Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 39

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 39

"Lepaskan anak panah!" Dan, begitu mereka melompat mundur dan ratusan orang merentangkan gendewa, tiba-tiba Gurba diserang hujan panah yang bukan main banyaknya. Hal itu membuat raksasa ini mengerang dan melindungi mukanya dari sambaran hujan panah, membiarkan panah-panah lain runtuh dan patah mengenai bagian tubuhnya yang lain karena dia kebal.

Dan ketika Gurba membentak dan mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan, tiba-tiba penyerang yang ada di depan bergelimpangan roboh, mendapat pukulan jarak jauhnya yang hebat bukan kepalang. Dia menderu bagai angin topan, mengejar Uyin dan adiknya yang berteriak-teriak di belakang pasukan.

Ketika pasukan kocar-kacir dan barisan depan tunggang-langgang dikibas raksasa tinggi besar ini hingga terbuka sebuah lubang, maka saat itulah secepat kilat Gurba menyambar dua lawannya itu, berkelebat mencengkeram mereka dengan jari-jari yang berkerotok. Tapi tepat saat Uyin dan adiknya terkesiap kaget, mendadak sebuah bayangan terkekeh panjang menangkis serangan Gurba ini.

"Hanggoda, tahan!"

*Duk!* Gurba tergetar.

Dia melihat seorang kakek muncul dengan amat tiba-tiba. Mukanya selalu tertawa tetapi matanya jelalatan. Seorang kakek pendek kecil yang menangkis cengkeramannya tadi membuat Gurba terdorong, sementara kakek itu berseru kaget dan terpental ke atas, berjungkir balik, dan kini melindungi dua pemimpin U-fak itu.

Ketika Gurba berhadapan dan Uyin serta Unga berlutut menyebut "Suhu" (Guru), segera sadarlah raksasa tinggi besar ini bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang berkepandaian tinggi! Namun Gurba tidak gentar. Dia terdorong setindak, sementara kakek itu terpental beberapa tindak. Berarti tenaganya lebih kuat dan dia tidak perlu takut.

Gurba yang tidak mengenal kakek ini dan baru kali itu berjumpa muka segera membentak dengan pertanyaan mengguntur. Dikelilingi ratusan suku U-fak yang kini mundur namun mengepung mereka dari jauh, dia bertanya, "Tua bangka, siapa kau dan kenapa mencampuri urusan ini? Kau jelas orang Han, bukan suku nomad. Kenapa berani mati mencari penyakit?"

Kakek itu terkekeh nyaring melengking. "Aku Siauw-bin-kwi, Hanggoda. Memang betul aku bukan orang nomad, tetapi dua orang ini adalah muridku. Kau berani mati mencari penyakit di sarang naga!"

"Siauw-bin-kwi (Iblis Muka Ketawa)?" Gurba tak mengenalnya. Dia mengerutkan kening karena memang belum pernah ke daerah pedalaman, tidak mengenal orang-orang sakti di sana, dan tidak tahu bahwa Siauw-bin-kwi adalah satu dari Jit-mo Kang-ouw (Tujuh Iblis Dunia Persilatan), iblis yang sakti dan tentu saja berkepandaian tinggi, setingkat dengan Sai-mo-ong dan kawan-kawannya.

Siauw-bin-kwi yang terkekeh dan mengangguk memandang kagum, tiba-tiba maju ke depan membelai jenggotnya yang putih—jenggot pendek mirip jenggot kambing. "Ya, aku Siauw-bin-kwi, Hanggoda. Kau pemimpin suku Tartar, bukan?"

"Benar."

"Kalau begitu, sebaiknya kita bersahabat. Dua orang muridku ingin menggabungkan suku U-fak dengan bangsa Tartar. Kau dapat menjadi pembantunya; ilmumu cukup hebat. Sebaiknya kau tidak perlu memusuhi kami dan tinggal bersama kami!"

Gurba mendelik. "Siauw-bin-kwi, siapa sudi berteman dengan musuh? Mereka telah membunuh tujuh orang rakyatku. Aku tidak terima dan harus membalas kekejaman ini!"

"Heh-heh, siapa yang membunuh cacing-cacing betina itu, Hanggoda? Mereka tidak melakukannya; yang melakukannya adalah aku. Aku sebal melihat janin mereka hanya akan menambah rakyatmu saja. Mereka tidak diperlukan. Suku U-fak kelebihan wanita. Sebaiknya orang-orang Tartar mengawini wanita U-fak saja!"

Gurba meraung. Dia benar-benar marah mendengar omongan ini. Dia sangat marah melihat kakek itu bicara tenang sambil mengelus-elus jenggot, seolah-olah meremehkannya. Gurba membentak dan melihat kakek itu menunggu jawaban, lalu tiba-tiba menerjang maju dengan pukulan Tiat-lui-kangnya. Dia kaget dan marah mengetahui kakek inilah yang membunuh tujuh wanita hamil itu. "Siauw-bin-kwi, kau iblis laknat keparat...!"

Siauw-bin-kwi tersenyum. Dia mengelak sedikit dan menyuruh dua orang muridnya mundur. Tetapi ketika Gurba membalik dan serangkum angin dahsyat menyambar dirinya, tiba-tiba kakek ini menangkis.

*Duk!* Siauw-bin-kwi terkejut. Dia lagi-lagi terpental, kaget melihat lawan memiliki tenaga hebat yang membuatnya tergetar. Dan ketika Gurba membentak serta bertubi-tubi menyerang dirinya yang jauh lebih kecil dibanding raksasa tinggi besar itu, akhirnya Siauw-bin-kwi berteriak berlompatan ke sana kemari. Dia mengerutkan alis karena Gurba memang hebat. Pukulan petirnya itu meledak dan membuatnya selalu terdorong, kaget oleh hawa panas yang menyambar-nyambar dari lengan raksasa ini.

Ketika dia terdesak dan satu benturan lagi membuatnya terpental, akhirnya kakek ini berseru memuji. Dia mulai menggeliat dan memainkan kedua kaki serta tangannya bagai ular hidup. "Hanggoda, kau memang hebat. Tak heran kalau dua muridku kalah!"

Gurba tidak menjawab. Dia terus menyerang dengan tamparan atau pukulannya yang menderu. Diam-diam dia kaget dan heran juga karena kakek ini cukup lihai; terpental tetapi tidak pernah roboh, berbeda dengan Uyin dan Unga tadi yang selalu terlempar bila menerima Tiat-lui-kang.

Ketika kakek itu membalas dan mulai meliuk-liukkan tubuh seperti orang menari, tetapi dari ujung jari-jarinya keluar sinar hitam yang berkeredap menyambut Tiat-lui-kangnya, tiba-tiba Gurba terkejut dan berseru tertahan, "Hek-kong-ci (Jari Asap Hitam)!"

Siauw-bin-kwi terkekeh. "Kau kenal pukulanku, Hanggoda? Bagus, kalau begitu pengetahuanmu cukup luas juga... *crit-bret!*" Dan Tiat-lui-kang yang lagi-lagi disambut Hek-kong-ci tiba-tiba membuat Gurba menggeram dan terdorong setindak. Dia melihat kakek itu terhuyung dua langkah dan terbelalak memandangnya.

Namun Gurba membentak dan maju kembali, akhirnya meledakkan Tiat-lui-kang untuk menghadapi Hek-kong-ci. Begitulah, dua orang ini lalu bertempur. Masing-masing pihak memiliki kelebihan yang tidak dipunyai lawan. Gurba dengan tenaganya yang dahsyat, sedangkan Siauw-bin-kwi dengan kelincahan tubuhnya yang mengagumkan. Dia memiliki ginkang yang demikian ringan hingga selalu terdorong dihembus pukulan Tiat-lui-kang. Tentu saja dia tidak dapat disentuh!

Gurba yang kaget serta penasaran oleh pertandingan ini sekonyong-konyong mengubah gerakan. "Siauw-bin-kwi, kau akan kubunuh mampus!"

Siauw-bin-kwi tertawa. Diam-diam dia juga penasaran oleh tenaga lawan yang hebat ini, merasa sinkangnya kalah setingkat atau mungkin lebih sedikit. Hal itu tentu saja membuat kakek iblis itu terbelalak karena tidak menyangka kelihaian raksasa Tartar ini. Dia tidak mengira bahwa di luar tembok besar dia akan menjumpai musuh yang begitu tangguh, hebat, dan tidak kalah oleh rekan-rekannya Jit-mo Kang-ouw di pedalaman sana.

Ketika Gurba membentaknya dengan ancaman menggelegar dan dia tertawa karena mengira lawannya hanya bermulut besar, mendadak Siauw-bin-kwi terperanjat saat dua sinar putih meluncur dari lengan Gurba, menyambar dan meledak menangkis Hek-kong-cinya. Ketika kakek itu terpental dan asap Hek-kong-ci buyar berantakan oleh pukulan yang lain ini, sekonyong-konyong tubuhnya terangkat naik dan untuk pertama kalinya menerima hantaman dahsyat dari dorongan Gurba.

*Des!* Siauw-bin-kwi merasa lumpuh. Dia terbanting dan terguling-guling oleh pukulan bersinar perak itu. Bukan lagi Tiat-lui-kang yang panas membara, melainkan jauh lebih hebat menekan dan mendorong Hek-kong-cinya hingga buyar berantakan. Tentu saja dia kaget bukan main, mencelat terlempar oleh dahsyatnya pukulan baru ini.

Ketika Gurba mengejar dan dia baru saja melompat bangun dengan kaki terhuyung, tahu-tahu pukulan kedua kembali menyambar dan tidak dapat dielakkan. *Des!* Siauw-bin-kwi kali ini memekik. Iblis Muka Ketawa itu tidak dapat tertawa; dia mengeluh dan terbanting keras di atas tanah. Ketika Gurba kembali mengejar dan dia cepat menggulingkan tubuh ke kanan, tiba-tiba kakek ini melenting bangun dengan muka pucat karena mengenali pukulan itu.

"Pek-sian-ciang (Pukulan Tangan Dewa)!"

Gurba tertegun. Dia menahan pukulannya sejenak, kaget bagaimana lawannya itu mengenal pukulannya. Tetapi Siauw-bin-kwi yang rupanya gentar dan ngeri oleh pukulan ini tiba-tiba memutar tubuh dan melarikan diri. "Uyin, kalian menyingkir saja. Raksasa hitam ini rupanya ada hubungan dengan Bu-beng Sian-su!"

Uyin dan adiknya terkejut. Mereka melihat guru mereka itu kabur dan sebentar kemudian lenyap di luar padang rumput. Hal itu membuat mereka kaget dan kecut bukan main karena harus menghadapi Gurba seorang diri! Benar saja, Gurba mendelik pada mereka berdua. Raksasa itu teringat kematian tujuh orang rakyatnya, lalu mendadak Gurba menggeram dan menubruk mereka!

"Uyin, terimalah kematian kalian dengan tenang!"

Uyin terkejut. Dia melemparkan tubuh ke belakang dan berteriak menyuruh anak buahnya melindungi mereka. Unga yang juga bergulingan menghindari pukulan Gurba tiba-tiba membentak menyuruh pasukannya maju melepaskan panah atau lembing agar raksasa Tartar itu terhalang.

Namun, Malunga yang melepaskan panah api sebagai isyarat bagi teman-temannya untuk datang menyerbu, tiba-tiba memekik membantu pemimpinnya. "Hanggoda, kejar dan tangkap dua pemimpin U-fak itu! Biar aku yang menghadapi tikus-tikus busuk ini!" Dan Malunga, yang sudah menggerakkan lembingnya menangkis hujan serangan pasukan U-fak, lalu membentak dan bertempur bagai macan haus darah. Sebentar kemudian disambut pekik kesakitan dari lawan yang mencelat atau tertusuk lembingnya; pandangannya bagai singa kelaparan.

Ketika sorakan dua ratus pembantu Gurba datang menyerbu dan menyerang pasukan U-fak di bagian belakang, akhirnya anak buah Uyin dan Unga berteriak kaget, kocar-kacir, dan kehilangan mental. Mereka sudah dipengaruhi kehebatan Gurba yang mengerikan itu, yang mencari dan mengejar Uyin bersaudara serta menyapu roboh setiap penghalang. Tidak ada satu pun senjata yang mempan melukai tubuhnya. Hal itu membuat pasukan U-fak gentar dan kocar-kacir, selalu menyingkir bila raksasa ini mendatangi mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment