Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 47

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 47

Ketika pertempuran berjalan setengah jam, Munga menggigit bibir karena harus terus mundur. Telapak tangannya pecah dan berdarah. Pada akhir pertarungan, tombak di tangan pemuda ini terlepas akibat pukulan Siga yang sangat keras.

"Trang!" Munga roboh terjengkang.

Siga mengejar, ujung tombaknya tiba-tiba sudah melekat di leher lawannya. Saat Munga terbelalak dan Siga menginjak dadanya, pemuda ini bertanya, "Bagaimana, Munga? Kau menyerah, atau kau minta kubunuh?"

Pemuda Tartar itu mendelik. "Aku mempertahankan pendirianku bahwa yang bersalah harus menerima kesalahannya, Siga. Betapa pun kau telah memenangkan pertandingan ini, si penggoda tetap harus dihukum. Bangsa Tartar mengutuk perbuatan zina yang paling dibenci itu, tidak peduli seberapa besar kau mengandalkan kekuatan atau kemenanganmu."

"Jadi kau tidak mau kompromi?"

"Tanyalah pada bangsa kita. Maukah mereka kompromi untuk perbuatan yang paling terkutuk ini?"

"Keparat, kau tidak mau melihat keadaan dengan kedudukan sebenarnya, Munga. Kau picik dan bodoh!" Siga gusar mendengar bisik-bisik di sana-sini yang membenarkan pendapat lawannya.

Ketika bisik-bisik itu kian gencar, Munga berteriak menanyakan pendapat suku bangsanya mengenai persoalan ini. Mendadak, secara serentak kelompok yang membela pemuda Tartar itu berseru sambil mengacungkan senjata, "Kami setuju dengan pendapatmu, Munga! Perbuatan yang paling terkutuk tidak perlu dikompromikan lagi. Kami siap membela pendirian ini dengan nyawa dan darah!"

Siga semakin marah. Dia mendengar kelompok lawan berteriak-teriak, kian lama kian gaduh karena bangsa Tartar memang siap mengorbankan darah dan nyawa untuk pendirian tersebut. Itu merupakan prinsip hidup yang paling peka bagi mereka. Saat Munga tertawa mengejek, Siga merasa terpukul. Tiba-tiba pemuda yang gelap mata ini menggerakkan tombaknya, menusuk leher Munga yang dianggapnya sebagai biang keladi keributan.

"Munga, kau jahanam keparat... *crep*!"

Munga tidak dapat mengelak. Dia langsung menggeliat akibat tusukan tombak itu, mengeluh, dan terkulai tak bersuara lagi. Tombak yang menancap di lehernya mengejutkan semua orang Tartar yang seketika menghentikan kegaduhan. Mereka sangat kaget oleh perbuatan Siga yang membunuh temannya sendiri.

Ketika Siga mencabut tombaknya dan memandang beringas ke arah kelompok Munga, keadaan menjadi gempar dan tidak terkontrol.

"Siga, kau jahanam terkutuk!" Lima orang tiba-tiba melompat maju. Mereka marah dan menyerang karena perbuatan Siga dianggap sudah keterlaluan. Hal itu dibenarkan oleh yang lain karena mereka jelas tidak menyetujui pembunuhan itu.

Namun, Siga yang sudah gelap mata membentak dan menangkis serangan lima anak buah Munga. Dia membuat mereka terpelanting hingga mereka berteriak memanggil kawan-kawannya untuk membantu. Karena kelompok Munga sakit hati melihat pemimpinnya tewas, ratusan orang mendadak meluruk dan menyerang Siga.

"Siga, kau berutang jiwa harus membayar jiwa! Kami tidak terima perbuatanmu ini!"

Siga terkejut. Dia terbelalak melihat majunya para pendukung Munga. Dia sibuk menangkis hujan senjata yang datang. Namun, karena lawan terlalu banyak dan mereka benar-benar bermaksud membunuhnya, Siga terpelanting ketika sebuah tombak mengenai leher kirinya.

"Bret!"

Ganti pendukung Siga yang terkejut. Mereka melihat pemimpin mereka bergulingan menjauh dengan darah mengalir dari luka tusukan. Saat Siga dikejar oleh ratusan orang yang berteriak-teriak, pendukung Siga yang berjumlah sepertiga dari pasukan yang ada maju membela. Mereka menghambur dan menangkis hujan senjata yang ditujukan pada pemimpinnya. Dalam sekejap, keadaan menjadi kacau dan pecah perang saudara.

Pertempuran tidak dapat dicegah lagi karena masing-masing pihak merasa benar. Di pagi buta itu, pasukan Tartar baku hantam dan saling bunuh. Siga tertegun. Dia tidak menyangka kejadian akan menjadi seperti itu. Dia baru sadar setelah terlambat dan menyesal telah membunuh Munga karena gelap mata.

Karena kelompoknya diserang oleh lawan yang jumlahnya dua kali lipat, Siga akhirnya berteriak mengamuk dan meminta pertempuran dihentikan. Dia merobohkan bekas anak buahnya sendiri dalam perang sampyuh itu dengan perasaan kaget, marah, dan sedih yang bercampur aduk.

Namun, karena bangsa Tartar adalah bangsa yang keras dan terbiasa ditempa kepahitan hidup, seruan pemuda ini sia-sia. Pertempuran terus berlanjut. Masing-masing pihak membalas dendam karena teman atau saudaranya mulai terbunuh. Mereka menjadi liar bagai binatang buas yang hanya melihat darah.

Ketika pagi menjelang dan sinar matahari mulai menerangi bumi, Siga menangis melihat kelompoknya cerai-berai. Lawan yang menang mengejar pihak yang kalah untuk membantai mereka demi memuaskan nafsu dendam. Saat kelompoknya terdesak dan kedua belah pihak jatuh banyak korban, pemuda ini akhirnya roboh pingsan karena kesedihan yang amat sangat.

Begitulah, bangsa Tartar pecah berantakan. Dalam sekejap, mereka menjadi serpihan kelompok yang tidak berguna lagi. Mereka terlalu lelah untuk berperang melawan kekuatan yang lebih besar, seperti pasukan kerajaan.

Ketika pertempuran berhenti dan darah berceceran di mana-mana saat matahari terbit, Gurba—pemimpin andalan yang merupakan tulang punggung bangsa ini—belum juga pulang. Ke mana raksasa itu? Bagaimana perasaannya jika tahu suku bangsanya telah porak-poranda? Tentu hatinya akan hancur dan sedih. Mari kita ikuti apa yang terjadi pada saudara seperguruan Kim-mou Eng ini.

***

Pada pagi buta, setelah membunuh Tian Ciangkun dan marah pada Bi Nio, raksasa tinggi ini langsung menuju kota raja. Dia bermaksud mengamuk serta membunuh kaisar dan siapa saja yang ditemuinya. Kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun dan tidak dapat dipadamkan lagi.

Namun, karena kota raja dijaga ketat, raksasa ini menghadapi rintangan yang tidak kecil. Mula-mula, dia harus melampaui tembok yang tinggi dan tebal. Dia melayang dan tiba di puncak tembok setinggi sepuluh meter itu dengan selamat. Namun, sebelum sempat melompat turun, pengawal telah melihat bayangannya dan berteriak-teriak.

"Hai, itu pemimpin bangsa Tartar! Awas!"

Gurba menggeram. Genta di menara tembok tiba-tiba dipukul, suaranya gencar membangunkan semua perwira. Saat dia menggereng, puluhan pengawal maju menyerang dengan tombak dan golok dari segala penjuru.

"Plak-plak-plak!"

Gurba menangkis serangan itu. Dia harus melindungi Bi Nio yang ada di pondongannya. Bi Nio sendiri terbelalak ngeri melihat hujan senjata tersebut. Namun, karena raksasa ini sangat hebat dan tangannya kebal, tombak dan golok yang mengenai tangannya justru patah.

Ketika lawan terkejut dan bengong memandangnya, Gurba sudah menggerakkan lengan melakukan pukulan sinkang.

"Minggir!"

Tujuh orang seketika terlempar. Mereka menjerit dari tembok tinggi itu dan jatuh terbentang ke bawah. Terdengar suara berdebuk di bawah sana; ketujuh korban pertama itu tidak dapat bangun lagi karena tubuh mereka hancur menghantam tanah yang keras.

Keadaan menjadi geger. Kedatangan raksasa Tartar yang mengejutkan di pagi buta ini membuat semua orang ribut. Para pengawal kembali maju dengan teriakan perang, menyerbu dan mengeroyok pemuda tinggi besar itu. Mereka dipimpin oleh seorang perwira tinggi bernama Tang Ciangbu—kapten bawahan Bu Ciangkun yang saat itu masih tidur di gedungnya.

Namun, karena Gurba sangat lihai, para pengawal dan Tang Ciangbu terkejut ketika melihat senjata maupun pukulan yang mengenai tubuh raksasa itu selalu mental atau patah. Mereka tidak dapat menembus kekebalan Gurba yang luar biasa. Saat Gurba membalas dengan bentakan dan jurus Thiat Lui Kang-nya, para pengawal roboh dan berpelantingan jatuh dari tembok.

"Mundur! Serang saja dari jauh!" Tang Ciangbu memberi aba-aba. Wajahnya pucat melihat anak buahnya rontok disapu pukulan raksasa ini.

Ketika para pengawal mundur karena gentar menghadapi pertarungan jarak dekat, panah mulai berhamburan menyerang pemimpin bangsa Tartar ini. Gurba mulai kerepotan. Dia harus melindungi Bi Nio, selir kaisar yang masih dipondongnya, dari hujan panah.

Gurba melolos bajunya dan mempergunakan pakaian itu untuk melindungi Bi Nio. Dia memutar pakaian tersebut serupa payung untuk meruntuhkan semua panah. Panah-panah yang luput mengenai pakaian itu hanya rontok saat menyentuh tubuhnya karena sinkang-nya telah melindungi seluruh tubuh dari kepala sampai kaki.

Saat semua orang gempar melihat kehebatannya, raksasa ini terjun dari tembok tinggi itu ke bagian dalam kota raja.

"Hei, tahan dia! Kepung!" Tang Ciangbu berteriak-teriak. Dia sendiri masih di atas tembok, tidak berani turun karena tidak memiliki ginkang yang cukup. Bisa patah kakinya jika terjun seperti Gurba yang mendarat layaknya gajah.

Pendaratan Gurba membuat bumi bergetar dan beberapa pengawal di dekatnya terpeleset. Para pengawal di bawah pun berteriak gaduh berusaha mencegah raksasa itu masuk lebih dalam.

"Plak-sing-bret!"

Gurba mengamuk. Dia menangkis, mendorong, mengibas, dan menampar. Bahkan, dia mencengkeram dan membanting setiap musuh yang berhasil ditangkapnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment