Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 50

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 50

Gerakannya seperti iblis. Lenyap begitu saja di luar gerbang istana.

Ketika Guroa melompati tembok dan hilang dari pandangan, raksasa ini menjadi buah bibir yang tidak kalah hangat dengan pembicaraan ketika Kim-mou-eng dulu membuat geger di kota raja. Sama-sama membuat orang kagum dan gentar. Namun, begitu raksasa itu lenyap dan kaisar masuk ke dalam, semua pengawal sibuk merawat korban yang luka atau tewas; tak kurang dari tiga ratus orang menjadi korban.

Ketika suasana mulai tenang dan Bu-ciangkun bersama Cu-ciangkun mengobati luka mereka, jauh di luar sana, Gurba kembali ke perkemahan suku bangsanya. Ia tertegun dan hampir tak percaya melihat mayat bergelimpangan di sana-sini, disertai banjir darah di balik tumpukan senjata yang patah.

Begitu raksasa itu sadar dan melihat Siga berlutut tersedu-sedu menghadapi ratusan mayat, mendadak Gurba mencelat dan sudah berada di depan pembantunya. Ia membentak dan menanyakan apa yang terjadi. Siga pun terisak-isak menceritakan semua kejadian itu dari awal sampai akhir. Mendengar penjelasan itu, raksasa ini mengeluarkan pekik yang membuat tanah bergetar dan langit seakan roboh. Siga terlempar oleh getaran suara yang amat dahsyat itu. Ketika Gurba menyebut nama Siu-bin Kwi, tubuhnya gemetar hebat, lalu ia menjejakkan kaki dan lenyap dari tempat itu.

"Siga, kembali keluar Tembok Besar. Tunggu aku di sana!"

Siga mematung. Ia hanya mendengar pesan singkat itu, seruan penuh gusar, kemarahan, serta sakit hati yang penuh dendam. Karena pasukan Tar-tar sudah pecah dan semrawut, pemuda itu bangkit terhuyung-huyung, mengumpulkan sisa anak buahnya yang tidak seberapa, lalu meninggalkan bekas perkemahan yang porak-poranda itu.

***

Agaknya cukup lama kita meninggalkan Kim-mou-eng. Mari ikuti kisah pendekar ini. Berhasilkah ia mengejar sumoinya? Berhasilkah ia meredakan kemarahannya? Ternyata tidak. Salima telah lenyap mengerahkan ginkangnya, masuk keluar hutan, tak mau dipanggil suhengnya. Setelah dua hari kejar-mengejar, Kim-mou-eng tiba di Chi-cou, tempat di mana Bupati Wang memerintah; seorang bupati yang jujur dan keras pendirian.

Kim-mou-eng yang putus asa karena sumoinya tak mau diajak bicara, berpikir untuk menemui Cao Cun, putri Bupati Wang yang cantik. Kedatangannya disambut girang oleh sang bupati yang langsung memeluk pendekar ini sambil terisak. Ketika istri bupati muncul dan berlutut di depan pendekar itu, Kim-mou-eng terkejut.

"Taijin, ada apa? Mana Cao Cun?"

Bupati itu tak dapat menjawab. Ia menangis deras, namun setelah kedukaannya mereda, orang tua itu berkata dengan gemetar, "Cao Cun tak ada di sini, Taihiap. Putriku dikurung di Istana Dingin beberapa bulan yang lalu!"

"Apa itu Istana Dingin? Di mana letaknya? Apa yang terjadi?"

Bupati Wang menghapus air matanya. "Mari duduk dulu, Taihiap. Aku akan menceritakannya secara urut. Aku bertubi-tubi mendapat cobaan."

Bupati Wang lalu bercerita bagaimana putrinya terpilih oleh kaisar, lalu dipanggil oleh Menteri Mao untuk dibawa ke kota raja. Namun, karena menteri itu mata duitan dan menahan Cao Cun lantaran Wang-taijin belum membayar uang jasa sebanyak lima ratus ons emas, gadis itu tak jadi menghadap kaisar. Wang-taijin sudah mencoba berjuang, menemui menteri itu hingga bentrok di rumahnya, menemui Gubernur Liang, bahkan menghadap penasihat kaisar, Han-taijin, namun semuanya gagal.

"Kami tak berdaya lagi, Taihiap. Kami merasa putus asa menghadapi menteri yang kuat kedudukannya itu. Mao-taijin banyak dilindungi menteri-menteri lain; dia culas dan licik!"

Kim-mou-eng mengerutkan kening, marah. "Jadi Cao Cun sekarang ditahan di Istana Dingin? Di mana tempat itu?"

"Di luar kota raja, dekat Bukit Niu-san. Aku tak dapat mendatangi tempat itu karena dijaga ketat oleh pengawal-pengawal tangguh dan temboknya pun tinggi."

"Baik, aku akan ke sana!" Kim-mou-eng bangkit berdiri. "Aku akan membawa kembali Cao Cun padamu, Taijin. Jangan khawatir."

Bupati Wang girang dan kembali menjatuhkan diri berlutut di kaki pendekar ini. "Taihiap, beribu terima kasih. Kami tak dapat menahan rindu lagi. Kembalilah cepat-cepat, Istana Dingin tiada ubahnya penjara seumur hidup bagi putriku!"

"Sudahlah," Kim-mou-eng mengangkat bupati itu. "Aku dan Cao Cun seperti kakak dan adik. Tak perlu mengucap terima kasih."

Begitu Bupati Wang berdiri, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas berkelebat lenyap meninggalkan tempat itu. Kim-mou-eng terkejut mendengar berita tersebut; ia tidak menyangka Menteri Mao bertindak sejauh itu. Sore harinya, ia tiba di Bukit Niu-san dan mendapati Istana Dingin terletak di puncak bukit, menjulang kokoh dan terlindung pepohonan besar yang menimbulkan kesan sejuk, bahkan dingin.

Karena tempat itu dijaga ketat dan hanya memiliki satu jalan khusus yang selalu diawasi, Kim-mou-eng menunggu gelap tiba. Ia bersandar di atas pohon sampai matahari tenggelam. Begitu malam tiba, ia berkelebat menuju puncak. Tak ada kesukaran baginya, kegelapan malam melindunginya. Namun, saat ia melompat ke atas tembok, lampu sorot tiba-tiba memancar mengenainya.

"Hei, siapa kau!" teriak seorang pengawal.

Kim-mou-eng terkejut. Ia berjungkir balik menghindari lampu sorot dengan gerakan sangat cepat hingga tampak seperti iblis. Dua pengawal berlari-lari menyorot tempat itu, namun mereka hanya bisa berseru heran karena sosok itu sudah hilang. Kim-mou-eng tertawa di tempat persembunyiannya. Ia menggelantung di sebuah belandar, mirip kelelawar, menunggu dua pengawal itu pergi sambil tetap waspada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment