Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 38

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 38

Suku bangsa U-fak yang telah berhamburan mendengar kedatangan Gurba dan mengepung tempat itu, tiba-tiba mengelilingi kedua orang tersebut dengan senjata di tangan. Masing-masing tampak beringas tetapi gentar, tertegun melihat kedatangan Gurba yang tersenyum mengejek memandang mereka. Mereka maklum akan kesaktian raksasa tinggi besar yang hebat luar biasa ini.

Ketika sebelas orang mendadak melempar tombak dan menyerang dari belakang, sekonyong-konyong Gurba mendengus dan mengebutkan ujung bajunya tanpa menoleh.

"Plak-plak-plak!" Sebelas tombak itu runtuh.

Gurba dengan mudah menangkis, lalu memutar tubuh dan kini memandang sebelas penyerangnya yang terkejut melihat tombak mereka tak berhasil mengenai raksasa tinggi besar itu. Saat Gurba menghentakkan kaki, sebelas tombak di atas tanah itu terpental melenting berdiri. Mendadak, Gurba mengebutkan kembali ujung bajunya, mendorong tombak yang tiba-tiba "bangkit" secara aneh tersebut. Ketika dia mengibas dan angin pukulan menyambar dari jauh, tiba-tiba sebelas tombak itu terbang dan balik menyerang tuannya sendiri!

"Crep-crep-crep!" Jeritan ngeri terdengar cepat, susul-menyusul hanya dalam sedetik.

Saat orang-orang memandang apa yang terjadi, sebelas tubuh roboh bergelimpangan dengan dada ditembus tombak. Itulah para penyerang gelap tadi! Gurba tertawa bergelak, mengerahkan kekuatannya, lalu tiba-tiba membentak.

"Tikus-tikus busuk, suruh dua pemimpinmu ke mari. Kalau tidak, kalian akan mati satu per satu!"

Suku bangsa U-fak gempar. Mereka telah melihat kematian sebelas orang rekan mereka. Namun, salah seorang di antaranya tiba-tiba berteriak menyuruh maju, membuat yang lain tersadar dari kagetnya dan merasa marah pada raksasa Tartar ini. Begitu mereka membentak dan menerjang maju, puluhan tombak menyerang dan menusuk Gurba bertubi-tubi dalam hujan serangan yang tiada henti.

Namun, Malunga membentak dan melompat ke depan. Ia menangkis dengan lembingnya yang sudah dicabut dari mayat laki-laki pertama tadi, melindungi Gurba dan menyambut puluhan tombak yang menghambur maju. Gurba terbahak dengan suaranya yang menyeramkan, lalu tiba-tiba menarik kedua pundak pembantunya itu dan melempar Malunga keluar dari kepungan seolah-olah Malunga adalah boneka ringan.

Begitu dia membentak dan Malunga terkejut di luar sana, puluhan tombak yang mengenai tubuh raksasa ini semuanya mental dan patah!

"Tak-krek-krek...!" Semua orang terkejut.

Mereka melihat kekebalan raksasa tinggi besar itu serta mata Gurba yang mencorong berkilat-kilat. Belum sempat mereka melompat mundur untuk menyelamatkan diri, Gurba telah menangkapi dan membanting orang-orang itu satu per satu ke atas tanah. Jerit kesakitan terdengar di sana-sini. Orang-orang itu kocar-kacir, tulang-tulang mereka patah, dan banyak di antaranya tidak dapat bangun lagi. Mereka roboh berpelantingan dan tumpang-tindih. Sebentar saja, sudah lima puluh orang yang menjadi korban!

Ketika Gurba menggereng dan memanggil Uyin serta Unga agar keluar menemuinya, para lawan mundur dengan muka pucat ketakutan. Mendadak, dua bayangan laki-laki berkelebat keluar melempar lembing mereka.

"Gurba, kami ada di sini... wuut!"

Gurba terkejut. Dua lembing panjang menyambarnya dengan dahsyat, dilontarkan oleh tangan yang ahli dan kuat. Namun, Gurba lagi-lagi tidak menangkis. Ia hanya mencibir, lalu menerima sambaran dua lembing itu. Senjata tersebut runtuh dan patah mengenai tubuhnya yang dilindungi kekebalan; ia sedikit terdorong tetapi tidak apa-apa.

Saat dia berdiri tegak, dua bayangan itu berjungkir balik turun di depannya. Tampaklah dua laki-laki gagah perkasa berumur sekitar empat puluh tahun berhadapan dengannya dengan mata berapi-api. Kepala mereka mengenakan topi burung. Uyin dan Unga!

"Gurba, kami telah datang ke sini. Jangan mengganggu orang-orang kecil yang bukan lawanmu!"

Gurba menggeram. Dia ganti memandang dua pemimpin suku bangsa U-fak itu dengan mata seolah siap menerkam. Teringat akan kematian tujuh wanita hamil rakyatnya, ia sedikit tertegun sekaligus heran karena dua kakak beradik yang pernah dikalahkan itu tidak menampakkan rasa takut sedikit pun. Berbeda dengan dahulu, kini mereka memandangnya dengan marah dan berapi-api. Begitu berani!

Gurba mengira keberanian dua pemimpin U-fak ini mungkin didorong oleh banyaknya anggota suku U-fak di situ. Akhirnya, ia mendengus dan bertanya dingin, "Uyin, kenapa kau membunuh tujuh wanita Tartar yang menjadi rakyatku? Menyangkalkah kau akan perbuatan biadab ini?"

Uyin, laki-laki di sebelah kanan, tertawa mengejek. "Kami tidak menyangkal perbuatan itu, Gurba. Kami sengaja melakukan itu untuk membalas dendam! Tapi mana pasukanmu yang gagah berani? Kenapa datang berdua?"

Gurba tertawa dingin. "Aku tidak perlu banyak bantuan untuk membunuhmu, Uyin. Sekalian aku ingin menguji apakah peraturan kaum nomad masih kau patuhi. Dulu kau kuampuni, kenapa sekarang demikian berani mati mencari penyakit? Apakah nyawamu rangkap?"

Unga, laki-laki di sebelah kiri, menjawab, "Gurba, kami telah siap menyambutmu dan pasukanmu. Peraturan kaum nomad tetap kami pegang teguh. Apa yang kau maui sekarang?"

"Tentu saja membunuh kalian!" Gurba membentak marah. "Mau apa lagi? Apakah kalian mengira aku melancong datang ke tempat ini? Kalian telah menyalahi undang-undang tak tertulis, Unga. Kalian telah mengganggu dan membunuh wanita!"

"Peduli amat!" Unga mencibir. "Kami menganggap semua orang Tartar adalah musuh, Gurba. Dan sekarang kami ganti akan membunuhmu... sing!"

Unga telah mengambil senjata baru dan menusukkan tombaknya ke perut Gurba. Ia membentak menyuruh kakaknya membantu, menerjang ke depan tanpa banyak bicara lagi. Ketika Uyin juga mencabut gendewa dan menyerang dengan anak panahnya yang digunakan layaknya tombak kecil, raksasa tinggi besar itu telah dikeroyok oleh kedua pemimpin suku bangsa U-fak tersebut. Gurba mendengus dan menangkis dengan kedua lengannya hingga tombak dan anak panah terpental.

Ketika Unga berteriak keras menerjang kembali, Uyin melengking tinggi di belakang adiknya itu. "Unga, mainkan Coa-mo-kun!"

Unga mengangguk. Dia meliuk-liuk dengan tombak di tangan, melenggak-lenggok dengan lemas. Mata tombak menyambar-nyambar bagaikan mulut ular yang mematuk ke segala penjuru. Sebentar saja, ia sudah memagut lawan bertubi-tubi. Ketika Uyin membentak dan memainkan anak panah seperti adiknya pula, kedua kakak beradik ini memainkan Coa-mo-kun secara berpasangan.

"Wut... plak-sing!"

Gurba menggeram. Sebenarnya dia telah mengetahui ilmu silat kedua pemimpin suku U-fak itu dan tahu mereka mahir memainkan Coa-mo-kun. Namun, karena dia memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dan sinkangnya mampu memberikan kekebalan terhadap tusukan senjata tajam, dia tidak takut dikeroyok.

Akan tetapi, Unga dan kakaknya ternyata kali ini bersikap lain. Mereka menyerang bergantian, sebentar di belakang, sebentar di muka. Tombak tidak melulu menyerang ke bawah tetapi juga ke atas, mengarah ke kedua mata Gurba yang tentu saja tidak dapat dilindungi sinkang. Hal itu membuat si raksasa terbelalak.

Ketika keningnya tergurat sekali dan Unga tertawa gembira, mendadak Gurba menggeram mendengar sorak-sorai suku U-fak yang senang melihat keberhasilan ini. Ia marah karena lawan selalu mengincar matanya. Saat tombak dan anak panah kembali menyambar matanya tetapi luput karena Gurba merendahkan kepala, raksasa tinggi besar ini meledakkan telapak tangannya. Ia mengeluarkan Tiat-lui-kang, ilmu yang sebenarnya jarang dia keluarkan jika tidak ingin cepat merobohkan lawan.

"Unga, kalian tidak dapat mengalahkan aku. Aku yang akan membunuh kalian, awas... darr!"

Gurba tiba-tiba mengejutkan lawan dengan mengeluarkan Tiat-lui-kangnya yang dahsyat hingga meledak nyaring. Bumi seketika bergetar sampai sepuluh orang jatuh terlempar, kaget oleh suara ledakan yang mengguncang itu.

Ketika Uyin and Unga tersentak sambil menyeringai menahan jantung yang seolah dipecah dari depan, Gurba telah berkelebat maju menangkap tombak dan anak panah mereka.

"Cep-krak!"

Unga dan kakaknya terkejut. Senjata mereka tahu-tahu telah diremas hancur menjadi bubuk di telapak Gurba yang penuh getaran tenaga Tiat-lui-kang, bahkan hangus terbakar. Saat mereka membelalakkan mata karena kaget oleh kelengahan ini, Gurba telah menampar kepala mereka dengan telapak tangan yang terbuka lebar.

"Unga, awas...!"

Uyin membanting tubuh dan bergulingan. Pemimpin utama suku U-fak ini kaget setengah mati, ngeri melihat telapak Gurba yang merah membara persis besi dibakar, sementara angin panas menyambar dari telapak raksasa itu dengan sangat dahsyat. Unga juga berhasil menyelamatkan diri dari pukulan Tiat-lui-kang tersebut.

"Bress!"

Bumi hangus kehitaman. Uyin dan adiknya melompat bangun, gentar dan ngeri oleh kedahsyatan raksasa ini. Tiat-lui-kang adalah ilmu yang amat ditakuti oleh kedua kakak beradik itu, ilmu yang dulu juga telah mengalahkan mereka.

Namun, saat Gurba melompat dan menubruk mereka bagai singa haus darah, tiba-tiba Uyin menjepret gendewanya, meluncurkan lima batang anak panah secepat kilat. Adiknya pun menyusul dengan menyerang menggunakan lima batang anak panah untuk menyambut tubrukan Gurba.

Ketika raksasa itu menggeram dan sepuluh anak panah runtuh mengenai tubuhnya, saat itulah tamparan Tiat-lui-kang menderu menyambar mereka.

"Plak-dess!"

Kedua kakak beradik ini mencelat. Mereka mengeluh tertahan dengan baju pundak yang hangus, lalu terguling-guling. Mereka hampir menjerit jika tidak menahan malu. Uyin serta adiknya segera melompat bangun dengan kaki terhuyung, lalu tiba-tiba berseru, "Bunuh orang ini!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment