Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 34

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 34

Tak dapat dilepaskan lagi karena sinkang mereka telah bertemu, saling gubat dan dorong-mendorong mencoba merobohkan satu sama lain. Tentu saja suasana itu menegangkan dan mengkhawatirkan. Tok-gan Sin-ni yang juga terbelalak ke depan tiba-tiba terkekeh dan berseru memuji.

"Bagus, robohkan lawanmu itu, Mo-ong! Serang dan hancurkan dia!"

Namun, Sai-mo-ong mendelik. Ia tidak berani menjawab karena mengeluarkan suara berarti akan merosotkan tenaga sendiri yang akan hilang sebagian, dan itu berarti merugikan diri sendiri. Ketika adu kepandaian itu berlangsung lama dan masing-masing berkutat untuk memperoleh kemenangan, mendadak Sai-mo-ong mengeluh. Hampir bersamaan, ia dan Salima menyemburkan darah segar.

"Huak!"

Tok-gan Sin-ni dan yang lainnya terkejut. Mereka melihat dua orang itu mulai pucat mukanya, gemetar, dan kaki menggigil seperti orang disetrum. Tubuh mereka bergoyang dan tiba-tiba limbung maju-mundur dengan tangan masih saling menempel. Salima menggigit bibir dan melihat kedudukannya imbang. Ia kaget dan penasaran oleh kekuatan lawan yang tidak dapat diungguli.

Ketika mereka kembali menyemburkan darah segar—yang berarti mereka sama-sama terluka dalam—mendadak Tok-gan Sin-ni terkekeh dan berkelebat maju. "Mo-ong, kubantu sebentar!"

Kim-mou-eng kaget. Ia melihat wanita itu telah menepuk pundak Sai-mo-ong secara perlahan. Seakan sentuhan lunak, tetapi sebenarnya ia menyalurkan sinkang untuk membantu kakek iblis itu. Hal ini jelas mengejutkan dirinya dan Salima karena itu berarti ada bantuan tenaga baru. Suatu kecurangan.

Saat Kim-mou-eng berseru tertahan karena tidak menduga kelicikan Tok-gan Sin-ni, mendadak Salima menjerit dan terlempar roboh, terpental hingga lima tombak lebih!

"Bress!" Kim-mou-eng membentak.

Ia langsung berkelebat menolong sumoinya. Melihat sumoinya menggeliat dan pingsan karena harus menerima pukulan Tok-gan Sin-ni yang disalurkan lewat pundak Sai-mo-ong, ia merasa kaget dan sangat marah. Begitu menyambar sumoinya dan melihat gadis itu tidak bergerak lagi, pendekar ini melengking tinggi membentak Tok-gan Sin-ni.

"Sin-ni, kau iblis wanita curang!"

Tetapi Tok-gan Sin-ni hanya terkekeh. Ia sudah membisikkan sesuatu di telinga Sai-mo-ong. Melihat kakek iblis itu sudah menelan obat penawar luka sembari terhuyung dan menyeringai memandang Kim-mou-eng, Tok-gan Sin-ni segera melecutkan rambutnya dan menyuruh yang lain maju.

"Sai-mo-ong, tangkap dia! Kim-mou-eng telah mengacau di kota raja!"

Wut-plak! Kim-mou-eng tahu-tahu diserang. Tok-gan Sin-ni telah melecutkan rambut dan melepas pukulannya bertubi-tubi, mengerahkan ginkang untuk berkelebat mengelilingi lawan. Langkah itu disusul oleh yang lain karena Sai-mo-ong, Bu-kongcu, serta Leng Hwat juga ikut menyerang. Mereka mengeroyok pendekar muda itu hingga Kim-mou-eng harus menangkis dan mengerahkan kepandaiannya. Ia membentak marah melihat kecurangan lawan.

Begitu pendekar ini melengking dan menggerakkan lengannya, mendadak kilatan cahaya meledak menyambut semua serangan itu.

"Dar-dar!" Bu-kongcu dan Leng Hwat roboh terjungkal.

Mereka merupakan orang paling lemah di antara semua pengeroyok, kalah tingkat oleh dua orang guru mereka sendiri. Maka, begitu Tiat-lui-kang menyambar dan hawa panas menyambut kecurangan mereka, Bu-kongcu dan murid Tok-gan Sin-ni itu menjerit karena kulit pundak mereka terbakar hangus!

"Aih!" Bu-kongcu dan temannya memekik bergulingan.

Luka mereka tidak sampai fatal. Mereka melompat bangun kembali dan terbelalak memandang Kim-mou-eng yang sudah dikeroyok oleh kedua guru mereka. Terlihat bentakan dan pukulan silih berganti, tangkis-menangkis, hingga sebentar kemudian bayangan mereka lenyap bergulung naik-turun.

Ketika Sai-mo-ong maupun Tok-gan Sin-ni menyuruh murid-murid mereka mencabut senjata dan kembali menyerang, akhirnya Leng Hwat mengeluarkan pedangnya sementara Bu-kongcu mencabut kipasnya.

"Anak-anak, serang dia dari belakang!"

Bu-kongcu mengangguk. Ia sudah menyelinap di belakang punggung Kim-mou-eng, begitu pula Leng Hwat, menggerakkan pedang dan kipas untuk menyerang lawan dari belakang. Namun, ketika pedang dan kipas itu terpental bertemu kekebalan Kim-mou-eng yang telah melindungi dirinya dengan sinkang, kedua orang ini tertegun. Mereka melihat Kim-mou-eng sangat hebat, jauh lebih hebat dibanding Salima. Ia dapat melayani dua orang guru mereka sementara mereka sendiri terus mengganggu dari belakang.

Saat pertempuran berjalan sengit dan Tok-gan Sin-ni maupun teman-temannya merasa penasaran oleh kelihaian lawannya, mendadak Bu-kongcu dan Leng Hwat terpelanting roboh terkena tendangan Kim-mou-eng.

"Des-des!" Dua orang murid datuk sesat itu mengeluh. Mereka lagi-lagi terlempar dan terbanting roboh.

Ketika Kim-mou-eng memekik dan menangkis serangan Tok-gan Sin-ni yang dilancarkan dari arah kiri, wanita iblis ini juga terpental karena lecutan rambutnya rontok dipukul Tiat-lui-kang. Tentu saja Tok-gan Sin-ni marah. Ia melengking dan maju kembali dengan pukulan yang lebih ganas. Namun, karena ia kalah kuat dan sinkang Kim-mou-eng lebih unggul dua tingkat, ia kembali terdorong mundur.

"Keparat, cabut senjatamu, Mo-ong! Bunuh Pendekar Rambut Emas ini!"

Sai-mo-ong mengangguk. Ia mengeluarkan kipasnya yang aneh, terbuat dari bulu suri singa jantan. Ia menyadari bahwa lawan mudanya ini memang hebat bukan main. Kim-mou-eng mampu menghadapi mereka berdua meskipun belum sembuh benar dari lukanya tadi. Sai-mo-ong merasa kaget dan kagum, tetapi juga marah karena meski dikeroyok empat orang, mereka belum dapat merobohkan pendekar yang pantas menjadi cucu atau muridnya itu.

Saat Mo-ong membentak dan Tok-gan Sin-ni kembali melecutkan rambutnya, pertempuran berkobar lagi. Kim-mou-eng menghadapi kerubutan lawan-lawannya. Tetapi Pendekar Rambut Emas ini memang hebat. Sambil memanggul Salima, ia menangkis dan bergerak ke sana kemari menghindari pukulan berbahaya. Ia melindungi diri dengan sinkang hingga kebal menerima totokan rambut Tok-gan Sin-ni, hanya menangkis atau balas menyerang bila lawan terlalu dekat. Ia mengerahkan Tiat-lui-kang dan berhasil mendorong lawan dengan hembusan hawa panasnya.

Namun, ketika lawan mulai mengincar Salima dan Sai-mo-ong tertawa menyuruh yang lain menyerang sumoi Kim-mou-eng yang pingsan di pundaknya, perhatian pendekar ini menjadi pecah. Ia terkejut dan marah karena perbuatan lawan jelas mengganggu konsentrasinya, membuatnya bingung dan kaget.

Saat satu lecutan keras mengenai sumoinya dan Kim-mou-eng repot membela diri, saat itulah kipas Sai-mo-ong mengebut ke arah mukanya. "Kim-mou-eng, robohlah kau!"

Kim-mou-eng terkejut. Pandangannya terhalang oleh sayap kipas yang terbuka lebar. Pada saat itu, ia mendengar tusukan jari Tok-gan Sin-ni menyambar tengkuknya. Ketika Bu-kongcu dan Leng Hwat juga mengganggu dengan sambaran pedang yang mendesing ke arah sumoi di pundaknya, pendekar ini membentak dan merendahkan tubuhnya. Ia membalikkan badan hingga kipas di tangan Sai-mo-ong beradu dengan jari Tok-gan Sin-ni. Keduanya berseru kaget.

Saat pedang di tangan Leng Hwat mengenai dadanya namun terpental membentur kekebalan tubuh, Kim-mou-eng mengeluarkan satu pukulan yang sangat dahsyat, Pek-sian-ciang (Pukulan Tangan Dewa). Pukulan ini tidak akan ia keluarkan jika tidak terpaksa. Begitu pukulan ini dilepaskan, angin dahsyat menderu disertai ledakan asap putih. Sekonyong-konyong Tok-gan Sin-ni dan Sai-mo-ong berseru kaget.

"Hei! Plak-des-des!"

Dua tokoh sesat itu mencelat. Mereka tidak sempat mengelak atau menangkis. Tubuh mereka terlempar dan bergulingan di atas tanah dalam keadaan terpekik kaget. Bu-kongcu dan Leng Hwat yang tidak menduga adanya pukulan dahsyat ini tiba-tiba mengeluh dan terlempar hingga akhirnya roboh pingsan. Kipas dan pedang mereka hancur remuk tidak dapat dipergunakan lagi. Kejadian itu berlangsung sekejap seolah petir menyambar.

Ketika Sai-mo-ong maupun Tok-gan Sin-ni terhuyung bangun dan terbelalak memandang pukulan itu, hampir bersamaan keduanya berseru tertahan, "Pek-sian-ciang!"

Kim-mou-eng tertegun. Ia kaget dan heran bagaimana kedua lawannya dapat mengenal pukulannya yang merupakan ilmu simpanan dan jarang dikeluarkan. Namun, Salima yang tersadar dan mengeluh di atas pundaknya membuat pendekar ini teringat pada tujuannya. Ia tidak menggubris seruan lawan. Begitu sadar bahwa sumoinya harus segera ditolong, Kim-mou-eng memadamkan lampu dengan pukulan jarak jauh.

"Sai-mo-ong, aku tidak ada waktu lagi melayani kalian manusia-manusia busuk!"

Bush! Lampu tiba-tiba padam. Keadaan menjadi gelap gulita karena kebutan jarak jauh itu memadamkan semua penerangan. Saat Sai-mo-ong dan Tok-gan Sin-ni terkejut dan melompat mundur, Kim-mou-eng sudah lenyap meninggalkan tempat itu. Mereka tidak berani mengejar karena ngeri melihat pukulan Pek-sian-ciang tadi.

Tok-gan Sin-ni yang teringat sesuatu tiba-tiba bertanya dengan lengkingan gentar, "Kim-mou-eng, apa hubunganmu dengan Bu-beng Sian-su?"

Kim-mou-eng tidak menjawab. Ia telah terbang jauh melarikan sumoinya karena khawatir akan luka Salima yang parah. Ia mendengar pertanyaan itu tetapi sengaja tidak menjawab karena ia memang tidak mengenal siapa Bu-beng Sian-su, tokoh yang dikenal di daratan Tiongkok tetapi tidak di luar tembok besar. Ia tidak tahu bahwa itulah gurunya, manusia dewa yang amat sakti dan bijak.

Karena Kim-mou-eng tidak menjawab dan seluruh perhatiannya tertuju pada sang sumoi, sosoknya akhirnya lenyap, membiarkan gema suara Tok-gan Sin-ni memantul sendirian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment