Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 24

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 24

Kim-mou-eng meniupkan napas dari mulutnya.

"Wush!" Hong Jin terkejut. Tujuh jarumnya tiba-tiba tersapu runtuh, persis ditiup angin kencang. Sementara dia terbelalak kaget, sekonyong-konyong Kim-mou-eng berkelebat menampar kepalanya.

"Hu-pangcu, kau pantas dihajar!"

Kakek ini terkesiap. Dia tadi sudah merasakan kelihaian Salima, namun belum merasakan kehebatan Pendekar Rambut Emas ini. Melihat lawan berkelebat menampar kepalanya, dia tentu tidak mau menyerah begitu saja. Kakek ini menggerakkan senjatanya untuk menangkis sambil melancarkan tendangan.

"Plak-des!" Hong Jin, si kakek bermuka kuning, mencelat.

Dia terlempar karena tamparan itu masih menyerempet pelipisnya. Rasanya panas, membuat kulit pelipisnya seakan dibeset. Hal itu membuatnya memekik. Namun, Wakil Ketua Seng-piauw-pang yang berjungkir balik mematahkan daya pukulan itu tiba-tiba membentak dan kembali turun ke panggung *luitai*. Ia merasa penasaran oleh pukulan lawan yang membawa kesiur angin sedemikian kuat.

Tak mau lawan mendahuluinya menyerang, kakek muka kuning ini melengking dan menubruk Kim-mou-eng. Serangannya gencar bertubi-tubi dengan golok-tombaknya. Kini kakinya pun ikut bergerak menendang dan menyapu. Serangannya hebat bukan main karena dia memaklumi kelihaian lawannya. Begitu kakek ini berkelebat menyerang, Kim-mou-eng langsung dikurung hujan pukulan dan tusukan yang gencar bukan kepalang.

"Pendekar Rambut Emas, kau akan kubunuh!"

Kim-mou-eng semakin mengerutkan kening. Dia melihat wakil ketua Seng-piauw-pang ini sebenarnya cukup lihai. Permainan golok-tombaknya cukup berbahaya. Namun, karena telah mengerahkan *sinkang* untuk melindungi diri dan mulai melompat ke sana kemari menangkis senjata lawan guna menunjukkan kekebalannya, semua serangan kakek itu dapat ditolak balik.

Hong Jin tentu saja naik pitam. Ia membentak dan melengking-lengking menyerang dengan nekat. Namun, ketika lawan mulai gemas, Kim-mou-eng ingin memberi hajaran pada kakek ini. Tiba-tiba golok-tombak yang menyambar untuk kesekian kalinya ditangkap, persis seperti apa yang tadi dilakukan Sin-piauw Ang-lojin, ketua Seng-piauw-pang tersebut.

Ketika lawan memencet senjatanya dan berseru girang karena hendak melepas jarum-jarum lembut dari mata tombak, Kim-mou-eng mendahuluinya dengan meremas hancur senjata di tangan kakek muka kuning itu.

"Krek!" Luncuran jarum otomatis tersumbat.

Hong Jin berteriak kaget ketika ujung goloknya patah dan hancur di dalam cengkeraman Pendekar Rambut Emas. Ketika pertandingan berhenti sedetik, kakek muka kuning itu berteriak tertahan. Ia terbelalak memandang lawannya. Tahu-tahu, Kim-mou-eng menyambitkan hancuran mata tombak yang telah menjadi bubuk itu ke muka lawannya.

"Hong-hu-pangcu, terimalah remukan senjatamu!"

Kakek ini terkejut. Dia membanting tubuh dan bergulingan karena kaget jarak sambitan itu terlalu dekat. Saat dia melemparkan tubuh, beberapa bubuk besi masih mengenai mukanya hingga dia menjerit kesakitan. Tiba-tiba golok yang sudah buntung ujungnya itu ditendang lepas dan patah di udara oleh Kim-mou-eng!

"Krek-plak!" Hong Jin, sang kakek bermuka kuning, tampak pucat bukan main.

Secara tidak sengaja, dia membanting tubuh dan bergulingan mendekati Salima. Karena Salima benci pada Wakil Ketua Seng-piauw-pang ini, dia secara otomatis menggerakkan tangan menyerang kakek itu. Tangannya menyambitkan jarum yang tadi didapat dari *suheng*-nya—jarum milik kakek itu sendiri.

"Tua bangka, makanlah jarummu ini!"

Kakek itu semakin kaget. Dia tidak dapat mengelak, seolah ular yang mendekati pemukul. Keadaannya menjadi runyam. Ketika jarum itu mengenai lehernya dan langsung amblas di bawah kulit, kakek ini berteriak ngeri dan roboh terbanting ke bawah panggung.

"Bres!" Hong Jin mengeluh pendek. Lehernya seketika bengkak kehitaman karena terkena racunnya sendiri.

Ketika Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin menghampirinya untuk membantu, kakek ini bangkit terhuyung sambil memaki gemetar, "Goblok kalian! Kerbau dungu kalian! Kalian seharusnya mencegah dua orang pengacau itu naik ke atas panggung, *Sute*. Kalian seharusnya membantu aku ketika pertandingan di atas tadi!"

Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin terpaku. Mereka sebenarnya sedang terkesima oleh pertandingan tadi. Mereka melihat betapa lihai dan hebatnya Pendekar Rambut Emas itu yang melayani senjata lawan hanya dengan tangan kosong. Ia kebal dan dapat meremas hancur golok kakaknya hingga tidak dapat dipakai lagi. Hal itu diam-diam membuat gentar kedua kakek ini.

Hong Jin yang marah-marah melihat kedua adiknya diam saja, akhirnya membentak dan melayang naik setelah menelan obat penawar racun.

"*Sute*, ayo kita bunuh dua pengacau liar itu. Aku tidak akan memberi kalian apa yang kujanjikan bila kita semua kalah!"

Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin saling pandang. Mereka tampaknya terkejut oleh kata-kata terakhir itu. Mereka memberi isyarat, mengangguk, lalu melayang naik. Rupanya janji yang diberikan cukup memikat hingga mampu menindas rasa gentar mereka.

Namun, Sin-piauw Ang-lojin yang rupanya sudah ditolong dan menelan obat dari Salima tampak sudah sembuh. Tiba-tiba ia bangun berdiri dan menggerung marah.

"Kim-mou-eng, tiga orang *sute*-ku ini rupanya memang mau memberontak. Biarlah kau mundur, kuhadapi mereka sendirian!"

Kim-mou-eng tertegun. Dia melihat kakek tinggi besar bermuka merah itu tidak lagi menggigil. Ia tampak garang dan bengis memandang ketiga adiknya, terutama Hong Jin, sang adik nomor dua yang rupanya mau membangkang. Matanya berapi-api karena marah.

Sambil tersenyum memandang kakek gagah ini, Kim-mou-eng menjawab, "Kau baru sembuh, *Pangcu*. Mana mungkin menghadapi *sute-sute*-mu ini? Bagaimana kalau mereka melakukan kecurangan lagi?"

"Tidak, senjata laknatnya telah kau hancurkan, Kim-mou-eng. Dia tidak mungkin melepas jarum-jarum rahasianya lagi. Aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri. Terima kasih atas budi pertolonganmu!"

"Ah, sesama orang gagah mana ada bicara budi, *Pangcu*? Aku terpaksa maju karena tidak tahan melihat kecurangan adikmu. Maaf kalau kau anggap lancang."

"Tidak, aku justru berterima kasih, Kim-mou-eng. Aku telah melihat bahwa adikku nomor dua itu rupanya tidak segan-segan membunuhku. Dia sudah tidak memandangku lagi sebagai saudara seperguruan. Aku akan menghadapinya!"

Setelah meminta Pendekar Rambut Emas turun, kakek ini pun menghadapi adik-adik seperguuruannya.

"Hong-sute, sungguh tidak kusangka bahwa dalam pemilihan ketua kali ini kau mengincar jiwaku. Apa salahku padamu hingga kau mengincar nyawaku? Adakah utang jiwa yang telah kuberikan padamu?"

Hong Jin mulai gentar. Dia melihat kakak seperguruannya ini benar-benar pulih kembali. Agaknya obat yang diberikan Kim-mou-eng melalui adik seperguruannya tadi benar-benar hebat. Karena senjata golok-tombak yang dapat melepaskan jarum rahasia—yang amat diandalkannya—sudah hancur di tangan Kim-mou-eng, kakek muka kuning ini merasa tidak nyaman.

Seandainya tidak ada Kim-mou-eng bersama adiknya, tentu niatnya membunuh kakaknya ini bakal terkabul. Karena Kim-mou-eng muncul dan jelas berpihak pada sang Ketua, Hong Jin menyadari adanya rintangan sulit dalam merebut kedudukan. Tiba-tiba Hong Jin menjadi nekat. Nekat dan juga marah!

"*Suheng*, tidak perlu banyak cakap lagi di tempat ini. Kita sekarang telah berhadapan. Ayo maju, atau serahkan kedudukan Seng-piauw-pangcu kepadaku secara baik-baik!"

"Kau masih berani bicara tentang itu?" Sin-piauw Ang-lojin membentak.

"Sebab kau tidak tahu diri, *Suheng*. Kau masih saja hendak mengangkangi kedudukan ketua tanpa memberi kesempatan pada yang muda untuk menggantikanmu!"

"Keparat, kau yang tidak tahu diri, *Sute*. Bukan aku, tetapi kau. Kuhajar kau!"

Sin-piauw Ang-lojin yang sudah tidak dapat menahan amarah lagi tiba-tiba menggerung dan menubruk adiknya. Ia mengembangkan kedua lengan di kiri dan kanan tubuhnya seakan seekor burung garuda, siap mencengkeram dan mencekik adiknya.

Namun, Hong Jin yang tiba-tiba mengelak langsung mencabut pisau panjangnya—pisau bintang yang menjadi ciri khas anggota perkumpulan Seng-piauw-pang. Ia melejit menusukkan senjatanya, tetapi segera ditampar dan terpental oleh jari-jari Sin-piauw Ang-lojin yang kokoh. Ia terkejut dan menyerang lagi ketika kakaknya membentak dan maju menubruk dirinya.

Ketika mereka saling membentak dan melancarkan serangan masing-masing, kedua orang ini pun bertempur dengan sengit. Sin-piauw Ang-lojin masih bertangan kosong. Ketua Seng-piauw-pang itu mengandalkan kibasan dan cengkeramannya. Ia selalu membuat senjata di tangan adiknya melenceng atau terpental, tanda bahwa *sinkang* sang Ketua masih lebih hebat dibanding lawannya. Ia berani mencengkeram senjata lawan dengan tangan telanjang tanpa terluka. Hal ini menandakan Ketua Seng-piauw-pang juga memiliki kekebalan yang cukup baik selama tidak diserang dengan senjata beracun seperti jarum tadi.

Ketika pertempuran berjalan tiga puluh jurus, Ketua Seng-piauw-pang rupanya sudah mengenal betul ilmu silat lawannya. Agaknya mereka telah cukup sering bertempur. Hong Jin berkali-kali mengeluh kaget karena mulai terdesak. Ia tidak berhasil melukai kakaknya. Jangankan melukai, membalas pukulan-pukulan kakaknya saja dia sudah kepayahan. Mukanya mulai pucat dan berkali-kali terhuyung setiap kali kakek muka merah itu menangkis senjatanya.

Saat pertempuran berjalan empat puluh jurus, Sin-piauw Ang-lojin semakin menekan lawannya dengan kibasan tangan yang mengeluarkan angin pukulan dingin. Akhirnya, sebuah tamparan keras mengenai pundak lawannya.

"Plak!" Hong Jin, si kakek muka kuning, tergetar. Wakil ketua Seng-piauw-pang ini terkejut, terhuyung, dan menyeringai pedih karena tamparan kakaknya membuat tulang pundaknya seakan remuk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment