Chapter 52
Ketika Kim Mou Eng tertegun dan heran akan sikapnya, gadis itu berkata sambil menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Tidak, tidak, Twako. Kalau begitu percuma saja. Aku tak mau ikut!"
"Ah, kau gila!" Cao Cun tiba-tiba mengangkat mukanya, meletakkan bantal yang kini penuh air mata itu. "Twako," suaranya menggigil, "kalau hanya membawaku ke Chin-chou, kenapa harus bersusah payah kemari? Mao Taijin tentu akan mengejar dan menyuruh pengawal-pengawalnya itu. Aku akan tertangkap dan dibawa kembali ke sini."
Kim Mou Eng tertegun. "Aku akan menghajar Mao Taijin... aku akan..."
"Tidak," Cao Cun memotong, lalu bangkit berdiri. "Percuma saja hal itu, Twako. Kalau Mao Taijin dihajar, maka menteri lain yang bakal disuruh kaisar. Satu-satunya jalan adalah..." Cao Cun menggigil, air matanya membasahi pipi yang pucat kemerah-merahan itu hingga tampak mengibakan. Ia menghentikan kata-katanya.
Karena Kim Mou Eng memandangnya heran, dan ketika Cao Cun tersedu serta menubruk pendekar itu dengan mata terpejam, maka Pendekar Rambut Emas ini terkejut bukan main saat Cao Cun melanjutkan kata-katanya yang tertunda, "Aku hanya mau kau bawa dari sini apabila selamanya aku selalu di dekatmu, Twako. Kalau tidak, biarlah aku mati sampai tua di sini!"
Kim Mou Eng bengong. "Apa? Kau gila, Cun-moi? Mana bisa selamanya kau ikut aku?"
"Itulah, kalau tidak bisa, biarkan aku sendiri, Twako. Aku tak mau kembali ke Chin-chou karena ayah-ibuku tentu tak dapat melawan orang-orang kaisar kecuali kau ada di sampingku. Kau akan melindungi kami!"
Kim Mou Eng tertegun. Sekarang Cao Cun memeluknya dengan air mata bercucuran hingga dadanya basah oleh air mata gadis itu. Ketika pundak gadis itu masih berguncang-guncang dan pendekar ini penasaran oleh sikap Cao Cun, ia melepaskan diri dan mendorong pundak gadis itu.
"Cun-moi, aku berjanji pada ayah-ibumu untuk membawamu kembali dengan selamat ke Chin-chou dan sekarang aku harus menepati janji itu. Aku ada di sini sekarang. Kenapa kau bersikap yang aneh-aneh, padahal ayah-ibumu menunggu dengan cemas di sana? Kau mau membuat kedua orang tuamu menderita seumur hidup?"
Cao Cun menutupi mukanya. "Aku mau kembali asal kau juga di sana, Twako. Kalau tidak, biarlah aku tinggal di sini saja. Tak usah."
Kim Mou Eng membelalakkan mata. Dia melihat gadis itu memutar tubuh, membanting diri lagi di pembaringan, mengguguk, dan menutupi mukanya dengan bantal serta guling. Sementara ia penasaran dan terkejut oleh sikap Cao Cun, mendadak pintu terbuka dan Wan Hoa muncul.
"Ssttt..." gadis itu memberi tanda. "Lebih baik kau ikut aku, Taihiap. Dia tak akan bicara meskipun kau mendesaknya!"
Kim Mou Eng heran. Dia mengangguk dan berkelebat keluar, menutup pintu, lalu sebentar kemudian telah berada di kamar sebelah, kamar Wan Hoa. Ketika gadis itu mempersilahkannya duduk namun Kim Mou Eng menolak, akhirnya Wan Hoa berdiri berhadapan dengan pendekar ini. Alisnya yang hitam menyelinap berkerut sementara matanya yang lebar dan jernih menatap tajam.
"Kim-taihiap, tak tahukah kau apa yang menjadi alasan utama bagi Cao Cun kenapa dia menolakmu?"
"Hm," Kim Mou Eng mengangguk. "Katanya takut dikejar-kejar anak buah Mao Taijin, Nona. Karena itu dia memintaku untuk melindunginya selalu dan tidak jauh darinya!"
"Betul, tapi hanya itukah tangkapanmu mendengar permintaannya? Kau tak tahu ada yang lebih dalam dari sekadar alasan itu?"
Kim Mou Eng heran. "Apa itu, Nona?"
Wan Hoa menepuk meja. "Kim-taihiap, sebaiknya buang dulu sebutan Nona-nona itu. Kau panggil saja aku Wan Hoa atau Adik Hoa!"
"Baik, apa itu, Adik Hoa?"
Wan Hoa tersenyum aneh. "Kau benar-benar tak tahu, Taihiap?"
"Kalau aku tahu tentu tak akan bertanya padamu!" Kim Mou Eng mendongkol. "Kau katakan saja, Adik Hoa. Apa alasan utama itu hingga Cao Cun minta kulindungi selamanya!"
Wan Hoa tertawa manis sekali, tapi kata-katanya mengejutkan Kim Mou Eng, "Karena dia mencintaimu, Taihiap. Cao Cun mencintaimu lahir batin dan setiap hari hanya kau saja yang dibicarakan. Itulah!"
Kim Mou Eng terkejut. Dia mundur selangkah dengan mata terbelalak lebar, memandang gadis bermata jernih ini. Wan Hoa mengangguk dan menyambar lengannya, lalu berbisik sungguh-sungguh, "Benar, Cao Cun mengharap-harap kedatanganmu, Taihiap. Dia siap mati di tempat ini kalau kau menolak cintanya. Itulah sebabnya dia minta berdekatan denganmu kalau kau hendak membawanya pergi. Kalau tidak, dia tak akan mau dibawa meskipun kau paksa!"
Kim Mou Eng tertegun. Sekarang dia menjublak, wajahnya berganti pucat dan merah mendengar kata-kata itu. Ia bingung dan seakan dipukul palu godam, melihat bayangan Sumoi-nya tiba-tiba berdiri di samping bayangan Cao Cun, tegak dan marah melihat dia menggandeng puteri Wang Taijin itu. Ia teringat kejadian beberapa minggu yang lalu ketika dia mencium Sumoi-nya.
Kim Mou Eng, yang tertegun dengan kaki menggigil, mendadak melepaskan diri dan berseru perlahan, "Tak mungkin!"
Wan Hoa mengerutkan alis. "Apanya yang tak mungkin, Taihiap? Cao Cun bukan adikmu sendiri, kalian tak ada hubungan darah!"
"Tapi..."
"Tapi apa, Taihiap? Kau mau membiarkan Cao Cun merana seumur hidup di sini? Kalau begitu tinggalkan saja dia. Biar dia mati bersama aku di sini!"
Kim Mou Eng kaget. "Wan Hoa...!"
Wan Hoa tersenyum mengejek, dadanya tiba-tiba dibusungkan. "Kim-Taihiap," gadis itu mulai berkata berapi-api. "Aku tahu apa yang menjadi penderitaan Cao Cun. Aku dan dia sama-sama senasib dan sependeritaan. Kami masing-masing telah menceritakan isi hati kami. Cao Cun mencintaimu; kalau kau menolak, dia juga tak dapat berbuat apa-apa, tapi segeralah tinggalkan tempat ini. Kami sadar bahwa kami wanita lemah, lain dengan lelaki. Tapi sekali kami menjatuhkan cinta, tak mudah bagi kami untuk menariknya kembali!"
Kim Mou Eng tertegun.
"Dan Cao Cun tak main-main, Taihiap," Wan Hoa melanjutkan dengan mata masih berapi-api. "Dia siap menerima kegagalan ataupun keberhasilannya. Kalau ia gagal dan kau menolak cintanya, maka ia akan tinggal di sini seumur hidup bersamaku. Itu sumpahnya. Tapi kalau ia berhasil dan kau mau membawanya pergi, maka ke mana pun ia akan ikut padamu. Bahkan ke bangsamu yang dianggap setengah liar itu pun!"
Kim Mou Eng terpukul. Memang ada anggapan di kalangan bangsa Han bahwa bangsa Tartar adalah bangsa liar, kurang beradab, dan karena itu dijauhi bangsa-bangsa lain yang menganggap diri sendiri lebih tinggi kebudayaannya. Namun, karena urusan ini tidak membicarakan bangsa Tartar, melainkan Cao Cun yang mencintai dirinya, mendadak Kim Mou Eng menjadi bingung dan pusing.
Tapi ketika pintu terbuka dan Cao Cun yang memasuki kamar sahabatnya, tiba-tiba puteri Wang Taijin itu berseru menegur temannya, "Wan Hoa, tak perlu kau membuka rahasia hatiku pada Kim-Twako. Dia tak perlu kau paksa, Kim-Twako bebas memilih!"
Wan Hoa tertegun. Dia melihat Cao Cun sudah balik lagi menutup pintunya, tersedu menuju kamar sendiri, dan membanting tubuh di tempat tidurnya. Wan Hoa yang terbelalak memandang Kim Mou Eng tiba-tiba bertanya, "Bagaimana, kau meninggalkan Cao Cun atau menerimanya, Taihiap? Aku mendapat marah gara-gara menceritakan cintanya padamu!"
Kim Mou Eng bingung. Dia berdebar dan iba sekali melihat keadaan gadis itu, gadis cantik yang kusut mukanya. Tak enak, dan tentu saja tak mau membiarkan Cao Cun hidup di Istana Dingin, penjara yang tiada ubahnya neraka bagi gadis itu. Karena dia mulai mendengar langkah-langkah kaki mendatangi tempat itu, tiba-tiba pendekar ini mengangguk dan berkelebat menuju kamar Cao Cun.
"Baiklah, aku akan membawanya pergi!"
Wan Hoa girang. "Ah, kalau begitu Cao Cun tak bertepuk sebelah tangan, Taihiap?"
Kim Mou Eng tak menjawab. Telinganya yang tajam mendengar langkah kaki yang banyak sekali, lebih dari sepuluh orang. Jumlah yang baginya tidak berarti, tapi bisa membuat ribut, hal yang tidak dia kehendaki. Maka begitu tiba di kamar Cao Cun dan melihat gadis itu tengkurap di pembaringannya, mendadak dia menyambar dan sudah memanggul gadis ini.
"Cun-moi, kita harus lari. Banyak pengawal datang menyerbu!"
Cao Cun tertegun. "Kau...?"
"Ya, aku menerimamu. Cinta kita tak bertepuk sebelah tangan!"
Ketika Cao Cun terpekik dan mengeluh lirih, mendadak gadis itu meronta melepaskan diri, mencium pipi Kim Mou Eng dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan, dua kali di kanan-kiri. Namun, bentakan pengawal yang sudah di depan kamar tiba-tiba membuat Kim Mou Eng gugup dan tidak merasakan ciuman di pipinya itu. Ia menyambar dan memanggul kembali puteri Wang Taijin yang terisak dengan air mata bercucuran ini—bukan duka, melainkan bahagia.
Ketika Kim Mou Eng melompat dan menerjang pintu kamar, mendadak lima golok menyerangnya ganas disusul sambaran sebuah cakar ayam yang terbuat dari baja. Terdengar bentakan Sin-kee Lo-jin yang sudah dikenal, "Kim Mou Eng, kiranya kau...!"
Sing-plak!
Lima golok dan cakar baja itu terpental semua. Kim Mou Eng terkejut melihat pengawal Mao Taijin itu ada di situ, tertegun melihat lima pengawal pertama yang bukan lain Sun Tek dan teman-temannya tadi sadar kembali. Rupanya ia sudah siuman; terlalu lama dia di dalam kamar bercakap-cakap dengan Wan Hoa dan Cao Cun hingga melupakan lima pengawal yang tadi direndam dalam semak belukar itu.
Ketika Sin-kee Lo-jin kembali membentak dan menyuruh yang lain maju menyerbu, mendadak dua puluhan pengawal yang dibawa kakek sakti ini menerjang dengan senjata masing-masing.
"Kim Mou Eng, kau akan kami bunuh!"
Kim Mou Eng berkelebat.