Chapter 51
Mungkin ada yang bersembunyi dan tidak dia ketahui, seperti dua penjaga itu tadi. Ketika dua penjaga itu ribut dan menyorot ke berbagai tempat namun tidak menemukan bayangan pendekar ini, akhirnya mereka mengumpat dan kembali ke pos penjagaan.
"Bangsat, rupanya kita kedatangan hantu!" salah satu dari mereka mengomel.
Mereka pergi tanpa curiga, tampak kedinginan dan menggigil. Bulu roma mereka berdiri karena lawan yang mereka incar tiba-tiba menghilang, membuat mereka mengira sosok tersebut adalah hantu atau siluman yang biasa berkeliaran saat gelap tiba.
Setelah penjaga pergi, Kim-mou-eng turun dari atas belandar, lalu menyelinap untuk memeriksa Istana Dingin itu. Kepandaiannya yang tinggi dan gerakannya yang tanpa suara memungkinkan dia bergerak leluasa, berkali-kali menghindari pengawal yang berjaga ketat. Ketika memasuki lorong kamar tempat para calon selir disimpan, Kim-mou-eng terpaksa mengintai dan melubangi jendela untuk mencari keberadaan Cao Cun.
Kim-mou-eng tertegun. Ia melihat tidak kurang dari seratus wanita cantik di situ, rata-rata berusia di bawah dua puluh tahun dengan kulit bersih. Mereka tampak ranum dan menggairahkan karena merupakan gadis-gadis remaja yang masih belia, bahkan ada yang masih kekanak-kanakan dengan usia tak lebih dari lima belas tahun. Sangat mengherankan bagaimana gadis-gadis semuda itu bisa berada di tempat tersebut.
Namun, karena wanita yang dicarinya tidak ada di sana, Kim-mou-eng mengerutkan kening, bingung dan gelisah. Ke mana gadis itu disimpan?
Tinggal dua kamar terakhir yang belum diselidiki di bagian paling belakang. Di sana, lima orang pengawal tampak hilir mudik berjaga. Kim-mou-eng harus berhati-hati. Ia melompat dan merayap di langit-langit ruangan. Hebat sekali! Pendekar itu memiliki ilmu yang disebut *Pekchong*, ilmu merayap seperti cecak yang sepenuhnya mengandalkan *sinkang* hebat di telapak tangan, sehingga tubuhnya melekat dan tak mungkin jatuh saat menggantung dengan punggung di bawah. Persis tokek!
Saat melewati kepala lima orang penjaga di bawah, pendekar ini tiba di ujung dan melompat berjungkir balik hingga kakinya menapak di lantai.
"Cring!"
Suara itu mengejutkan kedua pihak. Kim-mou-eng terkejut karena tak sengaja menginjak seuntai benang emas yang terhubung dengan gembreng rangkap, sebuah alarm tanda bahaya bagi siapa pun yang masuk tanpa izin. Lima pengawal itu berseru kaget dan langsung menyerang dengan golok yang mendesing menyambar tubuhnya.
"Hei, kau siluman keparat!"
Kim-mou-eng harus bergerak cepat menangkis serangan. Ia mengerahkan *sinkang* di kedua tangan hingga golok-golok itu mental dari lengannya. Saat kelima orang itu terkejut karena senjata mereka terlepas, jari-jari Kim-mou-eng bergerak menotok dengan kecepatan luar biasa di belakang leher mereka.
"Tuk-tuk!"
Lima orang itu roboh bergelimpangan dan pingsan. Mereka memang bukan tandingan pendekar ini. Kim-mou-eng menyeka keringatnya, khawatir keributan kecil itu terdengar oleh pengawal lain. Ia menyeret tubuh-tubuh tersebut ke sudut ruangan, tersembunyi di balik tanaman perdu dalam kegelapan malam.
Namun, tepat saat ia selesai membereskan para penjaga, pintu kamar pertama terbuka. Seorang gadis bermata lebar muncul dan membelalak terkejut melihat kedatangannya.
"Siapa kau?"
Kim-mou-eng terkesiap, mengira gadis itu adalah Cao Cun. Saat gadis itu menunggu jawaban, Kim-mou-eng tersenyum lebar dan jari-jarinya bergerak menotok dari jauh.
"Nona, kau masuklah kembali, tuk!"
Gadis itu roboh menimpa pintu kamarnya sendiri, membuat gaduh dan terjengkang ke belakang. Kim-mou-eng segera menyambar gadis itu, masuk ke dalam kamar, lalu menutup dan mengunci pintu. Ia membungkam mulut gadis itu dan membebaskan totokannya. Saat gadis itu membuka matanya yang jernih, Kim-mou-eng membentak pelan dengan ancaman dingin, "Jangan membuat ribut. Aku mencari seseorang di sini!"
Gadis itu terdiam. Kedua pasang mata beradu, satu menggigil ketakutan sementara yang lain mencorong menakutkan. Namun, begitu gadis ini mengangguk dan melihat rambut Kim-mou-eng yang keemasan, ia berseru kegirangan, "Kau Kim-mou-eng!"
Kim-mou-eng terkejut. "Dari mana kau tahu? Siapa kau?"
"Ah, kau Kim-mou-eng, kan?" gadis itu mengulang.
"Ya."
"Kalau begitu cocok! Cao Cun menunggumu selama ini." Gadis itu tiba-tiba tertawa, menyambar lengan Kim-mou-eng, lalu menerobos keluar menuju kamar sebelah dan menggedor pintunya keras sekali. "Cao Cun, kakakmu datang! Kim-mou-eng datang!"
Kim-mou-eng khawatir kedatangannya diketahui pengawal lain, namun pintu itu terbuka dan sesosok tubuh ramping bermuka pucat berdiri di sana. Kim-mou-eng tertegun melihat Cao Cun.
"Kim-twako...!"
"Cao Cun...!"
Keduanya saling tubruk. Cao Cun menjerit dan terisak, mendekap pendekar itu erat-erat. Saat bayangan pengawal tampak berkelebat datang, Kim-mou-eng segera mendorong Cao Cun masuk dan menyuruhnya diam. Gadis pertama yang tadi bersama Kim-mou-eng tampak sadar akan keributan yang ia buat.
Ketika pengawal datang menanyakan keributan itu, gadis tersebut dan Cao Cun menjawab dengan menggigil, "Tidak apa-apa. Aku hanya teringat ayah dan kampung halamanku."
"Tapi mana Sun Tek dan teman-temannya?" tanya pengawal itu, curiga karena tak melihat lima penjaga yang seharusnya bertugas di situ.
Gadis pertama yang tenang menjawab, "Mereka meronda ke belakang, sebentar lagi tentu kembali." Pengawal itu percaya dan pergi. Cao Cun merasa lega dan berterima kasih pada temannya itu.
Begitu pintu tertutup, Kim-mou-eng menemui Cao Cun lagi. Cao Cun melepaskan rindunya dengan terisak-isak kecil. Pendekar Rambut Emas itu mengusap rambut Cao Cun, lalu teringat gadis pertama yang ikut mencucurkan air mata.
"Cun-moi, siapa temanmu ini?"
Cao Cun melepaskan diri. "Dia sahabatku, Twako. Namanya Li Wan Hoa."
Gadis itu memberi hormat. "Kim-mou-eng, aku tak pantas disebut sahabat Cao Cun. Aku hanya teman biasa, penghiburnya."
"Ah, kau jangan bicara begitu, Wan Hoa. Kau telah memberiku kekuatan dan semangat untuk bertahan hidup sampai saat ini," sela Cao Cun.
Wan Hoa tersenyum, namun wajahnya mendadak gelap. Ia pun pamit, "Cao Cun, kau tentu ingin melepas rindu pada Kim-taihiap. Biarlah aku menunggu di kamarku dulu. Hati-hati, jangan terlalu keras menangis!"
Cao Cun mencoba menahan, tapi Wan Hoa bersikeras menjaga di luar demi keamanan. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu keluar, meninggalkan Kim-mou-eng yang masih bertanya-tanya tentang jati diri Wan Hoa.
"Biarlah, kita memang bisa bebas bicara, Cun-moi. Tapi apakah dia tak berbahaya? Jangan-jangan dia memanggil pengawal!"
"Tidak!" Cao Cun yakin. "Wan Hoa senasib dengan diriku, Twako. Dia juga gadis malang."
Cao Cun kemudian bertanya, "Twako, dari mana kau tahu aku ada di sini? Kebetulan sajakah?"
Kim-mou-eng menghela napas. "Ayahmu yang memberitahu. Aku telah ke Chi-co ingin bertemu dengan ayah ibumu."
"Ah, bagaimana keadaan mereka? Baik-baik sajakah?"
"Mereka kurus, Cun-moi. Mereka sedih melihat kau terkurung di sini."
Cao Cun menangis dan menggigit bibir. "Twako, ini semua gara-gara Mao-tajin yang busuk itu. Dia jahat dan penipu!"
"Ya, aku tahu. Dan aku datang memang untuk membawamu pergi!"
Cao Cun tiba-tiba menghentikan tangisnya dan membelalakkan mata. "Kau mau membawaku pergi, Twako?"
"Ya."
"Ke mana?"
"Eh, tentu saja ke rumahmu! Kenapa pertanyaanmu demikian aneh?" Kim-mou-eng mengerutkan kening.
Namun, Cao Cun justru tersedu hebat, memutar tubuh, dan membanting diri di pembaringan sambil menutupi wajahnya dengan bantal.