Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 40

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 40

Suku U-fak dilanda ketakutan hebat menghadapi Gurba yang mengamuk mencari Uyin bersaudara. Dua pemimpin U-fak tak bisa lagi bersembunyi, terkejar dan terbelalak saat Gurba menggeram di belakang mereka.

Dengan nekat, mereka memekik sambil melepas panah. Namun, ketika semua panah runtuh dan Gurba semakin dekat, kedua kakak beradik itu mencabut tombak, menyerang membabi buta dengan marah bercampur ngeri. Serangan itu sia-sia karena tombak mereka menancap pada tubuh Gurba yang terbuat dari karet, keras namun kenyal.

Gurba menggeram dan menangkis tombak dengan tangan raksasanya yang dahsyat mengerikan. Akhirnya, kedua kakak beradik suku U-fak itu tertangkap.

"Hah, kalian mau apa lagi sekarang, Uyin?" Gurba menyambar keduanya, mengangkat dan mencengkeram tengkuk mereka seperti orang dewasa menangkap dua kelinci kecil. Uyin dan adiknya pucat pasi tak bisa bersuara.

Saat Uyin dan adiknya megap-megap meminta ampun, Gurba mengadu kepala mereka, melepaskan amarahnya. "Prakk!" kepala Uyin dan Unga pecah. Mereka tewas seketika, disambut mata terbelalak ngeri oleh anak buah mereka yang ada di sana.

Gurba melemparkan mayat kedua pemimpin itu. Suku U-fak gempar oleh kematian kakak beradik tersebut. Pertempuran berhenti. Suku U-fak menyerah, tak berani melawan lagi. Semuanya ketakutan, apalagi pemimpin mereka tewas di tangan Gurba, Sang Singa Daratan Tandus.

Gurba mengampuni mereka dan memerintahkan semua suku U-fak membuang senjata. Anak buah Uyin dan Unga dibawa ke perkemahan suku Tar-tar, menjadi tawanan perang selama beberapa hari.

Setelah menyatakan takluk dan meminta sendiri untuk bergabung serta membantu suku Tar-tar, orang-orang U-fak ini diberi kelonggaran dan membantu suku Tar-tar menggembalakan ternak. Gurba memperoleh tambahan tenaga baru. Rakyat Tar-tar semakin banyak, namanya semakin dikenal.

Orang-orang U-fak tunduk dan takut akan kesaktian raksasa tinggi besar itu, akhirnya membaur dalam suku Tar-tar yang kian besar. Jumlah mereka berlipat ganda, terjadi banyak perkawinan silang.

Gurba, pada dasarnya bukan pemimpin kejam yang suka mengandalkan kekuatan sendiri, membuat suku U-fak yang telah lebur dalam suku Tar-tar merasa lega dan girang karena benar-benar diampuni serta mendapat hak yang sama.

Kemenangan gemilang Gurba atas suku U-fak membuat suku Han (Tiongkok) yang ada di pedalaman cemas. Mereka mendengar kehebatan raksasa tinggi besar itu menundukkan suku-suku nomaden untuk disatukan di bawah panji Tar-tar.

Beberapa bulan kemudian, suku yang berpindah-pindah untuk menggembalakan ternak mendapat pemukiman tetap di dekat perbatasan. Orang-orang Han, khususnya Ang Bin-ciangkun, panglima di perbatasan utara, menjadi gelisah. Ia mengirim utusan untuk menjajaki keinginan bangsa Tar-tar, apakah mereka berniat menyerang pedalaman atau tidak, dengan pura-pura mengulurkan tali persahabatan.

Namun, ketika ketiga utusan itu pulang menjadi mayat tanpa kepala, panglima itu kaget dan marah. Ia menganggap bangsa Tar-tar sebagai bangsa biadab, liar, dan tak mengenal aturan. Panglima ini menyiapkan pasukan dan melapor ke kota raja. Suku Tar-tar bakal terkejut oleh serbuan besar-besaran yang akan dilakukan panglima itu. Mereka tak tahu bahwa tiga utusan itu tewas bukan karena perbuatan mereka.

* * *

Malam itu, tanpa menduga sesuatu yang buruk, Gurba duduk di kamarnya. Ia sedang bersamadhi, memulihkan kelelahan setelah sehari penuh mengurus rakyatnya yang kian besar. Tak ada yang boleh mengganggunya saat ia dalam keadaan itu.

Saat raksasa ini hening dalam samadhinya yang penuh konsentrasi, tiba-tiba terdengar suara burung kulik di malam yang sepi. Gurba tak mendengar. Ia telah masuk dalam alam keheningannya sendiri, menarik semua panca indra hingga tak merasa atau mendengar apa pun. Sikap samadhi yang sempurna.

Ketika suara burung itu terdengar bersahutan tiga kali di perkemahan suku Tar-tar, mendadak terdengar jeritan tertahan di tiga tempat. Namun jeritan itu tak berkelanjutan, lenyap seolah tercekik. Saat suara burung kulik kembali terdengar di tempat yang berbeda, tiba-tiba tiga bayangan meloncat masuk ke kemah raksasa tinggi besar itu.

Tiga orang kakek telah berdiri di sana. Salah satunya adalah Siauw-bin-kwi, Iblis Muka Ketawa itu, menyeringai memberi isyarat dan tertegun memandang Gurba yang duduk tak bergeming. Ia mirip arca yang menakutkan karena muka raksasa yang hitam berkilat itu, tak menyadari kedatangan mereka.

Siauw-bin-kwi menggerakkan jari menuding tanpa suara. Tiba-tiba temannya yang di sebelah kanan melompat dan menghantam kepala raksasa itu. "Dess!" Gurba mencelat terlempar. Raksasa ini masih duduk dalam sikap tak bergeming, tak berubah posisi kaki tangannya, bersila tapi kini membuka mata karena kaget. Tubuhnya menghantam dinding, hampir saja kemah itu jebol!

Gurba terbelalak, sadar akan bahaya dalam keadaan setengah terguncang. Kakek satunya yang di sebelah kiri juga meloncat menghantam pelipisnya. "Dess...!" Gurba kembali terpental. Raksasa ini kini berteriak keras, tubuhnya terbanting dan menggetarkan atap kemah. Begitu ia menggereng dan melompat berdiri, tiga lawannya terbelalak melihat raksasa itu sama sekali tidak apa-apa, seolah dua pukulan maut tadi hanyalah pukulan anak kecil yang tak bertenaga, hanya pukulan main-main saja.

Siauw-bin-kwi dan dua temannya yang mengerti itu adalah akibat kekebalan raksasa ini dengan sinkangnya yang luar biasa, mendelong dan tertegun memandang pemimpin bangsa Tar-tar itu. Gurba juga terbelalak. Ia melihat Siauw-bin-kwi di sana, bersama dua kakek cebol yang tidak dikenal namun dari merekalah ia mendapat pukulan curang. Hal ini membuat raksasa tinggi besar itu marah.

Gurba meloncat mengguncang tubuhnya, membentak lawan, "Siauw-bin-kwi, kau ada perlu apa datang ke sini? Siapa temanmu yang tidak tahu malu menyerang orang di saat siu-lian (samadhi)?" Siauw-bin-kwi terkejut. Ia kini sadar. Dua kakek cebol yang kagum memandang raksasa itu mendadak mencabut sabit bermata dua, terkekeh serak seperti burung malam di tengah kuburan, "Hehheh, kami Hek-bong Siang-lo-mo (Sepasang Iblis Kuburan Hitam), bocah Tar-tar. Kami datang untuk membunuhmu. Kau telah membunuh dua murid sahabatku, Uyin dan Unga!"

Gurba tertegun. "Kau Hek-bong Siang-Io-mo?" "Benar. Kau telah mendengar nama kami?" "Tidak, tapi rupanya kalian orang-orang pedalaman suka mencampuri urusan orang lain. Bagus, kalian akan kutangkap!" Gurba yang tidak mau banyak bicara lagi dan sudah membentak ke depan tiba-tiba menubruk dan mencengkeram dua kakek cebol itu, menggereng melepas Tiat-lui-kangnya.

Namun Hek-bong Siang-lo-mo yang sudah siap dengan sabit di tangan tiba-tiba tertawa menggerakkan senjata mengerikan itu, menyelinap ke kiri dan ke kanan. "Crat-bret!" Gurba terkejut. Ia melihat dua kakek cebol itu gesit bukan main, mampu menghindar terkamannya dan menyelinap di bawah ketiaknya, membalik dan membabatkan sabit mereka ke tubuhnya hingga bajunya robek. Lawan juga terkejut karena sabit mental bertemu tubuh Gurba yang keras!

Gurba kembali menggeram dan menyerang lawannya. Hek-bong Siang-lo-mo berseru pada Siauw-bin-kwi, "Setan ketawa, rupanya raksasa ini kebal akan senjata tajam. Hayo maju dan ganggu dia, dia memang hebat!" Siauw-bin-kwi tertawa, matanya bersinar-sinar. "Aku sudah memberi tahu pada kalian, Lo-mo. Karena itu hati-hati. Awas pukulan Pek-sian-ciangnya!"

Gurba menggeram dan Hek-bong Siang-lo-mo menyerang berputaran. Tiba-tiba Siauw-bin-kwi maju menerjang melepas Hek-kong-cinya. Kini mengerubut tiga raksasa tinggi besar itu, membentak dan membuat Gurba marah. Pukulan serta sabit mulai menyambar-nyambar. Kemah itu tidak begitu besar untuk dijadikan ajang pertempuran, tiba-tiba kemah itu roboh ketika empat orang yang bertempur ini saling hantam. "Bress!"

Gurba dan tiga orang lawannya terkejut. Mereka semua tergulung di dalam, terbungkus bagai babi terjebak. Namun Hek-bong Siang-lo-mo yang mempunyai sabit sudah keluar membacok kemah itu dengan teriakan tinggi, melesat disusul Siauw-bin-kwi dan Gurba yang juga tak mau dijadikan umpan sasaran.

Keempat orang ini meloncat dan mengejutkan kemah-kemah lain yang bertebaran tak jauh dari situ. Suku bangsa Tar-tar terbangun dan kaget oleh keributan itu, melihat pemimpin mereka dikeroyok tiga orang lawan yang tak mereka ketahui kedatangannya. Begitu melihat Siauw-bin-kwi yang mereka kenal sebagai guru Uyin dan Unga, dan beberapa orang berteriak melihat tiga mayat di tempat mereka, orang-orang Tar-tar menjadi gempar dan marah.

"Hanggoda, kakek itu telah membunuh tiga orang di sini." Gurba gusar. Semua kemah tiba-tiba memasang obor, membuat tempat itu terang benderang. Siauw-bin-kwi dan dua temannya terkekeh, menyerang dan kini bergerak cepat sekali hingga lenyap tubuh mereka. Hanya merupakan bayangan cepat yang bagi orang awam tak diketahui lagi mana Hek-bong Siang-lo-mo atau Siauw-bin-kwi.

Gurba mendapat beberapa pukulan dan terhuyung mundur. Mendadak Siga dan adiknya yang sudah ada di situ membentak maju membantu pemimpin mereka ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment