Chapter 23
Tapi karena bertangan kosong saja dia mampu mendesak sang sute itu dan sang sute berlompatan ke sana ke mari menghindarkan diri maka kakek tinggi besar ini berseru, "Tak perlu, aku ingin menghajarmu dengan tangan kosong, sute.
Kalau kau mau mainkan senjatamu itu boleh saja kau pergunakan...
Wut-plak!" Hong Jin si kakek muka kuning lagi-lagi mendapat pukulan, terpental dan marah melihat suhengnya merangsek, melihat dia semakin terdesak dan terdesak saja.
Tapi karena ingin memperoleh kemenangan dan suhengnya itu tak mau mengeluarkan senjata mendadak kakek muka kuning ini mengejek.
"Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku, suheng.
Kalau kau roboh itu tandanya kedudukan ketua harus kau serahkan baik-baik padaku, awas...
Ciit!" Dan golok-tombak yang tiba-tiba bergerak menangkis pukulan Sin-piauw Ang-Lojin yang saat itu menampar sutenya sekonyong-konyong disambut mata tombak yang menusuk telapak tangannya.
"Crep!" Sin-piauw Ang-Lojin menangkup.
Dia langsung menutup jari-jarinya, mencengkeram golok-tombak yang matanya menusuk telapak tangannya itu.
Tapi begitu dia menyeringai dan siap mengejek sutenya tiba-tiba Hong Jin si kakek muka kuning memencet tombol di gagang golok, kecil saja, tak terlihat karena tak kentara, dipasang secara rahasia.
Dan begitu kakek muka kuning ini menyeringai keji mendadak dari dalam mata tombak meluncur halus jarum beracun yang langsung menyengat suhengnya itu, tak terlihat dari luar karena tersembunyi di balik cengkeraman jari-jari ketua Seng-piauw-pang ini.
Dan begitu jarum menembus telapak suhengnya karena jarum itu halus dan kecil sebesar rambut tiba-tiba Sin-piauw Ang-Lojin mengaduh dan melepaskan mata tombak yang dicengkeramnya, langsung bengkak telapak tangannya!
"Aduh...!" Semua orang terkejut.
Mereka melihat kakek tinggi besar itu terbelalak kaget, tak tahu bahwa secara curang ketua Seng-piauw-pang ini "disengat" senjata rahasia, dari balik mata tombak.
Dan mengira Sin-piauw Ang-Lojin tak kuat menahan keampuhan senjata di tangan sutenya dan Hong Jin tertawa bergelak melihat suhengnya tersentak tiba-tiba semua orang melihat ketua Seng-piauw-pang itu terhuyung limbung, memencet pergelangan tangannya sambil memaki, tampak pucat.
"Sute, kau keji...!" Hong Jin sang kakek bermuka kuning tertawa tak peduli.
Dia girang bahwa tak ada orang lain tahu perbuatannya tadi.
Bahkan Kim-mou-eng pun juga tidak. Begitu pula Salima.
Maklum kecurangan ini dilakukan di luar pengetahuan orang karena semuanya berlangsung secara rahasia.
Dan Sin-piauw Ang-Lojin yang terhuyung pucat memegangi tangannya yang bengkak tiba-tiba sudah diserang sutenya itu, mengelak dan kini tak berani menangkis atau menangkap senjata yang mengandung alat rahasia itu.
Dan karena kakek gagah ini merasa tangannya pedih dan tubuh tiba-tiba menggigil seperti orang kena demam tanda dari racun yang terbawa jarum mulai memasuki tubuhnya maka beberapa jurus kemudian Sin-piauw Ang-Lojin terdesak.
"Ha-ha, kau cabut senjatamu, suheng.
Ayo mainkan Sin-piauw Kun-hoat agar kukalahkan sekalian...!" Kakek bermuka kuning ini pura-pura berseru, terus merangsek dan bertubi-tubi menyerang suhengnya dengan senjata yang berbahaya itu, melihat suhengnya semakin payah dan kedinginan serta terhuyung-huyung.
Dan ketika Sin-piauw Ang-Lojin marah dan mencabut senjatanya berupa pisau bintang yang gagangnya terbuat dari gading tiba-tiba kakek ini menggeram menggerakkan senjata itu dengan tangan kiri, karena tangan kanan tak dapat dipakai lagi dan semakin lumpuh.
"Sute, kau rupanya berhati busuk.
Kau sekarang juga culas dengan main senjata gelap segala!" "Ha-ha, tak perlu mengomel kalau kekalahan di ambang mata, suheng.
Kau sendiri yang salah tidak lekas-lekas mencabut senjatamu!" Sin-piauw Ang-Lojin membentak.
Dia masih memiliki kekuatan juga, menerjang dan menyambut serangan sutenya.
Memutar pisau panjang itu yang tiba-tiba berkilauan memanjang, naik turun bergulung-gulung dan sebentar kemudian lenyap merupakan cahaya putih yang membendung senjata sutenya.
Mematuk dan membabat hingga berkali-kali golok-tombak di tangan lawan terpental, bertemu tenaganya yang masih dahsyat dan hebat.
Tapi ketika si kakek muka kuning kembali melepas jarum-jarum rahasia yang halus dan mengenai tubuh ketua Seng-piauw-pang itu menyusup di bawah kulit mendadak Sin-piauw Ang-Lojin meraung, "Sute, kau keparat jahanam...!" Hong Jin sang kakek bermuka kuning tertawa bergelak.
Dia telah melepas tiga jarum rahasianya sekarang, menancap di bagian depan tubuh suhengnya hingga bagian itu membengkak, menimbulkan rasa nyeri dan panas berganti-ganti.
Membuat tubuh seakan meriang dan tentu saja mengganggu keadaan kakek gagah ini.
Dan ketika Sin-piauw Ang-Lojin mulai gemetar karena empat jarum beracun itu melumpuhkan tenaganya tiba-tiba untuk terakhir kalinya kakek ini menjerit ketika jarum kelima dilepaskan mengenai lehernya.
"Crep!" Jarum itu amblas.
Sin-piauw Ang-Lojin memekik, roboh terjungkal dan melepaskan pisau panjangnya karena dia sekarang benar-benar sudah tak tahan lagi.
Kaget bahwa sutenya demikian jahat.
Tak segan melakukan kecurangan dengan menembakkan jarum-jarum halus dari balik mata tombak, tentu saja tak dapat dielak karena mereka melakukan pertempuran jarak dekat.
Dan begitu dia roboh terguling dan Hong Jin si kakek muka kuning tertawa penuh kemenangan tiba-tiba dengan keji kakek ini berkelebat melepas jarum terakhir, pura-pura menotok dengan mata tombak tapi sebenarnya melepas jarum berbisa ke dahi suhengnya.
Satu serangan maut yang tentu tak mungkin menyelamatkan ketua Seng-piauw-pang itu.
Tapi Kim-mou-eng yang rupanya sudah melihat kecurangan ini dan kaget oleh menyambarnya sinar halus yang hampir tak tertangkap mata karena jarum itu memang kecil dan lembut mendadak sudah melompat ke depan mengebutkan ujung bajunya, menangkis dan ingin mengetahui senjata rahasia macam apa itu.
"Hu-pangcu (wakil ketua), kau benar-benar tak tahu malu.
Tahan kekejianmu...
Plak!" Hong Jin terkejut.
Dia melihat Kim-mou-eng menangkis serangannya, membuat dia terdorong dan jarum rahasianya kini menancap di ujung baju pemuda itu, kaget bukan main.
Kaget karena dua saudaranya tak sempat mencegah majunya Pendekar Rambut Emas ini dan dia tertolak mundur oleh kibasan lengan baju itu.
Dan ketika kakek muka kuning ini berseru marah berdiri tegak maka di saat itulah Kim-mou-eng telah melihat jarum rahasianya, disusul bayangan Salima yang melayang naik ke atas panggung.
"Suheng, apa itu?" Kim-mou-eng memperlihatkan jarum di telapak tangannya.
Dia sekarang marah pada kecurangan wakil ketua Seng-piauw-pang ini dan Salima yang juga tertegun melihat jarum itu mendadak marah besar seperti suhengnya.
"Tua bangka, kau manusia keji terkutuk!" Hong Jin mencelos.
Dia terkejut melihat naiknya dua orang muda ini, tapi Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin yang rupanya tersentak melihat majunya Kim-mou-eng dan Salima yang lolos dari pengawasan mereka tiba-tiba melompat naik ke panggung luitai, membentak nyaring, "Tiat-ciang Sian-li, kalian sebaiknya turun.
Pibu ini telah berakhir...!" Salima gusar.
Dia langsung menyambut naiknya dua orang kakek itu dengan pukulan tangan kiri, mengerahkan Tiat-lui-kangnya.
Dan begitu balas membentak dan menyuruh kakek itu saja yang turun tahu-tahu gadis Tatar ini telah menyerang Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin.
"Orang-orang keparat, kalian saja yang turun...
Dess-plak!" Wan Tiong Lojin dan sutenya terkejut.
Mereka terang menangkis, mengebutkan ujung baju menahan pukulan ini.
Tapi begitu mereka terpental dan ujung baju hangus oleh tamparan Tiat-lui-kang sekonyong-konyong mereka berteriak kaget ketika tubuh meluncur kembali ke bawah, terpaksa berjungkir balik dan turun di tempat semula, pucat dan kaget.
Dan ketika Salima berdiri berapi-api dengan penuh kemarahan memandang mereka semua maka Kim-mou-eng melompat di depan sumoinya ini.
"Sumoi, biarkan aku menghadapi orang-orang ini.
Kau tolonglah dulu Seng-piauw-pangcu!" Kim-mou-eng memberikan obat, mendorong sumoinya mundur dan sudah menghadapi si kakek muka kuning yang terbelalak memandang mereka.
Dan ketika Salima mengangguk tapi tidak puas memandang kakek muka kuning itu untuk menolong Sin-piauw Ang-Lojin maka Pendekar Rambut Emas ini telah menegur Hong Jin.
"Orang tua, kau sungguh tidak malu mencurangi ketuamu sendiri.
Bukankah Sin-piauw Ang-Lojin juga suhengmu sendiri?
Kenapa melakukan perbuatan tak terpuji dengan menyerangnya begitu licik?" Kakek muka kuning ini melotot.
"Itu urusan kami sendiri, Kim-mou-eng.
Ada apa kau mencampuri urusan orang lain?
Kurang kerjaankah kau ini?" "Hm, aku tak dapat melihat orang berbuat curang, Hong-hu-pangcu (wakil ketua Hong).
Aku tak akan mencampuri urusan orang lain jika semuanya berjalan baik-baik.
Aku terpaksa maju karena kau hendak membunuh ketua atau suhengmu sendiri.
Itu perbuatan jahat!" Hong Jin kakek muka kuning ini marah.
"Kau lancang mencampuri urusan Seng-piauw-pang?
Bukankah ini pibu satu lawan satu?" "Benar, tapi pibu yang baik tak boleh mempergunakan senjata rahasia, hu-pangcu.
Dan kau telah melanggar pantangan ini.
Kau rupanya memang bukan orang baik-baik!" "Keparat!" Kakek ini membentak, tiba-tiba menyerang dan menusukkan golok-tombaknya itu ke dada Kim-mou-eng.
Tapi Kim-mou-eng rupanya sudah mengetahui sampai di mana kelihaian kakek ini dengan melihat jalannya pertandingan tadi tiba-tiba menerima dan tidak mengelak.
"Tak!" Hong Jin terkejut.
Kakek itu melihat mata tombaknya memantul bertemu dada Pendekar Rambut Emas, membentur kekebalan sinkang yang luar biasa hingga tubuh pemuda itu seperti karet, kenyal tapi liat.
Dan hu-pangcu Seng-piauw-pang yang tentu saja terperanjat oleh kekebalan ini tiba-tiba menyerang kembali dan memencet jarum-jarum rahasianya.
"Cit-cit-cit!" Tujuh jarum halus menyambar tubuh Kim-mou-eng.
Orang hanya melihat tujuh sinar kecil berkerlip-kerlip ke depan, entah apa.
Tapi Kim-mou-eng yang mendengus melihat kecurangan ini tiba-tiba membentak dan...