Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 49

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 49

Dan Han-taijin serta Kim-taijin yang tiba-tiba muncul di samping kaisar mendadak bersuara, "Tar-tar khan, sumpah demi langit dan bumi, junjungan kami tak berdusta padamu. Sri baginda yang menganggap kau tak tahu aturan, membunuh utusan, dan menyakiti kami."

"Kalau begitu, siapa yang membunuh mereka? Haruskah Sri Baginda bersumpah demi nama leluhur bahwa kata-katanya bohong belaka?" Gurba ganti tertegun.

Pikirannya mendadak teringat pada kejadian malam pertama itu, di saat ia bersemedi. Di saat Siauw-bin-kwi dan teman-temannya muncul, menyerang, dan kemudian diserbu pasukan besar yang membuat suku bangsa Tar-tar terkejut, hampir terpukul, tapi dapat mengatasi lawan.

Gurba yang melotot pada bayangan Siauw-bin-kwi tiba-tiba berseru, "Sri Baginda, salahkah bila kukatakan bahwa Ang Bin Ciangkun mengutus tiga iblis tua mengganggu perkemahan kami?"

"Siapa?"

"Siauw-bin-kwi dan Hek-bong Siang-lomo!"

"Ah, siapa mereka itu?"

"Aku juga belum begitu kenal. Tapi mereka mula-mula menyerangku dan bala tentara Ang Bin Ciangkun muncul!"

Begitu Gurba selesai bicara, mendadak Cu Hak dan Bu Ciangkun berseru menghadap kaisar. "Sri Baginda, maafkan hamba. Kalau begitu di sini terjadi salah pengertian!"

"Apa maksudmu?"

Bu Ciangkun menggigit bibir. "Tiga iblis tua yang disebut Tar-tar khan ini adalah datuk-datuk sesat yang tidak ada hubungannya dengan kita, Sri Baginda. Mereka orang-orang kang-ouw yang liar dan ganas. Kepandaiannya tinggi!"

"Hm, kalau begitu..."

"Benar, mereka datang di saat kebetulan Bu Ciangkun menyerang, Sri Baginda. Dan karena Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya itu datang lebih dulu, maka Gurba menganggap mereka suruhan kita. Padahal tidak!"

Gurba terkejut. Sekarang dia mulai menangkap sesuatu yang tidak enak melihat Bu Ciangkun bercerita tentang tiga datuk sesat itu bahwa mereka memang tidak ada hubungan dengan tokoh-tokoh iblis tersebut. Ketika pembicaraan menginjak masalah ini dan Gurba terbelalak mendengarnya, mendadak raksasa itu mencelat maju menangkap panglima tinggi besar ini.

"Bu Ciangkun, kau bohong! Kalian mengarang cerita untuk menghapus kemarahanku!"

Bu Ciangkun terkejut. Dia tahu-tahu telah dicengkeram raksasa itu, membalik dan menghantam dengan tangan bajanya, marah dan kaget. Tapi Gurba yang mendahului dengan satu totokan pendek tiba-tiba membuat panglima ini mengeluh dan roboh tak berkutik. Hal itu membuat semua orang terperanjat, tapi tak berani menyerang raksasa itu. Pertama karena raksasa itu terlampau hebat, dan kedua karena Bu Ciangkun ada di cengkeramannya; sekali remas tentu tewas.

Melihat Gurba beringas dan menyeramkan sekali, matanya mencorong bagai naga tak berkedip hingga mendirikan bulu roma. Namun, kaisar yang tak takut dan memandang raksasa ini dengan kepala tegak tiba-tiba membentak, "Tar-tar khan, apa yang mau kau lakukan!"

Semua orang pucat. Mereka melihat kaisar menuruni tangga dua langkah, sebentar kemudian telah berhadapan dengan raksasa itu. Penuh keberanian, tidak gentar sedikit pun karena kaisar merasa di pihak yang benar. Matanya tiba-tiba juga mencorong, tapi tak seganas Gurba. Lebih lembut, namun memiliki pengaruh yang besar sekali, membuat Gurba tertegun dan terbelalak memandang kaisar ini.

Ketika dua pasang mata bentrok dan dua pemimpin bangsa itu sama-sama mengadu kekuatan, tiba-tiba Gurba kagum bukan main dan simpatik pada kaisar ini. Aneh! Gurba tertawa bergelak.

"Kaisar mata sipit, kau tak takut kutangkap dan kubanting mampus?"

Kaisar mengedikkan kepalanya. "Aku tak takut pada manusia atau apa pun yang paling ganas, Tar-tar khan. Karena aku merasa di pihak yang benar dan tidak bersalah!"

"Ha-ha, kalau begitu bisa kau buktikan omonganmu ini?"

"Kenapa tidak? Kau yang akan dikutuk sepanjang sejarah bila berani membunuhku karena kau melanggar kebenaran!"

Gurba tertawa kagum. Dia paling tersentuh oleh setiap kegagahan yang dijumpai. Bersinar-sinar ia memandang kaisar itu dengan mata aneh. Tapi, ingat pada Bu Ciangkun yang dicengkeramnya dan tidak percaya begitu saja pada omongan panglima ini, mendadak Gurba menggeram.

"Sri Baginda, apa jaminan bahwa apa yang dikatakan panglimamu ini benar? Bahwa Siauw-bin-kwi dan teman-temannya itu bukan orang-orangmu?"

"Hm, aku dapat memberikan jaminan apa saja, Tar-tar khan. Tapi aku juga ragu apakah kata-katamu juga benar. Apakah kau tidak mengada-ada dan sengaja menutupi persoalan sebenarnya!"

"Maksudmu?"

"Aku khawatir kau mengarang cerita belaka tentang tiga orang iblis itu. Juga tentang utusan yang terbunuh itu!"

"Ah, kau tak percaya?"

"Sama seperti dirimu yang juga meragukan keterangan Bu Ciangkun!"

Gurba menjublak. Dia mendadak dipukul balik oleh kecurigaan kaisar yang juga tidak percaya pada keterangan Bu Ciangkun. Tapi Gurba yang mendengus mendengar omongan lawan tiba-tiba berseru, "Kaisar yang mulia, aku bukan laki-laki pengecut yang harus mengelak dari perbuatan sendiri. Aku dan bangsaku benar-benar tak tahu akan orang-orang utusanmu itu. Kalau aku bohong, biarlah arwah leluhurku mengutuk aku seumur hidup!"

"Hm, aku juga memberikan kesaksian yang sama. Kalau aku bersekongkol dengan tiga iblis itu, biarlah arwah leluhurku juga mengutuk aku seumur hidup!"

Gurba tertegun. Dia melihat kaisar bersungguh-sungguh; mata yang bersinar itu tak berkedip memandang matanya, penuh kesungguhan dan jujur. Gurba yang tentu saja tak mungkin tidak percaya pada lawan yang sudah bersikap ksatria ini lalu mundur melepas Bu Ciangkun dengan muka merah. Sadar bahwa kiranya permusuhan itu disulut oleh pihak ketiga, entah siapa, yang membunuh utusan kaisar hingga terjadi kesalahpahaman hebat dan menyebabkan kedua belah pihak jatuh korban, timbul peperangan, dan masing-masing menderita rugi.

Ingat pada Siauw-bin-kwi dan dua temannya yang muncul di perkemahannya, tiba-tiba Gurba menggeram dan menjura pada kaisar, untuk pertama kalinya menghormat lawan.

"Sri Baginda, kiranya kita sama-sama terjebak oleh musuh yang tak bertanggung jawab. Biarlah kusediiki hal itu dan maaf atas semua kejadian yang tidak menyenangkan ini. Aku berjanji akan menangkap biang keladi ini dan kelak membawanya kepadamu!"

Kaisar tersenyum. "Boleh, dan maaf pula atas semua sikap pihakku, Tar-tar khan. Betapapun kita kini menyadari bahwa permusuhan kita dicetuskan atas dasar kesalahpahaman. Kutunggu janjimu!"

Gurba tak banyak bicara lagi. Sekarang dia maklum akan semua kejadian itu, marah dan geram pada Siauw-bin-kwi. Keras dugaannya bahwa iblis itulah yang menjadi gara-gara. Bahkan mungkin utusan kaisar dibunuh pula oleh iblis ini dan kawan-kawannya. Gurba yang marah membalikkan tubuh, tiba-tiba berkelebat meninggalkan kaisar, melewati kepala banyak orang, dan sebentar saja sudah keluar dari istana.

Namun, Bi Nio yang bangkit berdiri tiba-tiba berteriak padanya. Gurba terkejut. Dia berhenti dan melihat selir kaisar itu tersedu-sedu mengejarnya, menubruk, dan memeluk kakinya dengan air mata bercucuran. Bi Nio yang menyesal atas semua kejadian di malam itu dan sudah terisak di kaki raksasa ini berkata dengan pundak berguncang-guncang, "Maafkan aku, Hanggoda. Aku hanya melaksanakan tugas atas perintah junjunganku. Aku menyesal... aku ikut bersalah..!"

Gurba mengerutkan kening. Pernyataan itu bahkan membuat hatinya tertusuk, tapi kaisar yang melangkah maju tiba-tiba berseru, "Tar-tar khan, selirku telah menjadi istrimu. Aku ingin bersahabat, kupersembahkan selirku itu untukmu!"

Gurba terkejut. Tapi kaisar yang tertawa dan mengangkat bangun Bi Nio tiba-tiba menepuk pundak wanita itu. "Bi Nio, kau rupanya kagum pada raksasa ini. Dia memang patut menjadi pelindungmu. Ikut dan keluarlah dari kaputren!"

Bi Nio mengangguk. "Terima kasih, Sri Baginda. Tapi hamba..."

"Tak perlu khawatir. Tar-tar khan akan menerimamu sebagai tanda persahabatan!"

Gurba semakin terkejut. Saat itu suasana sudah bukan suasana permusuhan lagi. Masing-masing menyadari bahwa mereka "dikerjai" orang lain, mungkin Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya itu. Tapi Gurba yang teringat pada Salima dan diam-diam mengharap sumo-nya itu, tiba-tiba mundur dan menggeleng dengan muka pucat.

"Tidak, jangan, Sri Baginda!" raksasa itu menggigil. "Aku... aku belum niat untuk mempunyai istri!"

"Ah," kaisar tersenyum. "Bi Nio cukup menjadi selirmu saja, Tar-tar khan. Tak perlu menjadi istri atau permaisuri. Aku tahu keinginanmu pada sumo-mu yang gagah perkasa itu!"

Gurba seketika tertegun. Dia menjadi merah oleh kata-kata ini, tapi ingat bahwa Bi Nio hanya menjadi penghalang saja di perjalanan dan mungkin suku bangsanya tak cocok pada selir ini, tiba-tiba Gurba menjadi bingung.

Kaisar Yuan Ti yang rupanya bermata tajam dan awas pandangan itu dapat membaca isi hatinya. Begitu kaisar ini melangkah maju dan menepuk pundaknya, kaisar berkata, "Tar-tar khan, Bi Nio dapat kau titipkan di sini apabila kau keberatan. Dia sah menjadi milikimu. Aku tak akan mengganggunya. Dan bila sewaktu-waktu keadaan sudah mengizinkan, kau boleh membawanya pergi kapan saja. Aku tahu kerepotanmu, aku tahu watak suku bangsamu yang keras dan belum dapat menerima bangsa Han!"

Gurba tak dapat bicara lagi. Sekarang dia harus menyerah, tak mau melukai kaisar karena kaisar telah tulus memberikan selirnya demi persahabatan. Hal yang tentu saja sukar ditolak dan mau tak mau harus diterima. Gurba yang mengangguk mengucapkan terima kasih akhirnya berkata, "Baiklah, terima kasih atas kebaikanmu, Sri Baginda. Bi Nio boleh tinggal di sini dulu sampai semua kesibukanku selesai. Aku masih harus mencari biang penyakit itu. Orang-orang yang telah membuat kita bermusuhan!"

Kaisar girang. "Boleh, dan kapan saja kau boleh ke kaputren, Tar-tar khan. Aku memberi izin khusus padamu untuk menengok Bi Nio!"

Gurba semburat. Kata-kata itu mempunyai arti yang dalam, melihat Bi Nio melirik dan menghapus air matanya. Begitu dia mengangguk dan memutar tubuh, tiba-tiba Gurba tak mau diganggu lagi dan melompat keluar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment