Chapter 25
Dan ketika dua pukulan berturut-turut mengenai leher dan pangkal lengannya, kakek bermuka kuning ini terbelalak saat suhengnya berkelebat menendang pinggangnya.
"Sute, sekarang kau robohlah!"
Kakek bermuka kuning ini mengelak. Dia mencoba berkelit menghindarkan tendangan itu, tetapi Sin-piauw Ang-lojin yang menggerakkan tangan menotok kepalanya dalam serangan kedua sebagai susulan tendangan itu, tiba-tiba membuat kakek bermuka kuning ini mencelos kaget.
"Plak-dess...!" Hong Jin berteriak.
Dia kalah cepat oleh gerakan suhengnya itu. Maka begitu tendangan tiba dan totokan meluncur dari atas ke bawah, tanpa dapat dicegah lagi kakek bermuka kuning ini mencelat dan membanting tubuh bergulingan. Ia nyaris terkena totokan jika tidak segera melemparkan dirinya.
Namun, saat dia melompat bangun dan Sin-piauw Ang-lojin mengejarnya dengan dengusan pendek, tahu-tahu pisaunya mencelat ketika suhengnya itu menendang pergelangan tangannya. Hal ini membuat kakek bermuka kuning tersebut berteriak keras dengan wajah berubah.
Sebelum kakek tinggi besar itu menggerakkan jari untuk menangkapnya, sekonyong-konyong Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin yang berada di belakang menyerang ketua Seng-piauw-pang itu untuk menolong Hong Jin.
"Twa-heng, lepaskan Ji-suheng!" Sin-piauw Ang-lojin terkejut.
Saat itu dia tinggal memberesi sutenya ini, siap melumpuhkannya dalam satu pukulan terakhir. Melihat dua adiknya nomor tiga dan empat menyerang dari belakang dengan cara membokong menggunakan pisau di tangan untuk menusuk punggungnya, terpaksa sang ketua membalikkan badan dan menangkis dengan gusar.
"Sam-sute, kalian tidak tahu malu... plak-dess!"
Wan Tiong dan adiknya terpental. Mereka berdua hampir terjengkang. Maklum, tenaga suheng mereka demikian hebat. Namun Ji-suheng mereka yang sudah dapat melompat bangun berseru agar mereka mengeroyok suheng tertua ini. Ia tiba-tiba menyambar pisaunya yang terlepas tadi dan menyerang kakek gagah itu.
"Twa-heng, kami tidak akan menyerah padamu!"
Sin-piauw Ang-lojin mendelik. Dia kini diserang sutenya nomor dua, disusul pula oleh gerakan Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin yang menyerang dari kiri dan kanan. Semuanya bersenjata. Karena menghadapi mereka bertiga terlalu berat jika hanya bertangan kosong, akhirnya ketua Seng-piauw-pang ini mencabut senjatanya; sepasang pisau panjang bermata dua, dan langsung menangkis sambil memutar senjata.
"Sute, kalian akan kubunuh!"
Hong Jin dan dua adiknya mengelak. Mereka melompat menghindar, lalu menyerang lagi dan maju bersama mengepung dari tiga penjuru. Sebentar kemudian, mereka tidak malu-malu lagi mengerubut; tiga senjata melawan sepasang pisau.
Karena Sin-piauw Ang-lojin bertempur bagai seekor singa kelaparan dan kemarahan besar memberinya tambahan tenaga baru, biarpun dikeroyok tiga, tetap saja kakek itu dapat melayani lawan-lawannya dengan baik. Bahkan Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin sering berseru kaget. Lengan mereka bergetar setiap kali senjata ditangkis, merasakan betapa suheng mereka memiliki sinkang yang sangat kuat. Jika tidak hati-hati mencekal, tentu senjata di tangan mereka akan terlepas mencelat.
Hong Jin, si kakek bermuka kuning, melihat kelemahan kedua sutenya. Ia lalu membantu dengan mulai melepaskan pisau-pisau kecil untuk menolong mereka, serta menyuruh agar mereka juga melepaskan senjata piauw (pisau terbang) untuk menyerang Twa-suheng.
Ketika mereka mengangguk, ketiga kakek itu mulai melepaskan senjata-senjata gelap berupa pisau terbang sementara pisau panjang masih terus bergerak menyerang ketua Seng-piauw-pang. Akhirnya Sin-piauw Ang-lojin terdesak; ia membentak dan memaki-maki sutenya yang curang itu. Namun, ketua Seng-piauw-pang ini juga menangkis dan mulai mengeluarkan pisau-pisau kecilnya untuk membentur runtuh senjata gelap lawan.
Pertandingan menjadi ramai kembali dan berimbang, membuat Hong Jin dan dua adiknya tertegun kagum, tetapi juga marah melihat ketangguhan sang kakak tertua. Ketika pertandingan berjalan lima puluh jurus, Hong Jin serta dua adiknya mulai terengah-engah, sementara Sin-piauw Ang-lojin masih tegar dengan napas yang kuat. Akhirnya kakek bermuka kuning ini menjadi cemas.
Dia heran mengapa Twa-suhengnya demikian hebat. Napasnya demikian panjang, sementara dia dan dua adiknya mulai terengah-engah. Mereka tidak tahu bahwa tadi Salima secara diam-diam memberi obat penguat tenaga pada kakek tinggi besar ini ketika Sin-piauw Ang-lojin terluka. Itulah rahasianya; semacam obat kuat untuk memberi tenaga baru bagi ketua Seng-piauw-pang tersebut.
Ketika mereka bertiga mulai berkeringat, Sin-piauw Ang-lojin hanya mengusap peluh di dahi dan telapak tangannya. Akhirnya Ki Siong Cinjin, orang termuda di antara mereka, terluka. Pisau di tangan kanan ketua Seng-piauw-pang itu menggurat sutenya yang terbungsu ini, membuat Ki Siong Cinjin memekik dan terhuyung mundur.
Wan Tiong Lojin datang membantu dan menyerang dari belakang, tetapi Sin-piauw Ang-lojin membentak sambil memutar tubuhnya. Kakek yang agak kurus ini juga tidak dapat menghindar ketika suhengnya membalas, melukai kulit pundaknya dan terus menusuk ke arah tenggorokan. Sambutan pekik kaget Wan Tiong Lojin terdengar saat ia terus membanting tubuh bergulingan, menjauhkan diri dari gerakan ketua Seng-piauw-pang yang rupanya ingin merobohkannya.
Ketika Hong Jin juga maju, kakek tinggi besar ini mengayunkan kakinya menyapu pinggang hingga akhirnya ketiga orang itu roboh bergulingan dengan muka pucat.
"Plak-des-dess!"
Hong Jin dan dua adiknya terkejut. Mereka melompat bangun melihat bayangan suhengnya berkelebat ke depan, menggeram mengejar mereka dengan mata berkilat. Pisau menyambar seolah dewa maut tengah mengancam mereka. Ketika Hong Jin mengelak, serta Ki Siong Cinjin dan Wan Tiong Lojin menangkis, untuk pertama kalinya senjata di tangan mereka mencelat terlepas.
"Trang-trang!"
Ki Siong Cinjin dan kakaknya kaget. Mereka kalah tenaga oleh suheng tertua itu. Mereka terbelalak melihat pisau masih meluncur menyambar dada. Ki Siong Cinjin serta Wan Tiong Lojin yang terkesiap melihat sambaran pisau ini tiba-tiba berteriak pada Ji-suheng untuk maju membantu, sambil menggulingkan tubuh sebisanya ke kiri.
Namun, karena bagian itu kosong dan mereka telah berada di pinggir panggung luitai, tak ampun lagi kedua orang ini terjeblos ke bawah dan jatuh bergulingan di atas tanah, jauh dari panggung.
"Bres-bress!"
Hong Jin tampak pucat. Dia sekarang sendirian di panggung itu. Ia melihat suhengnya menggerung, sementara sutenya di bawah sudah melompat bangun namun gentar untuk segera naik kembali. Ketika Sin-piauw Ang-lojin membentak dan menubruk, Hong Jin menggerakkan pisaunya untuk menangkis setengah hati.
"Trang...!"
Pisau di tangan kakek bermuka kuning itu langsung mencelat. Dia sudah gentar dan pucat memandang suhengnya, melihat sang suheng mendelik dan rupanya ingin membunuhnya. Karena takut dan ngeri oleh hukuman yang bakal dijatuhkan, tiba-tiba Hong Jin membalikkan badan dan melompat turun!
"Sute, mari kita pergi...!"
Wan Tiong Lojin dan Ki Siong Cinjin terkejut. Mereka melihat kekalahan di depan mata. Ji-suheng mereka sudah meloncat turun meninggalkan panggung luitai karena gentar melihat sang ketua Seng-piauw-pang tampak bengis dan garang di atas panggung. Melihat kakaknya melarikan diri, kedua orang ini pun mengangguk dan meloncat mengikuti.
Tetapi Sin-piauw Ang-lojin membentak. Kakek bermuka merah itu menyambitkan pisaunya, menimpuk punggung sutenya nomor tiga dengan sangat cepat dan penuh tenaga. Wan Tiong Lojin menjerit dan roboh terjengkang. Pisau satunya di tangan kiri bergerak pula menyambar punggung Hong Jin.
"Crep!"
Hong Jin memekik. Dia mengaduh ketika pisau menancap di punggungnya hingga separuh lebih. Saat kakek itu terbanting roboh dan semua orang terbelalak, sekonyong-konyong seorang laki-laki tinggi tegap menyambar kakek ini dari tengah gerombolan anggota Seng-piauw-pang. Ia berseru pada Ki Siong Cinjin agar menyambar Wan Tiong Lojin.
Semua orang terkejut oleh kejadian ini. Salima berteriak karena mengenal laki-laki itu adalah orang yang pertama kali menyerangnya di pintu gerbang dusun Seng-piauw-pang. Mendadak laki-laki itu melempar granat tangan ke panggung luitai.
"Pangcu, turun...!" Salima berseru keras memperingatkan bahaya ledakan. Kakek gagah itu membentak tinggi dan berjungkir balik turun dari panggung.
Ledakan terjadi. Saat Salima siap mengejar, dua ledakan berturut-turut kembali memecah kerumunan anggota Seng-piauw-pang.
"Hei... blar-blar!"
Tujuh orang terlempar oleh ledakan granat itu, tewas seketika dengan tubuh hancur. Yang lain juga terlempar dan beberapa pecahan granat melukai belasan orang hingga suasana menjadi gaduh.
"Kejar laki-laki itu! Dia keparat jahanam...!"
Namun laki-laki itu telah menghilang. Dia membawa Hong Jin yang terluka di punggungnya, lenyap di balik asap tebal yang melindungi pelariannya. Karena asap granat itu juga mengandung bius, beberapa orang mendadak roboh pingsan. Wan Tiong Lojin pun telah menghilang dibawa oleh Ki Siong Cinjin.
"Keparat, laki-laki itu agaknya pengawal istana...!" seru orang-orang dengan ribut.