Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 46

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 46

Tapi begitu dia melompat menghindar, mendadak pukulan itu tiba lebih dulu dan langsung menyerempet pundaknya.

"Dess...!" Toan-ciangkun terpental.

Panglima ini bergulingan menjauh, berteriak pada sepuluh anak buahnya agar maju menyerang, membantu dia dari amukan Gurba.

Tapi Gurba yang membentak mendahului, tiba-tiba berkelebat menyambar, mengibas, dan menampar sepuluh orang yang mengeroyoknya itu.

Dan begitu pukulan terlepas, dan sepuluh orang ini menjerit, tiba-tiba mereka robek berpelantingan dengan tulang patah-patah!

"Toan-ciangkun, kau akan kubunuh!" Panglima itu terperanjat.

Dia memang mengetahui kesaktian pemimpin suku bangsa Tartar ini, sebelumnya sudah merasa gentar karena ia memang bukan tandingannya.

Tapi melihat sepuluh anak buahnya roboh begitu cepat dan mereka tak dapat bangkit lagi karena tulang mereka patah-patah, mendadak panglima ini menjadi nekat dan menangkis dengan pedangnya.

"Sing-plak!"

Pedang panglima itu mental.

Toanciangkun lagi-lagi terkejut, ingat akan kekebalan luar biasa yang dimiliki raksasa ini.

Terbelalak dan terlanjur tak dapat menarik kembali serangannya karena tubuhnya sudah maju ke depan.

Dan ketika dia meloncat dan kaget akan balasan lawan, tahu-tahu Gurba telah menghantam ubun-ubunnya dengan telapak terbuka penuh tenaga sinkang.

Tak ayal, panglima ini mengeluh, melempar kepala ke kiri sebagai usaha menyelamatkan diri. Tapi pukulan dahsyat yang terlanjur turun itu ternyata tak sepenuhnya dapat dihindari, ganti mengenai pundaknya hingga panglima ini menjerit.

Dan begitu kedua kaki tertekuk tak mampu menahan, tahu-tahu pundak panglima ini patah dan Toan-ciangkun roboh terguling.

"Krekkk..!" Panglima she Toan itu mengaduh. Dia kesakitan sangat oleh patahnya tulang pundak ini, bergulingan tapi akhirnya terhenti karena tulang di dalam menusuk dagingnya, mencuat keluar hingga dia merasa nyeri.

Dan ketika panglima itu mengeluh dan menggigit bibir menahan sakit, maka di saat itulah Gurba mengejar dengan pukulan ketiga.

"Hanggoda, jangan..!" Gurba tertegun.

Pekik Bi Nio yang nyaring gemetar ini mengingatkan dia akan kejadian semalam, cumbu rayu dan cinta panas yang mereka nikmati bersama.

Indah tapi kini buyar berantakan karena Bi Nio ternyata diketahui berkhianat, menipunya.

Dan Gurba yang menggeram tak perduli, tiba-tiba meneruskan serangannya ke dada panglima she Toan itu.

"Dess!" Toan ciangkun terang tak dapat mengelak.

Panglima ini mengaduh memuntahkan darah segar dan mengeluh tertahan.

Tapi begitu dia terguling dan roboh terkapar, ternyata panglima ini tewas seketika itu juga tak mampu menerima pukulan berat ini.

Dan saat itu puluhan obor tiba-tiba menerangi tempat itu, bergerak mengepung dirinya dari segenap penjuru.

Dan ketika Bi Nio menjerit melihat tewasnya Toan-ciangkun, maka Siga dan puluhan pasukan Tartar berdiri terbelalak melihat apa yang terjadi. "Hanggoda, apa yang kau lakukan?"

Gurba menggeram.

Sekarang dia memandang Bi Nio, melahap wanita itu hingga Bi Nio mundur-mundur, ngeri sekali, menangis dan menutupi mukanya dengan tubuh menggigil.

Tapi sebelum Gurba menjawab, tiba-tiba seorang dari anak buah Toan-ciangkun yang roboh dengan tulang patah berteriak, "Paduka selir, larilah.

Bangsa Tartar akan mengganggu atau membunuh wanita." Siga dan teman-temannya terkejut.

"Paduka selir?" "Ya." Gurba menggeram.

"Bi Nio ternyata selir kaisar, Siga.

Dan dia dikirim untuk menghancurkan aku.

Keparat dia!" Dan ketika Siga dan teman-temannya tertegun, maka orang yang berteriak itu lagi-lagi berseru, kini mengejek pada Gurba, "Tartar Khan (pemimpin Tartar), kau tak dapat menghapus lagi perbuatan yang telah kau lakukan itu.

Kau telah menggauli selir kaisar sebagai istrimu.

Tak tahu malu kau.

Mata keranjang kau!" Dan ketika orang itu berteriak-teriak dan tertawa mengejek Garba, mendadak Siga yang pucat mendengar semuanya ini melompat maju menggerakkan tombaknya, menusuk dada laki-laki itu hingga laki-laki ini menjerit, tembus dadanya dan tewas dihunjam senjata panjang itu.

Dan ketika mencabut dan gemetar memandang Gurba, maka pemuda ini menghadapi pemimpinnya dengan pertanyaan menggigil, "Hanggoda, itu semua adalah fitnah, bukan?" Gurba tak menjawab.

Dia sedang terpukul dan marah memandang Bi Nio, melihat bekas kekasihnya itu mengguguk di atas tanah.

Tapi ketika Siga mengulang pertanyaannya dan raksasa ini menggeram maju, tiba-tiba dia menyambar selir kaisar itu.

"Tidak, apa yang terjadi memang betul seperti yang dikatakan itu, Siga.

Aku menyesal tapi wanita ini sengaja menggodaku!" "Ah, jadi kau..." "Ya, aku terjebak.

Kalian tak pantas lagi mempunyai pemimpin seperti aku!" Dan Gurba yang marah mencengkeram Bi Nio, tiba-tiba berkelebat menuju ke kota raja.

"Siga, tarik mundur semua pasukan keluar tembok besar.

Tunggu aku di sana!" Dan ketika Bi Nio mengeluh dan diseret raksasa ini, maka Siga dan teman-temannya tertegun melihat pemimpin mereka itu "terbang" di pagi yang masih buta ke istana kaisar, rupanya mau meluruk dan mengamuk di sana.

Dan Siga yang tentu saja terkejut bukan main, tiba-tiba mengejar berseru nyaring. "Hanggoda, tunggu dulu...!" Namun Gurba mengibaskan lengan ke belakang.

Siga berteriak ketika tubuhnya terlempar roboh, disambut angin pukulan pemimpinnya itu yang tak menghendaki dia mengejar.

Dan ketika Siga bangkit berdiri dan tertegun dengan pandangan menjublak, maka Gurba menggeram dari jauh, memperingatkannya, "Kau tak perlu menyusul, Siga.

Kuperingatkan padamu untuk menarik pasukan keluar dari tembok besar." Siga tak berani bercuap lagi.

Dia sedang terkejut oleh semua kejadian itu, tak menyangka bahwa Bi Nio adalah selir kaisar.

Telah menjebak pemimpinnya hingga pemimpinnya itu menggauli wanita yang sudah bersuami.

Pantangan paling besar dan amat memalukan bagi bangsa Tartar.

Tapi Siga yang penasaran dan kagum akan pengakuan jujur dari pemimpinnya yang tidak menutupi aib sendiri, tiba-tiba menjadi marah dan gusar pada sembilan anak buah Toan ciangkun yang masih hidup.

Kawan-kawan dari laki-laki yang tadi sudah dibunuhnya.

Maka membentak dan menyuruh anak buahnya maju segera membantu Gurba yang marah ini. Berseru, "Bunuh mereka, habiskan anjing kaisar yang membuat celaka ini!" Dan begitu pasukan Tartar maju dan sembilan orang ini terkejut membelalakan mata, tahu-tahu pedang dan golok telah membacok mereka tanpa ampun lagi, menusuk dan dua di antaranya bahkan dipenggal putus.

Dan ketika sembilan orang itu roboh dan mayat mereka bergelimpang di atas tanah, maka Siga menyuruh anak buahnya mundur, kembali ke perkemahan dengan membawa berita mengejutkan itu.

Tentu saja menggemparkan semua orang karena bangsa Tartar memang tidak menyangka kejadian itu.

Semuanya terbelalak dan tertegun bagai disambar geledek.

Tapi Siga yang tidak mau banyak cakap dan mengerti semuanya ini adalah tipu muslihat musuh, tiba-tiba menyuruh mereka bangkit untuk menyerbu kota raja!

"Ini adalah jebakan lawan yang licik dan hina.

Kini Hanggoda menyerbu Istana, baiknya kita bantu dia.

Mari kita dobrak kota raja, kita serbu istana!" Suku bangsa itu ribut.

Mereka tiba-tiba pecah menjadi dua, satu setuju dan lain menolak.

Tapi ketika jumlah yang menolak lebih besar daripada yang setuju dan Siga tertegun melihat perpecahan karena bangsa Tartar memang membenci sekali pelanggaran yang dilakukan Gurba meskipun tidak sengaja, tiba-tiba pemuda ini menjadi marah pada suku bangsanya sendiri, melihat yang menolak dipimpin oleh Temunga yang menjadi sahabatnya sendiri, seorang pemuda Tartar berkulit putih.

Dan begitu keadaan menjadi ribut dan Temunga memimpin kelompoknya dengan urat tegang, maka Siga melompat maju dengan muka marah.

"Munga, ini adalah kejadian yang tidak disengaja oleh khan (pemimpin) kita.

Hanggoda terbujuk, lengah dan terjebak oleh selir kaisar itu.

Kenapa kita harus membencinya sedemikian rupa?

Memang bangsa kita adalah bangsa yang pantang berzina dengan wanita yang sudah bersuami, tapi Hanggoda tentunya tak tahu bahwa Bi Nio adalah istri orang lain." Temunga menjengek.

"Itu kesalahannya sendiri, Siga.

Kami tak mau menerima alasan apa pun untuk urusan ini.

Yang jelas khan kita telah bersalah, dan untuk itu tak ada alasan apa pun yang dapat menghapus kesalahannya itu." "Benar, tapi ingat bahwa ini adalah tipu muslihat musuh, Munga.

Hanggoda terjebak karena lawan menghendaki begitu.

Dia..." "Tak perduli!" Munga memotong. "Aku tak mau mendengar alasan apa pun, Siga.

Sebab menerima alasan berarti membebaskan si terhukum dari kesalahan!" Siga marah sekali.

Nada tinggi yang diucapkan Munga untuk persoalan ini membuat dia naik pitam, maklum bahwa persoalan tak dapat lagi dikompromi karena bangsa Tartar memang bangsa yang keras.

Maka begitu ia menghentikan kata-katanya dengan seruan keras, tiba-tiba Siga yang membentak ke depan menampar muka lawannya itu.

"Munga, kau keras kepala. Pak-plak!" Temunga terjengkang.

Dia kaget oleh pukulan itu. Berteriak melompat bangun menyambar tombaknya.

Dan ketika semua orang jadi ribut dan terbelalak oleh pertikaian dua pimpinan muda ini, mendadak Munga balas menyerang dan menusuk lawannya.

"Siga, kau manusia keparat. Kubunuh kau!" Siga mengelak.

Dia juga marah oleh kekerasan kepala bekas sahabat ini.

Mau menolong Gurba tapi ditolak mentah-mentah oleh lawan yang berhasil mempengaruhi massa ini karena perbuatan itu memang paling dikutuk bangsa Tartar.

Melebihi kutukan terhadap pembunuhan kejam yang bagaimanapun juga.

Maka begitu Munga menyerang dan tombak mematuk serta menusuk tubuhnya tertubi-tubi, tiba-tiba Siga membentak lalu menyambar tombaknya pula, menangkis dan balas menyerang disaksikan ribuan pasukan Tartar yang membiarkan pertarungan itu.

Karena pertarungan itu cukup adil, satu lawan satu.

Tapi ketika Siga membalas dan tombak di tangan lawan terpental, maka nampaklah di sini bahwa Munga masih kalah oleh pembantu Gurba yang paling dekat ini.

Siga memang lebih unggul, tenaganya lebih kuat, permainan tombaknya lebih gagah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment