Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 36

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 36

"Kenapa kau berpikir begitu?" Ketika Salima tidak menjawab, Kim-mou-eng mengangkat dagu gadis itu. Akhirnya Salima memandang suhengnya, sekejap saja. Sedetik kemudian, ia memejamkan mata dan hendak melengos.

Tapi suhengnya menahan gerakan itu dan berbisik lembut, tiba-tiba sudah melontarkan pertanyaan di dekat telinganya, "Sumoi, kau tidak marah padaku, bukan?" Salima menggeleng.

"Kenapa memejamkan mata?" Salima tidak menjawab.

"Ayo, kenapa kau tidak mau membuka matamu, Sumoi?"

"Apakah kau marah?" "Tidak," jawab Salima lirih akhirnya.

"Aku malu, Suheng. Aku malu padamu!" Kim-mou-eng tiba-tiba tertawa, mencium rambut sumoinya hingga Salima tersentak.

Ketika Kim-mou-eng mendorong sumoinya dan menyuruh Salima duduk berhadapan, akhirnya gadis itu tidak dapat menyembunyikan diri lagi dan berpandangan dengan suhengnya, malu, gugup, dan tampak bingung.

Tapi ketika suhengnya memandang mesra dan dua pasang mata beradu lembut, tiba-tiba Salima mengeluh sambil menutupi mukanya.

"Suheng, aku takut...!" "Takut apa?" Kim-mou-eng menyentuh pundaknya, tergetar dan bergetar melihat kecantikan sumoinya. Ia mengusap lembut dan tiba-tiba merasa hangat berdekatan dengan sumoinya.

Ketika Salima tidak menjawab dan Kim-mou-eng meraih Salima, tiba-tiba gadis itu telah merapat di pelukannya yang mesra.

"Kau takut apa, Sumoi? Bukankah ada aku di sini?" "Itulah," Salima menggigil.

"Aku takut kehilangan dirimu, Suheng. Takut kalau kau... kalau kau..." Salima tidak meneruskan kata-katanya, terisak, dan tiba-tiba menangis di pelukan suhengnya.

Ketika Kim-mou-eng lagi-lagi mencium rambutnya dan Salima tergugu tidak dapat menahan diri, mendadak gadis itu melompat bangun dan melarikan diri!

"Suheng, aku tidak mau kau menipuku...!" Kim-mou-eng terkejut.

Salima telah berkelebat keluar dari kelenteng dengan cepat sekali, melesat di luar pintu, dan menangis dengan penuh kesedihan.

Kim-mou-eng, yang tentu saja kaget, heran, dan tidak mengerti, tiba-tiba mengejar dan berteriak memanggil, "Sumoi, tunggu...!" Namun Salima bergegas.

Gadis itu tidak peduli, meneruskan larinya, dan menangis tersedu-sedu.

Tapi Kim-mou-eng yang telah mengerahkan ginkangnya dan berkelebat melompati kepala sumoinya, tiba-tiba mencengkeram dan menahan sumoinya.

"Sumoi, tunggu...!" Salima hampir terguling.

Ia menabrak dan langsung terjungkal dalam pelukan suhengnya, kaget, dan berteriak keras melepaskan diri, meronta.

Namun Kim-mou-eng yang menotok tubuhnya hingga lemas tidak berdaya akhirnya membuat gadis itu menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya.

"Suheng, kau jahat. Kau buruk!" Kim-mou-eng membebaskan totokan sumoinya.

Sekarang Salima tidak melarikan diri lagi, tergugu dalam pelukannya.

Ketika tangis itu reda dan Kim-mou-eng mengerutkan alisnya, ia pun bertanya, "Sumoi, kenapa kau melarikan diri? Kenapa kau takut?" Salima terguncang.

Pundaknya yang terangkat naik turun itu masih terisak, tapi ketika suhengnya mengusap dan Kim-mou-eng memandang mesra serta mencium keningnya, mendadak Salima mengeluh.

"Suheng, kau sayang padaku, bukan?" "Tentu." "Dan kau tidak akan membiarkan aku berduka?" "Tentu.

Ada apa, Sumoi? Kenapa pertanyaanmu demikian aneh?" Kim-mou-eng tersenyum, mengangkat wajah sumoinya, dan tergetar melihat pandangan sumoinya yang lembut menusuk jantung serta mesra menggetarkan hatinya hingga hampir ia terpejam.

Tidak kuat melihat mata yang begitu bening indah menyapu wajahnya.

Ketika Salima tersenyum dan bibir yang merah basah itu bergetar, bergerak-gerak, tapi sukar mengeluarkan suara, mendadak seperti orang tersihir, tiba-tiba Kim-mou-eng menunduk dan... mencium bibir yang penuh daya pesona itu.

Begitu saja mengejutkan Salima!

"Sumoi, kau cantik!" Salima tersentak.

Bibirnya tiba-tiba telah dicium lembut, dikecup perlahan, dan akhirnya dilepaskan dengan kaget pula oleh Kim-mou-eng.

Sadar setelah berbuat. Seolah ia terbius oleh pengaruh sihir yang melumpuhkannya sekejap tadi!

Salima yang mengeluh tapi berseri girang mendadak merangkul suhengnya dan terengah memejamkan mata.

"Suheng, kau... kau nakal!" Kim-mou-eng tertegun.

Sekarang ia sadar akan perbuatannya tadi, mengeluh, dan diam-diam memaki kenapa ia tidak dapat menahan diri.

Mabuk sedetik oleh bibir yang bergerak-gerak indah itu.

Tapi melihat sumoinya tidak marah dan kini gadis itu mendekap tubuhnya erat, tiba-tiba Kim-mou-eng mundur dan tersenyum pahit.

"Sumoi, maaf. Aku... aku tidak sengaja!" Salima mengangkat mukanya.

Kim-mou-eng terpaksa memejamkan mata melihat pandangan yang begitu bening menghunjam, tidak malu-malu memandangnya. Hilang sudah rasa malu Salima tadi setelah suhengnya menciumnya.

Seakan mendapat kekuatan aneh dan pernyataan langsung dari adanya getaran cinta.

Salima yang tertawa-tawa sambil tersenyum, tiba-tiba menggeliat mencubit suhengnya.

"Suheng, kau memang nakal. Tapi aku tidak marah! Kau mencintaiku, bukan?" Kim-mou-eng membuka matanya.

Ia tersentak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan cinta!

Tapi melihat sumoinya tersipu manja dan ia juga telah melakukan sesuatu "panjar" hingga sumoinya tidak akan melupakannya seumur hidup, akhirnya Kim-mou-eng kebat-kebit menenangkan gejolak perasaannya, ia harus jujur.

"Entahlah, mungkin saja, Sumoi. Tapi kalau cinta sebagai kakak dan adik memang tidak kusangkal!" Salima tertegun, membelalakkan matanya.

"Eh, apa maksudmu, Suheng?" "Maksudku," Kim-mou-eng menekan semua ketegangannya.

"Aku harus jujur dan hati-hati menjawab persoalan yang satu ini, Sumoi. Bahwa aku tidak ingin membuatmu kecewa di kelak kemudian hari!" "Tapi... tapi..." Kim-mou-eng menyesal.

"Sudahlah, biar kita bicarakan persoalan yang satu ini lain hari saja, Sumoi. Aku tidak ingin melukai hatimu sebelum aku sendiri mendapat keyakinan." "Ah!" Salima tiba-tiba mundur selangkah.

"Tapi kau telah mencium bibirku, Suheng. Kau telah melakukan itu tanpa kuminta! Apakah itu bukan tanda cintamu kepadaku?" Kim-mou-eng merah mukanya.

"Aku kehilangan pikiran saat itu, Sumoi. Aku memang khilaf. Aku..." "Tidak!" Salima tiba-tiba membentak, pucat mukanya.

"Kau jawab saja sekarang, Suheng. Apakah perbuatanmu itu untuk menghina diriku atau memang timbul dari hasrat kasih sayangmu? Aku tidak mau dipermainkan!" Kim-mou-eng kaget.

"Sumoi, kenapa begini? Aku..." Kim-mou-eng menggigil, melihat sumoinya memandangnya berapi-api dengan air mata bercucuran.

Tapi karena ia saat itu juga tidak tahu apakah sebenarnya yang mendorongnya untuk melakukan ciuman tadi, akhirnya pemuda itu diam saja dan tidak meneruskan kata-katanya. Hal itu disambut kemarahan Salima yang tiba-tiba tersinggung, merasa terhina.

Marah bukan main. Merasa dipermainkan.

Salima yang memekik tinggi tiba-tiba mencelat ke depan menampar suhengnya.

"Suheng, kau menghina diriku. Plak-plak!" Kim-mou-eng terjengkang.

Ia roboh oleh tamparan sumoinya, bibirnya pecah, melelehkan darah, dan melompat bangun dengan raut muka berubah, kaki semakin gemetaran, tapi ia tidak membalas perbuatan sumoinya.

Salima yang tertegun melihat suhengnya kembali tidak bicara apa-apa selain melongo bagai orang bersalah, mendadak menangis tersedu-sedu dan memutar tubuhnya melarikan diri.

"Suheng, kau pemuda tidak berperasaan. Kau kejam. Aku bersumpah tidak mau disentuh pria lain setelah perbuatanmu tadi. Awas, aku akan membunuh setiap wanita yang coba-coba kau cintai!" Kim-mou-eng terperangah.

Ia sadar setelah sumoinya berkelebat lenyap, sadar oleh ancaman yang mengejutkan itu.

Maka meloncat sambil berteriak pendek, ia mencoba memanggil, "Sumoi, tunggu dulu. Aku akan memberi penjelasan...!" Namun Salima terlanjur dibakar kemarahannya.

Ia melengking di kejauhan sana, lengking penuh kecewa dan marah.

Ketika Kim-mou-eng terhuyung dan terseok mengejar, mendadak pendekar itu terguling keserimpet sebatang akar pohon.

Tak ayal Kim-mou-eng mengeluh, tubuhnya tiba-tiba menggigil tidak karuan.

Ada rasa salah dan cemas.

Tapi takut pada sepak terjang sumoinya yang bakal membuat geger, tiba-tiba pendekar itu melompat bangun, menggigit bibir dan mengeraskan hatinya mengejar sumoinya, mengerahkan ginkang, dan sebentar kemudian berkelebat ke arah tempat sumoinya tadi menghilang.

Begitu pendekar itu memanggil mengejar sumoinya, maka tempat itu pun sunyi ditinggal pergi.

Memasuki daratan tandus di luar Tembok Besar memang cukup menakutkan.

Padang ilalang disertai semak belukar yang kering dan gersang menimbulkan semacam perasaan ngeri untuk tinggal di sana. Melihat sekeliling penjuru, hanya terlihat tanah yang keras dan bumi yang retak.

Jarang ada rumput-rumput segar atau pepohonan yang hijau.

Jika seseorang ingin menjelajah seluruh wilayah itu, maka ia akan tercengang dan heran bahwa banyak permukiman yang sifatnya terpencar-pencar mengisi daratan yang gersang itu.

Itulah kaum atau suku nomaden. Bangsa pengembara yang terdiri atas banyak suku.

Tapi, satu dari sekian banyak suku adalah bangsa Tatar yang mendominasi wilayah daratan tandus itu.

Mereka berjumlah ribuan, hidup dari memelihara ternak yang jumlahnya juga ribuan.

Tidak kurang dari seratus ribu ekor hewan, baik domba maupun sapi.

Maklum, mereka tidak dapat hidup dari bercocok tanam karena tanah di daerah itu tidak subur dan hanya cocok untuk peternakan saja.

Bangsa Tatar yang hidup di tengah-tengah alam yang keras itu memang menciptakan mereka sebagai orang-orang yang keras pula.

Tapi mereka, seperti bangsa lain di dunia, juga menyadari arti pentingnya peraturan.

Mereka hidup dari satu wilayah ke wilayah lain, menggembalakan ternak-ternak mereka untuk mencari rumput-rumput baru.

Karena wilayah yang luas itu juga diisi oleh suku-suku bangsa lain yang sama-sama mencari makan, maka sering terjadi bentrokan dan permusuhan di antara kalangan orang-orang nomaden itu.

Tidak jarang di antara mereka terjadi saling bunuh besar-besaran, hanya untuk sekadar mempertahankan daerah berumput yang mereka kuasai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment