Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 43

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 43

"Kau tak boleh tinggal di sini karena ini adalah kemahku." Dan ketika Bi Nio terbelalak dan seorang pembantu Gurba masuk ke dalam, raksasa itu pun memberi perintah, "Bosu, bawa dia ke kemah samping. Panggil Siga untuk menyelidiki kebenaran omongan wanita ini!" Bi Nio terkejut.

"Kau akan menyerahkan aku ke anak buahmu yang kasar-kasar ini, Hanggoda? Ah, tidak! Aku tidak mau!" Gurba pun terkejut.

"Siapa bilang anak buahku kasar? Kau akan tinggal sendiri di kemah sebelah. Namun kau akan dijaga agar tidak lari!" "Tidak... tidak!" Bi Nio tiba-tiba menubruk pemimpin suku bangsa Tar-tar itu, menangis.

"Aku tidak mau, Hanggoda. Aku takut diganggu anak buahmu yang tidak kukenal. Sebaiknya aku di sini saja. Aku boleh kau kurung di sini!" Gurba terbelalak, kaget mendorong Bi Nio hingga Bi Nio hampir terjengkang, rupanya belum pernah disentuh wanita!

Dan ketika Bi Nio mengguguk dan terbelalak dengan air mata bercucuran memandang raksasa itu, akhirnya Gurba yang tampak menyesal dan sadar tiba-tiba berkata halus, "Bi Nio, kau tak boleh menolak apa yang aku katakan. Kau adalah tawanan kami, tak seharusnya kau membantah." "Tapi aku takut, Hanggoda," Bi Nio tersedu-sedu.

"Di sini semua adalah kaum lelaki. Bagaimana kalau mereka menggangguku di tengah malam?" "Tak mungkin!" Gurba berseru. "Kami bangsa Tar-tar bukanlah bangsa yang suka mengganggu atau menyusahkan wanita. Kau buktikan saja omonganku di sana!" "Kalau kau bohong?" Gurba terbelalak, merah mukanya.

"Aku tak pernah bohong pada siapa pun. Tetapi kalau kau diganggu atau ada laki-laki mengancammu, kau boleh datang ke sini!" "Sungguh?" "Keparat!" Gurba mulai marah. "Aku tak pernah main-main, Bi Nio. Ayo keluar dan ikuti anak buahku itu!" Dan ia membentak menyuruh Bosu membawa wanita itu. Akhirnya Bi Nio diseret dan menangis mengikuti laki-laki Tar-tar itu, melihat seorang laki-laki lain yang muda dan tegap memasuki kemah, bukan lain Siga, raksasa tinggi besar itu.

Dan ketika Bi Nio disekap dan didorong memasuki kemah sebelah, akhirnya selir kaisar ini tertegun dan duduk membelalakkan matanya. "Apa sekarang yang harus dilakukan?" Dia dikurung di kemah lain. Meskipun berdekatan, tapi tak dapat menggoda pemimpin suku bangsa Tar-tar itu. Diam-diam tersenyum, tapi juga mendongkol ketika teringat kejadian tadi, betapa dia menubruk, tapi didorong balik oleh raksasa tinggi besar itu.

Melihat Gurba terkejut dan seolah "kesetrum" memeluk tubuhnya yang hangat. Tanda raksasa itu benar-benar jejaka ting-ting yang belum mengenal wanita. Agaknya benar kabar yang didengar bahwa raksasa itu termasuk laki-laki "celingus" yang belum punya pacar, jadi canggung dan serba gugup menghadapi wanita. Barangkali itu wataknya yang membuat raksasa itu tak pernah bersikap kasar pada wanita, menghormati dan menghargai wanita sebagaimana adanya laki-laki jantan. Tak mau mengganggu dan rupanya segan. Namun teringat bahwa raksasa itu dikabarkan jatuh cinta pada sumoinya, namun sumoinya acuh saja terhadap raksasa tinggi besar itu, tiba-tiba senyum Bi Nio mengembang dan timbul siasat cerdiknya.

Malam ini dia harus berhasil. Tak boleh gagal. Dan sebagai wanita yang pandai mengenal hati lelaki, tiba-tiba Bi Nio mengencangkan ikat pinggangnya hingga dadanya menonjol, sengaja membuat tubuhnya lebih ramping dan singsat, membuat buah dadanya membusung menarik, satu daya pikat yang biasanya membuat laki-laki gampang mengiler. Dan Bi Nio yang mengintai hati-hati akhirnya mendapat kenyataan bahwa dia dijaga oleh dua anak buah pemimpin Tar-tar itu di luar kemah.

Bi Nio tak mau membuang waktu. Ia harus kembali menemui raksasa tinggi besar itu, bercakap-cakap dan menarik perhatian pemimpin Tar-tar itu dengan senyum dan keindahan tubuhnya. Tak mau membuang tempo. Dan ketika ia memasang guling sedemikian rupa dan menutupinya seolah dia sedang tidur, maka Bi Nio melempar kerikil ke belakang kemahnya. Dua penjaga terkejut dan berseru memeriksa. Dan di saat itulah Bi Nio keluar. Dia telah menyelinap meninggalkan kemahnya, geli, tapi tak berani tertawa melihat dua penjaga Tar-tar itu terkecoh, mengumpat dan kembali lagi karena mereka tak melihat apa-apa. Mungkin tikus atau kucing yang membuat gaduh. Dan Bi Nio yang sebentar kemudian tiba di kemah Gurba tiba-tiba masuk dan mengejutkan raksasa itu yang baru saja melempar tubuhnya di atas pembaringan!

"Hei... kau ini!" Bi Nio tersedu-sedu, menjatuhkan dirinya berlutut. Dan ketika Gurba terbelalak dan melompat bangun, maka wanita cerdik yang tumbuh keberaniannya ini sudah berkata dengan suara tersedu dan tersendat, bersandiwara mengguncang-guncang tubuhnya, "Hanggoda, jangan suruh aku tinggal sendiri di sana. Aku takut, dua pembantumu bicara kotor dan tertawa-tawa mengintai kemahku!" Gurba terkejut.

"Kau yakin itu?" "Tentu saja. Aku melihat mata mereka seperti kucing kelaparan, Hanggoda. Mereka melahap dan mengintai diriku dengan rakus. Aku takut!" Dan Bi Nio yang sudah menangis tersedu-sedu lalu menyambung sandiwaranya, mendadak menubruk dan memeluk kaki Gurba. Raksasa ini tersentak, hampir melepaskan diri menendang Bi Nio. Namun teringat kejadian tadi dan Bi Nio juga memeluknya erat, tiba-tiba Gurba menggigil mendorong pundak wanita ini, hati-hati, tetapi tegas.

"Bi Nio, jangan membuat onar di tempat ini. Aku tak percaya dua penjagaku berlaku seperti itu." "Kalau begitu panggil saja mereka, Hanggoda, lihat dan buktikan saja sikap mereka itu!" "Baik!" Gurba penasaran tak percaya begitu saja dan memanggil dua penjaga yang menunggui kemah wanita ini.

Dan ketika mereka dipanggil dan terbelalak dengan kaget karena melihat Bi Nio ada di situ, mereka tertegun dan tak mengerti bagaimana Bi Nio dapat lolos dari pengawasan mereka, melotot dan gusar memandang selir kaisar ini. Karena lolosnya wanita itu merupakan tamparan bagi mereka. Dan ketika mereka melotot dan marah memandang Bi Nio, maka Bi Nio sudah berseru mendahului Gurba, "Nah, lihat. Mereka memandangku seperti kucing kelaparan, Hanggoda. Lihat mata mereka yang melotot itu. Mereka seolah tak pernah melihat wanita. Mereka ganas dan mengerikan bagiku!" Dua penjaga itu langsung mengumpat. Mereka memaki dan marah-marah pada Bi Nio. Tetapi belum Gurba bicara, lagi-lagi Bi Nio berkata, kini menggigil di belakang raksasa itu, "Hanggoda, mereka suka memaki-maki seenaknya di depanmu. Apakah ini bukan bukti akan omonganku tadi? Usir mereka, Hanggoda. Suruh mereka pergi dan lindungiku!"

Gurba termakan. Dia melihat dua penjaga ini memang memaki-maki Bi Nio, makian yang sebenarnya didorong oleh rasa malu mereka kenapa wanita itu bisa lolos dari penjagaan mereka, bukan karena Bi Nio diganggu melainkan merekalah yang merasa tersinggung, tertampar dan marah karena Bi Nio mempermainkan mereka. Namun sebelum mereka membalas apa-apa, tiba-tiba Gurba membentak bengis, memandang seorang di antaranya yang bukan lain adalah Bosu, "Bosu, kau mengganggu dan mengucapkan kata-kata kotor pada wanita ini? Kau melanggar peraturan suku bangsa Tar-tar!" Bosu terkejut, menggelengkan kepalanya, "Tidak, kami tidak mengganggu atau mengucapkan kata-kata kotor, Hanggoda. Wanita itu bohong dan memfitnah kami." "Kau berani sumpah?" "Tentu saja. Kami memang tidak melakukan perbuatan itu, Hanggoda. Kami berani sumpah, atau kau bunuh kalau kami bohong."

"Hm..." Gurba kini balik memandang Bi Nio, gelap mukanya. "Bagaimana jawabanmu, Bi Nio? Anak buahku tak melakukan seperti apa yang kau katakan. Aku percaya mereka, kau agaknya bohong." Bi Nio menangis. "Kalau begitu kau boleh membunuhku, Hanggoda. Aku juga berani sumpah kalau kau tidak percaya. Mereka menggangguku, mereka mengintai dan jelalatan memandangku di dalam kemah!" "Bohong...!" Bosu melompat maju. "Kau memfitnah kami, wanita busuk. Kami tak pernah mengintai atau jelalatan memandangmu di dalam kemah. Kau bohong, kau mencari penyakit!" Dan Bosu yang bergerak menampar saking marahnya tiba-tiba membuat Bi Nio menjerit dan roboh terpelanting ketika untuk pertama kalinya pemuda Tar-tar menyakitinya, disambut bentakan Gurba yang tak menyangka perbuatannya itu.

Dan ketika Bosu marah-marah dan temannya ikut melompat maju untuk menghajar Bi Nio, mendadak raksasa tinggi besar ini mengibaskan lengannya. "Bosu, mundur...!" Bosu terlempar. Dia dan temannya terdorong oleh kibasan Gurba itu. Mencelat menubruk kemah. Dan ketika mereka sadar dan Gurba terbelalak marah, maka Bi Nio sudah tersedu-sedu menuding mereka. "Lihat, dua laki-laki itu menyerang seorang wanita lemah, Hanggoda. Kenapa mereka menyakitiku padahal bangsa Tar-tar dikenal sebagai bangsa yang tak mau menyakiti wanita? Adakah ini bukan bukti bahwa mereka ingin menutupi perbuatan sendiri? Aku tak terima, Hanggoda. Aku mohon keadilanmu untuk perbuatan pembantumu ini. Aku boleh dianggap memfitnah, tapi bukti telah bicara di depan mata. Mereka menyerangku." Gurba merah mukanya. Dia jadi tak simpatik pada Bosu yang telah menampar Bi Nio itu, betapa pun marah karena hal itu mencoreng bangsa Tar-tar yang dikenal tak suka mengganggu wanita, apalagi menyakitinya.

Dan Bi Nio yang tersedu-sedu menuding anak buahnya akhirnya membuat raksasa ini bingung. Sukar menentukan siapa salah siapa benar. Maklum, Bosu juga bersalah karena telah menampar wanita ini. Dan ketika Bosu menggigil dan melotot memandang Bi Nio, tiba-tiba Siga muncul mendengar suara ribut-ribut itu. "Hanggoda, apa yang terjadi?" Gurba mengerutkan kening. "Bi Nio menuduh Bosu mengganggunya di dalam kemah, Siga. Tapi aku tidak percaya dan memanggil dua penjaga itu." "Dan apa jawaban mereka?" "Mereka menolak, tetapi Bosu telah menampar wanita ini hingga kupukul roboh." "Hanggoda," Siga ganti mengerutkan kening. "Wanita ini mencurigakan. Aku telah menyelidiki dusun Lee-chung, tetapi tak ada kepala kampung yang memiliki anak bernama Bi Nio!" Bi Nio kaget. "Kau tak menyelidiki dengan saksama, Siga. Kau bohong atau mungkin ayahku yang memang tidak berterus terang padamu!" "Tidak," Siga memandang tajam wanita ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment