Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 53

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 53

Dia kembali menangkis dan membuat lawan menjerit dengan senjata terlepas, mental semua dikebut angin pukulan yang dahsyat.

Namun, Sin-kee Lo-jin yang rupanya dendam pada pendekar ini mendadak melontarkan cakar bajanya dari belakang, menyerang secara curang dan menyuruh yang lain menyerbu dari depan.

Kim-mou-eng yang waspada dan sudah melompat tinggi mendadak menendang senjata yang menyambar dari belakang ini. Dia tahu akan kecurangan lawan dan mengerutkan kening karena cakar baja itu sesungguhnya menyerang Cao Cun, sebab gadis itu berada di belakang punggungnya.

Begitu cakar baja ditendang membalik, Sin-kee Lo-jin berteriak kaget ketika Kim-mou-eng berjungkir balik lenyap dari kamar itu sementara senjatanya menyambar dada Sin-kee Lo-jin sendiri dengan kecepatan luar biasa.

"Hei, bluk!" Sin-kee Lo-jin terbanting bergulingan.

Dia tak dapat mengelak senjatanya sendiri, mengaduh dan melontarkan darah segar karena dadanya serasa rontok dihantam cakar bajanya sendiri, sebuah senjata makan tuan.

Ketika para pengawal ribut dan Kakek Ayam Sakti itu terhuyung bangkit berdiri, Istana Dingin menjadi gempar oleh genta yang dipukul bertalu-talu.

"Kim-mou-eng menculik calon selir, pendekar rambut emas datang!" Suasana menjadi gaduh.

Istana itu tiba-tiba diluruk banyak orang; semuanya berlarian menuju kamar Cao Cun karena dari sinilah bermulanya keributan. Mereka berteriak-teriak dan terkejut mendengar kedatangan Kim-mou-eng, pemuda sakti yang telah menggegerkan kota raja dan tentu saja membuat nyali semua pengawal kecut.

Namun, ketika melihat Kim-mou-eng tak ada lagi di tempat itu dan para pengawal justru berteriak berlarian keluar, suasana menjadi hiruk-pikuk bercampur maki-makian. Pengawal di luar bingung. Mereka berlarian kembali seperti semut digebah, masing-masing mencari ke delapan penjuru.

Ketika pengawal di atas menara melihat bayangan Kim-mou-eng dan pendekar itu melompati tembok yang tinggi, para pengawal menghambur ke tempat tersebut.

"Dia naik ke tembok, awas!" Kim-mou-eng memang benar ada di situ. Dia telah menyelinap, meloloskan diri, dan merobohkan pengawal tapi tak mau membunuh mereka. Dia keluar dari Istana Dingin itu dan kini berada di bawah dinding yang tinggi, siap melompat naik dengan ginkang yang luar biasa.

Tapi Cao Cun yang bergerak di belakang punggungnya tiba-tiba berseru menggigil, "Kim-twako, jangan tinggalkan Wan Hoa, ambil dia!"

"Apa?" Kim-mou-eng terkejut. "Kau berarti menyuruhku kembali ke dalam, Cun-moi? Gila, para pengawal mengejarnya. Aku tak mau ribut-ribut!"

Cao Cun menangis. "Kalau begitu tinggalkan aku, Twako. Kau larilah dan biar aku membawa Wan Hoa!"

Kim-mou-eng semakin terkejut. "Kau gila, Cun-moi? Kita sudah di batas istana, aku siap melompat keluar!"

"Tidak, tidak... kalau begitu aku turun di sini. Kau larilah dan selamatkan dirimu!" Cao Cun melorot turun dari punggung Kim-mou-eng, lalu menangis dan kembali memasuki istana, memanggil-manggil Wan Hoa dan menyuruh gadis itu berlari bersamanya.

Kim-mou-eng yang tentu saja tertegun melihat ini tiba-tiba melihat sebatang tombak meluncur dari depan, menyambar dada Cao Cun.

"Awas!" Kim-mou-eng marah, berkelebat menangkis, dan kaget melihat seorang pengawal anak buah Sin-kee Lo-jin mau membunuh Cao Cun. Kim-mou-eng yang gusar tak dapat menahan diri, tiba-tiba menangkap tombak itu dan menimpukannya ke dada sang pengawal.

"Crep!" pengawal itu menjerit, langsung roboh mandi darah, dan mendelik pada Kim-mou-eng.

Kim-mou-eng yang sudah menyambar Cao Cun akhirnya membalik dan terpaksa kembali ke istana. Ia membentak dan menyerbu ke depan, mendorongkan pukulan sinkangnya hingga para pengawal roboh berpelantingan di kiri dan kanan, membuka jalan memasuki istana.

Begitu Kim-mou-eng berkelebat, para pengawal lain berteriak-teriak; pendekar ini lenyap memasuki lorong-lorong di dalam.

"Dia kembali, awas!" para pengawal kembali ribut. Mereka gentar tapi juga bingung, berlarian ke dalam mengejar pendekar itu.

Namun karena gerakan Kim-mou-eng luar biasa cepat dan pendekar itu selalu merobohkan pengawal yang ada di depan, akhirnya pendekar ini tiba kembali di kamar Wan Hoa. Ia melihat gadis itu menggigil membelalakkan mata, pucat dan gemetar menyaksikan semua keributan dan sepak terjang Kim-mou-eng yang benar-benar luar biasa.

Cao Cun yang sudah berteriak girang melihat temannya, tiba-tiba meloncat turun dari pondongan Kim-mou-eng.

"Wan Hoa, lari... ayo lari."

Wan Hoa tertegun. "Lari ke mana, Cao Cun? Dengan siapa? Kenapa kau kembali lagi?"

"Ah, tak perlu banyak tanya, Wan Hoa. Aku kembali karena tak mau kau sendirian di tempat ini. Kita lari bersama Kim-twako. Ayo, cepat!" Cao Cun menarik lengan Wan Hoa, menyeret temannya yang masih bengong.

Para pengawal yang mengejar di belakang mereka tiba-tiba berteriak-teriak, "Hei, kalian selir, jangan nekat. Tunggu putusan Mao-taijin!"

Namun, Cao Cun tak peduli. Dia sudah menarik lengan Wan Hoa mendekati Kim-mou-eng. Kim-mou-eng mendengus perlahan, tiba-tiba menyambar tubuh mereka berdua dan mengempit mereka di bawah ketiak; Cao Cun di sebelah kanan sementara Wan Hoa di sebelah kiri.

Begitu mereka tak berdaya, Kim-mou-eng menerobos dalam kamar dan langsung mendobrak jendela. "Brak!"

Para pengawal terbelalak. Mereka melihat Kim-mou-eng lolos dari tempat itu, melesat dan berjungkir balik ke atas genteng. Kim-mou-eng telah berkelebat di atas genteng bagaikan kelelawar malam.

"Kejar dia, jangan bengong!" bentakan Sin-kee Lo-jin itu membuat mereka sadar.

Para pengawal berhamburan keluar, terkejut dan berteriak-teriak menuding genteng, melihat bayangan Kim-mou-eng yang berlompatan dari satu wuwungan ke wuwungan lain, begitu ringan padahal mengempit dua orang seolah-olah yang dikempit adalah boneka kertas.

Ketika mereka berhamburan mengejar dan mengepung istana itu, tiba-tiba Kim-mou-eng telah sampai di batas tembok yang tinggi.

"Lepaskan panah. Serang!" aba-aba Sin-kee Lo-jin kembali merobek keheningan malam. Para pengawal menjepret panah mereka, puluhan bahkan ratusan, menghujani tubuh Pendekar Rambut Emas itu.

Namun, Pendekar Rambut Emas yang berjungkir balik di udara dan lenyap melewati tembok tinggi tiba-tiba telah menghilang, membuat ratusan panah sia-sia runtuh ke bawah. Tak ada satu pun yang mengenai sasaran.

Ketika para pengawal kembali tertegun di bawah, Sin-kee Lo-jin memaki-maki, "Goblok! Buka pintu gerbang, susul dia!"

Para pengawal sadar. Mereka sebenarnya sudah jerih menghadapi pendekar yang amat tinggi kepandaiannya itu. Mereka diam-diam bersimpati karena meskipun diserang mati-matian, tak satu pun balasan Kim-mou-eng yang membuat mereka tewas, kecuali si pengawal bertombak yang hendak membunuh Cao Cun. Paling-paling mereka hanya roboh atau patah tulang.

Ketika pintu gerbang istana dibuka, para pengawal yang lebih takut pada kemarahan Sin-kee Lo-jin segera berhamburan keluar mengejar Pendekar Rambut Emas. Namun, siapa dapat menangkap pendekar ini?

Begitu Kim-mou-eng menghilang dan kegelapan malam membantu pelariannya, para pengawal akhirnya pulang dengan tangan hampa, sementara Sin-kee Lo-jin berkaok-kaok bagai kambing kebakaran jenggot.

Ke mana Pendekar Rambut Emas itu melarikan diri? Bukan lain ke Chi-cou. Pendekar ini langsung ke sana, tak berhenti dalam perjalanan karena ingin secepatnya mempertemukan Cao Cun dengan ayah ibunya. Ia tidak beristirahat sama sekali, membuat Cao Cun dan temannya kagum bukan main akan ketahanan tubuh pendekar ini.

Pagi itu, ketika Cao Cun telah berada di belakang halaman rumahnya dan Kim-mou-eng menurunkan mereka berdua, hal pertama yang dilakukan putri Wang-taijin ini adalah melontarkan pujian.

"Ah, hebat kau Kim-twako. Kami sendiri merasa capai. Tidak lelahkah kau?"

"Hi-hik, mana bisa capai, Cao Cun? Taihiap orangnya memang luar biasa. Apalagi kalau..." Wan Hoa terkekeh melirik temannya dan melupakan sejenak ketegangan yang telah mereka alami, disambut muka merah oleh Cao Cun yang mengerti ke mana arah sambungan kata-kata itu.

Bukan lain kalau Kim-mou-eng mengempit tubuhnya atau memondongnya semalam suntuk.

Kim-mou-eng yang mengusap peluh dengan kening dikerutkan menegur, "Cun-moi, sebaiknya kita tak perlu bergurau. Kalian telah tiba di tempat aman. Ayo, kita temui ayah ibumu."

Wan Hoa mengangguk. "Ya, deh... hi-hik, keringatmu harum, Kim-taihiap. Pantas kalau Cao Cun betah di bawah ketiakmu!"

Cao Cun terkejut. "Wan Hoa!"

Wan Hoa tak peduli. Dia pura-pura tak melihat muka Kim-mou-eng yang merah, mengendus-endus tangannya sendiri yang basah oleh keringat pendekar itu. Memang harum, keharuman tubuh pria yang aneh tapi keras.

Ketika Cao Cun melompat dan hendak mencubitnya, sekonyong-konyong gadis ini berteriak, "Aduh, tolong, Kim-taihiap. Kekasihmu mau menggigit aku!"

"Hush!" Cao Cun terpaksa berhenti, semburat mukanya merah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment