Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 28

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 28

Salima, yang tentu saja marah melihat perbuatan ini, tiba-tiba mendengus dan menangkis dengan mengerahkan sinkangnya.

"Duk!" Pemuda bermuka putih itu kaget. Dia tergetar dan terdorong mundur dua langkah, merasakan betapa tenaga yang kuat menolak tenaganya sendiri. Kuat dan tangguh!

Sementara dia terbelalak dan berseru tertahan, Kim-mou-eng yang melihat sumoinya mengejek lawan segera maju ke depan untuk meredakan ketegangan.

"Bu-kongcu, maafkan sikap sumoiku ini. Kami tidak ingin mencari keributan. Terima kasih atas maksud baikmu mengundang kami."

"Hm, siapa kau?" Bu-kongcu melebarkan matanya, masih tertegun oleh tangkisan Salima yang memiliki sinkang sedemikian kuat. Hal itu menggetarkan dan membuatnya terdorong mundur. Ia terbelalak memandang Kim-mou-eng yang kini melerai di depan dan tampaknya sangat penakut. Ia tidak tahu bahwa Kim-mou-eng hanya tidak ingin ribut di tempat itu dan tidak menginginkan sumoinya membuat onar.

Ketika Kim-mou-eng tertawa menyeringai kecut sambil menjura di depan pemuda itu, si Rambut Emas berkata dengan penuh kesabaran, "Kami dua kakak beradik yang merantau tanpa tujuan, Bu-kongcu. Kami tidak ingin mengganggu, tetapi tidak senang pula diganggu. Sebaiknya kami pergi saja sebelum terjadi kesalahpahaman yang tiada guna. Maaf!"

Kim-mou-eng kembali memberi hormat di depan Bu-kongcu. Namun, tiba-tiba pemuda bermuka putih itu mengulurkan lengannya dan mencengkeram leher Kim-mou-eng.

"Aku tidak tanya siapa kalian, sobat. Tetapi aku bertanya siapa dirimu pribadi!"

Saat lengan itu terjulur ke depan dan siap menyentuh leher Kim-mou-eng, mendadak ular yang membelit di lengan Bu-kongcu bergerak mematuk leher pemuda itu. Jadi, ada dua serangan sekaligus!

"Bu-kongcu, jangan!" Kim-mou-eng terkejut. Dia pura-pura bodoh menghadapi serangan jari dan ular itu, sembari siap meniup dan mengerahkan sinkang untuk melindungi lehernya.

Namun, wanita berbaju kuning yang tadi mencegah Hekhouw tiba-tiba berkelebat menampar dan menangkis serangan Bu-kongcu.

"Plak!" Dua orang itu tergetar mundur. Bu-kongcu terhuyung dan terbelalak marah melihat tangkisan ini. Namun, ketika wanita itu berdiri tegak di depan Kim-mou-eng untuk melindunginya, Bu-kongcu tiba-tiba tertawa tergelak.

"Leng Hwat, kau membela pemuda ini?"

Leng Hwat, wanita cantik itu, tersenyum dingin. "Ya, jika kau hendak membunuhnya, orang she Bu. Tetapi jika tidak, tentu saja tidak. Kita sekarang bersama-sama; kau dapat mengundang sumoinya itu jika kau membiarkan pemuda ini menjadi tamu undangan kami!"

"Ha-ha, kau betul, Leng Hwat. Mengapa aku hampir lupa? Kita memang sama-sama mendapatkan seorang dari mereka. Kita tidak boleh berkelahi!"

Setelah Bu-kongcu terbahak gembira memandang murid Tok-gan Sin-ni itu, ia kembali menghadapi Kim-mou-eng. "Kalian mau makan bersama kami? Kami undang satu meja, kalian berdua!"

"Tidak," Kim-mou-eng sudah merasa tidak enak. "Kami terburu-buru, Kongcu. Terima kasih, biar lain kali saja."

"Hm, kau takut?"

Salima marah. Dia melihat suhengnya terlalu mengalah, terlalu sabar, dan agaknya tidak tersinggung oleh kata-kata yang menghina itu. Mereka disangka takut! Maka, sebelum suhengnya menjawab, gadis ini maju ke depan dan bicara dengan suara nyaring melengking.

"Bu-kongcu, kami tidak mengenal takut, bahkan kepada iblis sekalipun! Siapa takut menerima undangan kalian? Suhengku ini memang suka mengalah. Biar aku yang mewakili dirinya menjawab pertanyaan kalian. Kami tidak takut, kami mau!"

Bu-kongcu tertawa tergelak. Wajahnya berseri memandang gadis tinggi semampai ini, gadis yang menarik perhatiannya karena mampu membuatnya terdorong mundur dalam adu pukulan tadi. Mendengar Salima menyambut ejekannya dengan lantang, pemuda ini merasa gembira bukan main dan bertepuk tangan.

"Bagus, kau memang gagah, Nona. Kalau begitu mari, duduk bersama kami!"

Bu-kongcu mempersilakan tamunya duduk di meja besar, lalu memanggil pelayan untuk menyiapkan hidangan baru. "Hei, bawa semua masakan terbaik kalian. Juga arak hitam!"

Kim-mou-eng tertegun. Dia menyesal karena sumoinya terpancing umpan lawan. Dia sadar bahwa Bu-kongcu sengaja mengejek untuk memancing amarah. Namun, karena semua sudah terlanjur dan sumoinya menarik lengannya untuk duduk, pendekar ini hanya menegur dengan berbisik perlahan, "Sumoi, kau terlalu ceroboh. Kita belum mengenal siapa sebenarnya Bu-kongcu ini."

Belum sempat Salima menjawab, Leng Hwat, murid Tok-gan Sin-ni, berseru, "Bu-kongcu adalah murid Sai-mo-ong Locianpwe, seorang kongcu yang tampan. Tidak perlu khawatir karena Bu-kongcu adalah orang baik-baik!"

Kim-mou-eng tertegun karena bisikannya ternyata terdengar. Leng Hwat kemudian menarik kursinya dan merapat di sebelah kiri Kim-mou-eng, lalu bertanya dengan genit, "Kongcu, siapakah dirimu? Siapa namamu dan bagaimana kami harus memanggilmu?"

Kim-mou-eng terkejut. Dia mencium aroma rambut yang harum dan melihat sumoinya mulai terbelalak. Sebelum wanita itu mengganggunya lebih jauh atau Salima membuat onar, Kim-mou-eng bangkit berdiri dan memindahkan kursinya.

"Nona, maaf, jangan terlalu dekat. Aku alergi terhadap bau wangi-wangian!"

Pendekar Rambut Emas itu segera duduk di sebelah kanan sumoinya, sehingga kini Leng Hwat bersebelahan dengan Salima. Saat murid Tok-gan Sin-ni itu terkejut, Kim-mou-eng memperkenalkan diri dengan nama palsu.

"Aku orang she Kim, namaku Yo. Sedangkan sumoiku ini adalah Sha Liem Ma."

Leng Hwat terbelalak penasaran karena Kim-mou-eng jelas-jelas menolaknya. Namun, Bu-kongcu yang tertawa melihat kekecewaan itu berkata, "Leng Hwat, makanan belum sempat kita santap. Jangan sampai berantakan sebelum disentuh!"

Kim-mou-eng menangkap rahasia di balik kata-kata itu, yang meminta agar Leng Hwat tidak mengganggu tamu sebelum mereka puas menikmati hidangan.

Saat enam orang pelayan membawa hidangan dengan tergopoh-gopoh, Leng Hwat tertawa dan mengedipkan matanya. "Benar, tamu kita belum menikmati undangannya, Bu-kongcu. Sebaiknya kita jamu dulu sebelum bercakap-cakap lebih lanjut!"

Tanpa menanti pelayan mendekat, Leng Hwat mendemonstrasikan kepandaiannya. Dia menggerakkan lengan dan tiba-tiba mengambil semua piring serta mangkuk dari kejauhan. Isi dari enam nampan itu beterbangan di udara dan mendarat dengan rapi di atas meja.

"Ha-ha, kalian membuat Leng Hwat-kouwnio tidak sabar, pelayan-pelayan tolol. Ayo pergi!" Bu-kongcu terbahak, lalu menggoyang-goyangkan kakinya. Tiba-tiba angin menyambar dan enam pelayan itu mencelat beterbangan hingga jatuh bergulingan di tangga.

Enam pelayan itu tunggang-langgang menjauhi pemuda bermuka putih tersebut. Kim-mou-eng dan sumoinya mengerti bahwa orang-orang ini sengaja pamer kekuatan.

"Bu-kongcu, sebaiknya tidak perlu mengganggu orang-orang tidak bersalah itu. Tidak ada gunanya kau mempertunjukkan kepandaianmu di depan kami!" ujar Salima dengan nada mengejek.

Wajah Bu-kongcu memerah. Tiba-tiba Salima meniup ke arah meja, membuat sebotol arak hitam meloncat ke udara. Botol itu terbalik dan melayang menuju Salima. Gadis Tartar ini membuka mulutnya, menerima kucuran arak tanpa menyentuh botolnya yang tertahan di udara oleh tenaga sinkang.

Setelah meneguknya, Salima mengibaskan lengannya. Botol itu melayang kembali dan mendarat di atas meja dengan sangat ringan tanpa suara.

"Maaf, aku mendahului kalian, Bu-kongcu. Aku haus dan tidak tahan ingin mengecap arak hitam ini. Sungguh lezat!"

Bu-kongcu dan teman-temannya tertegun. Mereka baru saja menyaksikan demonstrasi tenaga dalam yang luar biasa dan menakjubkan, bahkan lebih berbahaya daripada yang mereka lakukan sebelumnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment