Chapter 55
"Aku tidak mengusirmu, justru ingin menyelamatkan kau kalau-kalau Mao-taijin menyuruh pengawal-pengawalnya datang menangkap kita!"
"Kalau begitu jangan suruh aku berpisah, Cao Cun. Seumur hidup kita boleh bersama. Ingat janjimu."
Cao Cun terpukul. Memang dia telah berjanji, bahkan bersumpah untuk bersama dengan sahabatnya ini kalau Kim-mou-eng menolaknya. Tapi, ingat keselamatan Wan Hoa yang mungkin dikejar-kejar pengawal kalau Sin-kee Lo-jin melapor, mendadak Cao Cun bingung dan terisak memeluk sahabatnya itu.
"Wan Hoa, aku... aku tak ingin membuat dirimu susah. Kau tinggalkanlah aku sebentar di sini!"
"Kau mau apa, Cao Cun? Kau mau bunuh diri?"
Cao Cun terisak, menggeleng.
"Kalau begitu mau apa?"
Cao Cun tak tahan lagi. "Aku ingin sendiri di kamar ini, Wan Hoa, sejenak saja. Kau tinggalkanlah aku dan biarkan aku sendiri!"
"Tidak!" Wan Hoa melihat gelagat tak baik, mengenal betul sifat kawannya ini. "Aku tak mau pergi kalau kau mau bunuh diri, Cao Cun. Aku siap mendampingimu kalau kau berbuat yang tidak-tidak!"
Cao Cun menangis tak keruan. Memang sebenarnya dia ingin bunuh diri di kamar itu; mengikat leher dan menggantung diri di belandar. Habis perkara. Tapi sahabatnya ini, yang tahu dan dapat menduga jalan pikirannya, tiba-tiba membuat Cao Cun tersedu dan semakin berduka. Hilang sudah harapannya itu kalau Wan Hoa mengenal maksudnya.
Wan Hoa yang menggigil melepaskan pundaknya berkata sungguh-sungguh, "Cao Cun, bunuh diri adalah suatu perbuatan yang tidak baik. Itu pikiran orang sesat. Hidup memang penuh suka dan duka, kita harus menerimanya dengan pikiran jernih. Kau kehilangan kekasih, tapi kau tak kehilangan sahabat, bukan? Aku tetap setia mendampingimu, Cao Cun. Aku mencinta dan menyayangimu sebagai saudara. Kalau saja aku bisa berganti sebagai laki-laki, tentu kedudukan Kim-mou-eng akan kuganti!"
Cao Cun menjerit. Dia mengeluh lirih oleh pernyataan yang meremangkan bulu kuduk itu, merasakan getaran kasih sayang dan cinta Wan Hoa yang membuat hatinya diremas-remas. Dua sahabat yang akhirnya kembali berpelukan itu sama-sama menangis dan terisak.
"Cao Cun, kau tak akan bunuh diri, bukan?"
Cao Cun menggeleng.
"Berani kau sumpah?"
Cao Cun terisak.
"Kalau begitu pegang kepalaku, Cao Cun. Bersumpahlah demi arwah nenek moyangmu bahwa kau tak akan bunuh diri. Tak akan meninggalkan aku!"
Cao Cun tak mau. Dia memeluk sahabatnya itu erat-erat, menangis dengan air mata deras mengalir. Tapi ketika Wan Hoa membawa telapak tangannya ke atas kepala gadis itu, akhirnya Wan Hoa memaksa agar sahabatnya itu tidak bunuh diri. Bahwa mereka akan menerima pahit getir kehidupan dengan batin yang tabah dan pikiran yang jernih. Ketika keduanya bertangis-tangisan dan lelah rasanya batin ini menerima himpitan duka, mendadak keduanya tertidur dan saling berpelukan di satu pembaringan. Mengharukan.
Sejarah memang membuktikan kecintaan dan keluhuran budi Wan Hoa itu. Betapa gadis inilah yang memberi banyak hiburan kepada Cao Cun, mendampinginya, dan benar-benar setia sebagai sahabat sejati. Gadis yang berhati mulia dan sering meringankan penderitaan batin putri Wang-taijin itu.
Beberapa jam kemudian, Cao Cun merasa tenang dan lebih dulu bangun dibanding sahabatnya itu. Maka putri Wang-taijin ini bangkit duduk dan turun dari pembaringannya. Cao Cun berkaca-kaca. Sikap Wan Hoa yang demikian penuh perhatian kepadanya membuatnya terharu. Tapi ingat pelanggaran janji yang dilakukan Kim-mou-eng, tiba-tiba Cao Cun terisak, menutupi mukanya. Apa yang harus dilakukan? Sebaiknya dia menyingkir. Patah hati yang dialaminya itu terlalu berat, meskipun Wan Hoa sebagai sahabat yang dapat dipercaya dapat meringankan penderitaannya.
Namun, asmara adalah urusan lain. Perasaan cinta terhadap pria idaman lain dengan perasaan cinta terhadap seorang sahabat. Betapapun Wan Hoa berusaha menghapus lukanya. Cao Cun yang menangis tanpa suara tiba-tiba menggigit bibir, mendekati Wan Hoa, bermaksud akan meninggalkan tempat itu dan kembali ke Istana Dingin. Mengurung diri dan biar berduka di sana sampai mati.
Cao Cun yang menunduk mencium pipi sahabatnya tiba-tiba berbisik hampir tak terdengar, "Wan Hoa, selamat tinggal. Aku tak akan bunuh diri, tapi aku juga tak mau menyeret dirimu merasakan penderitaanku. Kau bahagialah, pulang dan kembalilah ke kampung halamanmu!"
Begitu Cao Cun memutar tubuhnya melepas kecupan halus, tiba-tiba putri Wang-taijin itu membuka pintu dan keluar dari kamarnya, terisak menahan-nahan tangis yang akan meledak di dadanya. Begitu berat menyesakkan napas. Tapi persis setelah berlari keluar, sahabatnya bangun.
"Cao Cun...."
Cao Cun terkejut. Dia menoleh sekejap, melihat Wan Hoa terbelalak kepadanya. Tapi Cao Cun yang menangis melanjutkan larinya, tiba-tiba sudah menuju ke kandang kuda, mengambil seekor kuda dan meloncat di atas punggungnya. Ia terisak melihat Wan Hoa mengejar dengan teriakannya berkali-kali, memanggil-manggil namanya.
Persis kuda mencongklang melewati pagar depan, Wan Hoa terlihat melambaikan lengannya di pintu samping.
"Cao Cun...."
Cao Cun tak peduli. Dia pura-pura tak melihat temannya itu, menjepit perut kuda dan menyuruh kuda itu mencongklang secepat angin, langsung menuju ke Istana Dingin karena di situlah tekadnya untuk menghabiskan umur, menangis bercucuran air mata sepanjang jalan. Tak peduli pada malam yang gelap karena gadis ini juga gelap pikiran, tak ada pikiran jernih lagi karena kedukaan masih menghimpit batinnya.
Pagi harinya, ketika dia tiba di Bukit Niu-san dan siap memasuki gerbang Istana Dingin, mendadak Wan Hoa muncul di situ memanggil namanya, terisak di atas punggung kuda, rambut riap-riapan dan mata membengkak karena Wan Hoa juga menangis sepanjang jalan.
Cao Cun yang tertegun membelalakkan mata, tiba-tiba untuk kesekian kalinya lagi mendengar sahabatnya itu memanggil, serak dengan pakaian koyak-koyak, "Cao Cun, kau tega meninggalkan aku..."
Cao Cun tergetar. Wan Hoa sudah mendekatinya, turun dari atas kuda dengan tubuh menggigil, memegang tali kudanya dan memandang dengan mata yang menusuk begitu pedih, membuat Cao Cun tak kuat mengendalikan dirinya lagi. Begitu Wan Hoa bertanya dan Cao Cun tersedu, tiba-tiba gadis ini melompat turun dan menubruk kawannya itu, bertangisan.
"Wan Hoa, maafkan aku. Aku... aku tak ingin menyeretmu dalam kedukaan pribadi ini...!"
Wan Hoa terisak. "Kau salah, Cao Cun. Tak ada kedukaan pribadi di antara kita. Duka dan suka kita adalah milik bersama, bukan pribadi!"
Cao Cun tak kuat lagi. Mereka sudah bertangisan bersama, berpelukan bersama. Untuk terakhir kalinya melihat cinta kasih Wan Hoa yang begitu besar. Cinta seorang sahabat. Kasih seorang sahabat, perhatiannya yang begitu besar dan melihat Wan Hoa benar-benar tak mau berpisah. Rela berbagi duka bersamanya meskipun itu adalah dukanya pribadi.
Cao Cun yang tersedu menciumi sahabatnya ini akhirnya diketahui pengawal yang melihat kedatangan mereka, dibentak, "Kalian ada di sini?"
Cao Cun melepaskan diri. Ia menghapus air matanya, tapi Wan Hoa yang mengedikkan kepala membusungkan dada sudah mendahului, berseru nyaring. "Pengawal, tak perlu kalian menangkap kami. Kami datang memang untuk kembali ke Istana Dingin. Antarkan kami ke kamar kami!"
Sang pengawal tertegun. "Kalian menyerahkan diri?"
"Ya!"
Wan Hoa yang sudah menyeret Cao Cun melangkah ke depan akhirnya benar-benar memasuki pintu gerbang Istana Dingin, membuat para pengawal melongo seakan tak percaya pada apa yang mereka lihat. Bahwa dua gadis itu datang untuk kembali minta dikurung. Hal yang aneh!
Karena Wan Hoa tak menghiraukan mereka dan para pengawal sadar, akhirnya dua orang gadis ini benar-benar diantar dan kembali ke kamar mereka, jauh di belakang Istana Dingin, dipandang heran dan tak mengerti oleh calon-calon selir lain yang terbelalak memandang mereka berdua. Tapi begitu Wan Hoa dan Cao Cun tiba di kamar mereka, akhirnya dua gadis ini menutup diri dan mengunci pintu kamar masing-masing.
Kejadian yang luar biasa ini menengangkan banyak orang juga. Para pengawal dan orang-orang lain bengong, tak mengerti pikiran dua orang gadis itu. Tapi karena dua gadis itu telah kembali ke Istana Dingin dan Kim-mou-eng tak nampak di antara mereka, akhirnya para pengawal melapor dan membuat Sin-kee Lo-jin sendiri tertegun.
"Apa, mereka datang secara baik-baik kembali ke sini?"
"Ya, dan tampaknya telah terjadi pertengkaran di kamar mereka dan di antara mereka dengan Kim-mou-eng, Lo-jin. Kami mendengar mereka menyebut-nyebut nama Pendekar Rambut Emas itu dengan marah."
Sin-kee Lo-jin tertawa bergelak. Dia tak mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi. Ia telah melapor dan membuat Mao-taijin ikut tercengang. Tapi karena keduanya telah kembali dan Mao-taijin khawatir Kim-mou-eng akan datang lagi, maka menteri ini memerintahkan agar penjaga lebih diperkuat, menambah dengan pengawal-pengawal istana yang memiliki kepandaian tinggi untuk menjaga Cao Cun dan Wan Hoa.
Namun, karena Kim-mou-eng juga tak menduga bahwa Cao Cun kembali ke Istana Dingin atas kehendaknya sendiri karena didorong kekecewaannya atas perbuatannya itu, maka Pendekar Rambut Emas ini juga tak tahu dan tak mungkin ke Istana Dingin. Tak tahu bahwa hasil perjuangannya sia-sia. Begitu dua gadis itu menyerahkan diri ke Istana Dingin, berita Cao Cun dan Wan Hoa ini tak didengar orang lagi sampai beberapa bulan kemudian.
"Hei, berhenti, Nona cantik. Siapa kau menangis di sini?"
Salima mengangkat mukanya. Ia tiba di sebuah hutan lebat siang itu, duduk tersedu-sedu teringat suhengnya, tak tahu langkah kaki yang banyak mendatangi karena kesedihannya membuat dia tenggelam dalam kedukaannya itu. Kini dia terganggu oleh bentakan seorang laki-laki yang telah berdiri di depannya, sebatang golok tersisip di pinggang dengan garang.