Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 37

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 37

Karena hidup yang keras membuat mereka juga menjadi keras, pertempuran atau pembunuhan yang terjadi di antara mereka lama-kelamaan menjadi hal yang biasa. Mereka terbiasa melihat darah dan tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan, terkadang berserakan di antara bangkai binatang yang turut terbunuh. Pemandangan itu tidak lagi mengerikan bagi suku-suku nomad tersebut karena mereka telah kebal terhadap penglihatan semacam itu.

Namun, suatu hari suku bangsa Tatar dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa pada pagi hari. Tujuh wanita hamil di kalangan mereka ditemukan tewas dengan kondisi perut terbelah dan janin yang masih merah berada di luar. Kejadian pagi itu cukup untuk menggemparkan seluruh suku. Terlebih lagi, janin-janin tersebut dicincang hingga hancur tak berwujud!

"Keparat! Siapa yang melakukan kekejian ini?" seluruh anggota suku bangsa Tatar meradang.

Mereka segera melapor kepada pemimpin mereka, Gurba, seorang laki-laki tinggi besar berkulit hitam yang biasa dipanggil "Hanggoda". Gurba adalah suheng dari Kim-moueng dan Salima. Saat itu dia tinggal sendiri karena Kim-moueng dan Salima telah pergi meninggalkan tempat tersebut. Kepergian kedua adik seperguruannya membuat pertahanan suku Tatar melemah, karena kini Gurba harus mengurus rakyatnya seorang diri tanpa bantuan orang-orang yang dapat diandalkan.

Mendengar laporan tersebut, Gurba terkejut dan marah besar. Dia segera menuju lokasi kejadian dengan kumis yang terangkat naik. Raksasa tinggi besar itu terbelalak melihat mayat tujuh wanita hamil tersebut. Perut mereka dibelah, memperlihatkan cincangan daging janin di dalamnya. Pemandangan itu begitu biadab hingga hampir membuat orang lain muntah. Perbuatan tersebut benar-benar tidak berperikemanusiaan.

Namun, Gurba melihat sesuatu di balik salah satu mayat. Dia membungkuk dan mengambil secarik kertas yang berisi pengakuan atau pertanggungjawaban dari pihak yang melakukan perbuatan tersebut. Begitu membacanya, mata raksasa hitam itu mendelik.

"Jahanam! Ternyata dari suku U-fak!" serunya.

Semua orang terkejut. Mereka teringat akan suku U-fak, sebuah suku besar yang paling memusuhi mereka. Dua bulan lalu, mereka sempat bertempur habis-habisan dan saling bantai. Suku Tatar hampir kalah jika Gurba tidak ada di sana. Suku U-fak adalah suku yang kuat dan menolak untuk tunduk. Mereka bahkan berusaha memaksa suku Tatar menyerah di bawah pimpinan dua laki-laki bersaudara bernama Uyin dan Unga. Keduanya pandai melempar lembing dan panah, serta memiliki ilmu silat tinggi yang hebat karena berguru kepada seorang ahli dari pedalaman Tionggoan yang konon jauh lebih sakti.

Gurba mengerang melihat kekejaman suku U-fak. Dia membentak berang kepada asistennya, Siga, seorang pemuda bertubuh kekar yang setia mendampinginya sejak kepergian kedua adik seperguruannya.

"Siga, siapkan dua ratus orang untuk menemaniku! Kita serbu tempat tinggal suku bangsa U-fak. Kita bunuh Uyin dan Unga!"

Siga mengangguk. Dia pun merasa geram melihat pembantaian terhadap tujuh wanita hamil tersebut. Ada semacam hukum tak tertulis di kalangan suku nomad bahwa mereka dilarang mengganggu wanita, apalagi membunuhnya, meskipun itu adalah musuh. Siga segera mengumpulkan dua ratus rekannya untuk memenuhi permintaan Hanggoda.

Pasukan kecil itu pun bersiap. Mereka adalah pasukan inti yang biasa menemani Gurba dalam peperangan membela rakyatnya. Sebagai pasukan terpercaya, mereka telah digembleng langsung oleh Gurba. Setelah siap, Gurba memimpin dua ratus pemuda Tatar yang gagah berani itu berderap menuju wilayah suku bangsa U-fak. Mereka sedikit banyak menguasai ilmu silat hasil didikan Gurba, terutama dasar-dasar bela diri dan gulat. Bangsa Tatar memang sangat menyukai gulat yang dicampur dengan teknik cengkeraman mirip Sin-na-jiu. Mereka cukup tangguh dan rata-rata memiliki buku-buku jari yang besar serta keras, sanggup meremas hancur batu sekepalan tangan.

Setelah dua hari perjalanan, mereka tiba di wilayah suku bangsa U-fak yang terletak di sebelah timur daratan tandus. Gurba segera membagi pasukannya menjadi empat bagian.

"Siga, kau pimpin teman-temanmu di sebelah utara. Tomba dan Lisang memimpin yang lain di selatan dan barat. Aku akan masuk melalui pintu timur."

Siga dan kedua temannya mengangguk paham. Mereka sudah cukup terlatih dan mengerti keinginan sang Hanggoda yang tegas. Tanpa banyak bicara, pasukan itu langsung memencar menjadi kelompok-kelompok kecil sesuai perintah. Setelah semua siap dan mengepung dari empat penjuru, Gurba memerintahkan lima puluh orang pasukannya untuk menunggu sejenak.

"Kalian tetap di sini. Aku akan menyelidiki keadaan."

Lima puluh orang itu mengangguk. Mereka sudah terbiasa dengan cara kerja pemimpin mereka yang selalu menyelidiki tempat musuh sebelum menyerbu secara terbuka. Mereka sangat memaklumi kesaktian sang pemimpin. Namun, Malunga yang merasa khawatir teringat akan jumlah suku U-fak yang besar bertanya, "Hanggoda, apakah aku boleh ikut?"

Gurba tertegun sejenak. "Kau di situ saja. Aku akan segera kembali."

"Tetapi Uyin dan Unga tentu sudah bersiap-siap, Hanggoda. Sebaiknya ada seorang di antara kami yang ikut agar tahu bila terjadi sesuatu."

Gurba tersenyum mengejek. "Baiklah, kau boleh ikut, Malunga. Tapi kau tidak boleh berbuat apa-apa bila dua keparat jahanam itu tidak ada di tempat. Mengerti?"

Malunga mengangguk. Dia adalah pemuda yang tegap, tangkas, cerdik, dan cukup berhati-hati. Sebagai adik dari Siga, dia biasa membantu Gurba untuk hal-hal serius. Malunga memiliki kemampuan silat dan gulat yang baik, serta merupakan pemuda berani yang sering membuat Gurba kagum.

Keduanya berangkat setelah Malunga menyimpan lembingnya. Mereka mendekati perkemahan suku U-fak yang tersebar di sekeliling padang rumput. Gurba tampak sangat geram; raksasa itu menggeretakkan giginya sementara tinjunya yang sebesar buah kelapa mengepal kuat. Tinju raksasa itu bisa menghancurkan kepala orang layaknya sebuah gada.

Saat mereka mendekati perkemahan, dua orang penjaga muncul dari balik kemah sambil bercakap-cakap. Mereka terkejut melihat bayangan raksasa besar di hadapan mereka. Namun sebelum sempat berteriak, keduanya roboh setelah Gurba membenturkan tinjunya ke kepala mereka.

"Dukk!"

Malunga kagum melihat kedua laki-laki itu jatuh tak berkutik. Tombak mereka terlepas dan Gurba menendang senjata itu ke arah Malunga. Gurba kemudian mencengkeram leher kedua orang itu dengan jari-jarinya yang sebesar pisang ambon hingga mereka membelalak kesulitan bernapas.

"Ayo, di mana pimpinan kalian!"

Kedua laki-laki bangsa U-fak itu hanya bisa mengeluh. Mereka tidak sanggup bicara karena terkejut melihat siapa yang datang. Namun, karena cekikannya terlalu keras dan Gurba lupa akan kekuatannya yang dahsyat, dia tidak sengaja meremas hancur tulang leher salah satu tawanannya.

"Krekk!"

Malunga terkejut melihat laki-laki itu tewas seketika dengan kepala terkulai dan tenggorokan hancur, persis seperti ayam yang disembelih. Menyadari keselamatan tawanan yang satu lagi, Malunga segera memperingatkan.

"Hanggoda, jangan bunuh dia! Kendurkan cekikannya, dia tidak bisa bicara!"

Gurba tersentak. Dia sadar bahwa cengkeramannya terlalu kuat hingga tawanannya tidak bisa bicara. Dengan geram, dia menendang mayat tersebut dan mengendurkan cekikan pada tawanan yang masih hidup.

"Ayo, di mana pemimpinmu? Jika tidak bicara, kau juga akan kubunuh!"

Laki-laki itu menggigil ketakutan. Dia ngeri melihat kematian temannya yang begitu mudah di tangan Gurba. Begitu cekikannya dikendurkan dan dia bisa bernapas kembali, dia segera berlutut sambil gemetaran.

"Ampun... aku tidak tahu di mana pemimpin berada, Tai-ong. Tapi tadi mereka mengadakan perjamuan di kemah besar. Hanya itu yang aku tahu. Ampun!"

"Di mana kemah besar itu?"

"Di tengah-tengah pusat perkemahan, Tai-ong. Kemah berwarna hitam!"

"Hm, kau tidak berbohong?"

"Tidak, aku berani bersumpah!"

Gurba mendengus, lalu mendepak laki-laki itu hingga terpental dan terguling-guling. Namun, begitu laki-laki itu berhasil bangkit, dia berlari terbirit-birit sambil berteriak, "Awas! Pemimpin bangsa Tatar datang! Dia membunuh U-kiat!"

Teriakan itu membuat seisi perkemahan menjadi riuh. Suku bangsa U-fak gempar mendengar kedatangan tokoh Tatar yang mereka takuti. Malunga yang marah oleh teriakan itu segera melempar lembingnya.

"Crep!"

Laki-laki itu roboh terjengkang dengan lembing menancap di punggung hingga menembus jantung. Dia tewas seketika dan tidak dapat berteriak lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment