Chapter 30
Dan ketika ia melompat bangun dan Salima memburu dengan satu pukulan lagi, mendadak lima bayangan membentak menghadang Salima, memperlihatkan lima tusukan pedang yang berkilatan menyerang punggung gadis itu.
"Salima, lepaskan suci kami..."
"Sing-sing!" Salima terkejut.
Dia membalik, tak jadi menyerang Leng Hwat, menyambut dan mengepret lima tusukan pedang itu begitu saja, dengan jari-jari terbuka, telanjang, tetapi tentu saja mengandung sinkang yang membuat jari-jari itu keras melebihi baja!
Dan ketika pedang bertemu kepretan jari dan semuanya terpental, Salima membentak meliukkan pinggang. Tahu-tahu, lima murid Tok-gan Sin-ni yang lain itu telah menerima tamparan berturut-turut hingga mereka roboh terjungkal!
"Plak-plak-plak...!" Leng Hwat dan lima adik-adik seperguruannya itu terkejut.
Baju mereka juga hangus terbakar seperti yang dialami Leng Hwat. Mereka mengeluh dan berteriak bergulingan menjauhkan diri.
Dan ketika mereka melompat bangun dan Salima berdiri tegak di tempat itu, semua orang terbelalak dan tertegun.
"Hebat...!" Bu-kongcu memuji tanpa sengaja.
"Kau hebat, Nona. Sinkangmu luar biasa dan mengagumkan sekali!" Salima tak peduli.
Saat itu, dia memandang Leng Hwat dan adik-adiknya yang sudah mengurung kembali, agak jauh. Dia melihat Leng Hwat mencabut pedang seperti adik-adiknya yang lain itu, marah tetapi juga kaget memandangnya. Tak mengira, dalam gebrakan beberapa jurus itu saja, mereka dibuat tunggang langgang. Padahal mereka adalah murid-murid Tok-gan Sin-ni!
Dan Leng Hwat, yang tentu saja marah mendengar pujian Bu-kongcu, tiba-tiba menggerak-gerakkan rambutnya yang mendadak kaku seperti kawat!
"Ji-wi sumoi, kerahkan Sinmauw-kang...!" Lima adik seperguruan Leng Hwat itu mengangguk. Mereka tiba-tiba menggerak-gerakkan rambut seperti suci mereka itu, rambut yang tiba-tiba kaku seperti kawat, mencicit dan berketrikan ketika saling beradu. Persis kawat baja!
Dan Leng Hwat, yang maju dengan rambut bergerak-gerak dan pedang menggigil di tangan kanan, tiba-tiba membentak, "Siluman betina, kami akan membunuhmu...!" Namun, Kim-mou-eng sudah melompat maju.
Pendekar ini khawatir melihat sepak terjang sumoinya. Dia melihat mata Salima bergerak hidup bagai seekor harimau haus darah. Liar dan mulai menyala penuh nafsu membunuh, hal yang sudah dikenal benar oleh pendekar ini.
Dan Kim-mou-eng, yang tak menghendaki keributan dan takut sumoinya melakukan pembunuhan karena dia tahu benar akan kepandaian sumoinya itu, lalu berseru menangkap pergelangan tangan sumoinya. "Leng-kouwnio, jangan menyerang sumoiku. Tahan, biarlah kami pergi baik-baik...!" Namun Leng Hwat mendengus.
"Pergi bagaimana, orang marga Kim? Sumoimu tak boleh pergi kalau dia tak mau berlutut di depanku!" "Ah, tetapi kami tak bermaksud memusuhimu, kauwnio. Kenapa menarik leher? Biarkan kami berlalu, aku khawatir akan terjadi pertumpahan darah di sini!" "Sombong!" Leng Hwat marah. "Kau kira sumoimu dapat mengalahkan kami? Jangan takabur, orang marga Kim. Kau tak perlu khawatir kalau kami yang roboh. Justru khawatir dan cemaskanlah nasib sumoimu itu yang akan kami bunuh!" Kim-mou-eng bingung.
Dia gagal melerai pertikaian ini. Maklum, murid Tok-gan Sin-ni itu tak bakal melepas sumoinya sebelum pertandingan menentukan salah satu pihak; siapa yang unggul dan siapa yang asor.
Dan Salima, yang gemas dan lagi-lagi mendongkol pada kelunakan sikap suhengnya itu, tiba-tiba melepaskan diri membetot tangannya. "Suheng, kau tak perlu menunjukkan kelemahan hatimu. Tikus-tikus betina ini tak akan sudah sebelum mereka roboh. Biarkan saja, aku juga ingin mendupak mereka ke dasar neraka!" Kim-mou-eng semakin bingung.
Dia melihat apa yang dikatakan sumoinya itu memang ada benarnya, bahwa orang-orang ini tak akan sudah sebelum mendapat perlakuan keras. Dan melihat Leng Hwat dan adik-adiknya itu semakin mendekat dan siap menyerang, akhirnya pendekar ini menghela napas berseru lirih, "Baiklah, tetapi jangan menumpahkan darah di sini, sumoi. Aku tak suka tanganmu melakukan pembunuhan. Mereka itu orang-orang yang tak tahu diri!" Salima tersenyum, sementara Leng Hwat mendelik.
"Kau dengar?" Salima berkata pada wanita baju kuning itu. "Suhengku melarang aku membunuh kalian, tikus betina. Karena itu berterima kasih dan bersyukurlah pada suhengku yang baik hati itu. Kalau tidak, tentu kalian tak akan kuampuni lagi!" Leng Hwat melengking.
Dia merasa direndahkan oleh kata-kata itu, marah bukan main. Maka, begitu membentak dan menerjang maju, mendadak dia sudah menyuruh adik-adiknya membantu, maklum akan kehebatan Salima, dan menyerang lawannya itu dengan pedang bergerak naik turun, membacok dan menikam dengan gerakan hebat bukan main.
Dan ketika rambutnya juga melecut-lecut dan menyambar-nyambar melakukan totokan di sekujur tubuh lawan, Salima telah mendapat hujan serangan gencar yang ganas bukan alang kepalang, bertubi-tubi tiada henti bagai hujan dicurahkan dari langit. Tak satu pun memberi jalan ke luar. Dan ketika lima wanita yang lain juga melakukan gerakan yang sama seperti yang dilakukan Leng Hwat itu, karena mereka juga murid-murid Tok-gan Sin-ni yang tangguh, mendadak Salima tergulung dan hilang di balik bayangan enam lawannya yang menyerang dari segala penjuru.
"Wut-plak-singg...!" Orang tak tahu apa yang terjadi. Mereka hanya mendengar keluhan kaget di dalam sana, disusul jeritan tertahan ketika Salima menangkis. Terang, bukan suara Salima karena gadis itu justru tertawa mengejek di balik bayangan enam orang lawannya. Dan ketika jeritan-jeritan itu semakin terdengar nyata dan satu lengkingan tinggi meluncur dari tengah-tengah pertempuran, mendadak enam bayangan Leng Hwat dan adik-adiknya itu pecah, mencelat ke kiri kanan dan berhamburan bagai tepung mawut, berantakan dan menunjukkan bayangan Salima yang kini tampak jelas, memutar tubuh bagai gasingan sementara kedua tangan bergerak ke seluruh penjuru mendorong dan menangkis, menampar dengan pukulan Tiat-lui-kangnya itu.
Dan ketika gerakan Salima berhenti dan Leng Hwat serta adik-adiknya terhuyung mundur, tampaklah rambut mereka yang rontok berhamburan sementara enam batang pedang melengkung bengkok bagai pedang yang terbuat dari plastik saja!
"Hi-hik, bagaimana, orang marga Leng? Kau tak takut mati?" Leng Hwat dan adik-adiknya pucat. Mereka tadi sudah menyerang dalam arti sekuatnya, menggerakkan pedang dan rambut secepat hujan mencurah. Tetapi ketika rambut terpental dan pedang juga tertolak bertemu tubuh Salima yang kebal dan kenyal seperti gelembung karet, tentu saja mereka terkejut dan membelalakkan mata. Apalagi ketika Salima tiba-tiba membalas, melepas pukulan petirnya itu yang panas tak tertahankan, membuat mereka mengeluh tetapi nekat menyerang. Tetapi ketika rambut mereka justru rontok dan pedang yang menusuk tiba-tiba melengkung bengkok, tentu saja Leng Hwat dan adik-adiknya kaget. Sadar bahwa mereka kiranya bukan tandingan gadis Tartar itu. Agaknya hanya guru mereka sajalah yang dapat menandinginya!
Dan Leng Hwat, yang tentu saja tertegun dan mendelong di tempat, akhirnya merah mukanya ketika Salima mengejek kembali. "Bagaimana, kalian ingin mengulangi lagi, orang marga Leng?" Leng Hwat merah padam. Dia gentar dan seketika tahu diri, maklum bahwa dia bukan tandingan lawannya ini.
Dan Bu-kongcu, yang juga tersentak oleh hasil akhir gebrakan itu, mendadak bengong melihat kelihaian Salima yang luar biasa ini. Tak menduga, sedemikian hebat gadis bertopi bulu burung rajawali itu. Agaknya dia juga bukan lawannya. Kalah kelas!
Dan Bu-kongcu yang pucat serta gemetar di tengah ruangan mendadak melihat seorang laki-laki masuk. "Kongcu, Sai-lo-ongya memanggil kalian semua...!" Semua orang menoleh. Bu-kongcu melihat bahwa laki-laki itu adalah pelayan gurunya, Hek Sai, datang dengan muka takut-takut dan jeri memandang Kim-mou-eng dan Salima itu, melihat bekas-bekas pertempuran dan pedang Leng Hwat yang bengkok semua.
Dan Bu-kongcu, yang sudah datang menyambut dan menerima sepucuk surat dari laki-laki itu, akhirnya tertegun ketika selesai membaca, kaget memandang Kim-mou-eng berdua. "Ah, kiranya kau adalah Pendekar Rambut Emas, sobat? Dan ini adalah sumoimu Tiat-ciang Sian-li Salima?" Kim-mou-eng tertegun. Dia melihat surat yang dibaca Bu-kongcu itu, surat dari Sai-mo-ong. Rupanya Raja Iblis Singa itu memberi tahu pada muridnya siapa dirinya dan Salima. Jadi tak berguna lagi menyembunyikan diri.
Dan Leng Hwat serta adik-adiknya, yang tentu saja terperanjat mendengar kata-kata Bu-kongcu, akhirnya bengong membelalakkan mata. Dan Kim-mou-eng maju selangkah, tertawa getir. "Maaf, orang menjulukiku begitu, Bu-kongcu. Rupanya gurumu telah memberi tahu siapa kami!" Bu-kongcu tampak kaget. "Kalau begitu, suhu mengundangmu, Kim-mou-eng. Dia..." "Tidak," Kim-mou-eng mengibaskan lengan, buru-buru menolak. "Kami tak ada waktu lagi, Bu-kongcu. Biar lain kali saja. Kami harus segera pergi!" Dan Kim-mou-eng yang mengedip pada sumoinya mendadak menyambar dan menarik Salima meninggalkan tempat itu, berkelebat turun melalui tangga loteng. Tak berani lagi dicegah Bu-kongcu maupun Leng Hwat yang gentar dan jeri setelah menyaksikan kelihaian Salima, apalagi Kim-mou-eng sendiri. Dan begitu Kim-mou-eng berkelebat, tahu-tahu pendekar ini telah lenyap bersama sumoinya di luar restoran.
"Ah," Bu-kongcu tampak bingung. "Bagaimana ini?" Tetapi Hek Sai yang berbisik-bisik di dekat telinganya akhirnya membuat pemuda muka putih ini mengangguk, mengerutkan kening, dan memberi tanda pada Leng Hwat untuk keluar dari restoran. Dan begitu semuanya berangkat dan Leng Hwat serta adik-adiknya masih bengong oleh kejadian tadi, rumah makan itu pun sepi kembali seperti semula.
"Suheng, kenapa menolak? Bukankah kita sengaja mencari Sai-mo-ong itu?" Salima bertanya ketika mereka keluar dari kota Ceng-tu, heran dan tak mengerti kenapa suhengnya justru menjauhi Sai-mo-ong.