Chapter 45
"Aku tak mungkin mengambilmu sebagai istri karena kau bukanlah suku bangsaku." Bi Nio menggigil. "Kalau begitu, kau jadikan saja aku selir, Hanggoda."
"Atau..."
"Maaf," Gurba lagi-lagi memotong.
"Aku juga tak mampu memenuhi permintaan itu, Bi Nio. Aku benci pada bangsa Han karena bangsa Han telah membunuh ayah ibuku!"
"Ah," Bi Nio kecewa. "Kalau begitu, biarkan saja aku menjadi pelayanmu, Hanggoda. Atau, kalau inipun kau tak mau, biarlah kau berikan padaku pernyataan sayang sekali saja. Aku butuh itu. Aku butuh kenang-kenangan, dan setelah itu aku pergi!" Gurba terkejut.
"Maksudmu?" Dan Bi Nio tiba-tiba menggigil melepas pakaiannya. Dan berpikir siapa tahu raksasa ini tahu apa yang dikehendakinya, tiba-tiba Bi Nio telah telanjang bulat di depan raksasa tinggi besar itu. Satu usaha terakhir untuk merobohkan pemimpin Suku Tar-tar ini!
"Hanggoda, aku tak mau banyak bicara lagi. Aku telah menyatakan isi hatiku. Kalau kau menolak, sudilah kiranya kau memberikan secercap kasih sayangmu kepadaku. Aku tak mau mengganggumu lagi setelah ini." Dan Bi Nio yang menunduk dan mengeluh menubruk raksasa ini tiba-tiba telah mencium dan melesatkan tubuhnya di tubuh pemuda tinggi besar itu, mendengus bertubi-tubi, karena ini adalah sebuah "final mission" baginya. Misi terakhir.
Dan Gurba yang terkejut serta membelalakkan matanya tiba-tiba tak dapat bicara karena mulutnya telah ditutup oleh mulut Bi Nio yang manis itu, dipeluk dan mendapat serangan gencar yang membuat raksasa ini memejamkan mata. Bingung dan kaget karena kesadarannya hilang oleh keadaan Bi Nio yang luar biasa berani telanjang di depannya. Dan ketika Bi Nio melepas kancing bajunya dan jari-jari wanita cantik itu merayap ke sekujur tubuhnya, bagai rayapan seekor ular betina, mendadak Gurba roboh terbawa perasaan hanyut yang memabukkannya.
Raksasa ini mengeluh, menggigil, dan gemetar ketika bibir dan lidah Bi Nio bergerak-gerak membuatnya terayun ke awang-awang, karena kekagetannya yang sekejap itu telah dipergunakan oleh Bi Nio baik-baik. Tak mau melepaskan kesempatan itu dan mempergunakan semua kepandaiannya untuk merobohkan raksasa ini. Dan karena Bi Nio telah nekat dan semua teknik telah dipergunakannya untuk menguasai lawan, tiba-tiba Gurba mengerang ketika Bi Nio mengisap mulutnya seakan lintah melekat, tahu-tahu menggulingkan tubuh dan sama-sama roboh ke pembaringan, terbetot semangatnya oleh isak dan nafsu wanita itu.
Tapi Gurba yang lagi-lagi teringat sesuatu tiba-tiba mendorong Bi Nio melompat bangun. "Tidak! Jangan, Bi Nio, jangan...!" Bi Nio terjengkang. Dia sudah berhasil membangkitkan gairah lawannya, merasa balasan Gurba yang canggung dan gugup, tentu saja heran dan kaget kenapa Gurba tiba-tiba melemparnya dari pembaringan. Tapi ketika Bi Nio bangkit dengan tubuh terhuyung, terbelalak memandang raksasa ini, maka Gurba gemetar dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Bi Nio, kau pergilah cepat-cepat! Aku tak mau berzina. Apalagi dengan wanita yang sudah bersuami."
"Ah," Bi Nio menyadari keadaan. "Aku tak mempunyai suami atau kekasih, Hanggoda. Aku masih sendiri dan siap menjadi milikmu!" "Tidak! Jangan!" Gurba memejamkan mata. "Aku tak mau menyusahkanmu kelak di kemudian hari, Bi Nio. Aku..." Bi Nio tiba-tiba menangis. Wanita ini telah menubruk dan menyambar sebuah pisau yang ada di situ, membuat Gurba membuka matanya dan kaget. Tapi Bi Nio yang menyerahkan pisau itu dan terisak di tubuh raksasa ini tiba-tiba berseru.
"Kalau begitu, kau bunuhlah aku, Hanggoda! Aku akan bunuh diri di depanmu...!" Dan Bi Nio yang menarik tangan Gurba dan menghujamkan pisau itu ke dadanya tiba-tiba disambut seruan tertahan dan sentakan kuat raksasa ini, membuang pisau sementara Bi Nio sendiri terpelanting. Dan ketika Bi Nio tersedu-sedu dan Gurba tergetar menyaksikan tubuh telanjang itu bersimpuh di depannya, tiba-tiba Gurba tak tahan dan menyambar wanita ini. Betapapun, hasrat kelelakiannya terbakar dan tak dapat terus-terusan diuji sedemikian lama. Terlampau berat.
Dan begitu mendengar Bi Nio tidak bersuami dan Gurba siap mengambil wanita ini sebagai istri atau selir, maka Bi Nio telah dibopong dan mendengar bisikan pemuda tinggi besar itu.
"Bi Nio, kau benar-benar wanita bersuami?" "Sumpah demi segala setan dan dewa, Hanggoda! Kalau iya, boleh kau bunuh aku!" Bi Nio nekat, marah, dan gemas sekali melihat dia lagi-lagi akan gagal. Padahal itu adalah usahanya yang terakhir. Dan begitu dia menjawab dan Gurba mendengus aneh, mendadak raksasa tinggi besar ini telah mendekap dan membawanya ke ranjang.
"Baik. Kalau begitu, kau boleh menjadi selirku, Bi Nio. Atau kau pergi setelah kuberi apa yang kauminta!" Gurba juga tak kuat, bangkit darah mudanya melihat keadaan Bi Nio yang demikian menggairahkan. Mulus tanpa cacat dan membuat nafsu lelaki tak terkendali lagi. Hilang akal sehatnya. Dan ketika Bi Nio mengaku sebagai gadis yang masih sendiri dan Gurba percaya omongan wanita itu, maka Bi Nio mengeluh dan girang bukan main atas keberhasilannya ini, tiba-tiba memagut dan menciumi pemuda tinggi besar itu. Tak segan pada kulitnya yang hitam atau apa. Tertawa dan sudah membuat Gurba mabuk akan cumbu atau belaiannya yang hebat. Dan begitu keduanya melempar diri di pembaringan dan Gurba mendengus membalas pelukan wanita ini, maka jebollah benteng pertahanan pemimpin suku bangsa Tar-tar yang lihai itu.
Gurba tak dapat terlalu disalahkan. Dia masih "hijau" dalam masalah perempuan, meskipun gagah dan sakti di medan laga. Roboh dan hanyut dalam cumbuan Bi Nio yang tahu kelemahan lelaki. Tahu dan mahir bermain cinta karena dia adalah selir kaisar yang paling pintar. Sebentar saja meninabobokkan raksasa itu dalam permainan panas yang menggebu-gebu, membuat Gurba tergila-gila dan berkali-kali mengeluh akan kenikmatan yang tiada tara, pelayanan hebat yang luar biasa yang diberikan selir itu padanya.
Dan ketika beberapa saat kemudian mereka tenggelam dalam madu berahi dan Gurba lupa segala-galanya, maka menjelang pagi, di saat raksasa itu tergeletak kelelahan dan Bi Nio girang akan keberhasilannya, maka wanita cantik ini mengendap keluar melepas panah biru! "Sing!" Langit berkilat sekejap.
Bi Nio menunggu sebentar, dan ketika beberapa saat kemudian sebuah panah biru juga menyambutnya di langit hitam sebelah barat, tiba-tiba Bi Nio girang bukan main. Karena itulah tanda isyaratnya telah dimengerti oleh pengantarnya di tempat persembunyian sana. Ia membalik dan kembali memasuki kemah dengan muka berseri-seri. Tapi begitu dia memutar tubuh dan siap memasuki tempat pemimpin bangsa Tar-tar itu, mendadak Gurba telah berada di belakangnya dengan mata mencorong!
"Aih..." Bi Nio langsung mundur dengan teriakan tertahan, kaget bukan main melihat pemuda tinggi besar itu telah melihat perbuatannya. Benar-benar terlalu gegabah mengentengkan pemimpin bangsa Tar-tar ini. Dan ketika Bi Nio terbelalak memandang dan mundur-mundur dengan muka pucat, maka Gurba yang menggeram penuh kemarahan bertanya kepadanya dengan suara dingin menusuk jantung, "Bi Nio, apa artinya ini?" Bi Nio tertegun. Pertanyaan itu pendek saja, singkat, tapi membuat semangatnya seakan terbang karena dia melihat mata Gurba yang mencorong seperti api itu, mirip naga yang sedang marah. Berkilat-kilat dan menelan tubuhnya bulat-bulat. Dan Bi Nio yang tak dapat mengelak lagi dan gentar oleh perbawa raksasa ini tiba-tiba menangis dan... jatuh berlutut.
Gurba menggeram. Dia tak tahu apa sebenarnya yang sedang dilakukan wanita ini, kekasihnya yang baru saja melayaninya bercumbu. Marah dan gusar karena sekarang dia menangkap bahwa ada apa-apa yang tidak beres pada Bi Nio. Entah apa. Pokoknya penting. Dan Gurba yang tidak mendapat jawaban dari wanita itu kecuali tangisnya, mendadak mencengkeram dan menyambar pundak wanita ini. Lalu, begitu Bi Nio mengeluh dan menjerit kesakitan, tiba-tiba raksasa berkelebat dan terbang ke arah barat di mana panah biru timbul saat panah wanita ini dilepas di pagi-pagi buta.
Dan Gurba tertegun. Dia melihat bayangan bergerak di sana-sini, tidak banyak, paling-paling sebelas orang. Dan ketika dia tiba di situ dan Bi Nio menjerit memberi tanda, mendadak bayangan yang bergerak-gerak di tempat itu muncul dan kaget melihat ada pemimpin bangsa Tar-tar ini. Sama seperti Gurba sendiri yang sama kagetnya melihat siapa mereka itu, mengenal seorang di antaranya yang bukan lain adalah Toan-ciangkun (Panglima Toan), satu dari Tujuh Panglima Naga yang memimpin rombongan itu. Dan begitu dua pihak beradu muka dan Gurba menggeram marah, maka Bi Nio sudah dilempar di atas tanah hingga wanita itu mengaduh dan terbanting tak dapat bangkit berdiri.
"Bi Nio, kau kiranya orang kaisar!" Bi Nio tersedu-sedu. Dia sudah tak dapat mengelak lagi, melihat Toan-ciangkun melompat dengan pedang di tangan menolongnya dan menyuruh anak buahnya memapah wanita itu. Dan karena dua pihak sudah sama-sama kepergok dan tak mungkin menghindar lagi, maka Toan-ciangkun yang berdiri gagah berseru dengan suara nyaring maklum bahwa Bi Nio tertangkap basah, "Gurba, kami memang menyuruh Bi Nio menyusup di perkemahanmu. Kau tak perlu memakinya, kami yang bertanggung jawab. Dan karena kau telah menggauli wanita ini sebagai istrimu, maka silakan ambil dia baik-baik dan kami akan melapor pada kaisar bahwa seorang selirnya telah kau minati."
"Apa?" Gurba terkejut. "Bi Nio selir kaisar?" "Ya!" Toan-ciangkun gagah menjawab, berseri mukanya. "Bi Nio adalah selir kaisar yang amat disayang, Gurba. Kalau kau telah mencintainya, tentu Sri Baginda tak akan keberatan memberikannya padamu asal kau menarik mundur pasukanmu."
"Keparat!" Gurba membentak, marah bukan main. "Kalau begitu, kalian sengaja menjebak aku, Toan-ciangkun. Kalian manusia terkutuk dan biadab. Jahanam...!" Dan Gurba yang menggerakkan lengan menghantam ke depan tiba-tiba menyerang Panglima She Toan yang ada di depan dan dielakkan panglima ini yang terkejut oleh angin pukulan menderu dahsyat.