Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 32

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 32

Nama Bu-kongcu dikenal semua orang di Ceng-tu. Pengaruhnya sangat besar hingga pejabat pun tunduk padanya. Ketika Salima mengetahui bahwa rumah Bu-kongcu yang megah berada di sebelah barat kota, ia dan suhengnya, Kim-mou-eng, segera mencarinya.

Rumah itu besar, indah, dan terang benderang, namun Bu-kongcu tidak ada di sana. Salima kecewa karena Bu-kongcu ternyata pergi ke tempat gurunya, Yu-chung. Kim-mou-eng menyarankan agar mereka mencari pelayan untuk menanyakan lokasi dusun Yu-chung.

Setelah mendapatkan informasi bahwa dusun itu berjarak sekitar tiga puluh li di sebelah timur, Salima mengumpat karena harus kembali berputar. Kim-mou-eng menertawakannya dan mengajak untuk segera berangkat. Mereka pun berkelebat menuju timur, melewati gerbang kota, dan tak lama kemudian memasuki dusun yang mereka cari.

Dusun itu remang-remang oleh beberapa lampu minyak, sangat berbeda dengan rumah Bu-kongcu. Tiba-tiba, di sebuah tempat, mereka dikejutkan oleh gemerlap lampu yang menyala serentak. Kilatan cahaya itu membutakan mereka sejenak. Ketika mereka tersentak mundur, puluhan jarum dan peluru meluncur ke arah mereka, disusul tawa seorang wanita.

"Selamat datang, Kim-mou-eng. Kedatangan kalian memang telah kami tunggu," ucap wanita itu. Kim-mou-eng dan Salima terkejut. Mereka belum melihat hamburan senjata itu, tetapi berhasil menangkisnya dengan pukulan sinkang.

Ketika mereka bisa melihat dengan jelas, mereka tertegun melihat Bu-kongcu dan teman-temannya mengepung mereka, dipimpin oleh seorang kakek bermuka singa yang brewokan, Sai-mo-ong. Di sebelah kakek itu berdiri seorang wanita setengah baya bermata satu, Tok-gan Sin-ni.

Kim-mou-eng dan Salima terkejut melihat kehadiran mereka berdua. Sai-mo-ong bertanya mengapa Kim-mou-eng mencarinya. Kim-mou-eng menjawab bahwa ia mencari Sai-mo-ong karena perlu bertemu.

Salima kemudian maju dan langsung menanyakan keberadaan kerabat suhengnya, Yu-lopek, yang kabarnya tinggal di dusun itu. Sai-mo-ong mengaku tidak tahu siapa Yu-lopek. Salima membentak, menuduh Sai-mo-ong berbohong.

Sai-mo-ong tertawa terbahak-bahak, tubuhnya berguncang hebat. Ia mengeluarkan suara dahsyat yang membuat Bu-kongcu dan teman-temannya roboh. Kakek itu menantang Salima, mempertanyakan kemampuannya.

Salima menyadari bahwa Sai-mo-ong menggunakan khikang untuk menguji mereka. Ia mengerahkan kekuatannya dan berhasil menahan serangan suara itu, membuat Sai-mo-ong dan Tok-gan Sin-ni tertegun.

Salima kemudian menyatakan bahwa ia dan suhengnya akan pergi. Saat mereka hendak beranjak, Sai-mo-ong tiba-tiba menyerang punggung Salima. Salima berhasil menangkis serangan itu dari jauh.

Benturan dahsyat itu membuat bumi berguncang, lampu-lampu pecah. Lampu cadangan segera dinyalakan. Sai-mo-ong terkejut melihat Salima yang tertawa mengejeknya. Ia memuji hebatnya Salima.

Salima membalas, menyatakan bahwa ia sanggup menerima pukulan Sai-mo-ong. Kim-mou-eng segera maju, meminta maaf atas tindakan sumo-inya. Sai-mo-ong terbelalak, ia merasakan tangkisan Salima dan terkejut akan kekuatannya.

Tok-gan Sin-ni melompat maju, terkejut melihat kemampuan orang-orang Tar-tar. Ia kemudian mengundang Kim-mou-eng untuk menguji kemampuannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment