitai, tak menyangka demikian dahsyat pukulan gadis Tar-tar itu. Pedas dan membuat ujung lengan bajunya robek. Hangus seketika itu juga karena Salima mempergunakan pukulan Telapak Petir, Tiat-lui-kang, yang mengejutkan semua orang karena telapak tangannya tadi mengeluarkan sinar yang berkeredep bagai kilatan petir sendiri. Panas dan membuat panggung tergetar akibat ledakan tadi. Dan Hong Jin, si kakek bermuka kuning, yang tentu saja kaget dan mundur ke belakang, tiba-tiba pucat melihat pergelangan tangannya juga gosong menerima tamparan itu! "Aah...!" Hong Jin terbelalak. Dia tak menduga kehebatan gadis Tar-tar ini, juga keganasannya, melihat Salima berdiri tegak di atas panggung dengan mata berapi-api, mirip harimau betina haus darah! Dan Hong Jin, si kakek bermuka kuning, yang tentu saja tertegun oleh gebrakan pertama ini, tiba-tiba melihat bayangan Kim-mou-eng berkelebat ke panggung luitai, ringan dan cepat seperti gerakan iblis, menyambar sumoinya itu. "Sumoi, turunlah. Biarkan Sin-piauw Ang-lojin menghadapi sutenya!" Seruan ini menyadarkan ketua Seng-piauw-pang itu. Sin-piauw Ang-lojin memang terkejut juga oleh naiknya Salima menyerang sutenya, kaget melihat pukulan Telapak Petir menghancurkan baju sutenya, terbelalak melihat pergelangan tangan sutenya juga gosong. Maka mendengar seruan Kim-mou-eng yang sudah membawa turun sumoinya yang marah-marah, segera sadarlah kakek gagah bermuka merah ini. "Benar, kau duduklah yang tenang di bawah, nona. Biarkan aku menghadapi suteku yang memberontak ini. Maafkan kata-katanya yang kurang ajar!" Dan Sin-piauw Ang-lojin, yang sudah membentak sutenya menegur sikapnya yang tidak sopan, akhirnya berdiri berhadapan dengan adiknya yang sudah hilang kagetnya itu, melihat Salima sudah turun dibawa Kim-mou-eng. Dan begitu kakek tinggi besar ini menghadapi sutenya, langsung saja dia menghardik, "Sute, apa maumu dengan membuat kekacauan ini? Kenapa kau menghina tamu?" "Hm," Hong Jin berkilat matanya. "Aku tak menganggap dua orang itu tamu Seng-piauw-pang, suheng. Yang menganggap tamu adalah kau, bukan aku. Aku menganggap mereka pengacau." "Tutup mulutmu!" Sin-piauw Ang-lojin membentak marah. "Sekarang mari kita selesaikan urusan kita, sute. Kau boleh menghadapiku seorang lawan seorang atau maju bertiga seperti keinginanmu tadi. Tak perlu bicara macam-macam. Kau murtad, aku hendak menghukummu!" Hong Jin tertawa mengejek. Kakek bermuka kuning ini bersikap tenang, mengedip pada dua adiknya di bawah. Dan ketika kakaknya menunggu dan Sin-piauw Ang-lojin sudah bersiap menghadapi sutenya ini, maka Hong Jin berseru, "Sam-te, su-te, biarlah kalian di bawah dulu. Kalau suheng terlalu kuat, bolehlah kalian bantu aku untuk menundukkan si pongah ini...!" Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin mengangguk. Mereka mendapat isyarat untuk berjaga-jaga terhadap Kim-mou-eng dan sumoinya, ikut terkejut melihat gerakan Salima yang demikian cepat menyerang suhengnya itu. Dapat melihat bahwa rupanya gadis Tar-tar berjuluk Dewi Bertangan Besi ini rupanya memang betul-betul hebat. Terbukti memiliki pukulan Tiat-lui-kang yang begitu ampuh. Juga ginkangnya yang demikian luar biasa, seperti walet menyambar atau burung srikatan. Dan maklum bahwa rupanya Tiat-ciang Sian-li Salima itu rupanya betul-betul berkepandaian tinggi dan ji-suhengnya (kakak nomor dua) itu minta pada mereka secara rahasia untuk menjaga gadis Tar-tar ini. Akhirnya Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin memecah perhatian mereka. Saat itu Hong Jin telah menghadapi twa-hengnya. Dua kakak beradik itu telah saling berhadapan. Sin-piauw Ang-lojin menggereng, marah benar pada adiknya nomor dua ini. Dan ketika sang sute sudah bersiap-siap dan mereka berdua sudah saling pandang dengan mata seperti harimau mencari mangsa, akhirnya kakek tinggi besar bermuka merah ini membentak mengibaskan lengan bajunya. "Sute, kau mulailah. Aku akan mengalah padamu selama tiga jurus!" Hong Jin tertawa mengejek. Dia menjura, membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat. Tapi begitu membentak melempar lengan, mendadak kakek bermuka kuning ini telah menyerang suhengnya tanpa banyak basa-basi, langsung berkelebat menghantam lambung ketua Seng-piauw-pang itu. Dan karena gerakan ini tanpa diberi aba-aba, dan Sin-piauw Ang-lojin juga tak menyangka sutenya menyerang di saat menjura, maka tak pelak lagi ketua Seng-piauw-pang itu menerima pukulan. "Dess..." Sin-piauw Ang-lojin terpental. Kakek gagah itu nyaris terguling, tentu saja memaki dan berteriak marah pada sutenya. Tapi begitu Hong Jin mengejar dan berkelebat ke depan, tahu-tahu serentet pukulan menyambar bertubi-tubi ke arah ketua Seng-piauw-pang itu. Tak memberi ampun. Tak memberi kesempatan, dan membuat Sin-piauw Ang-lojin memekik karena kembali beberapa pukulan mengenai tubuhnya, membuat kakek gagah ini terhuyung dan sekali malah terjengkang. Tapi begitu tiga jurus lewat, dan Sin-piauw Ang-lojin menggereng membentak marah, tiba-tiba ketua Seng-piauw-pang ini membanting kakinya balas menyerang. "Sute, kau curang. Kau sekarang licik! Dess...!" Hong Jin tergetar. Dia menyerang tanpa banyak cakap lagi, terbelalak melihat suhengnya kebal menerima semua pukulannya dan kini bangkit bagai beruang murka, diam-diam terkejut karena suhengnya tetap lihai. Tetap tangguh! Dan ketika Sin-piauw Ang-lojin melejit dan kini balas menyerang sutenya nomor dua itu dengan kedua lengan menyambar-nyambar serta kaki bergerak naik turun bagai gajah diseruduk singa, mendadak kakek bermuka kuning ini terdesak, beberapa detik saja. "Des-plak!" Hong Jin menerima pukulan. Untuk pertama kali kakek bermuka kuning itu terhuyung, tergetar oleh balasan suhengnya. Tapi ketika dia berlompatan dan Sin-piauw Ang-lojin menggerenggereng melancarkan pukulannya, tiba-tiba kakek ini membentak mengeluarkan sesuatu. "Suheng, kau keluarkan senjatamu. Aku ingin menghadapi Sin-piauw Kun-hoatmu (Silat Pisau Sakti)!" Sin-piauw Ang-lojin tak menjawab. Dia melihat sutenya itu telah mengeluarkan sebuah senjata aneh, sebuah golok tombak karena di ujung golok itu terpasang mata tombak yang lancip. Heran, bagaimana sutenya itu dapat mempunyai senjata baru ini. Senjata yang belum pernah dilihat.