Chapter 54
Saat Kim-mou-eng beradu pandang dengan mata yang memerah oleh kata-kata Wan Hoa, tiba-tiba Wang Taijin dan istrinya muncul di halaman belakang rumah mereka. Mereka yang kebetulan sedang menikmati minuman panas, dikejutkan oleh keributan tersebut.
"Siapa itu? Kalian, eh... Cun-ji!" Wang Taijin terpekik, seolah tak percaya pada matanya sendiri melihat Cao Cun berdiri di sana bersama seorang gadis yang tidak ia kenal.
Begitu melihat Kim-mou-eng, sang Bupati langsung melompat dan berlari kecil, menubruk anak perempuannya sambil berteriak girang, "Cun-ji!"
Cao Cun sendiri sudah terisak. Ia menubruk ayahnya dan menangis tersedu-sedu di dada orang tuanya. Tak lama kemudian, ibunya menyusul dan sempat terjatuh dua kali karena tersandung batu. Akhirnya, ketiganya berpelukan dan menangis bersama.
"Ayah, kau kurus! Ibu, kau pucat sekali!" Wang Taijin dan istrinya ikut tersedu-sedu. Mereka diliputi keharuan dan kegembiraan yang luar biasa karena kedatangan putri mereka sangat mendadak, seolah bagaikan mimpi.
Teringat Kim-mou-eng yang telah menepati janji membawa putrinya pulang, sang Bupati langsung menjatuhkan diri dan berlutut di kaki Pendekar Rambut Emas itu. "Kim Taihiap, terima kasih. Kau benar-benar telah menepati janjimu!"
Kim-mou-eng segera mengangkat tubuh Bupati itu. Ia melihat Wang Hujin (Nyonya Wang) juga berlutut, bersyukur dan berterima kasih kepada sang pendekar yang telah berjasa besar. Namun, Kim-mou-eng menarik tubuh suami-istri itu untuk berdiri sambil menghela napas panjang.
"Taijin, bangunlah. Keberhasilanku sesungguhnya berkat putrimu juga. Cao Cun hampir membelot," ujar Kim-mou-eng perlahan.
Wang Taijin terkejut. "Kenapa, Taihiap?"
Tiba-tiba Wan Hoa terkekeh, mengejutkan semua orang. "Hei, siapa gadis ini?" tanya Wang Taijin yang baru menyadari kehadiran gadis lain.
Wan Hoa menjura di depan Bupati itu lalu memperkenalkan diri. "Taijin, maafkan aku. Aku Wan Hoa Li, kawan putrimu. Aku juga tinggal di Istana Dingin, senasib dengan putrimu."
"Ah, Wan Hoa?"
"Ya," sahut Cao Cun sambil melangkah maju. "Dia adalah sahabatku, Ayah. Dia juga diperas oleh Mao Taijin yang jahat itu. Kami sama-sama tinggal di Istana Dingin!"
"Ah!" Wang Taijin terbelalak, mengerti seketika. "Jadi, kau pun korban menteri pemeras itu, Nona? Ayahmu?"
"Ayah sama seperti dirimu, Taijin. Tidak mau menyuap, yang mengakibatkan aku masuk ke neraka di Bukit Niu-san itu. Menteri she Mao memang busuk. Aku dan Cao Cun menjadi akrab setelah kami bertemu di sana."
Wang Taijin mengangguk-angguk. Ia memandang gadis itu dengan kagum. Wan Hoa adalah gadis cantik dan lincah, tampak lebih gembira dibandingkan putrinya yang akhir-akhir ini sering murung. Namun, ia mengernyitkan dahi saat mengingat tawa gadis itu tadi. "Nona, kenapa kau tertawa? Apakah membelotnya putriku ini ada yang lucu?"
Wan Hoa tersenyum ke arah Cao Cun. "Maaf, aku tadi tidak dapat menahan diri. Taijin, memang Cao Cun itu lucu. Dia tidak mau pulang kalau Kim Taihiap tidak mau selamanya tinggal di sisinya!"
"Ah, maksudmu?"
"Cao Cun mengikat Kim Taihiap agar terbang bersamanya, Taijin. Ke mana pun Kim Taihiap pergi, ke situ pula Cao Cun ada. Mereka telah saling mengikat janji. Aku gembira putrimu mendapat tambatan hati yang gagah perkasa seperti Kim Taihiap ini!"
"Wan Hoa...!" Cao Cun melotot dan membentak pelan. Melihat semua orang tertegun memandangnya, gadis itu segera melompat pergi masuk ke dalam kamar.
"Ayah, Wan Hoa memang nakal. Tangkap dan kurung dia di kamar belakang!"
Wang Taijin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Sekarang ia mengerti maksud ucapan Wan Hoa dan merasa girang luar biasa membayangkan memiliki menantu seperti Pendekar Rambut Emas itu. Namun, Kim-mou-eng justru tampak pucat pasi dan menggigil memandang suami-istri itu.
"Taijin, maafkan kata-kata Wan Hoa. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
"Ah, ada apa, Taihiap?"
Kim-mou-eng gemetar, ia bingung dan menelan ludah yang terasa kering. Ia sadar bahwa saat itu adalah momen menegangkan karena harus berterus terang. Pendekar itu menatap ke depan dengan redup. "Taijin, aku tidak dapat lama-lama tinggal di sini. Aku harus segera pergi. Anggap saja ucapan Wan Hoa tadi sebagai kata-kata anak kecil!"
Wang Taijin terkejut. "Maksud Taihiap?"
"Aku mendustai Cao Cun, Taijin. Aku terpaksa melakukan akal itu agar dia dapat bertemu denganmu. Aku mengakui salah. Aku tidak dapat lama-lama lagi di sini karena secepatnya aku harus pergi. Maaf!"
Wang Taijin tertegun. Sinar kekecewaan besar membayangi wajahnya; ia memandang sang pendekar dengan perasaan gelap dan marah. Namun, teringat bahwa pendekar itu berkali-kali menolongnya, sang Bupati hanya bisa menarik napas. Ia sadar bahwa mengharap pendekar itu menjadi menantu adalah impian yang terlalu tinggi. Akhirnya, karena jasa sang pendekar jauh lebih besar dibanding kesalahannya, Bupati itu meneteskan air mata.
"Baiklah, aku menyadari kedudukan putriku, Taihiap. Tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan putriku bila melihatmu pergi. Maaf, agaknya aku terlalu berharap mendapatkan bintang!"
Kim-mou-eng menggigit bibir. Ia melihat suami-istri itu terisak, jelas terpukul dan kecewa. Namun, melihat Wang Taijin tidak marah dan justru bersikap lembut, ia merasa jauh lebih malu. Ia merasa lebih baik dimaki dengan kasar daripada diperlakukan dengan kelembutan yang justru menusuk jantung. Ia sadar harus segera pergi meninggalkan Cao Cun.
Setelah menjura dalam-dalam, Kim-mou-eng berkata, "Wang Taijin, maafkan semua kesalahanku. Aku mengakui dosaku terhadap Cao Cun. Sampaikan permintaan maafku pula padanya dan harap jaga putrimu baik-baik. Selamat tinggal."
Kim-mou-eng memutar tubuh, bergerak pergi dengan wajah merah padam. Baru kali itu ia melakukan dosa dalam keadaan terpaksa demi memenuhi janji untuk mempertemukan Bupati itu dengan putrinya. Janji itu berhasil ditepati, namun sekaligus memberi aib pada dirinya sebagai seorang pendekar yang melanggar janji terhadap seorang gadis.
Begitu Kim-mou-eng pergi, Wang Hujin jatuh pingsan. Rumah itu seketika menjadi ribut. Cao Cun kaget mendengar Kim-mou-eng telah meninggalkan mereka. Ia melihat ibunya pingsan, sementara Wan Hoa terdiam tak percaya. Cao Cun merasa hancur karena menyadari bahwa janji Kim-mou-eng hanyalah tipuan belaka. Ia merasa dipermainkan, dan seketika itu pula, Cao Cun roboh pingsan seperti ibunya.
Wang Taijin semakin panik. Ia menolong istri dan putrinya dengan gugup. Ketika keduanya sadar, Cao Cun langsung menangis tersedu-sedu dan lari ke dalam kamarnya. Selama tiga hari penuh, ia terus mencucurkan air mata hingga wajahnya bengkak. Wan Hoa terus menemani dan menghiburnya sepanjang hari.
"Cao Cun, Kim-mou-eng rupanya memang bukan jodohmu. Sebaiknya lupakan dia dan hapus air matamu itu," bujuk Wan Hoa.
"Ah, mana bisa kuhapus air mata ini, Wan Hoa?" isak Cao Cun. "Mana bisa sakit hati ini kuhapus begitu saja? Dia satu-satunya orang yang kucinta, tapi dia pula yang mempermainkan hatiku seenak hatinya!"
Wan Hoa ikut menangis melihat penderitaan kawannya. Ia memeluk putri Wang Taijin itu erat-erat. "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Cao Cun? Apa yang dapat kubantu untuk meringankan dukamu ini?"
Cao Cun membalas pelukan sahabatnya dengan penuh haru, namun ia menggeleng lemah. "Tidak ada, Wan Hoa. Biarkan aku sendiri. Pergilah, pulanglah dan kembalilah ke ayah ibumu."
Wan Hoa melepaskan pelukannya. "Apa, kau mengusirku pergi, Cao Cun?"
Cao Cun menggeleng dengan air mata bercucuran. "Tidak, jangan salah paham, Wan Hoa. Bukankah sekarang kita bebas dan kau dapat pulang?"