Chapter 27
Ketika Salima bingung mencari tempat duduk dan suhengnya juga mengerutkan alis mencari kursi, tiba-tiba pelayan datang menghampiri mereka.
"Kongcu (Tuan Muda), kalian mau makan?" Kim-mou-eng mengangguk.
"Kalau begitu di bawah saja, Kongcu. Ada kursi kosong di sana!" Kim-mou-eng memandang sumoinya.
Tapi Salima yang rupanya sudah mendongkol pada wanita-wanita di bawah yang menggoda suhengnya menolak, tak mau, dan meminta pada pelayan agar mengambil meja dan kursi baru saja dibawa ke atas.
Sang pelayan yang tertegun mengerutkan alis tiba-tiba tertawa, menyeringai kecut.
"Siocia (Nona), tempat ini sudah penuh. Mana mungkin menaruh meja kursi baru? Atau kalian tunggu saja sebentar, beberapa di antaranya tentu selesai dan akan segera meninggalkan tempat mereka." "Tidak, kalau begitu kita cari rumah makan lain saja, Suheng. Rupanya kita kesasar ke tempat yang sudah penuh orangnya." Kim-mou-eng setuju.
Dia juga tak enak menjadi pusat perhatian semua orang di atas sini, memandangi mereka berdua dan mulai mendengar bisik serta tawa seperti di ruang bawah. Yang laki-laki memandang sumoinya, sedang yang perempuan memandangi dirinya. Mereka tampaknya bukan orang baik-baik, terlihat dari gelagat dan sikap mereka yang cengar-cengir. Rupanya mengira dia dan sumoinya adalah Kongcu dan Siocia yang lagi pelesir. Maklum, mereka memang tidak membawa senjata dan pakaian mereka juga pakaian orang-orang biasa, bukan orang persilatan karena hal ini disengaja oleh Kim-mou-eng agar tidak mendapat gangguan di tengah jalan. Ogah melayani orang-orang kasar yang bagi mereka hanya menghambat perjalanan saja.
Ketika pelayan membujuk agar mereka duduk di bawah saja karena di sana ada meja kosong, tapi sumoinya tetap menolak, tiba-tiba dari bawah muncul tiga wanita cantik yang tadi seorang di antaranya memberi kedipan pada Kim-mou-eng.
"Pelayan, minta saja pada Kongcu ini agar duduk bersama kami. Kami mempunyai dua kursi kosong!" Kim-mou-eng terkejut.
Dia melihat tiga wanita ini telah muncul di ujung tangga, langsung tertawa dan mendekatinya. Ketika dia terbelalak dan sang pelayan tertegun girang, wanita di depan yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun dan memakai tusuk konde telah menjura di depannya, menawarkan diri.
"Kongcu yang tampan, meja kami cukup besar untuk delapan orang. Kalau kau mau, boleh duduk bersama kami!" Kim-mou-eng terbelalak.
Wanita ini menawarkan mejanya cukup sopan, meskipun kerlingnya menyambar-nyambar, tetapi penawarannya cukup simpatik. Tak menunjukkan kekasaran.
Tapi Salima yang sudah mendelik melihat kedatangan tiga wanita cantik ini tiba-tiba mendahului maju, berkata ketus, "Kami tak butuh meja orang lain. Kalau kalian mau makan, silakan saja makan sendiri!" "Hi-hik!" Wanita itu tertawa memandang Salima.
"Kau siapa, Adik Manis? Kau bukan orang sini, ya? Perkenalkan, kami Sam-li Huang-ho (Tiga Dewi Sungai Huang-ho) yang ingin baik-baik berkenalan dengan kalian!" "Tak peduli!" Salima marah.
"Kami tak ingin berkenalan dengan siapa pun dan tak ingin diganggu. Kalian pergilah!" Salima membentak, terlanjur panas, teringat wanita itu memberi kedipan penuh arti pada suhengnya dan bersikap ketus pada lawan.
Sam-li Huang-ho yang tiba-tiba berkilat matanya dan marah memandang Salima mendadak mengerutkan kening, berkata dingin, "Kau tak tahu berterima kasih pada maksud baik orang? Kau berani bersikap kasar kepada kami?" "Kenapa tidak?" Salima menjadi berang.
"Aku tidak takut kalian bertiga, Mo-li Huang-ho. Aku tidak ingin berterima kasih pada kalian. Kalian pergilah, cepat sebelum aku marah!" Salima mengganti julukan orang, bukan Sam-li Huang-ho melainkan Mo-li Huang-ho (Iblis Betina Sungai Huang-ho), sebutan yang tentu saja membuat tiga wanita itu gusar bukan kepalang. Apalagi mereka melihat Salima adalah gadis biasa saja, tak menunjukkan gadis kangouw karena tak tampak membawa senjata. Hanya kecantikannya itu saja yang menonjol.
Tapi Kim-mou-eng yang buru-buru melangkah maju dan menghadang di depan sumoinya karena melihat wanita itu siap menyerang sumoinya, tiba-tiba tertawa pahit, menjura buru-buru.
"Nona, maafkan adik perempuanku ini. Kami lagi kecapaian, baru melakukan perjalanan jauh. Maafkan kalau mudah marah dan tersinggung untuk hal-hal yang bisa menimbulkan salah paham. Aku berterima kasih, tetapi maaf tak dapat memenuhi keinginan kalian. Biarlah kami turun mencari rumah makan lain. Maaf... maaf...!" Kim-mou-eng yang sudah membungkuk menarik sumoinya untuk diajak pergi, tiba-tiba terkejut melihat seorang laki-laki berkelebat menghadang mereka.
"Ha-ha, dua muda-mudi ini rupanya tak senang padamu, Sam-li Huang-ho. Mereka rupanya terlanjur mendapat kesan jelek. Biar aku saja yang mengundang mereka!" Sementara Kim-mou-eng mengerutkan kening melihat gejala buruk muncul di tempat itu, laki-laki bermuka hitam ini menjura menghadap sumoinya.
"Nona, meja kami sebenarnya dapat dimuati sepuluh orang. Kami berlima masih mempunyai kursi kosong. Bagaimana kalau kau duduk saja bersama kami?" Salima melotot.
Dia melihat laki-laki bermuka hitam itu mengundangnya manis, tapi matanya melahap tubuhnya dengan kurang ajar. Itu membuat dia marah. Maka ketika laki-laki itu bertanya dan membungkuk padanya, tiba-tiba Salima berkelebat maju menampar laki-laki ini, begitu saja dengan cepat.
"Muka hitam, siapa mau tawaranmu yang tengik? Kau kembali saja ke bangkumu. Kami tak butuh budi kebaikan orang... plak!" Si muka hitam mencelat, terbanting roboh, dan tentu saja berteriak kaget melihat Salima menampar mukanya. Tamparan itu membuat mukanya bengkak dan seketika dua giginya tanggal!
Ketika empat laki-laki lain yang menjadi temannya berseru keras dan melompat maju dengan penuh kaget karena tak mengira Salima memiliki gerakan demikian cepat, tiba-tiba semua tamu menjadi gempar dan ribut.
Kim-mou-eng terkejut. "Sumoi, jangan membuat onar...!" Namun Salima berdiri tegak. Gadis ini berapi-api memandang lawannya, melihat si muka hitam melompat bangun dan kini maju dengan empat orang temannya. Laki-laki tinggi besar itu marah kepadanya, melotot dan beringas, membuat para tamu menghentikan makan. Maklum, bahwa perkelahian sengit tentu tak dapat dihindarkan lagi.
Tapi sebelum mereka menyerang dan mengepung gadis Tartar ini, tiba-tiba satu dari enam wanita kangouw yang duduk di meja makannya bangkit berdiri, berseru nyaring, "Hek-houw (Harimau Hitam), tinggalkan gadis itu, jangan membuat ribut di sini. Kami tak ingin terganggu!"
Ketika Hek-houw tertegun dan berhenti dengan muka terkejut, tiba-tiba seorang pemuda muncul dan tertawa menyambung seruan wanita yang berseru lantang tadi, "Benar, tak perlu membuat ribut di tempat ini, Hek-houw. Kalian pergi saja turun baik-baik. Ayo...!" Hek-houw tampak semakin terkejut.
Dia pucat melihat kedatangan pemuda terakhir ini, pemuda tampan membawa kipas. Mukanya putih, namun sinar matanya bergerak-gergerak liar, membawa seekor ular yang masih hidup, membelit lengannya dan tampak mendesis-desis menjulurkan lidahnya yang bercabang.
Ketika Hek-houw mengangguk dan meloncat turun diikuti temannya tanpa banyak cakap lagi, mendadak Sam-li Huang-ho juga hilang kegarangannya melihat munculnya pemuda ini.
"Kongcu, selamat datang!" Pemuda itu tertawa tak acuh.
"Kalian juga di sini, Sam-li Huang-ho?" "Maaf, kami..." "Tak usah, kalian sebaiknya juga pergi dari sini, Sam-li Huang-ho. Aku jadi sebal setelah melihat tampang Hek-houw tadi. Cepat!" "Baik... baik, Kongcu. Maaf kalau kami mengganggu!" Begitu tiga wanita ini menjura memutar tubuhnya, tiba-tiba mereka pun turun seperti si muka hitam tadi, tampak ketakutan dan tak berani main-main pada pemuda yang membawa kipas dan ular ini.
Ketika semua tamu yang ada juga buru-buru menuruni tangga loteng, kecuali enam wanita berpedang tadi, pemuda bermuka putih ini telah menghampiri Kim-mou-eng dan sumoinya, diikuti enam wanita cantik yang kagum bersinar-sinar memandang Pendekar Rambut Emas itu berdiri di belakang pemuda ini.
Begitu mereka saling berhadapan, pemuda yang baru muncul ini menjura, menghadapi Salima.
"Nona, namaku Bu Ham. Orang memanggilku Bu Ham-kongcu atau Bu-kongcu. Kau siapa dan bagaimana gadis secantik ini ada di wilayah Ceng-tu?" Salima tak menjawab.
Dia beradu pandang dengan mata pemuda bermuka putih itu, langsung mengetahui bahwa dia berhadapan dengan seorang tokoh muda berkepandaian tinggi. Terbukti pemuda itu memiliki mata yang tajam penuh getaran sinkang, berkilat, dan aneh tapi liar.
Salima yang tegak membusungkan dada tiba-tiba mengejek dan... tidak menggubris sama sekali! Bu-kongcu tersenyum.
Dia tidak marah seperti yang diharapkan Salima, karena Salima memang bersikap dingin agar lawan marah kepadanya. Langsung melepas pukulan agar kemarahannya juga terlampiaskan. Maklum, pukulan yang siap dilontarkan pada Hek-houw dan kawan-kawannya tadi batal gara-gara kedatangan pemuda ini. Padahal dia ingin menghajar siapa saja yang membuat dia gusar.
Maka melihat pemuda itu tersenyum dan tidak marah seperti yang diharapkan, tiba-tiba Salima malah tertegun ketika pemuda itu mengulang kata-katanya.
"Nona, aku Bu Ham-kongcu. Bagaimana jika kuundang makan bersama? Perkenalkan, mereka ini murid-murid Tok-gan Sin-ni (Wanita Sakti Bermata Satu) yang baru saja datang ke Ceng-tu. Mereka sahabatku, boleh makan bersama kalau kau mau." Salima jadi semburat.
Dia tak mengenal siapa itu Tok-gan Sin-ni, tak tahu bahwa wanita yang disebutkan itu adalah satu dari Jit-mo Kang-ouw, jadi seorang tokoh yang setingkat dengan Sai-mo-ong!
Ketika Salima tertegun, tapi tampaknya tidak mengenal siapa itu Tok-gan Sin-ni, tiba-tiba pemuda bermuka putih yang tertawa ini sudah menyambar lengannya.
"Nona, mari duduk bersamaku!" Salima terkejut. Sekarang dia sadar, melihat Bu Ham-kongcu menyambar lengannya untuk ditarik ke meja makan.