Chapter 29
Bu-kongcu, yang kagum dan terkejut oleh balasan Salima yang hebat, akhirnya mendengar seruan Kim-mou-eng yang terburu-buru meminta maaf atas perbuatan sumoinya. Ia kaget sumoinya membuat onar.
"Aih, maafkan sumoiku, Bu-kongcu. Kepandaiannya tadi jangan dianggap kelancangan. Sumoiku memang usil dan suka berbuat kekanak-kanakan!"
Salima marah. Ia melotot mendengar suhengnya mengatakan dia bersikap kekanak-kanakan, tetapi Bu-kongcu yang sadar dan telah menguasai diri kembali tertawa gembira.
"Ah, sumuimu tak kekanak-kanakan, orang she Kim. Justeru kepandaiannya tadi membuka mata kami lebar-lebar bahwa dia memang hebat. Dia memiliki sinkang luar biasa!"
Sambil tertawa bergelak penuh kegembiraan, Bu-kongcu menyumpit sepotong daging dan berseru pada Salima agar mereka mulai menikmati hidangan. Seolah tak sengaja, ia mendentingkan mangkuk hingga daging di ujung sumpitnya melesat, menyambar Salima yang tentu saja tidak sudi menerima sambaran daging itu dengan cara seperti itu.
Maka, mendengus dan melirik, Leng Hwat tampak iri memandangnya. Mendadak Salima meneruskan "loncatan" daging itu dengan tiupan mulutnya, kini menyambar murid Tok-gan Sin-ni itu seolah tanpa sengaja. Dan Leng Hwat, yang tentu saja menjerit memandang marah, tiba-tiba mengebutkan ujung lengan bajunya, memantalkan daging itu yang kini menyambar kembali ke arah Bu-kongcu.
"Hap!" Bu-kongcu membuka mulutnya, menerima daging itu, terbahak gembira. Ketika mangkuk kembali dipukul dan Bu-kongcu menyambar daging-daging lain, akhirnya murid Sai-mo-ong ini mempersilakan tamunya yang telah cukup dilihat kepandaiannya, mendahului menyantap hidangan.
"Ha-ha, ayo orang she Kim, kita nikmati hidangan dan arak hitam... ting-ting!" Bu-kongcu yang sudah mendentingkan mangkuk membagi-bagi makanan akhirnya melahap daging dan segala isinya yang ada di situ, mendorong dengan tegukan arak hitam yang sebentar kemudian lenyap isinya.
Ketika arak habis dan Bu-kongcu memanggil pelayan untuk menambah lagi, semua orang yang ada di situ akhirnya mengikuti jejaknya menyapu hidangan ini. Namun, Kim-mou-eng dan Salima bersikap hati-hati. Kim-mou-eng memberi tanda agar sumoinya itu berhati-hati, menjaga siapa tahu makanan dan minuman itu mengandung racun. Tetapi setelah mencicipi dan melihat tak ada yang mencurigakan, akhirnya pendekar muda ini mengajak sumoinya menemani kegembiraan tuan rumah, tetap waspada namun lega bahwa Bu-kongcu dan kawan-kawannya itu rupanya tidak mengganggu mereka lagi.
Tetapi ketika perjamuan hampir berakhir dan Bu-kongcu melihat Kim-mou-eng tidak begitu banyak menyentuh arak, mendadak pemuda berwajah pucat ini menyodorkan cawan penuh arak hitam, tertawa bergelak.
"Orang she Kim, kenapa kau tak menyentuh arakmu? Hayo minum, ini arak persahabatan khusus dariku!"
Kim-mou-eng terkejut. Dia memang tidak begitu suka arak, sengaja menghindari minuman keras yang menyengat baunya itu. Maka, melihat tuan rumah memberinya arak sementara hidangan-hidangan lain hampir habis, mendadak pendekar ini tersenyum menggoyang lengan.
"Bu-kongcu, aku khawatir aku mabuk. Biarlah kuteguk saja teh harum ini. Terima kasih!"
Tetapi Bu-kongcu telah menyodorkan arak itu. Dia menghalangi Kim-mou-eng menyentuh minumannya, teh harum dari Po-yang, tiba-tiba menjulurkan lengan menuangkan arak ke muka lawan, hal yang tentu saja membuat Kim-mou-eng tersentak. Maklum, arak itu telah mengucur di depan hidungnya sementara Bu-kongcu tertawa bergelak memaksa pendekar itu menerima pemberiannya.
Dan ketika Kim-mou-eng terkejut dan membelalakkan matanya, tahu-tahu ular yang melilit di lengan kanan Bu-kongcu juga menyambar di balik tumpahan arak!
"Plak!" Kim-mou-eng cepat menangkis, berseru perlahan dan mengerahkan sinkangnya menampar hingga ular itu langsung pecah kepalanya, mengejutkan Bu-kongcu.
Dan ketika arak terpental dan hampir membasahi meja, mendadak Kim-mou-eng telah meniup arak itu yang tiba-tiba membeku dan balik menyambar Bu-kongcu yang kontan membentak mendorong kursinya mundur.
"Bress!" Bu-kongcu pucat mukanya. Dia melihat keempat kaki kursinya patah, seketika menjadi pendek dan dia langsung melesat seperti orang cebol, kaget bukan main.
Dan ketika Bu-kongcu berseru keras melompat bangun, pada saat itulah Kim-mou-eng buru-buru bangkit berdiri menjura padanya.
"Aih, maaf... maaf, Bu-kongcu. Aku tak sengaja melakukan itu semua! Aku ketakutan, ularmu ganas...!"
Dan Kim-mou-eng yang buru-buru membersihkan baju Bu-kongcu ini akhirnya dipandang terbelalak oleh pemuda berwajah pucat itu. Kaget karena tubuhnya menggigil kedinginan, seakan dicelup dalam bongkahan salju!
Dan Bu-kongcu yang tentu saja tertegun oleh adu tenaga ini tiba-tiba bengong karena dia melihat betapa "orang she Kim" ini memiliki sinkang yang lebih kuat dibanding Salima. Seusap atau setingkat lebih unggul! Bu-kongcu mendelong. Dia masih terbelalak memandang pendekar itu, tetapi ketika Leng Hwat tertawa dan bangkit dari kursinya, mendadak murid Tok-gan Sin-ni ini berseru, "Bu-kongcu, kau jangan main-main terhadap tamu kita yang satu ini. Agaknya Kim Yo tak kalah mengejutkan dibanding sumoinya!"
Bu-kongcu sadar, membuang bangkai ularnya dan melihat Kim-mou-eng sudah mundur kembali mendekati sumoinya. Dan ketika Leng Hwat berseri memandang kagum Pendekar Rambut Emas itu, akhirnya Kim-mou-eng sudah menyendal lengan Salima, diajak pergi, tersipu dan rupanya "ketakutan" memandang mereka.
"Bukongcu, maafkan kami berdua. Hidangan telah habis, kami telah merasakan budi kebaikan kalian. Sekarang perkenankan kami pergi!"
Bu-kongcu tertawa aneh. "Tentu, tapi aku pribadi masih belum puas oleh pertemuan ini, orang she Kim. Bagaimana kalau sekali lagi aku mengundang kalian ke rumahku? Sumoimu tampaknya lelah, sebaiknya biar dia beristirahat di tempat tinggalku!"
Kim-mou-eng menolak. "Tidak, terima kasih, kongcu. Aku khawatir kehadiran kami hanya merusakkan barang-barang kalian saja!" Pendekar itu melirik bangkai ular yang dibuang Bu-kongcu, rupanya ingin cepat-cepat pergi dan menekan erat-erat pergelangan tangan sumoinya karena Salima rupanya ingin berontak, tidak suka suhengnya bersikap merendah seperti itu, seolah orang yang benar-benar takut!
Dan Leng Hwat yang bangkit disusul lima temannya yang lain tiba-tiba menyambung ucapan Bu-kongcu. "Orang she Kim, sebaiknya apa yang diminta Bukongcu jangan kau tolak. Dia bersikap baik padamu, kenapa takut? Kalau kau tak suka undangannya, biarlah ganti aku yang mengundangmu. Sumoimu boleh ikut dia, sementara kau ikut aku! Bagaimana, Bu-kongcu?" Leng Hwat tertawa, menoleh pada Bu-kongcu yang segera tersenyum menyambutnya, menyeringai lebar, ikut tertawa dan tak malu-malu lagi memandang Salima dengan mata bersinar-sinar. Pandangan yang kotor dan buruk!
Dan Kim-mou-eng yang menggeleng mengerutkan kening tiba-tiba mencengkeram sumoinya yang hampir tak dapat mengendalikan kemarahannya, tersenyum pahit. "Tidak, terima kasih, kouwnio. Kami suheng dan sumoi masih mempunyai banyak urusan. Biarlah lain kali saja!" Dan Kim-mou-eng yang menjura memutar tubuh tiba-tiba mengajak sumoinya pergi.
"Wutt!" Leng Hwat tiba-tiba berkelebat ke depan, menghadang dan terkekeh di depan Pendekar Rambut Emas ini. Rupanya penasaran, disusul lima bayangan temannya yang mengikuti wanita berbaju kuning itu yang rupanya memimpin mereka. Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan Salima berketruk menautkan gigi, maka murid Tok-gan Sin-ni ini menggerak-gerakkan rambutnya ke kiri kanan, melempar-lemparkannya bagai kuda melecut bulu.
"Kim Yo, kami baik-baik ingin bersahabat denganmu lebih intim. Kalau kau tak suka pada Bukongcu, biarlah kau dan sumoimu itu memenuhi undangan kami untuk bercakap-cakap bersama. Turutilah, kami tak biasa ditolak!"
Kim-mou-eng tertegun. Dia melihat lawan rupanya tak akan melepaskan mereka, melihat murid Tok-gan Sin-ni itu tersenyum-senyum padanya sementara dia dan sumoinya sudah dikurung. Dan sementara dia bingung dan marah oleh perbuatan wanita berbaju kuning ini, mendadak Bu-kongcu juga berkelebat menggoyang-goyang kipasnya.
"Kim Yo, aku juga tak biasa ditolak. Sebaiknya kau ikuti dulu permintaanku seperti tadi. Atau, tinggalkan sumoimu ini dan kau pergilah!"
Leng Hwat terkekeh. "Tidak, sebaiknya gadis itu saja yang pergi, Bu-kongcu. Aku ingin membawa orang she Kim ini bersenang-senang!"
"Tapi dia tak mau padamu, Leng Hwat. Sebaiknya..."
"Ah, tidak. Justeru gadis itu yang tak suka padamu, Bu-kongcu. Kau saja yang mengalah dan biarkan orang she Kim ini menjadi kenalanku!" Leng Hwat memotong, terkekeh dan berkedip memandang Kim-mou-eng yang semakin dalam mengerutkan alis.
Dan Salima yang tak tahan lagi mendengar omongan orang-orang itu yang membuatnya naik darah tiba-tiba melengking dan langsung membetot lepas tangannya menyerang Leng Hwat, marah dan cemburu karena murid Tok-gan Sin-ni itu "menaksir" suhengnya!
"Siluman she Leng, kau minta kuhajar mampus... wut!"
Leng Hwat terkejut. Dia melihat berkelebatnya Salima menampar kepalanya, terbelalak tapi terkekeh meloncat mundur, mengangkat tangannya menangkis gerakan Salima yang mengejar dengan satu kepretan jari, kaget juga melihat gadis Tar-tar itu bergerak seperti terbang memburunya. Dan begitu dua lengan beradu dan Leng Hwat baru kali itu beradu tenaga, mendadak wanita ini menjerit ketika dia terpelanting roboh.
"Bress!" Salima melengking. Dia telah mengeluarkan Tiat-luikangnya itu, pukulan Telapak Petir, menyengat dan membuat lawan terkejut karena lengannya panas bagai mengandung bara api. Dan ketika Leng Hwat bergulingan, tapi Salima mengejar dengan ginkangnya yang berkelebat bagai setan kelaparan, mendadak dua pukulan kembali mengenai murid Tok-gan Sin-ni ini.
"Plak-dess!" Leng Hwat kaget bukan kepalang. Dia memekik dan kembali mencelat bergulingan, baju di pundaknya hangus terbakar.