Chapter 26
Seng-piauw-pangcu memarahi, mencari-cari lelaki itu, dibantu yang lain termasuk Salima yang menyesal kenapa tidak melihat laki-laki itu sejak tadi, yang agaknya secara cerdik menyembunyikan diri di antara kelompok anggota-anggota Seng-piauw-pang.
Dan ketika asap mulai buyar dan keadaan tenang kembali, maka terdapatlah tiga puluh orang korban akibat ledakan itu.
"Jahanam, dia mata-mata!" Seng-piauw-pangcu marah besar, sadar bahwa kiranya orang itulah yang membuat sutenya mbalelo, memberontak, dan mengkhianati perkumpulan.
Dan ketika semua anggota tertegun dan terperangah memandang mayat tujuh orang yang tewas, sementara yang luka-luka merintih dan ditolong yang lain, maka menghadaplah kakek tinggi besar ini pada anggota-anggotanya itu.
"Siapa yang ingin mendukung suteku?
Siapa yang masih ingin memberikan suaranya pada susiok kalian yang berkhianat itu?" Semua anggota Seng-piauw-pang diam.
"Hayo, buka mulut kalian.
Siapa yang tidak setuju pada kepemimpinanku boleh meninggalkan tempat ini sekarang.
Aku memberi kebebasan penuh!" Sepuluh orang di depan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut.
Tiga di antaranya, yang termasuk di antara dua ratus lima puluh anggota yang tadi memberikan dukungan suara untuk si kakek muka kuning yang kini telah melarikan diri dari tempat itu, tiba-tiba menangis.
"Ampun, supek (uwa guru).
Kami sebenarnya telah dipaksa oleh suhu dan susiok untuk memberi dukungan suara padanya.
Suhu dan susiok telah menjalin hubungan dengan beberapa menteri untuk mengubah peraturan pang kita.
Kami tidak berdaya.
Suhu mengancam untuk membunuh kami kalau kami berani melawannya." "Hm, kau Kai Pak, bukan?
Kau murid Hong Jinsute?" "Benar, ampunkan teecu, supek.
Sebenarnya teecu telah memperingatkan suhu tapi suhu keras kepala." "Dan sekarang apa pendapatmu?
Kau tidak mencari gurumu yang bersekongkol dengan orang jahat itu?" "Tidak, teecu tidak berani, supek.
Teecu mewakili teman-teman di sini untuk mohon perlindungan supek!" Sin-piauw Ang-lojin mengangguk.
Dia tahu bahwa dukungan suara yang diberikan anggota-anggotanya tadi memang diucapkan secara sumbang.
Ada tersirat rasa keterpaksaan di situ.
Dan sekarang setelah Kai Pak, murid Hong Jin sutenya nomor dua ini mengakui, dan yang lain-lain juga menjatuhkan diri berlutut mohon ampun, akhirnya kakek ini menyuruh mereka bangun berdiri.
Berbicara panjang lebar bahwa perkumpulan mereka harus tetap utuh, tidak boleh pecah.
Dan ketika semuanya mengangguk, dan Sin-piauw Ang-lojin mendapat keyakinan penuh bahwa anggotanya tidak ada yang berkhianat, kecuali tiga orang sutenya tadi yang entah kenapa ingin menjalin hubungan dengan menteri-menteri dorna yang ada di istana, akhirnya kakek ini membubarkan pertemuan itu.
Mendapat dukungan penuh dan untuk ketiga kalinya diminta untuk memimpin Seng-piauw-pang.
Dan ketika semuanya selesai, dan kakek tinggi besar itu menyatakan terima kasih sebesar-besarnya pada Kim-mou-eng dan Salima karena dua orang itulah yang berjasa besar menyelamatkan kakek ini dan perkumpulannya, maka Kim-mou-eng mohon diri.
"Pangcu, kiranya cukup keberadaan kami berdua secara tak sengaja di tempat ini.
Kami tidak merasa melepas budi, harap kau simpan ucapan terima kasihmu yang berlebih-lebihan itu.
Kami malu hati mendengarnya.
Bukankah sesama orang gagah kita harus saling tolong-menolong?
Nah, sekarang perkenankan kami pergi, pangcu.
Kami masih ingin meneruskan perjalanan kami yang masih tak menentu." "Ah, kenapa buru-buru?" Sin-piauw Ang-lojin terbelalak.
"Kami ingin menjamu kalian, Kim-mou-eng.
Sebaiknya besok saja setelah matahari terbit!" "Tidak, kami tidak ingin menunda perjalanan, pangcu.
Kami masih harus mencari apa yang belum kami dapatkan." "Apakah itu?" "Dusun Yu-chung, tempat tinggal mendiang ibuku tigapuluh tahun yang lalu." "Hm, Yu-chung?
Dimanakah itu?" "Itulah, kami sendiri tidak tahu, pangcu.
Karena itu kami mencarinya karena ada sesuatu yang harus kami ambil.
Kami harus berangkat." "Nanti dulu!" Sin-piauw Ang-lojin tiba-tiba mengangkat lengannya.
"Apakah dusun itu di mukanya ada terdapat patung singa, Kim-mou-eng?" "Entahlah, aku tidak tahu, pangcu.
Tapi yang jelas, dusun itu dulu dikepalai oleh Yu-lopek.
Dia termasuk kerabat ibuku dan meninggalkan sesuatu yang harus kuambil." "Hm, kalau begitu coba saja ke dusun yang kutunjukkan ini, Kim-taihiap (pendekar Kim)." Sin-piauw Ang-lojin merubah panggilannya.
"Mungkin dusun itu yang kau cari karena dusun itu juga dusun Yu.
Tapi awas, di sana bercokol seorang datuk berjuluk Sai-mo-ong (Raja Iblis Singa) yang amat berbahaya.
Aku hampir tewas ketika bertempur dengannya secara kebetulan!" Dan ketika kakek ini menggigil membayangkan pertemuannya beberapa bulan yang lalu dengan datuk iblis itu, tiba-tiba Kim-mou-eng dan Salima tertarik.
"Dimana dia tinggal, pangcu?
Dimana dusun itu?" "Jauh dari sini, Kim-taihiap.
Di provinsi Se-cuan di dekat kota Ceng-tu!" "Hm, arah barat laut?" "Benar.
Dan harap kau berhati-hatilah, taihiap.
Sai-mo-ong mempunyai beberapa sahabat karena dia termasuk seorang dari Jit-mo Kang-ouw (Tujuh Iblis Dunia Persilatan) yang memiliki kepandaian mengerikan.
Ilmu silatnya luar biasa.
Terus terang aku kalah jauh dengannya!" Kim-mou-eng tertarik.
Sekarang dia mulai terbuka pengetahuannya tentang orang-orang persilatan di daerah Tiongkok ini.
Tokoh-tokoh di pedalaman yang mana baru dia dengar.
Maka melihat ketua Seng-piauw-pang itu tampak gentar membayangkan Sai-mo-ong ini dan menceritakan bahwa dulu bersama tiga sutenya yang berkhianat itu pernah mengeroyok, tapi hampir saja mereka tewas, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas ini menjadi gembira dan berdebar tegang, melirik sumoinya dan melihat Salima tersenyum aneh.
Mata yang jernih itu tampak bersinar, berkilat-kilat bagai mata seekor harimau betina yang rupanya menemukan buruan menarik.
Seolah Sai-mo-ong adalah korban santapan yang nikmat.
Dan ketika Sin-piauw Ang-lojin memberikan keterangan pada mereka secara jelas di mana letak dusun yang ditinggali kakek iblis itu, akhirnya Kim-mou-eng minta diri.
"Baiklah, terima kasih atas petunjuk-petunjukmu, pangcu.
Aku akan mencari kakek iblis ini dan menyelidiki benarkah dusun yang ditinggalinya itu adalah dusun yang dulu menjadi kampung halaman ibuku." "Baik, tapi hati-hati, taihiap.
Kupesankan sekali lagi bahwa kakek itu betul-betul amat berbahaya.
Dia memiliki kepandaian tinggi dan hebat sekali." "Terima kasih.
Semua pesanmu akan kuingat baik, pangcu.
Sekarang perkenankan kami pergi...!" Dan begitu Kim-mou-eng menjura di depan ketua Seng-piauw-pang ini dan berbalik menyambar sumoinya, tiba-tiba pemuda itu telah berkelebat lenyap, membuat Seng-piauw-pangcu tertegun melihat bayangan Kim-mou-eng tahu-tahu telah jauh di luar dusun, sekejap kemudian lenyap bayangannya di balik pohon.
Dan ketika dia terperangah menarik napas, akhirnya kakek ini menggumam kagum memuji kepandaian dua orang suheng dan sumoi itu.
"Hebat, mereka betul-betul orang muda yang hebat.
Semoga dapat mengatasi Sai-mo-ong yang berbahaya itu." Dan ketika ketua Seng-piauw-pang ini memasuki tempat tinggalnya mengatur perkumpulan, maka jauh di luar sana Kim-mou-eng telah menggandeng sumoinya berlari cepat.
"Sumoi, bagaimana pendapatmu tentang datuk iblis itu?
Takutkah kau?" "Hi-hik, aku tidak takut pada siapapun, suheng.
Justru aku ingin cepat-cepat menemui kakek iblis itu untuk mengadu kepandaian!" Salima mengejek, tertawa dingin ketika suhengnya bertanya apakah dia takut atau tidak menghadapi kakek yang membuat Sin-piauw Ang-lojin mengkeret, gentar nyalinya.
Dan ketika enam hari kemudian mereka melakukan perjalanan jauh menuju ke provinsi Se-cuan, akhirnya tibalah mereka di daerah yang dinyatakan "lampu merah" oleh ketua Seng-piauw-pang itu.
"Suheng, kita berhenti dulu.
Aku ingin mengisi perut!" Kim-mou-eng mengangguk.
Enam hari mereka memang tidak memasuki sebuah kota pun, berjalan keluar masuk hutan dan makan buah-buahan saja, minum air di sumber yang jernih.
Merasa lapar dan haus juga, setelah mencium bau masakan sedap di depan sebuah restoran, di mana mereka mulai memasuki kota Ceng-tu, berhenti di sebuah rumah makan bertingkat yang tampak penuh tamu.
Tanda rumah makan itu memiliki masakan-masakan istimewa yang merangsang pelanggannya.
Dan ketika Salima mengajak dia memasuki rumah makan itu, dan gadis Tar-tar ini sudah berjalan melenggang mendahului, maka tiba-tiba saja perhatian semua orang yang ada di dalam tertarik menuju pada suheng dan sumoi ini.
Salima dan Kim-mou-eng memang cukup menarik perhatian.
Betapa tidak, Salima tampak demikian anggun dan memikat gagah dengan kulitnya yang hitam manis itu.
Tinggi semampai dengan lenggak seakan macan lapar.
Tidak peduli dan sama sekali tidak menghiraukan semua mata yang terbelalak kepadanya, kagum, dan mulai mendengar bisik-bisik di sana-sini disertai desisan menggoda.
Bahkan ada yang berani bersiul ketika gadis itu memasuki rumah makan ini.
Sedang Kim-mou-eng yang juga menarik perhatian dengan rambutnya yang kuning keemasan itu, dan berjalan tegap di samping sumoinya, seolah pasangan serasi bagi gadis Tar-tar ini, membuat beberapa wanita cantik memandang kagum dan iri.
Melihat betapa pemuda itu memiliki ketampanan yang aneh dan mata seperti bintang, berkedip jernih dan tersenyum ketika beradu pandang dengan wanita-wanita muda yang ada di restoran itu.
Seketika berbisik-bisik, dan ada di antaranya yang terkekeh genit dan melempar senyum pada pemuda ini.
Malah yang duduk di sudut memberi kedipan mata segala, sebuah isyarat khusus yang ditujukan pada Kim-mou-eng.
Dan Salima yang tentu saja tahu dan panas hatinya melihat semuanya itu, lalu mengajak suhengnya naik ke atas.
Tapi sial.
Di atas juga penuh tamu.
Mereka juga terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Dua puluh lebih, enam di antaranya wanita cantik yang membawa pedang di punggung.
Tanda wanita kangouw (persilatan) yang entah dari golongan apa.