Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 41

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 41

"Hei, mundur...!" Gurba terkejut melihat pembantunya itu menyerang penuh keberanian.

Namun Siga dan Malunga yang rupanya terlanjur maju tidak dapat menarik diri.

Mereka telah menusuk Hek-bong Siang-lo-mo dengan tombak mereka, disambut kekeh dua kakek iblis itu yang menggerakkan sabit.

Begitu tombak ditangkis dan patah menjadi dua, sekonyong-konyong senjata mengerikan di tangan Hek-bong Siang-lo-mo menyambar leher dua kakak beradik ini.

"Awas...! Plak-bret!" Gurba melepas Tiat-luikang-nya, kaget dan berseru keras melihat ancaman bahaya bagi kedua pembantunya itu. Ia menarik dan melempar mereka jauh keluar dari pertempuran.

Ketika Siga dan adiknya terbanting di luar sana, kedua kakak beradik itu tertegun melihat leher baju mereka terkuak lebar, sementara kulit sedikit tergores berdarah!

"Ah...!" Suku bangsa Tar-tar terkejut.

Mereka melihat kelihaian dua kakek cebol itu, mendengar mereka tertawa dan menantang agar yang lain maju.

Ketika Gurba membentak dan melarang pembantunya maju karena ia dapat menghadapi ketiga lawannya itu, pertempuran kembali terjadi dan kini mulai berpindah-pindah.

Siauw-bin-kwi dan kedua temannya bertempur seperti orang bermain kucing-kucingan.

Sebentar di belakang, sebentar di muka.

Ketika pertempuran berjalan empat puluh jurus dan masing-masing pihak sama penasaran karena belum ada yang rubuh, mendadak saat itulah terjadi kegemparan baru karena barisan besar yang tidak diketahui tiba-tiba menyerang dari belakang, disusul derap kuda yang meringkik memecah keheningan malam, menyerbu dan menggilas perkemahan suku bangsa Tar-tar itu yang tentu saja terkejut bukan main.

Ketika jerit kesakitan terdengar memecah malam, saat itu muncullah seorang panglima yang memimpin serbuan besar-besaran ini: Ang Bin-ciangkun, panglima kerajaan yang bermuka merah itu!

"Gurba, kau tidak tahu dihormati orang.

Kami datang atas nama Kaisar untuk menuntut pertanggungjawabanmu!" Gurba dan sukunya terkejut.

Sekarang mereka mengetahui penyerang itu, rupanya orang-orang kerajaan, pasukan di balik tembok besar.

Hal yang tidak mereka sangka, mengejutkan, sekaligus mengherankan.

Namun, pasukan besar yang sudah menyerang dan kini menyerbu di balik kegelapan itu tiba-tiba sudah meluruk, membuat gaduh, membunuh, dan mulai membasmi suku bangsa yang dianggap liar ini dengan tombak dan golok.

Tidak lama kemudian, orang-orang Tar-tar mulai roboh karena mereka berada di tempat terbuka yang terang oleh obor buatan mereka sendiri.

Ketika korban mulai bergelimpangan dan jerit serta pekik kematian terdengar di mana-mana, mendadak Gurba membentak menggetarkan bumi, marah bukan main, dan menyuruh semua orang memadamkan obor!

"Matikan obor, jangan biarkan musuh menyerang kalian di tempat terbuka...!" Mereka sadar.

Dua ratus pasukan Tar-tar yang merupakan pasukan khusus sudah berpencar memadamkan obor; bahkan di antaranya ada yang membuang obor itu ke tanah hingga padam sendiri.

Tentu saja, keadaan menjadi gelap gulita dan pasukan musuh terkejut, tidak menyangka kecerdikan Gurba yang menyelamatkan rakyatnya.

Karena orang-orang Tar-tar jelas lebih mengenal tempat sendiri dibandingkan mereka, akhirnya pasukan Ang Bin-ciangkun ini ganti memekik dan terguling roboh ketika suku bangsa itu balik menyerang mereka.

"Crat-aduh...!" Orang-orang Ang Bin-ciangkun berteriak.

Mereka ganti mendapat serangan di tempat gelap, ribut, dan mencari selamat sementara lembing dan panah meluncur membabi buta, menuju ke arah mereka karena orang-orang Ang Bin-ciangkun itu terjebak di tengah-tengah.

Tentu saja, menjadi sasaran yang mudah dan empuk.

Ketika Gurba menyuruh pasukannya melepas panah berapi dan orang-orang Tar-tar berteriak membalas penuh semangat, tiba-tiba pasukan kerajaan itu terbakar dan banyak yang bergulingan menjerit-jerit, jatuh dari atas punggung kudanya atau roboh ke semak belukar.

Suasana menjadi kalut, dan pasukan lawan pun dibantai habis-habisan.

Tentu saja, Ang Bin-ciangkun marah dan menyuruh pasukannya mundur.

Ketika suku bangsa Tar-tar menyerbu dan kegelapan malam membantu mereka karena orang-orang itu lebih mengenal tempat sendiri dibandingkan lawan, akhirnya Ang Bin-ciangkun terdesak hebat dan mengorbankan banyak pasukannya.

Panglima bermuka merah ini mengumpat-caci, tidak dapat memberi komando karena anak buahnya kocar-kacir.

Tidak lama kemudian, lebih dari separuh pasukannya binasa.

Karena lawan terlalu kuat dan pertempuran di dalam gelap jelas tidak menguntungkan pihaknya, akhirnya panglima ini menyuruh pasukannya melarikan diri ke dalam tembok besar, dikejar dan diserang oleh pasukan Gurba yang marah oleh serbuan tiba-tiba itu.

Namun, karena keadaan memang gelap dan musuh juga melawan mati-matian, akhirnya suku bangsa ini kembali dan tertegun memandang Gurba yang berdiri tegak di tengah-tengah perkemahan yang porak-poranda, dengan puluhan batang panah menancap di tubuhnya. Sementara itu, tiga orang lawannya sudah tidak ada lagi, entah ke mana.

Namun, ketika raksasa itu mengguncang tubuhnya dan puluhan anak panah rontok ke bawah, terdengarlah geraman pemimpin suku bangsa Tar-tar ini.

"Siga, mana adikmu?" Siga pun menangis.

Ia membawa adiknya yang telah menjadi mayat, korban pertempuran sekejap yang mengguncangkan itu.

Malunga ternyata tewas dalam perang yang kalut di tengah kekacauan itu.

Ketika Gurba melihat bahwa Tomba dan Lisang juga luka parah sementara suku bangsanya tewas lebih dari empat ratus orang, akhirnya Gurba mendelik, memaki-maki panglima bermarga Ang dari dalam tembok besar itu, menyangka Siauw-bin-kwi dan Hek-bong Siang-lo-mo datang mengacau atas suruhan sang panglima itu.

Gurba yang tentu saja marah besar oleh kejadian ini lalu menyiapkan pasukannya untuk bergerak ke dalam tembok besar.

Membalas!

Malam itu, semua suku bangsa Tar-tar berkabung.

Sepuluh pembantu terbaik Gurba tewas, termasuk Lisang dan Tomba yang tidak dapat diselamatkan.

Luka-luka mereka terlampau berat akibat pertempuran yang kacau itu.

Ketika keesokan harinya Gurba mengurus sisa-sisa pasukannya dan mendapati kenyataan bahwa pihak lawan juga banyak yang terbunuh karena mayat pasukan Ang Bin-ciangkun berceceran di mana-mana, akhirnya raksasa ini mengajak semua rakyatnya meluruk ke tembok besar.

Di sana Gurba membalas. Ia menyuruh wanita dan anak-anak tinggal di luar tembok, lalu menerjang dan maju mendobrak tembok besar yang kokoh serta tinggi itu.

Namun, karena raksasa ini memiliki kesaktian tinggi dan ia dapat memasuki tembok besar seorang diri serta mengamuk di dalam sana, pasukan Ang Bin-ciangkun pun geger.

Pemimpin bangsa Tar-tar itu benar-benar hebat.

Ia mirip singa kelaparan; tidak ada satu pun yang mampu melukainya dan tahan terhadap amukannya yang dahsyat.

Ketika pasukan Ang Bin-ciangkun kacau balau karena mereka juga masih kelelahan oleh pertempuran semalam, dan Gurba mengamuk seorang diri, akhirnya Ang Bin-ciangkun melarikan diri dan Gurba membuka pintu gerbang.

Di sinilah serbuan suku bangsa Tar-tar dimulai.

Mereka bergerak bagai air bah yang membanjir masuk, terus bergerak ke dalam karena Gurba mengajak pasukannya untuk membasmi dan membunuh orang-orang kerajaan secara besar-besaran.

Mereka merasa dilukai lebih dulu, diserang tanpa diberi alasan.

Begitu raksasa ini mengamuk dan kota demi kota direbut, akhirnya kota raja menjadi gempar oleh sepak terjang raksasa tinggi besar ini.

Kaisar terkejut, terbelalak, dan tertegun mendengar kehebatan pemimpin suku bangsa Tar-tar itu.

Ia melihat panglimanya sendiri terluka karena Ang Bin-ciangkun tidak dapat menghadapi raksasa yang lihai itu.

Ketika sebulan kemudian Gurba telah berada di luar kota raja dan tinggal beberapa kilometer lagi dari pusat pemerintahan Kaisar Yuan Ti, akhirnya Kaisar dan seluruh pembantunya panik.

"Panggilkan Kim-taijin! Juga Han-taijin, suruh menghadap!" Kedua penasihat kaisar itu datang.

Mereka telah mendengar kekacauan yang terjadi, mengerutkan kening, dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan junjungannya.

Ketika Kaisar bertanya pada mereka apa yang harus dilakukan untuk menahan serbuan bangsa Tar-tar, akhirnya Kim-taijin memberi saran.

"Sri Baginda, apa yang terjadi adalah kesalahan kita.

Kita terlalu merendahkan suku bangsa yang kita anggap liar itu.

Kita tidak menyelidiki kekuatan lawan.

Sekarang mereka menyerbu, bahkan lima kota telah mereka rebut secara gemilang.

Bagaimana kalau Jit-liong Ciangkun menghadapi raksasa yang lihai itu dan mengerahkan seluruh kekuatan?

Hamba khawatir kemajuan mereka tidak dapat dicegah, Sri Baginda.

Sebaiknya suruh saja Jit-liong Ciangkun menghadapi lawan dengan pasukan besar!" "Hm, tapi Bu-ciangkun khawatir kegagalannya, Taijin.

Kabarnya raksasa itu adalah suheng dari Kim-mou-eng!" "Tapi kita belum mencobanya, Sri Baginda.

Mengapa takut?" Kaisar bingung, memandang Bu-ciangkun yang berjuluk Tangan Baja.

"Bagaimana pendapatmu, Ciangkun?

Benarkah perkataan Kim-taijin ini?" Bu-ciangkun menunduk, merah mukanya.

"Maaf, hamba bukan takut sebelum kalah, Sri Baginda.

Namun, kenyataan yang lalu mengecilkan hati hamba.

Kim-mou-eng saja tidak dapat kami hadapi secara bertujuh, bagaimana suheng-nya yang kini mengamuk itu dapat kami tundukkan?

Raksasa itu kabarnya hebat sekali; hamba sangsi kalau ucapan Kim-taijin dapat dilaksanakan dengan mudah!" "Jadi, bagaimana?

Apakah kita harus membiarkan saja raksasa liar dan bangsanya yang biadab itu menyerbu istana?

Kalian harus dapat mengatasi persoalan ini, Ciangkun.

Kalau tidak, percuma saja kalian kuangkat sebagai panglima!" "Baik," Bu-ciangkun terpukul.

"Hamba akan mencobanya, Sri Baginda.

Namun mohon ampun kalau kami gagal!" Kaisar menjadi marah.

Ia tersinggung oleh sikap panglimanya yang tampak kecil hati.

Karena enam panglima yang lain juga menundukkan kepala dan bersikap seperti Panglima Bu, masing-masing cemas karena mereka telah mendengar kehebatan Gurba dari mulut Ang Bin-ciangkun.

Mereka terkejut dan tidak menyangka bahwa pemimpin bangsa Tar-tar itu ternyata adalah suheng dari Kim-mou-eng.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment