Chapter 33
Tak mungkin begitu saja kalian pergi.
“Terimalah, inilah penghormatan Tok-gan Sin-ni!” Kim-mou-eng terkejut.
Dia merasa pukulan panas menyambar dari lengan lawan, seolah dirangkap tapi diam-diam menyerang, tidak menderu tapi hebatnya tak kalah oleh serangan Sai-mo-ong kepada sumoinya tadi.
Dan maklum Tok-gan Sin-ni sengaja menjajal kepandaiannya, mau tak mau dia harus menyambut, maka terpaksa dengan senyum pahit pendekar ini merangkapkan pula kedua tangannya.
“Sin-ni, maaf kalau penghormatanmu terlalu berlebih-lebihan. Aku tak sanggup menerimanya...”
Duk!” Tok-gan Sin-ni tergetar. Dia terbentur tenaga tak kelihatan yang telah dikeluarkan Kim-mou-eng, merasakan benturan sinkang yang menahan pukulannya, hebat luar biasa hingga ia tertolak, kaki hampir terangkat tapi punggung sudah melengkung. Padahal Kim-mou-eng tak bergeming dan tegak di depan sana.
Dan Tok-gan Sin-ni yang tentu saja kaget bukan main, sekonyong-konyong berseru keras menambah tenaganya!
“Wut!” Kim-mou-eng jadi terkejut. Dia sengaja membuat Sin-ni menghentikan serangan dan mundur baik-baik. Tapi melihat wanita itu mempertahankan diri dan kini malah menambah tenaganya sepenuh tenaga hingga dia terancam pukulan berbahaya, terpaksa Kim-mou-eng mengeluh dan menambah tenaganya pula.
“Duk...!” Dan kini Tok-gan Sin-ni tak mampu mempertahankan kedudukannya. Kakinya tergeser, terangkat dua langkah. Tanda dia kalah kuat!
Dan Tok-gan Sin-ni yang kaget serta marah bukan main tiba-tiba melecutkan ujung rambutnya yang mendadak kaku menotok ulu hati lawan.
“Plak!” Kim-mou-eng tak dapat mengelak. Dia tak menyangka serangan itu, dan ulu hatinya yang tertotok ganas tiba-tiba membuat pendekar ini muntah dan terhuyung mundur.
“Huak...!” Salima terkejut. Dia langsung melompat menyambar suhengnya itu, berseru tertahan, melihat suhengnya pucat dan terbelalak memandang Tok-gan Sin-ni yang keji, menyerang dengan curang.
Tapi Kim-mou-eng yang tegak kembali tak sampai terluka karena seluruh tubuhnya sudah dialiri sinkang akibat benturan pertama tadi akhirnya membuat Salima membentak marah.
“Tok-gan Sin-ni, kau iblis tak tahu malu...!” Tapi Kim-mou-eng menahan sumoinya. Dia sudah batuk-batuk menarik napas, sedikit terguncang karena bagaimanapun totokan tadi cukup berbahaya. Tentu akan membuatnya tewas kalau tenaga saktinya tidak lebih kuat.
Dan Tok-gan Sin-ni yang terbelalak melihat kehebatan lawan yang tidak roboh oleh totokannya tadi sudah mendengar Kim-mou-eng bicara, halus namun penuh wibawa, “Tok-gan Sin-ni, kami datang bukan untuk mencari pertikaian. Kami datang mencari Yu-lopek. Kalau pamanku itu tak ada biarlah kami pergi baik-baik!” Tok-gan Sin-ni tergetar. Dia masih terkejut dan terpengaruh oleh kesaktian Kim-mou-eng yang dapat menerima totokannya tanpa luka, hanya sekali muntah dan setelah itu sehat kembali. Tanda Pendekar Rambut Emas ini benar-benar luar biasa dan mengagetkan.
Tapi Tok-gan Sin-ni yang tentu saja penasaran dan belum melihat kepandaian lawan secara penuh tiba-tiba terkekeh memandang Sai-mo-ong. “Mo-ong, bagaimana pendapatmu dengan kata-kata ini? Bolehkah dia pergi?” Sai-mo-ong terbahak. Dia juga sudah melihat gebrakan antara Kim-mou-eng dan rekannya itu, mencelos melihat Tok-gan Sin-ni mundur dua langkah padahal lawan tetap tak bergeming. Tapi karena itu baru demonstrasi pertunjukan sinkang dan bukan kepandaian silat yang dipunyai masing-masing, tentu saja iblis ini tak puas dan penasaran, sama seperti yang dipikirkan temannya itu.
Dan tertawa sambil menggurat-gurat kuku jarinya di atas tanah, tiba-tiba kakek ini mengaum, “Boleh, kalau mereka mau menjadi pembantuku, Sin-ni. Tapi kalau mereka menolak tentu saja mereka harus main-main dulu dengan kita! Ha-ha, bagaimana, Kim-mou-eng? Kau takut? Kenapa mukamu pucat?” Salima marah. Ejekan terhadap suhengnya itu membuat dia naik darah, melihat muka suhengnya memang berubah tapi bukan pucat, melainkan terkejut karena dia tahu suhengnya itu tak suka ribut-ribut dan enggan menghadapi pertandingan. Bukan takut tapi hanya menghindari permusuhan belaka, itu yang menjadi watak suhengnya.
Maka melihat Sai-mo-ong mengejek dan menghina karena menyangka mereka takut, tiba-tiba Salima melengking maju bertolak pinggang. “Sai-mo-ong, tak perlu suhengku yang maju main-main denganmu. Aku mewakilinya, aku sanggup merobohkanmu agar tangannya tak kotor!” “Wah, kau berani menghadapiku?” Sai-mo-ong, matanya bersinar. “Kau tak takut? Ha-ha, kau seperti macan lapar, Tiat-ciang Sian-li. Tapi boleh kita coba, aku juga sudah mendengar namamu di luar tembok besar!” Sai-mo-ong sudah maju menggoyang kaki dan tangan. Dia terkekeh dan terbahak berganti-ganti, sikapnya buas sementara kaki mengeruk-ngeruk seperti singa mendapat mangsa, mengerikan sekali.
Tapi Salima yang tidak takut sedikit pun juga sudah maju menghadapinya dengan penuh keberanian. Mata berapi-api dan tubuh tegak menantang lawan, hal yang membuat datuk iblis itu marah tapi juga kagum.
Dan Kim-mou-eng yang maklum pertempuran di antara dua orang itu tak dapat dicegah lagi karena sumoinya juga gatal tangannya untuk menyaksikan kepandaian Sai-mo-ong akhirnya mendesis perlahan memperingatkan sumoinya itu.
“Sumoi, hati-hati...!” Salima tersenyum. Dia merasa bangga atas perhatian suhengnya ini, semakin besar hati. Tahu bahwa suhengnya tak akan membiarkan dia begitu saja menghadapi lawan. Tapi Salima yang percaya diri sudah mengangguk sambil melempar kerling manis kepada suhengnya itu. “Jangan khawatir, Sai-mo-ong tak dapat berbuat apa-apa kepadaku, suheng. Singa tua ini sudah kehilangan taringnya. Tak berbahaya!” Sai-mo-ong mendelik. Dia menyuruh yang lain mundur, gusar mendengar ejekan Salima yang membuat telinganya merah.
Tapi menggereng dan menghentak bumi, sekonyong-konyong kakek iblis ini meloncat seperti singa menerkam, gerakannya cepat bukan main dan tahu-tahu telah mencengkeram dada Salima dengan sepuluh jarinya yang mendadak mencuatkan kuku-kuku panjang, tajam dan keras disertai kesiur angin dahsyat. Dan begitu bentakan kakek itu memecah keheningan malam tiba-tiba udara tergetar oleh pekik aumnya yang mengguncang jantung.
“Salima, aku akan merobek tubuhmu...!” Salima terkejut. Dia melihat lawan berkelebat demikian cepat, ringan tapi membawa kekuatan amat luar biasa, begitu luar biasa hingga dia tak sempat berkelit lagi. Tak ada waktu.
Dan Salima yang mendengus, lalu membentak tiba-tiba menggerakkan lengan kirinya menangkis.
“Plak!” Sai-mo-ong terputar. Kakek iblis ini terhenti setengah jalan, meliuk dan menggereng bagai singa lapar, melejit lalu menusuk dengan sepuluh kuku tangannya yang runcing menakutkan. Dan ketika Salima mengelak dan sambaran itu luput hanya mengenai angin, mendadak kakek ini memutar kaki menendang Salima.
“Plak-Dess!” Salima turut terputar. Gadis ini hampir roboh, terkejut oleh gerak lawan yang mirip binatang buas itu, rupanya meniru gerakan singa yang ganas dan kelaparan, sesaat kemudian mengaum dan bertubi-tubi mencakar dan memukul, hebat bukan kepalang karena angin pukulannya menderu-deru, membuat Salima terhuyung dan kaget serta marah.
Dan ketika lawan membentak dan Sai-mo-ong lenyap, mengelilingi dirinya, mendadak Salima melengking tinggi mengerahkan gingkang-nya, “Singa tua, kau tak dapat mengalahkan aku!” Sai-mo-ong tak menjawab. Raja iblis ini telah melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi, ditangkis dan mengeluarkan suara "dak-duk" yang membuat bumi berguncang. Kian lama pertandingan kian cepat hingga keduanya tak tampak bayangan mereka lagi, sama-sama lenyap dan serang-menyerang di dalam gulungan yang membentuk kabut.
Sesaat kemudian timbul pusaran angin yang berganti-ganti panas dingin, membuat penonton di pinggir harus mundur menjauh karena hawa panas dan dingin itu membuat mereka terkejut, tubuh tiba-tiba berkeringat dan sesaat kemudian beku kembali seperti dicelup dalam bongkahan es. Hal yang tentu saja membuat semua orang terbelalak karena dapat membayangkan betapa hebatnya pertandingan itu. Pertandingan dua orang yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi!
Dan Tok-gan Sin-ni yang memandang dengan mata tak berkedip tiba-tiba menjadi kagum bukan main pada sumoi Pendekar Rambut Emas itu, heran dan kagum bahwa Tiat-ciang Sian-li Salima yang masih begitu muda dapat menandingi Sai-mo-ong, raja iblis yang sudah kawakan. Seolah seorang kakek melawan cucunya sendiri.
Dan ketika pertandingan semakin sengit dan Sai-mo-ong mulai membentak-bentak di dalam gulungan bayangan itu akhirnya terdengar ledakan ketika dua pukulan beradu di udara.
“Blang!” Tok-gan Sin-ni dan yang lain mundur selangkah. Mereka merasakan getaran amat kuat mengguncang bumi, terbelalak memandang ke depan. Melihat Sai-mo-ong dan Salima sama-sama terhuyung, melotot dan masing-masing menggigit bibir menahan sakit. Agaknya terluka.
Dan Sai-mo-ong yang mengaum mencelat maju, tiba-tiba mendorong kedua tangannya melakukan pukulan sinkang, hingga buku-buku jarinya berkerotok.
“Sumoi, awas...!” Salima mengangguk. Dia sudah menyambut serangan itu, mendorongkan kedua lengannya pula menerima pukulan. Tak mau kalah, sama-sama mengerahkan sinkang dan mengeluarkan Tiat-Luikang-nya (Tenaga Telapak Petir). Hal yang membuat Kim-mou-eng kaget karena itu berarti mengadu jiwa.
Dan ketika dia berseru tertahan namun sudah tak sempat mencegah lagi, tahu-tahu dua lengan Sai-mo-ong telah bertemu dengan dua lengan sumoinya.
“Dess!” Debu mengebul tinggi. Benturan itu mengejutkan semua orang, keras dan membuat tanah bergetar hingga Bu-Kongcu dan teman-temannya terpelanting roboh, terpeleset kakinya karena tempat itu seakan dilanda gempa. Hebat bukan main!
Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan terbelalak memandang pertandingan ternyata dua pasang lengan itu telah saling melekat dan mendorong. Salima dan lawannya tampak beringas, masing-masing bertahan dan menyerang, uap mengepul dan lengan mereka sama-sama menggigil.