Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 42

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 42

Tapi karena mereka juga malu dan menganggap Gurba sebagai pengacau liar yang telah membunuh tiga utusan kerajaan, akhirnya tujuh panglima ini mengepal tinju, membesarkan hati.

Gerakan suku bangsa Tar-tar itu harus dibendung, bahkan kalau bisa harus dipukul mundur dan dihancurkan.

Dan ketika Kim-Taijin sebagai penasihat Kaisar menyarankan pada mereka agar menyerang dari tujuh sudut pasukan lawan yang kini berada di luar kota raja itu, akhirnya Jit-liong Ciangkun setuju dan mengatur siasat.

Han-Taijin sementara diam saja, menyetujui dan mengiyakan rekannya yang ditanya sang junjungan.

Dia pun belum mempunyai akal karena ingin tahu lebih dulu bagaimana hasil usaha Tujuh Panglima Naga ini.

Dan ketika serbuan itu dilakukan dan bangsa Tar-tar mendapat serangan besar-besaran dari gabungan Tujuh Panglima Naga ini, maka pertempuran besar yang amat hebat tak dapat dicegah lagi.

Jit-liong Ciangkun langsung mengeroyok Gurba.

Mereka merencanakan harus membunuh raksasa itu karena lawan inilah yang paling berbahaya, pemimpin sekaligus dewa yang amat diandalkan suku bangsa Tar-tar.

Jadi, harus melumpuhkan raksasa itu karena yang lain-lain tentu gampang diatur kalau raksasa ini dapat dirobohkan.

Tapi ketika Gurba mengamuk dan untuk pertama kalinya Jit-liong Ciangkun merasakan kelihaian raksasa ini, mendadak semua keinginan buyar berantakan karena Jit-liong Ciangkun mengorbankan tiga orang rekan mereka yang tewas terbunuh!

Gurba terlampau hebat, terlalu sakti bagi mereka, dan kebal akan semua pukulan maupun bacokan senjata tajam.

Benar-benar membuat orang kewalahan.

Dan ketika berturut-turut Ang Binciangkun dan Liok-Ciangkun roboh, disusul Bengciangkun yang bersenjata golok itu tewas di tangan raksasa tinggi besar ini, akhirnya Bu-Ciangkun dan tiga rekannya yang masih hidup terpaksa mundur dan melarikan diri!

Gurba dan pasukannya mengejar.

Tapi ketika Bu-Ciangkun dan kawan-kawannya memasuki kota raja dan semua pintu gerbang ditutup sementara pasukan kerajaan yang besar jumlahnya bertahan mati-matian, maka empat panglima yang masih selamat ini dapat menyelamatkan dirinya.

Mereka melapor, menggigil dan pucat menghadap Kaisar yang terbelalak oleh berita ini.

Kaget bahwa tiga dari Tujuh Panglima Naga tewas di tangan pemimpin suku bangsa Tar-tar itu.

Dan Kaisar yang tertegun oleh kekalahan ini akhirnya gemetar dan cemas memandang semua pembantunya, merasa putus asa.

Tapi Han-Taijin yang kini maju melangkah, menjatuhkan diri berlutut, berkata dengan suara nyaring, jelas, dan memberi harapan baru, "Sri Baginda, hamba mempunyai akal untuk menyelesaikan persoalan ini. Kalau Sri Baginda mau akal ini, boleh dicoba!"

Sri Baginda terbelalak, masih ragu dan bingung. "Akal apa, Taijin? Meminta bantuan orang luar?"

"Tidak, orang kita sendiri dapat melakukannya, Sri Baginda. Tapi terus terang saja mengandung risiko yang berat."

"Apa itu? Siapa yang dapat melakukannya?"

Han-Taijin lalu bercerita. Dia menerangkan pada Sri Baginda bahwa Gurba adalah seorang gagah perkasa yang keras hati, kaku, dan tak mudah diajak kompromi kalau keadaan sudah seperti itu.

Tapi Han-Taijin yang telah menyelidiki keadaan raksasa Tar-tar yang lihai ini mendapat kenyataan akan satu kelemahan raksasa itu.

Bahwa Gurba tak akan menyerang wanita, amat menghargai wanita, dan selama ini masih bujangan. Konon katanya secara diam-diam mencintai *sumoi*-nya dan merana karena *sumoi*-nya tak mengacuhkannya, karena Salima mungkin mencintai *suheng*-nya nomor dua, Kim-mou-eng.

Dan Han-Taijin yang hendak memasuki kelemahan ini dengan mengajukan seorang wanita untuk menggoda pemimpin bangsa Tar-tar itu akhirnya berkata pada Sri Baginda, "Sebaiknya kirim seorang selir Paduka yang terpandai, Sri Baginda. Bujuk dan jebak raksasa itu agar melakukan hubungan badan!"

Kaisar terkejut. "Kenapa begitu? Apakah tak berbahaya?"

"Tidak, karena ini memang risikonya, Sri Baginda. Tapi begitu raksasa itu terjebak dan melakukan hubungan badan dengan selir Paduka, maka seluruh bangsa Tar-tar akan membenci dan mengutuk perbuatannya karena suku bangsa ini pantang berzina dengan wanita yang sudah bersuami!"

Kaisar terkejut, tapi girang bukan main. "Ah, kalau begitu boleh kuterima akalmu, Taijin. Kirimkan saja Bi Nio ke sana. Dia pandai dan merupakan selirku yang mahir bermain cinta!"

Han-Taijin gembira. Dia merasa optimistis akan usulnya ini, sementara yang lain masih ragu-ragu dan kurang percaya.

Tapi Kaisar yang sudah memanggil Bi Nio dan menyuruh selirnya yang cantik itu menghadap dan mendengarkan apa yang direncanakan, akhirnya ditanya Kaisar tentang kesanggupannya.

Apakah selir itu bersedia dan berani memikul tugas yang berat ini, siap dikirim ke tempat suku bangsa yang dianggap liar itu? Liar, tapi pantang berzina dengan wanita yang sudah bersuami, karena perbuatan itu dianggap pengecut. Tidak jantan. Jadi, bertolak belakang dengan kegagahan dan keberanian yang diagul-agulkan bangsa itu.

Dan Bi Nio yang tentu saja terkejut dan berdebar mendengar tugas yang berat ini, akhirnya mengangguk, jelas tidak berani menolak dan menjatuhkan dirinya berlutut.

"Hamba akan coba melaksanakannya sekuat mungkin, Sri Baginda. Tapi kalau gagal, mohon Paduka sudi memberi ampun!"

"Tidak, kau pasti berhasil, Bi Nio. Suku bangsa Tar-tar takkan menyerang atau membunuh wanita. Itu merupakan pantangan bagi mereka."

Bi Nio segera dikirim. Wanita ini kebat-kebit melakukan tugasnya, sudah mendengar akan kebuasan bangsa itu dalam peperangan. Entah benar atau tidak bahwa dia tidak akan diganggu.

Selir Kaisar itu segera digiring dihadapkan pada Gurba yang saat itu berada di kemahnya. Tentu saja dia diawasi dari jauh secara diam-diam oleh orang-orang Kaisar yang mengantarnya, menunggu isyarat wanita itu apakah dia berhasil atau gagal.

Luncuran panah biru sebagai tanda keberhasilan dan luncuran panah merah sebagai tanda kegagalan. Jadi, semua sudah dibicarakan sebelumnya.

Dan Bi Nio yang ditangkap dan dihadapkan pada raksasa tinggi besar itu sebagai tawanan yang dicurigai, akhirnya menghadap dan berhadapan dengan Gurba. Berhasilkah wanita ini mengemban tugasnya? Atau gagal? Mari kita lihat bersama.

Saat itu, Bi Nio gemetaran. Dia jelas takut dan cemas dibawa menghadap pemimpin suku bangsa itu. Sudah mendengar perihal Gurba yang amat ditakuti dan merupakan "momok" bagi Jit-liong Ciangkun dan teman-temannya.

Dia gemetar karena dia belum biasa melakukan pekerjaan itu, merayu dan menghanyutkan musuh dalam permainan cinta. Hal yang belum pernah terbayangkan seumur hidupnya!

Tapi setelah dia berhadapan dengan Gurba dan melihat raksasa itu memang menyeramkan tapi tidak galak kepadanya, karena mungkin dia wanita, maka Bi Nio sedikit tenang dan dapat menenteramkan diri ketika Gurba bertanya kepadanya, kaku tapi tidak bengis.

"Kau siapa?"

Bi Nio menjatuhkan diri berlutut, melirik gentar. "Aku Bi Nio, Baginda. Tersesat dan tidak sengaja memasuki perkemahan pasukan."

"Hm, kau tinggal di mana?"

"Di dusun Lee-chung."

"Di mana itu dusun Lee-chung?"

"Sebelah barat kota raja, Baginda. Aku anak kepala kampung yang ditinggal saudara-saudaraku di tengah jalan."

Gurba memandang tajam dan melihat bahwa wanita ini adalah orang biasa, artinya tidak pandai silat dan merupakan wanita lemah. Pandangan matanya mengatakan itu.

Tapi melihat Bi Nio ini memiliki kecantikan yang menonjol, agaknya tidak pas kalau hanya sebagai putri kepala kampung, maka kecurigaan timbul di hatinya. Alisnya yang tebal hitam itu mulai berkerut, tanda Gurba tak senang Bi Nio datang mengganggunya.

Tapi belum dia bicara atau menyuruh wanita itu bangkit berdiri, mendadak Bi Nio sudah menangis. "Hanggoda, malam ini biarkan aku di sini. Aku tak mau diantar pulang!"

Gurba terkejut. "Kenapa?"

Dan Bi Nio tersedu-sedu, "Aku takut kemarahan ayahku, Hanggoda. Aku belum berhasil menengok bibiku yang sakit di kota raja!"

"Kau mau ke sana?"

"Ya, tapi gerbang kota raja tertutup, Hanggoda. Aku tak tahu kalau ada peperangan di sini. Aku takut. Aku tak mau diantar pulang!"

"Hm!" Gurba tertegun. "Kau patut kucurigai, Bi Nio. Dan kau memang tak kuantar pulang karena kau adalah tahanan!"

"Ah!" Bi Nio pura-pura terkejut. "Lalu bagaimana nasibku, Hanggoda? Apakah kau akan membunuhku?"

"Tidak," Gurba menggeleng. "Kami bukanlah bangsa yang suka mengganggu atau membunuh wanita. Tapi karena malam-malam kau datang ke sini dan kedatanganmu jelas mencurigakan, maka dirimu kutangkap dan kukurung, sampai kau tidak membahayakan kami!"

Bi Nio mengusap air matanya, terbelalak, "Aku dapat membahayakan pasukan Hanggoda? Kau kira aku mata-mata atau penyelundup?"

"Hal itu masih harus dibuktikan. Kalau kau benar-benar tersesat dan tidak mengganggu kami, secepatnya kau akan kami usir. Bangsa Tar-tar pantang kedatangan wanita Han yang dianggap musuh!"

"Jadi bagaimana nasibku, Hanggoda?"

"Tergantung keberuntunganmu. Kalau kau tidak bohong, tentu kau bebas. Tapi kalau kau bohong, maka kau akan menerima hukuman setimpal sebagai penipu dan pendusta."

Bi Nio kedap-kedip. Kedua matanya bermain-main, tersenyum dan mulai merasa bahwa raksasa tinggi besar ini sesungguhnya ramah, baik, dan tidak ganas terhadap wanita. Berkali-kali melihat Gurba melengos ketika ia berani membalas pandangan, bertatap muka terang-terangan untuk mengagumi pemimpin suku bangsa Tar-tar itu.

Melihat bahwa Gurba adalah laki-laki yang sesungguhnya canggung menghadapi wanita, Bi Nio tentu saja mulai timbul keberaniannya setelah bercakap-cakap sejenak. Akhirnya bangkit berdiri, melempar senyumnya yang manis, mulai berani bersikap genit! "Hanggoda, kalau begitu di mana kau akan mengurung diriku? Di kemah inikah?"

"Tidak!" Gurba memerah mukanya, lalu memanggil seorang pembantunya. "Kau akan ditawan di kemah sebelah, Bi Nio."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment