Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 35

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 35

"Sumoi, bagaimana keadaanmu?" Salima terengah-engah. Kim-mou-eng telah meletakkannya di atas lantai, menemukan sebuah kuil tua dan aman dari jangkauan musuh. Ia memberinya obat dan kini menempelkan lengan, menyalurkan sinkang untuk mempercepat penyembuhan.

Tapi Salima yang merasa dadanya sakit dan batuk-batuk akhirnya menggigil memandang pucat suhengnya itu.

"Dadaku...

dadaku sakit, suheng...

aku, aduh...

aku merasa nyeri seolah ada sesuatu yang menusuk!"

"Di mana?"

"Di sini...

di...

ah!" Salima terguling. Tubuhnya tiba-tiba panas dan membuat Kim-mou-eng heran karena dia telah memberi obat penawar luka dalam. Tentu saja sembuh dan tak ada apa-apa lagi setelah dia menyalurkan sinkangnya.

Tapi melihat sumoinya pucat, dan wajah yang pucat itu mendadak menjadi hijau, tiba-tiba Kim-mou-eng kaget karena sadar bahwa sumoinya rupanya keracunan. Entah apa!

"Ah, kau keracunan, sumoi...!" Kim-mou-eng sudah mengangkat sumoinya ini, gelisah dan pucat serta marah karena itu gara-gara Tok-gan Sin-ni dan teman-temannya tadi.

Dan ketika dia meraba bahwa bagian yang paling panas adalah di dada sebelah kiri sumoinya ini, mendadak Kim-mou-eng tertegun. Dia melihat sebuah jarum menancap halus di dada sumoinya itu, menembus baju dan hampir tak kelihatan kalau Salima tak menunjukkan rasa sakitnya.

Dan Salima yang mengangguk dan mendesis menggeliatkan tubuh tiba-tiba terisak.

"Ni, suheng.

Mungkin ketika kau memanggulku ketika aku pingsan.

Aku tak dapat mencabutnya, tanganku lemah...!"

Kim-mou-eng terkesiap. Pengakuan sumoinya ini membuat dia teringat akan pertempuran tadi, teringat kelicikan lawan yang memang beberapa kali melepas senjata gelap tapi selalu dapat dia pukul runtuh. Tak menyangka bahwa satu di antaranya meleset, kini menancap di buah dada sumoinya sebelah kiri.

Harus dicabut.

Dan karena Salima sendiri telah menyatakan tenaganya lemah dan dialah satu-satunya orang yang harus menolong sumoinya itu, mendadak Kim-mou-eng tertegun. Kenapa harus di bagian itu? Kenapa di situ? Hal ini berarti dia harus membuka pakaian sumoinya itu.

Jarum menancap dalam, menyalurkan bisa (racun) yang tentu ganas. Mungkin sudah merenggut nyawa kalau bukan sumoinya yang menerima. Dan Kim-mou-eng yang tertegun membelalakkan mata tiba-tiba mendengar sumoinya menangis.

"Suheng, sakit...

dadaku sakit.

Nyeri sekali!"

Kim-mou-eng terkejut. Dia sadar dan bingung sejenak, tapi menggigit bibir menahan rasa. Tiba-tiba dia berbisik, gemetar suaranya, "Sumoi, bagaimana harus mencabut jarum itu?

Menancapnya terlalu dalam.

Hal itu harus membuka pakaianmu!"

Salima mengeluh. Muka yang pucat kehijauan itu mendadak menjadi merah, tapi memejamkan mata menjawab gemetar. Salima mengangguk, "Aku tahu, tapi aku tak dapat melakukannya sendiri, suheng.

Tenagaku lemah dan panas sekali.

Kau boleh buka bajuku, tapi...

tapi pejamkan matamu!"

Kim-mou-eng mengerutkan kening. Dia seketika merah mendengar kata-kata ini, maklum bahwa sumoinya diguncang perasaan seperti yang dia alami. Tapi karena keadaan darurat dan sumoinya terancam bahaya, tiba-tiba Kim-mou-eng menahan napas, merobek baju sumoinya itu dan melihat di mana tepatnya jarum itu berada. Tak mungkin menutupi mata karena jarum tak akan diketahui letaknya.

Dan begitu Salima mengeluh dan memejamkan mata, maka saat itu juga Kim-mou-eng berdetak melihat buah dada sumoinya. Sebenarnya, mereka sudah cukup akrab. Hubungan mereka sebagai suheng dan sumoi sebenarnya cukup membuang perasaan malu. Tapi karena sumoinya ini sudah bukan anak kecil lagi dan perkembangan tubuhnya adalah perkembangan tubuh seorang gadis dewasa, maka tentu saja perasaan tersirap membuat Kim-mou-eng meloncat jantungnya. Betapapun, dia juga seorang pemuda. Pemuda yang sehat dan normal.

Maka begitu melihat keadaan sumoinya yang seperti ini, tiba-tiba saja Kim-mou-eng tergetar, nafsu berahinya timbul. Tapi Kim-mou-eng yang merupakan pendekar sejati itu bukanlah pemuda hidung belang, menekan semua nafsunya sendiri dan dengan jari-jari menggigil mencoba mencabut jarum beracun itu. Tapi ketika melihat jarum amat dalam dan tak mungkin dicabut karena amblas di bawah kulit, tiba-tiba Kim-mou-eng tersentak karena jarum itu hanya dapat dikeluarkan bila disedot!

"Sumoi, jarumnya terlalu dalam...!"

(Bersambung jilid VI)

Jilid 6

SALIMA membuka mata. Kim-mou-eng melihat betapa sumoinya itu menahan rasa malu yang amat sangat, tapi gadis yang tahu akan keadaan darurat ini akhirnya gemetar, bertanya lirih, "Jadi bagaimana, suheng?

Tak dapatkah diambil?"

"Dapat, tapi..." Kim-mou-eng ragu.

"Tapi apa, suheng?"

Kim-mou-eng tak menjawab, merah mukanya dan menggigil memandang sumoinya itu. Dan ketika Salima terisak dan gadis itu mengeluh kesakitan, akhirnya pendekar ini bicara juga, gemetar suaranya, "Jarum terlalu dalam, sumoi.

Tak dapat dicabut kecuali disedot.

Maaf, kau mau atau tidak aku melakukan hal itu!"

Salima tiba-tiba mengerang. Gadis ini merah padam tak kalah oleh suhengnya sendiri, bibir digigit kuat-kuat tapi mata terpejam. Tapi menyadari bahwa itulah satu-satunya cara untuk mengambil jarum beracun, akhirnya Salima menangis tersedu.

"Baiklah, kau lakukan itu, suheng.

Kau sedot jarumnya dan cepat ambil.

Aku tahu keadaan ini!"

Kim-mou-eng mengangguk. Dia sudah minta maaf pada sumoinya itu, mendekatkan muka menempelkan mulut di buah dada sumoinya, mata juga terpejam karena dia tak berani lama-lama memandang bagian yang membuat jantung pria serasa terbetot. Dan begitu mulut menempel lekat, tiba-tiba Kim-mou-eng sudah menghisap, menekan semua guncangan berahinya yang timbul bagai dibakar, mengerahkan segala kekuatan batinnya untuk memusatkan perhatian pada penyedotan jarum beracun itu.

Dan begitu jarum terhisap dan tersedot keluar, akhirnya Salima menangis mengguguk mencengkeram kepala suhengnya.

"Suheng, aku malu...

malu...!"

Kim-mou-eng gemetaran. Dia juga malu melakukan hal itu, baru kali itu meraba sekaligus menghisap buah dada sumoinya. Bukan kesengajaan melainkan keterpaksaan belaka, gara-gara jarum beracun. Tapi ketika pekerjaan itu selesai dan jarum yang berwarna hitam itu telah tersedot keluar, akhirnya Kim-mou-eng melepaskan diri, mendorong sumoinya itu, memberi obat penawar racun dan bangkit berdiri.

Dan ketika sumoinya mengguguk dan Salima merah padam, maka pendekar ini terhuyung keluar dengan kaki menggigil.

"Sumoi, kau beristirahatlah.

Aku akan bersamadhi di ruang depan!"

Salima bercucuran air mata. Bahaya itu telah lewat, tapi kejadian yang baru saja mereka alami dan tak mungkin dilupakannya seumur hidup itu membuat gadis ini diguncang bermacam perasaan. Ada malu dan marah. Ada benci tapi juga girang. Aneh!

Dan Salima yang mengguguk menutupi mukanya, akhirnya tepekur dan merenungkan apa yang baru saja ia alami, gemetar menggigit bibir karena dia masih teringat perbuatan suhengnya tadi. Menghisap buah dadanya, menyedot racun hingga dia merinding, pucat dan merah bergantiganti. Tapi membayangkan ada perasaan nikmat ketika suhengnya itu melakukan perbuatan itu, mendadak Salima tertegun dan memejamkan matanya. Sungguh mati, kalau bukan suhengnya itu yang melakukan perbuatan itu, tentu sudah dia bunuh lelaki itu. Tak sudi dia disentuh. Tak sudi sembarangan pria meraba-raba tubuhnya.

Tapi karena yang melakukan itu adalah suhengnya sendiri dan diam-diam dia memang mencintai suhengnya itu, mendadak Salima tersenyum dan... ingin dilukai jarum lagi! Wanita memang aneh. Siapa tahu perasaannya? Siapa dapat menyelami hatinya?

Dan Salima yang tersenyum dengan air mata yang masih bercucuran itu mendadak bangkit berdiri. Sekarang jarum tak ada lagi di tubuhnya. Racun telah hilang. Dan dia yang merasa pulih dan sehat kembali, akhirnya berindap hati-hati menuju ruang depan. Di situlah suhengnya bersamadhi, tentu menenangkan guncangan setelah kejadian itu. Dan ketika dilihatnya suhengnya duduk bersila dengan punggung tegak, tiba-tiba Salima bersinar matanya dan menyorot kemesraan memandang pria berambut keemasan itu. Betapa tampan suhengnya itu. Betapa gagah. Gagah dan agung, juga sopan karena tak mau mempergunakan kesempatan tadi untuk mempermainkan tubuhnya. Benar-benar menghisap jarum dan tidak nggrayang ke sana ke mari seperti biasanya kaum hidung belang. Pria yang menarik dan simpatik!

Dan Salima yang tersenyum memandang suhengnya itu dengan mata bersinar-sinar, akhirnya maju mendekat dengan seruan lirih, "Suheng...!"

Kim-mou-eng membuka mata, terbangun dari samadhinya, memandang sumoinya yang sudah ada di depannya, berlutut. Sejenak terkejut tapi berseri melihat sumoinya ini sembuh. Dan Salima yang tersenyum memandang suhengnya, tiba-tiba membuat Kim-mou-eng balas memandang dengan pandangan mesra.

"Sumoi, kau telah sembuh?"

Salima mengangguk, menundukkan mukanya.

"Berkat kau, suheng.

Terima kasih...!"

"Ah, untuk apa berterima kasih, sumoi?

Itu memang sudah menjadi kewajibanku.

Justeru aku yang, ah...

aku yang harus minta maaf padamu, sumoi.

Aku telah lancang mengetahui bagian tubuhmu yang terlarang!"

Salima tiba-tiba merah mukanya, menggigil seperti orang kedinginan. Dan ketika dia terisak dan Kim-mou-eng juga semburat merah, tahu-tahu gadis ini telah menubruk suhengnya dan menangis tersedu-sedu.

"Suheng, kau tak akan menghinaku, bukan?"

Kim-mou-eng terkejut.

"Menghina bagaimana, sumoi?"

"Menghina setelah...

setelah kejadian itu!"

"Aku tak akan menghinamu, sumoi.

Justeru aku yang patut kau hina atau kau maki kalau perbuatanku menyakitimu!"

"Tidak, tidak...!" Salima menggeleng.

"Itu bukan kesengajaanmu, suheng.

Itu terjadi karena di luar kemauan kita!"

"Jadi bagaimana kemauanmu?"

"Aku minta kau tak memperolok-olok aku, suheng.

Bahwa...

bahwa kau tak akan menceritakan pada siapa pun apa yang telah terjadi itu!"

Kim-mou-eng tiba-tiba tersenyum.

"Sumoi, siapa mau berbuat gila seperti itu?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment