Chapter 31
Padahal mereka memang mencari datuk iblis itu.
Dan Kim-mou-eng yang berhenti di luar hutan akhirnya menarik sumoinya ini untuk duduk beristirahat.
"Sumoi, aku tahu apa yang kau herankan. Tapi sebelum menjawab itu, sebaiknya kau duduk dulu. Ini semua gara-garamu."
"Gara-garaku?" Salima cemberut. "Gara-gara apa, Suheng? Bukankah mereka yang mulai dulu dan membuat ribut? Kalau tidak kau cegah, tentu mereka sudah kubunuh semua. Mereka itulah yang menjadi gara-gara, bukan aku!"
"Baik," Kim-mou-eng tersenyum sabar. "Mereka juga bersalah, Sumoi. Tapi kalau seandainya kita pergi saja meninggalkan mereka, tentu Sai-mo-ong tak akan mengetahui kedatangan kita."
"Tapi mereka mencegat, Suheng. Mereka sengaja menghadang kita agar tidak melarikan diri!"
"Ah, tak perlu menangkis. Kalau kau tak gatal tangan, tentu mereka tak perlu dilayani, Sumoi. Kau dibakar kemarahanmu dan sengaja menyambut. Aku tahu itu, tak perlu menyangkal." Dan ketika sumoinya tertegun membelalakkan matanya, Kim-mou-eng sudah berkata lagi, "Sumoi, kau tahu bahwa mereka sebenarnya bukanlah tandingan kita. Dengan kepandaian kita yang lebih tinggi, kita dapat meninggalkan mereka, melompati mereka, dan lenyap mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) kita kalau kita mau. Tapi kau tidak, kau sengaja ingin menghajar mereka karena kau marah pada murid Tok-gan Sin-ni itu. Bukankah begitu?"
Dan ketika sumoinya tidak menjawab dan Salima kembali tertegun, maka Kim-mou-eng mendesah membuang napas panjang. "Sekarang lawan telah mengenal kita, Sumoi. Dan ini membuat rencanaku harus diubah."
Salima bangkit berdiri, penasaran. "Suheng, apa maksud kata-katamu ini? Kau takut?"
Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Kau tahu aku tak takut pada siapa pun, Sumoi. Kenapa harus berpikir seperti itu?"
"Kalau begitu kenapa kau banyak mengalah pada Bu-kongcu itu? Kau terlalu, pemuda muka putih itu bisa merendahkanmu tanpa sebelah mata!"
Kim-mou-eng tertawa. "Biarlah, aku sengaja melakukan itu karena sekadar menghindari ribut-ribut, Sumoi. Tapi akhirnya pun pemuda itu terbuka matanya. Aku tak suka menonjolkan diri. Aku enggan memperkenalkan nama!"
"Benar, tapi orang biasanya hormat setelah mengenal nama, Suheng. Dan aku tak ingin suhengku dihina orang!"
"Siapa terhina? Aku tak merasa dihina!" Kim-mou-eng tertawa. "Bu-kongcu itu kuanggap seorang bocah yang tinggi hati, Sumoi. Aku menganggapnya tak lebih sebagai manusia yang masih belum dewasa. Aku tak merasa terhina!"
"Tapi aku terhina, Suheng. Aku tak mau orang memperlakukan dirimu seenak hatinya!"
"Kau?"
"Ya."
"Kenapa?"
Salima melotot. "Eh, kau ini waras atau tidak, Suheng? Bukankah kita adalah suheng dan sumoi? Kalau aku melihat suhengku dihina, tentu saja aku marah. Aku tak rela!"
"Ya, kenapa...?"
"Karena aku..." Salima berhenti, terbelalak memandang suhengnya itu. "Karena aku, eh... kenapa pertanyaanmu demikian aneh, Suheng? Bukankah semestinya kalau aku marah melihat kau dihina orang? Itu wajar, karena kita... hm, kita suheng dan sumoi!"
Dan Salima yang gusar melihat suhengnya tertawa tiba-tiba membanting pantat dan mencubit lengan suhengnya itu kuat-kuat hingga suhengnya mengaduh. Dan ketika Salima melepaskan cubitannya dan Kim-mou-eng mengusap sambil mendesis sakit, maka Salima berapi-api memandang suhengnya itu, marah.
"Suheng, kenapa kau menertawakan aku? Kau justru mau menghina aku?"
"Ah-ah, jangan salah paham!" Kim-mou-eng menyeringai pahit, masih kesakitan oleh bekas cubitan sumoinya. "Aku tidak menghinamu, Sumoi. Justru aku ingin tahu kenapa kau merasa terhina kalau orang menghinaku padahal aku tidak merasa terhina oleh perbuatan orang itu. Bukankah pertanyaanku juga wajar? Masa karena hubungan sumoi dan suheng itu saja? Hanya itu?"
"Jadi maumu?"
"Yah, aku ingin mengorek lebih dalam lagi, Sumoi. Aku ingin tahu kenapa kau sampai begitu."
"Begitu apanya?"
"Begitu, yah... begitu itu tadi!" Dan Kim-mou-eng yang tak jadi tertawa karena melihat sumoinya siap mencubit tiba-tiba menahan mulut hingga mengatup seperti monyet kebanyakan dijejali pisang. Hal itu tampak lucu dan mau tak mau membuat Salima tertawa geli melihat suhengnya monyong seperti itu.
Dan ketika Salima terkekeh dan kembali akrab, akhirnya Kim-mou-eng terbahak dalam tawanya yang lepas. "Sumoi, kau lucu!"
Tapi Salima menggeleng. "Tidak, kau yang lucu, Suheng. Kau monyong seperti monyet, hi-hik!"
Dan keduanya yang tertawa-tawa dan kembali akur akhirnya terbawa pada suasana gembira, melupakan sejenak ketegangan di Ceng-tu tadi. Tapi ketika Kim-mou-eng menghentikan tawanya dan Salima juga berseri memandang suhengnya itu, maka Kim-mou-eng menangkap pergelangan tangan sumoinya ini, kagum melihat deretan gigi yang rapi pada wajah yang manis itu.
"Sumoi, kau cantik sekali!"
"Ih, rayuan gombal?"
"Tidak, aku bicara jujur, Sumoi. Kau manis dan gagah. Tak heran kalau Bu-kongcu itu tergila-gila padamu!"
"Hm, siapa mau dengan si muka pucat itu? Aku muak padanya, Suheng. Aku benci pada matanya yang nyalang seperti anjing!"
"Itu salahmu," Kim-mou-eng tersenyum. "Kau memang menarik, Sumoi. Kau akan membuat setiap mata lelaki kagum dan tertarik padamu!"
"Ih, siapa peduli?" Salima tersipu. "Dan kenapa tiba-tiba bicara seperti ini? Aku tak suka, Suheng. Aku tak senang membicarakan laki-laki!"
"Eh, tapi aku juga lelaki. Gurba-suheng juga lelaki!"
"Itu lain!" Salima tersentak. "Maksudku aku tak suka membicarakan laki-laki lain selain kalian, Suheng. Atau, ah... sudahlah!" Salima gugup, merah mukanya. "Sebaiknya kita bicarakan yang lain dan jangan yang itu!"
Kim-mou-eng meremas jari-jari sumoinya, merasa tangan sumoinya menggigil, memaklumi apa yang dirasakan sumoinya itu. Maka sambil tersenyum menghela napas, akhirnya dia kembali membawa sumoinya pada persoalan semula.
"Sumoi, kau bertanya kenapa aku meninggalkan Ceng-tu, bukan?"
"Ya," Salima mengangguk, teringat pula pada persoalan semula. "Kenapa kau lakukan itu, Suheng? Bukankah Sai-mo-ong yang kita cari?"
"Benar, tapi sekarang kedudukan berubah, Sumoi. Artinya apa yang kurencanakan semula harus digeser pula karena kita harus berhati-hati."
"Hm, kita selamanya tidak takut menghadapi musuh. Kita sudah cukup berhati-hati. Lalu berhati-hati apa lagi?"
Kim-mou-eng menarik napas. "Begini, Sumoi. Kau tahu kedudukan kita sekarang agak tidak menguntungkan. Artinya, Sai-mo-ong telah mengenal kita sedangkan kita belum mengenal dirinya."
"Peduli amat!" Salima memotong. "Aku tak takut menghadapi datuk sesat itu, Suheng. Dan kita tak perlu kecil hati apakah lawan mengetahui kita atau tidak!"
"Bukan masalah kecil hati," Kim-mou-eng menjawab. "Aku tidak membicarakan takut atau tidak takut, Sumoi. Tapi membicarakan langkah kita yang harus berhati-hati menghadapi lawan yang belum dikenal. Sai-mo-ong telah mengetahui kedatangan kita, mungkin orang-orangnya memberi tahu padanya. Dan Bu-kongcu juga telah melihat kepandaian kita, ini berarti lawan telah mempunyai gambaran tentang diri kita. Sedangkan kita, gambaran apa yang kita peroleh tentang mereka? Karena itu aku memutuskan menemui Sai-mo-ong secara diam-diam, Sumoi. Kita mencari dan memasuki Dusun Yu-chung itu harus secara sembunyi-sembunyi!"
Salima mengerutkan keningnya. "Kenapa begitu?"
"Sekadar hati-hati, Sumoi. Agar musuh tidak menjebak kita!"
"Ah, siapa bisa menjebak kita? Kepandaian kita sudah lebih dari cukup, Suheng. Kehati-hatianmu ini terlalu berlebihan dan agaknya mengecilkan keberanian!"
"Tidak," Kim-mou-eng tetap sabar. "Jangan terlalu mengagulkan kepandaian, Sumoi. Ingat saja kecerobohanku dulu di kota raja."
"Maksudmu?"
"Bukankah aku tertangkap? Kepandaian seseorang bisa saja kuhadapi, tapi kebusukan tipu muslihatnya, kecurangannya, mana mungkin dihadapi dengan kekuatan otot belaka? Tidak, Sai-mo-ong telah kita kenal sebagai datuk kaum sesat, Sumoi. Karena itu yang kujaga adalah tipu muslihatnya itu, setelah dia mengenal kita!"
"Hm, begitukah?" Salima tertegun. "Jadi bagaimana, Suheng?"
"Kita tak perlu menemui lawan secara terang-terangan, Sumoi. Kita hadapi Sai-mo-ong itu secara diam-diam."
"Dan bagaimana rencanamu kini?"
"Kita kembali ke Ceng-tu malam nanti. Kita cari dan kita tangkap Bu-kongcu itu!"
"Hm," Salima girang. "Kau hendak memaksa pemuda itu menunjukkan tempat gurunya, Suheng?"
"Benar."
"Kalau begitu kenapa tidak tadi saja?"
"Ah, banyak orang lain di situ, Sumoi. Kalau kita bawa pemuda itu dan yang lain melapor, maka Sai-mo-ong tentu sudah bersiap-siap. Lain halnya dengan nanti malam kalau kita sergap secara tiba-tiba!"
Salima tertawa. "Kau cerdik, Suheng. Kau rupanya pintar!"
"Ah, bukan pintar, Sumoi. Tapi sekadar berhati-hati saja karena kita belum mengenal lawan."
"Jadi!" Salima mengangguk. "Dan biarkan aku yang menangkap pemuda itu, Suheng. Aku ingin menggaplok mukanya karena dia telah menghinamu!"
"Hm, kumat lagi!" Kim-mou-eng tersenyum. "Kau lagi-lagi menyebut tentang hinaan, Sumoi. Siapa merasa terhina? Pemuda itu memang suka merendahkan orang, mungkin karena kekuasaan gurunya di wilayah Ceng-tu. Sudahlah, kita sergap dia nanti malam dan lihat saja apa yang terjadi."
Kim-mou-eng lalu mengajak sumoinya bercakap-cakap yang lain. Mereka telah memutuskan rencana itu untuk malam nanti, yakni kembali ke Ceng-tu dan menangkap Bu-kongcu. Dan ketika malam itu tiba dan mereka kembali ke Ceng-tu, mendadak mereka lupa tentang alamat pemuda itu!
"Sialan!" Salima tertegun. "Ke mana kita mencarinya, Suheng?"
Kim-mou-eng juga tertegun, teringat hal itu. Tapi setelah mengingat-ingat dan berpikir sejenak, tiba-tiba dia tertawa. "Kita masuki rumah makan tadi, Sumoi. Kita tangkap pemiliknya dan kita tanyai di mana rumah Bu-kongcu itu."
"Ah," Salima girang. "Benar juga, Suheng. Kenapa aku demikian bodoh? Pelupa amat, kita tangkap saja pemilik rumah makan itu! Hayo!"
Dan Salima yang sudah menyelinap memasuki rumah makan siang tadi dan mencari pemiliknya segera mendesak pemilik restoran untuk memberi tahu di mana tempat tinggal Bu-kongcu itu. Dan ternyata pemilik rumah makan ini memang mengenalnya.