Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 44

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 44

"Kau bukan penduduk Lee-Chung, Bi Nio. Aku menyelidiki hal itu dan tak mungkin salah!" Sambil memandang Gurba yang tertegun mendengar keterangan itu, Siga berkata lagi, "Hanggoda, besok kepala kampung kubawa ke sini. Kita lihat siapa sebenarnya dia. Dan untuk keributan ini, biarlah aku yang menjaga wanita itu. Bosu dan temannya biar beristirahat!"

Bi Nio terkejut. Dia melihat Bosu dan temannya berseri girang, mengejeknya dengan pandangan dingin. Tapi Gurba menggeleng dan tiba-tiba berkata, "Tidak, biar aku yang mengawasi wanita ini, Siga. Rupanya ada hal-hal yang harus kuketahui. Bi Nio rupanya seorang mata-mata. Aku akan mengorek keterangan darinya."

Gurba mengibaskan lengan dengan penuh penasaran lalu menyuruh orang-orangnya pergi. Perintah itu disambut dengan mata terbelalak oleh Siga yang rupanya kurang setuju. Tapi Gurba mengeraskan sikap dan tak mau dibantah, sehingga akhirnya pembantunya ini mengangguk lalu keluar diikuti oleh Bosu dan teman-temannya.

Begitu Gurba berdua dengan Bi Nio, raksasa ini membalikkan badan dan memandang marah. "Bi Nio, kau rupanya menyembunyikan sesuatu yang kau rahasiakan. Apa yang kau inginkan dari sepak terjangmu yang aneh ini?"

Bi Nio tersenyum, membuat Gurba melengak. "Aku tak menyembunyikan rahasia apa pun, Hanggoda. Aku datang karena anak buahmu yang menangkapku."

"Tapi gerak-gerikmu mencurigakan. Kau rupanya sengaja mendekati kemah ini untuk bertemu denganku."

Bi Nio tiba-tiba menghela napas. "Hanggoda, aku memang tak mau ditempatkan di kemah lain. Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin bersamamu."

Ketika Gurba terkejut dan terbelalak memandangnya, Bi Nio merasa girang dapat berdua dengan pemimpin suku bangsa Tartar itu. Sambil menyembunyikan kegembiraannya, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut dan terisak. "Hanggoda, aku sengaja memasuki kemahmu untuk menyatakan isi hatiku. Tapi karena aku takut kau marah, aku jadi ragu untuk mengatakannya."

Gurba tertegun. Sekarang dia merasa wanita ini mau "buka kartu". Ia melihat Bi Nio terisak di bawahnya dan tiba-tiba tersirap melihat belahan dada wanita itu yang menunduk di depannya dengan jelas. Sedetik, denyut jantung raksasa tinggi besar itu seolah terhenti dan ia menahan napas. Namun, Gurba memandang ke arah lain demi menindas perasaannya, lalu menyuruh Bi Nio bangkit. Perintah itu sebenarnya ditujukan agar dia tidak tertarik pada pemandangan tersebut. Namun, Bi Nio yang menangis tanpa sebab mendadak malah memeluk kakinya dan tersedu-sedu.

"Hanggoda, aku takut menyatakan apa yang menjadi isi hatiku. Kau buanglah aku, kau lemparlah aku agar aku terbebas dari himpitan duka ini!"

Gurba terkejut. "Apa yang mau kau katakan, Bi Nio?"

Bi Nio tak mau menjawab. Dia malah menangis semakin keras di kaki raksasa itu, memeluk dan merayapkan jarinya hingga Gurba menggigil. Baru kali itu ia merasakan sentuhan lembut dan lunak dari jari-jari seorang wanita cantik. Hal itu menimbulkan perasaan hangat dan aneh yang membuat Gurba terbawa suasana, hampir memejamkan mata dan mabuk sejenak.

Tapi Gurba kembali menindas guncangan hatinya dan mendorong Bi Nio, tiba-tiba melepaskan diri dengan sentakan kuat. "Bi Nio, aku tak mau melihat kau menangis. Sekarang berdiri dan katakan apa yang menjadi keinginanmu!"

Bi Nio gemetar sambil mengusap matanya. "Kau tak marah, Hanggoda?"

"Tidak, asal kau bicara jujur!"

Bi Nio menggigit bibir. Dia melihat wajah raksasa ini memerah, agaknya mulai terpengaruh oleh sentuhan jarinya yang lembut tadi. Ia sengaja memeluk untuk membuat lawan merinding, sementara dalam hati ia tertawa. Ia pun berdebar karena Gurba mulai sering melirik dadanya. Bi Nio sengaja melepas sebuah kancing bajunya agar dadanya sedikit menyembul untuk diintai secara tidak kentara. Melihat Gurba mulai mendengus dan sukar mengalihkan perhatian, ia merasa sasarannya mulai berhasil.

Namun, Bi Nio tetap bersikap hati-hati. Ia berdiri dan menundukkan kepalanya, membiarkan Gurba melihat kancing bajunya yang terlepas sambil menghela napas seolah berduka dan ketakutan. Melihat Gurba menunggu jawabannya, akhirnya wanita ini berkata dengan bibir yang digigit-gigit manis, merangsang nafsu dan menggerakkan berahi.

"Hanggoda, aku sesungguhnya ingin menyampaikan isi hatiku. Aku... aku ingin menghamba padamu. Aku ingin mengikuti jejakmu ke mana pun kau pergi."

"Apa...!" Gurba terbelalak. "Kau mau menghamba padaku?"

"Ya." Bi Nio mulai mengerling. "Aku ingin ikut ke mana pun kau pergi, Hanggoda. Dan betul bahwa aku memang bukan penduduk Lee-Chung."

Gurba tampak kaget. "Bi Nio, kalau begitu siapa kau ini? Kau...?"

Bi Nio tiba-tiba menggigil dan memejamkan mata. "Aku orang biasa, Hanggoda. Aku datang karena tertarik pada kegagahanmu. Aku telah mendengar namamu. Aku kagum akan kesaktianmu. Aku... aku..." Bi Nio yang terisak tiba-tiba bangkit berdiri dan memeluk Gurba. "Aku cinta padamu, Hanggoda. Aku ingin mendampingimu seumur hidup dan siap mati kalau kau menolaknya!"

Bi Nio menyembunyikan mukanya di dada Gurba. Raksasa itu tertegun dan membelalakkan matanya, terkejut dan terkesiap dipeluk wanita cantik ini. Ia merasakan betapa lembut dan hangatnya tubuh wanita itu, terutama gerakan dadanya yang naik-turun di dadanya sendiri. Tubuh yang lunak dan kenyal itu sengaja ditempelkan ketat oleh Bi Nio, membuat darah si raksasa mendidih dan seketika bergolak. Ia tak dapat menahan nafsunya lagi.

Ketika Gurba gemetar dan balas mendekap tanpa sadar, Bi Nio mengangkat mukanya dan mencium mulut raksasa tinggi besar itu, melumatnya dengan mesra. "Hanggoda, aku cinta padamu..."

Gurba merasa terbang ke awang-awang. Seumur hidupnya, belum pernah ia diperlakukan seperti itu—didekap dan dicium wanita secantik Bi Nio. Ia merasa bibir yang merah basah itu mengulum mulutnya, membuatnya menggigil dalam kenikmatan tiada tara.

Namun, Gurba tiba-tiba teringat sesuatu. Ia melepaskan dekapan dan membentak kaget, "Mundur...!"

Bi Nio terpelanting roboh. Wanita ini menjerit kecil. Bajunya tersangkut kursi hingga robek dan dadanya terkuak. Gurba sendiri terkejut melihat pemandangan itu secara jelas. Putih dan montok! Gurba memejamkan mata, terhuyung gemetar, lalu menggeram.

"Bi Nio, jangan kurang ajar kau. Aku pantang menerima wanita Han sebagai istriku, apalagi kalau dia sudah bersuami!"

Bi Nio tersedu dengan pipi memerah. "Aku tak memiliki suami atau kekasih, Hanggoda. Aku masih sendiri dan tak ingin cintaku ditolak."

"Tapi kau wanita Han, aku tak dapat mengambilmu sebagai istri."

"Kalau begitu boleh sebagai apa saja, Hanggoda. Aku rela menjadi selir atau pelayanmu asal selalu berdekatan denganmu."

"Tidak... tidak bisa. Aku tak dapat menikah dengan wanita yang bukan suku bangsaku sendiri."

"Kenapa, Hanggoda?" Bi Nio menggigil dengan muka pucat.

"Kau adalah keturunan bangsa yang menjadi musuhku. Kau bangsa Han yang tak mungkin bersahabat dengan bangsa Tartar!"

"Ah," Bi Nio penasaran dan masih nekat. "Kau tak adil, Hanggoda. Yang menjadi musuh bukanlah diriku secara pribadi, melainkan orang lain, yakni kaisar dan pembantu-pembantunya. Kenapa kau memasukkan aku sebagai musuhmu? Di mana keadilanmu?"

Gurba terbelalak. Dia harus menekan guncangan hatinya melihat belahan dada Bi Nio yang terkuak lebar itu—seolah tak disadari oleh Bi Nio sendiri akibat penasarannya terhadap raksasa itu. Gurba agaknya tangguh, bermental baja, dan tak gampang dirobohkan nafsu berahi. Hal ini membuat Bi Nio was-was, tetapi juga kagum sekaligus dongkol.

Ketika Gurba tak menjawab, Bi Nio bangkit berdiri hingga baju yang sudah terkuak lebar itu melorot turun. "Hanggoda, apa jawabanmu tentang pertanyaanku tadi? Begitukah sikap seorang laki-laki jantan memperlakukan wanita tak bersalah? Aku memang wanita Han, Hanggoda, tapi aku bukan musuhmu yang mempunyai utang jiwa atau harta! Aku datang untuk menyatakan cinta, dan kau sendiri berjanji tak akan marah asal aku bersikap jujur. Sekarang aku jujur menyatakan itu, kenapa kau marah-marah dan bersikap kasar padaku? Inikah kelakuan seorang gagah? Lain di bibir, lain pula kenyataannya? Kalau begitu, percuma aku mengagumimu, Hanggoda. Kau kiranya seorang pengecut!"

Merasa marah serta cemas akan kegagalannya, mendadak Bi Nio membenturkan kepalanya ke dinding kemah. "Duk!" Wanita itu roboh pingsan.

Gurba terkejut. Tak menyangka hal itu terjadi, ia berseru kaget dan melompat maju. Saat Bi Nio tak sadarkan diri, Gurba merasa terpukul oleh kata-kata wanita itu. Ia segera mengangkat tubuh Bi Nio, membawanya ke pembaringan, dan berusaha menyadarkannya. Ia gugup dan bingung saat menotok titik nadi Bi Nio.

Beberapa saat kemudian, Bi Nio mengeluh dan siuman di pembaringan sang raksasa. Gurba yang merasa menyesal sekaligus girang melihat wanita itu siuman, berkata seolah berbisik, "Bi Nio, maafkan aku..."

Bi Nio membuka mata. Dia tadi memang bersungguh-sungguh membenturkan kepalanya; untungnya ia hanya pingsan dan tidak mengalami retak tulang. Ia melihat Gurba memegang lengannya dengan lembut dan penuh kasih karena rasa sesal. Namun, Bi Nio kembali menangis teringat sulitnya menaklukkan raksasa ini. Ia tersedu-sedu, merasa kecewa dan penasaran sekali.

"Hanggoda, lepaskan aku. Atau bunuhlah aku!"

Gurba menggeleng. "Tidak, aku menyadari kesalahanku, Bi Nio. Justru aku hendak meminta maaf padamu, janganlah kau marah lagi."

"Kau...!"

"Ya, aku tak boleh menjilat ludahku sendiri, Bi Nio. Kau telah menyatakan apa yang menjadi isi hatiku dan aku tak boleh marah!"

Bi Nio tiba-tiba bangkit dari pembaringannya dan mencengkeram pundak raksasa itu. "Hanggoda..." wanita ini gemetar. "Apakah berarti engkau menyambut cintaku? Kau mau menjadikanku sebagai istri dan..."

"Tidak!" Gurba dengan muka memerah menggeleng. "Bukan itu maksudku, Bi Nio."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment