Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 48

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 48

Dan ketika Gurba membentak dan menyerbu ke depan dengan pukulan Tiat-lui-kangnya, tiba-tiba seratus pengawal berpelantingan tersibak dan menjerit tumpang tindih.

"Hei, tahan dia...!"

Tang-ciangbu semakin terkejut, berteriak dari atas menara melihat Gurba menerobos barisan pengawal, lolos dari kepungan dan kini menuju tengah kota untuk mengamuk di istana, membuat kepala pasukan itu pucat, ngeri, dan terkejut.

Tapi karena Gurba mendorong-dorongkan kedua lengannya dan tidak ada pengawal yang dapat mendekati raksasa itu dalam jarak sepuluh meter karena mereka tentu sudah roboh lebih dulu, maka Gurba leluasa memasuki kota dan menggereng-gereng bagai seekor singa.

Akibatnya, gemparlah semua orang. Seluruh isi kota raja bangun dari tidurnya, mendengar keributan dan teriakan para pengawal.

Dan ketika Gurba terus mengamuk di depan dan maju tanpa ada yang dapat mencegah lagi, akhirnya raksasa ini tiba di gerbang istana menghadapi satu divisi pasukan yang siap menyambutnya secara besar-besaran!

"Mundur..." Para pengawal terbelalak. Mereka mendengar bentakan yang mengguntur itu, penuh tenaga sakti hingga barisan di depan terjungkal. Roboh begitu saja terkena serangan suara ini. Dan ketika lapisan kedua dan ketiga tertegun melihat kehebatan raksasa ini, Gurba sudah menerjang dengan kaki tangannya tergerak-gerak ke depan.

"Des-dess!" para pengawal berteriak kaget. Mereka merasa angin pukulan yang luar biasa kuat mengangkat mereka, tubuh tiba-tiba terbanting dan mencelat bersama yang lain-lain. Tidak kurang lima puluh orang yang rontok dalam gebrakan pertama itu. Dan ketika semua menjerit dan Gurba melompat di atas kepala mereka, tiba-tiba raksasa ini telah memasuki daerah istana dan berada di dalam.

Tentu saja para pengawal gaduh. Mereka kaget oleh kesaktian pemimpin bangsa Tartar ini. Dan ketika Gurba mengamuk dan para pengawal mengeroyoknya dengan golok serta tombak berhamburan menghujani dirinya, maka raksasa itu kembali mendemonstrasikan kepandaiannya yang menakjubkan itu.

Semua tombak dan golok mental patah-patah, tidak ada satu pun yang mampu melukainya. Dan ketika raksasa ini membalas dan pukulan Tiat-lui-kang-nya menderu dahsyat, tahu-tahu seratus pengawal kembali rontok disapu pukulannya yang hebat itu. Hal ini membuat para pengawal terkejut, gentar, dan mundur-mundur.

Dan karena lawan sekarang berteriak-teriak tapi tidak berani maju mendekat, maka Gurba leluasa mendekati istana kaisar, siap masuk ke dalam dan mencari lawannya itu, membunuh dan melampiaskan sakit hatinya atas perbuatan kaisar dan orang-orangnya.

Tapi belum dia melaksanakan niatnya, mendadak kakak beradik Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun muncul!

"Gurba, jangan lancang kau!" Tiga bayangan panglima itu berkelebat ke depan, Gurba tahu-tahu telah dikepung. Ia mendengus dan tertawa mengejek melihat tiga panglima, tiga dari sisa Jit-Liong Ciangkun yang telah dia bunuh. Gurba menurunkan Bi Nio dan beringas memandang tiga orang lawannya itu, membuat Bu-ciangkun terbelalak tapi mengeraskan hati karena mereka tidak mungkin membiarkan raksasa ini menemui kaisar.

Dan ketika Gurba menggeram dan Bu-ciangkun maju ke depan, maka Panglima Yang yang juga tinggi besar dengan jenggot lebat itu membentak, "Gurba, apa maumu memasuki istana? Kau tak tahu aturan orang!" Gurba marah, tertawa dingin.

"Aku memang mencari kalian, Bu-ciangkun. Dan aku juga mencari kaisar kalian untuk kubunuh!" "Hm, kau harus melewati mayat kami, Gurba. Tidak bisa sembarangan saja kau melaksanakan niatmu! Wutt!" dan Bu-ciangkun yang sudah menyerang dengan Tangan Besinya membentak raksasa ini tiba-tiba disusul oleh Cu Hak dan Cu Kim, dua panglima kakak beradik, menggerakkan tombak mereka yang sudah siap di tangan. Mereka menusuk dan mencari kelemahan raksasa itu dengan menyerang mata, hal yang tepat sekali karena tidak mungkin Gurba melindungi bagian itu dengan kekebalannya.

Dan ketika tiga panglima itu berkelebat dan masing-masing berseru keras untuk menyerang dan saling melindungi, mendadak Gurba telah dikeroyok bayangan tiga panglima ini yang telah mengerahkan ginkang dan semua kepandaiannya untuk merobohkan raksasa Tartar itu.

Tapi Gurba mendengus. Raksasa ini memutar lengannya, berkerotok dan tiba-tiba mengibas ke kiri-kanan, menangkis dan mengeluarkan Tiat-lui-kang-nya yang dahsyat itu. Dan ketika tiga panglima itu berteriak menarik mundur serangan mereka, mendadak Bu-ciangkun berseru, "Cu-Ciangkun, putar kedudukan... ganti arah!" Cu Hak dan adiknya mengangguk. Mereka sudah mengubah posisi mereka, mengganti kedudukan, mengerti maksud Bu-ciangkun karena mereka tidak berani beradu keras lawan keras dengan raksasa itu. Pasti kalah.

Dan ketika ketiganya bergerak dan kini menyerang secara berganti-ganti karena masing-masing tidak mau tetap pada kedudukan semula, maka Gurba dikepung dan dibingungkan oleh perbuatan tiga panglima ini. Namun Gurba adalah suheng Kim-Moe-Eng. Dulu saja Kim-Moe-Eng tidak dapat ditandingi tiga panglima yang terpaksa mengakui kelihaian Pendekar Rambut Emas itu dan menyerah kalah.

Dan Gurba yang kini diserang dan coba dikecoh tiga panglima itu dengan gaya mengganti-ganti kedudukan hanya sebentar saja dibuat bingung. Raksasa ini berputar sekejap, terbawa oleh gerakan lawan. Terutama ia harus berhati-hati terhadap tusukan tombak di tangan kakak beradik Cu-ciangkun. Betapapun ia harus mengakui bahwa dua panglima ini cukup berbahaya, permainan tombak mereka cepat dan selalu mengincar matanya.

Dan ketika tiga panglima itu berseru menyerangnya dengan cara berpindah-pindah, mendadak Gurba tidak mau mengikuti gerakan lawan. Dia tinggal di tempat, memusatkan perhatian pada lawan yang ada di depan, siapapun adanya. Dan ketika kebetulan Cu Kim, adik Panglima Cu Hak, menusuk matanya dan Bu-ciangkun serta temannya menyerang di belakang, Gurba menggereng menggetarkan lengan. Mendadak raksasa itu menyambar tombak dan langsung menangkap senjata panjang panglima itu, membuat lawan terkejut dan berteriak kaget, membiarkan dua serangan di belakang mental mengenai tubuhnya.

Dan ketika Cu Kim membetot dan Gurba meremas, mendadak tombak yang ada di cekalan raksasa ini hancur oleh gencetan sinkang-nya yang luar biasa.

"Hei... kress!" Cu-Ciangkun terbelalak. Dia terjengkang ketika tombaknya hancur, terperanjat karena dia kalah cepat. Dan ketika Gurba membentak dan mengembalikan remasan tombak yang menjadi bubuk besi itu ke arah tiga orang lawannya, maka Cu-Ciangkun dan Bu-ciangkun berteriak ketika muka mereka disambar serbukan biji besi itu hingga mengenai kulit mereka, berlubang. Sebentar kemudian, puluhan tetes darah menitik kecil-kecil dari luka di wajah, membuat mereka bergulingan menjauh sambil menutupi muka.

Tapi Gurba yang mengejar dengan pukulan Tiat-lui-kang dan siap membunuh lawan-lawannya ini sudah mengibas dengan serangan maut, tertawa mengejek, "Samwi Ciangkun, kalian berangkatlah ke neraka!" Namun saat itu terdengarlah seruan berwibawa.

Seorang laki-laki berpakaian emas muncul tegak di pintu masuk mencegah Gurba membunuh tiga panglima itu, muncul dengan gagah dan agung. Dan persis Gurba menggerakkan lengan mendorong laki-laki ini yang bukan lain adalah kaisar itu, kaisar sudah mengangkat lengannya.

"Tartar Khan, tahan...!" Gurba tertegun. Dia membalik dan sudah berhadapan dengan laki-laki berpakaian emas ini, seorang pria berusia empat puluhan yang agung dan berwibawa. Dan sementara dia terbelalak dan Bu-ciangkun serta Cu-ciangkun melompat bangun, tiba-tiba serentak semua orang yang ada di situ menjatuhkan diri berlutut.

"Sri Baginda...!" Sekarang Gurba tahu. Kebingungannya lenyap memandang laki-laki itu, yang ternyata adalah kaisar sendiri. Musuhnya!

Tapi belum Gurba menggereng atau apa, maka Kaisar Yuan Ti yang tampan dan berwibawa ini sudah berseru padanya, menghentikan gerakannya, "Tartar Khan, hentikan semua pembunuhan yang kau lakukan ini. Aku ada di hadapanmu, kita dapat bicara sebagai orang-orang gagah!" Dan ketika Gurba melotot dan marah memandang kaisar itu, maka Kaisar Yuan Ti kembali berkata, "Aku pemimpin bangsaku di sini, Tartar Khan, dan kau adalah pemimpin bangsamu di sana. Kudengar kau adalah pemimpin yang jujur dan adil, serta gagah. Bisakah ini semua dibuktikan?"

Gurba menggereng. "Bukti apalagi, Kaisar busuk? Bukankah semuanya ini sudah merupakan bukti bagimu? Aku datang seorang diri, dan kalian menyambutnya secara keroyokan. Aku tidak mengganggu kalian, tapi kalian mengganggu dan menyerang kami, bangsa Tartar! Apakah ini bukan bukti untuk dilihat mana benar mana salah?"

"Hm," kaisar tertawa mengejek. "Tidak ada akibat tanpa sebab, Tartar Khan. Kami menyerang karena merasa kami disakiti. Kau telah menghina kami dengan membunuh utusan yang tidak berdosa."

"Utusan apa?!" Gurba terbelalak. Dan kaisar tampak terkejut.

"Tartar Khan, omongan apa yang kau ajukan ini? Bukankah kami telah mengirim utusan untuk menjalin persahabatan dengan suku bangsamu? Tapi kau membunuh mereka. Kau memenggal kepala tiga orang utusanku dan mengirimkannya kepada kami dengan kereta jenazah! Siapakah yang benar dan siapakah yang salah?"

Gurba tertegun. "Sri Baginda, apa maksud omonganmu ini? Siapa yang membunuh orang-orang utusanmu?"

"Ah," kaisar marah. "Tidak perlu kau mungkir, Tartar Khan. Aku telah mengirim utusan untuk menjalin persahabatan dengan suku bangsamu di luar Tembok Besar. Ang Bin-ciangkun yang melaksanakannya. Tapi mereka kembali dan menjadi mayat dikirim dengan kereta jenazah. Apakah ini bukan perbuatanmu?"

"Tidak!" Gurba terkejut. "Aku tidak tahu-menahu tentang utusan segala, Sri Baginda. Dan justru aku menyerang karena malam itu kami diserang. Ang Bin-ciangkun datang dengan pasukannya yang besar, tapi kupukul mundur dan sejak itu kubalas."

Kaisar tertegun. Dia masih berdiri di tangga istana, terbelalak memandang raksasa tinggi besar ini. Tampak tidak percaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment